Wednesday, October 18, 2017

USI DAN TUDUHAN RASISME: DARI SOEKARNO HINGGA BOEDIONO

Jika kita membuka kembali buku harian Indonesia, pada paruh kedua 1930-an Soekarno pernah dituduh sebagai tokoh “rasis” karena perjuangannya atas nasionalisme keindonesiaan. Gagasan nasionalisme dianggap rasis karena dituduh mengobarkan kebencian terhadap orang-orang kulit putih, terutama Belanda.
Dari sudut pandang hari ini kita mungkin akan mudah saja menyimpulkan bahwa tuduhan rasis sebagaimana yang dialamatkan kepada Soekarno pastilah sebuah tuduhan yang sengaja diciptakan oleh Belanda atau antek-anteknya. Namun seandainya kita hidup di jaman kolonial, sejaman dengan Soekarno, barangkali penilaian kita tidak akan setegas itu. Bisa jadi kita akan menjadi orang yang terombang-ambing dan bahkan setuju menganggap bahwa Soekarno memang hanyalah seorang agitator yang sekadar mengobarkan kebencian terhadap Belanda dan bangsa Eropa lainnya.
Tuduhan rasis kepada Soekarno itu pernah dilancarkan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam USI (Unitas Studiosorum Indonesiensis), sebuah organisasi kepemudaan/kemahasiswaan yang diinisiasi oleh para profesor konservatif Belanda dengan tujuan meredam gerakan politik para mahasiswa Hindia Belanda. Jadi, untuk mengimbangi kecenderungan radikal dari kelompok-kelompok pemuda dan mahasiswa yang mengusung paham nasionalisme itulah USI lahir. Seturut ajaran yang diperkenalkan Snouck Hurgronje, USI juga dimaksudkan untuk membangun budaya baru di kalangan elite terpelajar Bumiputera melalui pendirian berbagai organisasi yang berorientasi pada budaya dan gaya hidup Eropa. Tidak heran, orientasi dari USI kemudian sangat kental diwarnai oleh kecenderungan akademis yang dimaksudkan sebagai penawar atas kecenderungan orientasi politik di kalangan mahasiswa pribumi pada umumnya.
Kehadiran USI itulah yang telah menyebabkan lahirnya dua arus kecenderungan di kalangan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan di Hindia Belanda pada akhir tahun 1930-an dan awal 1940-an. Para pemuda dan mahasiswa yang berasal dari kalangan priyayi atas cenderung pada organisasi baru yang dibentuk oleh orang-orang Belanda itu, yaitu USI, sedangkan kalangan priyayi rendahan cenderung berorientasi pada PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia), yang bercorak nasionalis dan radikal.
Menuduh Soekarno sebagai rasis tentu saja sebuah tudingan yang sesat dan menyesatkan, karena pastilah mengabaikan substansi kritik yang dibangunnya terhadap kolonialisme. Di atas permukaan, kemasan gerakan nasionalisme kebangsaan Indonesia memang bertumpu di atas perjuangan ras (race struggle), namun menganggap perjuangan ras itu sebagai “rasis” tentu saja bentuk penyesatan yang tak terperi.
Untuk memahami itu kita harus mundur agak ke belakang. Sesudah kemenangan Jepang atas Rusia dan munculnya Uni Soviet melalui Revolusi Oktober pada awal abad ke-20, dua peristiwa itu telah menjadi latar belakang penting sekaligus menjadi pembentuk corak nasionalisme Indonesia dan negara-negara Asia dan Afrika lainnya. Jika “Pasang Naik Kulit Berwarna”, sebagaimana yang pernah ditulis Stoddard, menjadi penanda menggeliatnya perjuangan-ras (race struggle), bahwa bangsa kulit putih bisa dikalahkan oleh bangsa kulit berwarna; maka “pasang naik Beruang Merah” (baca: lahirnya negara komunis Soviet) menjadi obor bagi menggeliatnya perjuangan-kelas (class struggle) di lingkungan bangsa-bangsa yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya, bahwa kekuasaan para majikan bisa dikalahkan oleh kaum proletar.
Perjuangan ras dengan perjuangan kelas ini jugalah yang kemudian menjadi bahan bakar bagi pergerakan kebangsaan di Hindia Belanda. Ringkasnya, pada awal abad ke-20, kolonialisme Belanda telah mendapatkan tantangan yang kuat dari dua jurusan sekaligus: perjuangan-ras dan perjuangan-kelas.
Namun Soekarno, dan para tokoh pergerakan segenerasinya, kemudian secara jeli melihat bahwa perjuangan kelas sebagaimana ditadaruskan Marx tidak sepenuhnya berlangsung di Hindia Belanda, karena adanya perbedaan corak kapitalisme di Hindia dengan Eropa. Yang dimaksud sebagai “tidak sepenuhnya berlangsung” adalah jika yang dimaksud sebagai perjuangan kelas adalah sepenuhnya mengacu kepada konsep Marx, dimana perjuangan kelas dijelaskan sebagai pertentangan antara kelas burgerlijk (baca: borjuis) dengan kelas buruh.
