Sunday, October 29, 2017

Jangan menghakimi cara orang lain terhubung dengan Tuhan

Jangan menghakimi cara orang lain terhubung dengan Tuhan; untuk masing-masing ada caranya tersendiri dan doanya yang tersendiri. Allah tidaklah memandang kepada kata-kata kita. Dia melihat jauh ke dalam hati kita. Bukanlah perayaan atau ritual yang menjadi suatu perbedaan, tapi apakah hati kita cukup murni atau tidak.
(Syamsi Tabriz)
*****************
Di antara doa Nabi Dawud ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah saw mengingat Nabi Dawud, beliau menggelarinya "Sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi)
*****************
Sejak muda, sebelum tidur, Mursyid saya biasa bermunajat kepada Allah: “Ya Allah, aku ingin berbicara kepada-Mu. Hanya Kau dan aku, tanpa ada satu pun makhluk-Mu yang ikut mendengarkannya. Tidak juga malaikat-Mu yang tertinggi sekali pun.” Lalu, beliau ungkapkan apa yang ingin disampaikannya hanya kepada Allah. Berdua saja. Begitulah salah satu cara beliau membangun hubungan yang intim dengan Allah.
*****************
Musa berjumpa dengan seorang penggembala di tengah jalan, yang tengah berteriak, ”Wahai Tuhan yang memutuskan sebagaimana yang Engkau kehendaki,
Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengabdi kepada-Mu dan menjahit sepatu-Mu dan menyisir rambut-Mu?
Agar aku dapat mencuci pakaian-Mu dan membunuh kutu-kutu-Mu serta menyediakan susu untuk-Mu, O pujaanku.
Supaya aku dapat mencium tangan-Mu yang mungil dan mencuci kaki-Mu yang kecil dan membersihkan kamar-Mu yang mungil di saat tidur.”
Mendengar kata-kata dungu ini, Musa berseru, ”Hai, kepada siapakah engkau berteriak?
Ocehan apa ini! Fitnah dan ngawur! Sumbatlah mulutmu dengan kapas!
Sesungguhnya persahabatan dari seorang yang bodoh itu permusuhan: Tuhan Yang Maha Luhur tidak menghendaki pelayanan seperti itu.”
Pengembala itu menyobek pakaiannya, menghela nafasnya, lalu melanjutkan perjalanan menuju ke hutan belantara.
Kemudian turunlah wahyu kepada Musa: ”Engkau telah memisahkan hamba-Ku dari-Ku.”
Apakah engkau diutus sebagai seorang Nabi untuk menyatukan, atau untuk memisahkan?
Aku telah memberikan kepada setiap orang gaya pemujaan yang khusus; Aku telah melimpahkan pada setiap manusia bentuk pengungkapan yang khas.
Ungkapan Hindustan adalah yang terbaik bagi orang Hindustan; bahasa Sind adalah yang terbaik bagi masyarakat Sind.
Aku tidak memandang pada lidah dan ucapan, Aku memandang pada nafs dan perasaan batin.
Aku memandang ke hati untuk mengetahui apakah ia rendah, walau kata-kata yang terucap tidak rendah.
Cukup dengan ucapan-ucapan dan kesombongan serta kiasan-kiasan! Aku ingin terbakar, terbakar dan terbiasa dengan keterbakaran!
Nyalakanlah bara cinta di dalam jiwamu, biarkanlah seluruh pikiran dan ungkapan.
Wahai Musa, mereka yang paham ketentuan-ketentuan adalah satu macam, mereka yang jiwanya terbakar adalah macam yang lain.”
Agama cinta lepas dari segala agama. Para pencinta Tuhan tidak mempunyai agama melainkan Tuhan itu sendiri.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
*****************
TANYA:
Bantuin doong ngejawab pertanyaan temen. "Doa itu aneh. Jadi intinya apa? Kalau Tuhan Maha Tahu, kenapa perlu doa segala?" Asa gampang tapi lieur juga ngejawabnya (rasanya gampang tapi pusing juga ngejawabnya). Aku harus jawab gimana ya?
