Friday, October 6, 2017

Soal Transisi Duit tunai ke Elektronik

Yang paling utama untuk kita ketahui dari mengapa jalan tol, kereta listrik, ojeg, belanja di mini market bergerak ke transaksi duit-elektronik (duile), bukanlah pada persoalan teknologi telah mempermudah hidup dan semakin canggihnya gaya hidup manusia di dunia. Mereka, para operator dan user pertama (perusahaan-perusahaan pengguna) hanya ingin meyakinkan berapa jumlah duit berputar dalam rantai bisnisnya dengan cara memastikan pemasukan. Caranya memaksa konsumen/masyarakat untuk mendepositikan uang dalam kartu-kartu atau chip-chip aneka bentuknya.
Ini sama sekali bukan persoalan kecanggihan teknologi.
2.0
Singkat kata transisi duit tunai ke duit elektronik adalah model pengumpulan duit masyarakat, dimana masyarakat dipaksa untuk mendepositkan uangnya ke bisnis dimaksud. Inilah titik yang paling membedakan antara transaksi duit tunai dan elektronik.
Yang pertama, konsumen hanya menyetorkan uangnya pada saat transaksi saja. Pada yang kedua, si konsumen baik dia melakukan transaksi atau tidak dia sudah menyetorkan duitnya dalam bentuk deposito. Deposito ini pun tidak dapat diuangkan dalam bentuk tunai kecuai digunakan untuk bertransaksi dalam lingkungan yang sama.
Pemahaman kebijakan mengubah cara bayar dari elektronik ke digital inilah yang sering dikaburkan atas nama teknologi, dan hidup kekinian. Padahal ia telah menghilangkan hak-hak orang yang mungkin berpikir bank-less, atau minimal mereka yang senewen ke layanan bank seperti saiya.
Saiya senang membayar apapun dengan cara cash dan menikmati hubungan timbal-balik manusia dengan cara mengucapkan terimakasih dan terimakasih kembali setelah transaksi selesai. Saiya tidak dapat melakukannya dengan mesin. Jika si mesin diprogram untuk bisa bicara pun itu tidak dapat ditindaklanjuti dengan meminta nomor telepon atau mempertanyakan kemungkinan bisnis yang dapat ditindaklanjuti.
Di Jerman -saiya senang membandingkan dengan negara ini karena ini satu-satunya negara eropa yang saiya datangi rutin setiap tahun- teknologi tidak boleh memberangus hak-hak mereka yang tidak setuju.
Belakangan memang semakin banyak saja transaksi menggunakan kartu-kartu digital. Namun orang masih dapat membayar tiket trem (s-bahn), subway (u-bahn), maupun kereta jarak dekat wilayah (region), RE, IC, dan ICE dengan banyak pilihan pembayaran. Dari credit-card, debit, e-money, bitcoin, cash, voucher promosi, sampai dengan struk hasil penukaran botol di mesin tukar botol bekas. Penumpang juta dapat membayar di atas setelah memesannya terlebih dahulu via gadget atau komputer.
Sebelum satu kebijakan dikeluarkan seharusnya menjadi hak publik untuk diedukasi keuntungan dan kerugiannya. Dengan tentu saja, satu cara tidak dapat dipaksa untuk menghilangkan cara-cara lain yang masih dapat berlaku. Andi H

0 comments:

Post a Comment