Saturday, October 7, 2017

Kunjungan Raja Saudi Ke Rusia

Kunjungan Raja Saudi ke Rusia adalah konsekuensi dari perubahan kemitraan stratejik di kawasan Timur Tengah.
Meski berita menyebutkan tujuan kedatangan besar 1500 delegasi Monarki Saudi dengan 10 pesawat penumpang-cargo tadi untuk membuka hubungan ekonomi dalam bentuk investasi, kerjasama minyak, dan pembelian arsenal Rusia senilai trilyunan rupiah namun kunjungan ini sebenarnya lebih kepada mencari had dan batas dalam pergaulan dunia yang dinamis. Jika tidak monarki Saudi terancam untuk tergulingkan.
Secara ideologi-politik, Putin adalah musuh Saudi di front Suriah dan Yaman. Rusia berperang untuk pemerintah Suriah Al Assad dan menghancurkan basis ISIS-Pemberontak Suriah dan (nanti) milisi Kurdi yang didukung koalisi AS-Saudi-Qatar-dan Turki. Kehadiran terukur Rusia di teater Timur Tengah, masuknya Iran, terlibatnya Hezbollah Lebanon sejauh ini telah menganjlokkan rencana persiasatan tadi. Rusia atas nama nilai-nilai pergaulan internasional dan budaya politk baru memaksa terjadinya kemitraan baru yang tidak dapat diabaikan Saudi.
Beberapa pertimbangan lain dari kunjungan pertama Raja Saudi ke Moskwa ini antara lain.
1.0
Proyek penjungkalan Assad berjalan keluar rel. Perang yang diduga tidak akan lebih dari dua bulan ternyata berlangsung berhitung tahun dan semakin membebani keuangan Saudi sebagai donatur bersama Qatar. Hasilnya; Assad tetap kuat dengan dukungan legitimasi rakyat Suriah dan militer yang semakin solid.
2.0
Koalisi dimana Saudi terlibat dalam proyek new-middle east Suriah mengalami kegagalan. Masing-masing mitra memiliki agenda berbeda yang dulu kita prediksikan perpecahan ini akan terjadi.
2.1
AS-Inggris-Prancis-Jerman mempercepat sedisi (balkanisasi) Suriah-Irak dengan memperkuat milisi Kurdi dengan pre-text referendum dan kemerdekaan. Meski tujuan sebenarnya adalah penguasaan ladang-ladang minyak utama kedua negara.
2.2
Turki menginvasi utara Suriah ketika semakin menyadari jika AS-UK-France agenda segregasi Suriah-Irak dengan memainkan isu referendum dan Kurdi Merdeka beresiko kepada kepentingan dalam negerinya. PKK Turki akan meminta hak sama dan mengangkat senjata.
Turki melihat berdamai dengan Rusia dan Iran akan jauh lebih stratejik jika mereka hanya berdiri sebagai pria jompo bila rencana sedisi AS yang berjalan.
2.3
Rangkaian serangan teror eks kombatan Suriah dan Irak yang kembali ke eropa membuka front baru di halaman belakang eropa. Barat (eropa) menjadikan isu serangan teror di eropa sebagai komoditas politik dalam negeri untuk menghindari kritik publik atas keterlibatan mereka membiayai kombatan di Suriah dan Irak.
Prancis, Jerman, Inggris menyalahkan Saudi dan Qatar sebagai pendana jaringan terorisme internasional di eropa.
Saudi melemparkan kembali tuduhan ini kepada Qatar, yang berakhir dalam perang diplomatik dan embargo ekonomi serta penerbangan Qatar oleh Saudi.
2.4
Pecahnya persekutuan (koalisi) perang barat di front Suriah, Irak dan Yaman menindaklanjuti perseteruan Saudi vs Qatar.
UEA, Qatar, Bahrain menarik diri dari front Yaman. Qatar menarik pendanaannya bagi para jihadis di Suriah dan Irak.
3.0
Beban perang inilah yang menghantam ekonomi Saudi. Kita pernah membahasnya dalam double security dillemma, dimana Saudi tidak akan dapat bertahan lebih lama daripada lima tahun menggunakan cadangannya bagi kepentingan perang internasional mereka.
4.0
NATO sama sekali tidak ingin mengeluarkan uang membiayai proyek proxy Suriah dan Yaman yang ternyata memanjang memasuki tahun ke enam dan ketiga. Mereka sedang berstrategi baru untuk menghidupkan isu referendum etnis Kurdi baik di Irak, Turki dan kemungkinan Iran.
Namun jika kita melihat dua pemegang veto Rusia dan Cina ada dipihak pemenang perang (Damasks dan Baghdad) usulan ini akan sulit masuk ke pembahasan dewan keamanan PBB. Selain Iran, Turki, Irak telah mengambil langkah keras akan mengambil langkah keras dengan menyebutnya sebagai usaha pemberontakan.
5.0
Keadaan-keadaan inilah yang memaksa Saudi dengan ideologi wahabinya mengesampingkan kerjasama dengan negara sekular seperti Rusia yang selama ini menjadi musuh ideologi dan politiknya.
ISIS segera akan berakhir, dan restrukturisasi Suriah, Irak akan dimulai kembali. Proposal pipa gas dan minyak Rusia-Iran-irak-Suriah adalah pemenangnya dan Saudi tidak ingin menjadi negara kaya minyak yang tidak memiliki pasar.
6.0 Kesimpulan.
Bila melihat kenyataan dari relasi kekuasaan yang dinamis, ini maka banyak yang dapat kita tarik sebagai pembelajaran. Sekokohnya satu pendirian ideologis dalam praktiknya harus dapat menerima ruang untuk diskusi dan bernegosiasi. Jika gagal melakukan penyesuaian maka pada satu titik dimana setiap kelompok mesti menentukan titik keseimbangannya diantara perubahan-perubahan tadi maka itu akan menjadi awal dari kehancuran.
Jika kita melihat langkah diplomatis dan berbaik-baik Saudi dengan ikut membeli arsenal Rusia -setelah sebelumnya mereka membeli dalam jumlah besar dari administrasi Trumps- maka ini tidak akan banyak memberikan perubahan.
Kemitraan yang ditawarkan AS kepada negara-negara sub-aliansinya selalu dalam bentuk tawaran untuk menjadi pengikut (follower). AS tidak pernah mempertimbangkan satu negara benar-benar menjadi kawannya. Mendekati Rusia, Saudi berharap mendapatkan kawan yang mau diajak bermitra saling menguntungkan.
Hanya saja bagi Rusia, Iran-Suriah dan kini Irak adalah mitra stratejik (strategic partners) yang meningkat menjadi sekutu stratejik (strategic ally) mereka di timur tengah. Mereka terbukti telah melakukan perang sebenarnya, sementara Saudi baru akan dianggap sebagai mitra baru (a new friend) oleh Rusia.

0 comments:

Post a Comment