JAWAB:
Baiklah, saya cuplikan sebuah puisi dari Rumi di bawah ini:
*******
Suatu malam, seorang lelaki merintihkan, "Ya Allah" sampai bibirnya manis dengan pujian kepada-Nya.
Iblis mengejeknya, "Kasihan engkau, wahai lelaki malang, mana jawaban, 'Aku di sini,' (labbayka) untuk semua rintihan, 'Ya Allah-mu?'
Tiada satupun jawaban datang dari 'Arsy: sampai kapan engkau merintihkan 'Ya Allah' dengan wajah suram?"
Si lelaki patah hati, berbaring, tertidur dan bermimpi: di situ dilihatnya Nabi Khidir as, di tengah dedaunan menghijau.
Nabi Khidir bertanya: "Wahai lelaki, engkau berhenti memuji Allah, mengapa engkau sesali dzikir-mu kepada-Nya?"
Lelaki itu menjawab, "karena tiada jawaban 'labbayka' (Aku disini), kutakut diriku telah terusir dari gerbang-Nya."
Nabi Khidir menjawab, "Allah bersabda: rintihan 'Allah'-mu itu adalah 'labbayka'-Ku, dan permohonan, duka serta semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu.
Gerakan dan upayamu untuk menghubungi-Ku sebenarnya adalah penarikan-Ku padamu, yang melepaskan kakimu dari rantai keduniaan.
Ketakutan dan cintamu adalah jerat untuk menangkap karunia-Ku, di balik setiap rintihan 'Rabbi,' terdapat berlipat 'labbayka,' dari-Ku.
Berbeda dengan keadaan jiwa seorang yang jahil, karena baginya tak diizinkan menjeritkan, "Tuhanku."
Pada lisan dan hatinya terdapat kunci dan gembok, sedemikian rupa, sehingga tak mampu merintih pada Tuhan, bahkan ketika perlu.
Pernah pada sang Fir'aun diberikan harta kekayaan sedemikian berlimpah ruah; sehingga dia mendaku keperkasaan dan keagungan Ilahiah.
Sepanjang hidupnya manusia malang itu tak pernah rasakan keresahan ruhaniah, sehingga tak pernah menjerit kepada Tuhan.
Kepadanya Tuhan berikan kerajaan dunia, tapi tidaklah dia diberi hati yang berduka, rasa sakit dan kesedihan.
Hati yang berduka itu lebih baik daripada kerajaan dunia, sehingga dengan itu engkau menyeru Tuhan secara tersembunyi.
Mereka yang tak kenal duka, menyeru dari hati yang membeku; sementara yang akrab dengan kepedihan menyeru dengan hati yang mencair.
Sehingga ketika lisannya bisikkan permohonan, perhatiannya tertuju pada asal muasal dirinya. 
Sehingga rintihannya murni dan pedih, hatinya sungguh menjerit: "Wahai Tuhanku, Penolongku, pertolongan-Mu lah yang kami dambakan."
*******
Catatan tambahan untuk puisi di atas:
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaithan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa." (QS Al An‘âm [6]: 42 - 44)
*******
Dalam Al-Qur‘an, Allah mewahyukan ayat ihwal angin sebagai kabar gembira (busran). 
*******
“Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan, serta siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).” (QS An-Naml [27]: 63)
“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS Al-Furqân [25]: 48)
*******
Kenapa? Kita tentu tahu sedikit soal atmosfir di bumi kita. Dahulu kala, orang berlayar dengan kapal yang menggunakan layar. Angin adalah hal yang vital agar kapal itu bisa bergerak mengarungi lautan. Nah, yang paling ditakuti oleh para pelaut di masa lalu adalah ‘dead calm’. Apa itu ‘dead calm’? Ketika para pelaut terkatung-katung di tengah laut tanpa angin yang bisa menggerakkan kapalnya, dan itu bisa berlangsung berminggu-minggu. Sementara bahan makanan menipis. Akhirnya, mereka pun bisa mati kelaparan di atas laut.
Nah begitu pulalah manusia. Kalau Allah tak menghembuskan ke dalam hatinya dorongan untuk bahkan sekadar menjerit dan berdoa kepada Allah, maka habislah sudah. Apa lagi yang tersisa? 
Maka, bagi siapa pun yang memahami hal ini, ketika tiba-tiba dirinya menjadi malas beribadah, malas bahkan untuk sekadar berdoa, maka menjeritlah segera kepada Allah agar Dia Ta'ala berkenan menghembuskan kembali "angin sebagai kabar gembira" yang bisa menggerakkan hati kita agar mau kembali beribadah dan bersegera dalam berjalan kembali kepada-Nya. Perkara doa bukan sekadar meminta apa yang kita inginkan, karena bahkan keinginan untuk berdoa kepada-Nya sekali pun, kalau tidak karena Dia kehendaki agar hati kita terdorong mengucapkannya, kalau sudah seperti yang Allah wahyukan dalam Al-Qur‘an: “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka , dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS Al-Baqarah [2]: 7), maka sungguh kita tak akan tergerak untuk berdoa dan meminta kepada-Nya. 
Jadi, jika sampai saat ini kita masih tergerak untuk beribadah dan berdoa kepada-Nya, seburuk apa pun kualitasnya, maka syukurilah hal itu, karena, bagaimana pun, itu isyarat bahwa Dia masih menghembuskan "angin sebagai kabar gembira" ke hati kita. Bahkan mintalah kepada-Nya agar kita semakin tergerak lebih mencintai-Nya lagi dan lagi.
Rumi pun pernah menuliskan dalam puisisnya sebagai berikut: 
*******
Takkan pernah ada kekasih yang tak dicari oleh kekasihnya
Jika kilat cinta telah menyambar satu hati, maka ketahuilah bahwa ada cinta di hati yang lain
Jika cinta Tuhan telah tumbuh di hatimu, tak diragukan lagi, Tuhan pasti menaruh cinta kepadamu
Tak ada suara tepuk tangan yang lahir dari satu tangan
Kebijaksanaan ilahi adalah takdir dan suratannya
Nasib yang membuat kita saling mencintai satu sama lain
Karena takdir itulah, setiap bagian dari dunia ini
bertemu pasangannya
*******
Maksud dari puisi tersebut, kalaulah bukan karena Allah berkenan mencintai kita, maka tak mungkin kita akan tergerak untuk mulai bisa mencintai-Nya. Hal senada juga diungkapkan oleh Abu Yazid Al-Busthami yang pernah menuliskan sebagai berikut:
*******
Dahulu aku keliru,
Aku mengira bahwa aku telah mengingat-Nya, ternyata Dia telah mengingatku sebelum aku mengingat-Nya.
Aku mengira bahwa aku mencari-Nya, ternyata Dia telah mencariku sebelum aku mencari-Nya.
Aku mengira bahwa aku telah mengenal-Nya, ternyata Dia telah mengenalku sebelum aku mengenal-Nya.
Aku mengira bahwa aku telah mencintai-Nya, ternyata Dia telah mencintaiku sebelum aku mencintai-Nya.
Aku mengira bahwa aku telah menyembah-Nya, ternyata Dia telah menjadikan semua makhluk bumi melayaniku." 
*******
Karena itu, kalau kita jadi malas berdoa, maka segeralah menjerit dan berdoa kepada-Nya agar diberi hati yang gandrung berdoa kepada-Nya. Menjeritlah: "Ya Allah, celaka aku kalau seperti ini terus menerus..." Bukannya malah menikmati keadaan semacam itu, hingga tak terasa usia menua, dan ajal di depan mata. Karena, bagaimana pun, jika Allah tak menghembuskan "angin sebagai kabar gembira" ke hati kita untuk taat kepada-Nya, maka habislah sudah. Apa lagi yang tersisa? Apa lagi yang bisa membuat kita disebut sebagai hamba-Nya?
Wallahu a‘lam bishawwab.

0 comments:

Post a Comment