Di Hindia Belanda yang dikuasai oleh kapitalisme kolonial, perjuangan kelas berlangsung secara berbeda dengan patokan yang diberikan oleh Marx. Jika dalam ajaran Marx kaum buruh harus bersatu dalam menghadapi kaum pemodal (kapitalis), terlepas dari apapun bangsanya, namun dalam perjuangannya menentang kaum kapitalis di Hindia Belanda, maka kaum buruh Pribumi dengan tuntutannya yang revolusioner seringkali hanya berdiri sendiri, tak dibantu oleh kaum buruh kulit putih. Dan ironisnya, kaum buruh kulit putih posisinya lebih dekat kepada kaum kapitalis penjajah daripada kaumnya yang sekelas di Hindia Belanda. Baik Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan para tokoh pergerakan yang segenerasi dengan mereka, analisisnya sama mengenai hal ini.
Itu sebabnya, sejak awal timbul, konsep perjuangan kelas yang berkembang di Hindia Belanda kemudian memang lebih dipengaruhi oleh faktor perbedaan bangsa. Pertentangan ras di Hindia Belanda, antara bangsa pribumi dengan kolonial Belanda, lebih kuat pengaruhnya daripada pertentangan kelas antara kelas buruh dengan kelas kapitalis. Meminjam bahasa Hatta, pertentangan riil yang terjadi di Hindia Belanda waktu itu adalah pertentangan kepentingan antara kaum sana (Belanda) dengan kaum sini (orang Indonesia).
Apakah dengan kerangka analisis itu tuduhan “rasis” tadi bisa diterima? Saya kira hanya orang-orang yang culas atau mereka yang kepentingannya terancam oleh gerakan nasionalisme itu sajalah yang akan mengangguk.
Dalam perjalanannya, celakanya alumni-alumni USI itulah yang kemudian menjadi lingkaran paling kuat yang menyokong pembentukan PSI (Partai Sosialis Indonesia) di awal kemerdekaan, sebuah partai kecil tapi yang memiliki pengaruh sangat besar pada masa awal kemerdekaan.
Lingkaran Sjahrir sendiri sebenarnya terbentuk dari tiga komunitas yang secara gagasan bisa dikatakan cukup seimbang, yaitu pertama komunitas Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru), lalu komunitas Unitas Studiosorum Indonesiensis (USI) tadi, dan ketiga adalah komunitas Persatuan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang sangat bersifat nasionalis. Namun dalam perjalanannya, yang dominan membentuk PSI adalah sayap USI tadi.
Barangkali karena latar belakang anak-anak USI memang berasal dari kalangan elite kolonial, yang sangat terdidik, pandai berbahasa asing, dan sejak awal berorientasi teknokratik (baca: ambtenaar-isme), maka mereka menjadi kelompok yang paling siap mengisi pos-pos penting birokrasi ketika Indonesia merdeka, apalagi ketika Sjahrir menjadi perdana menteri.
Menarik untuk memperhatikan, sejak jaman dulu ruang-ruang pembentukan opini publik di Indonesia juga banyak dikuasai oleh lingkaran Sjahrir ini, karena banyak di antara mereka merupakan jurnalis-jurnalis berpengaruh dan menjadi pengelola media-media besar pada masanya. Sebutlah nama Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar, atau sebutlah nama-nama surat kabar atau majalah berpengaruh di masa lalu, sebagiannya berasosiasi dengan lingkaran Sjahrir.
Jadi, jika kita pada hari ini menyaksikan begitu massifnya penyesatan opini yang mencoba membelokan kritik ekonomi-politik terhadap semakin meningkatnya ketimpangan ekonomi dan distribusi kemakmuran sebagai kritik yang tiba-tiba dianggap “rasis”, maka ingatlah kembali USI. Sejak dulu, penyesatan opini semacam itu selalu lahir dari kelompok yang sama.
Ketika dulu David Ransom menyerang “Mafia Berkeley” di Majalah Ramparts (1970), ingat-ingatlah siapa yang memberikan pembelaan terhadap Widjojo cs. di Indonesia. Kritik Ransom juga dulu dianggap sebagai “rasis”, hanya karena Ransom adalah seorang kulit putih, sementara Widjojo dan rombongan Mafia Berkeley yang dikritiknya berkulit sawo matang, dengan mengabaikan apa sesungguhnya substansi yang sedang dipersoalkan oleh aktivis New-Left Amerika tersebut.
Juga ingat-ingatlah dulu siapa yang gigih sekali memperkenalkan dan membela Boediono dan Sri Mulyani. Kedua nama itu dulu juga dibela karena keduanya bukanlah orang partai politik, sehingga mereka didudukkan seolah malaikat yang bersih di kampung para penyamun berpartai.
Mereka, para prajurit berpena dan bersenjatakan teori-teori necis itu, sering mengklaim dirinya sebagai “humanis”. Sayangnya, para humanis itu masih hidup dengan imaji awal abad ke-20, sehingga hanya bisa membayangkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan hanya bisa muncul dari orang-orang gila seperti Hitler dan Stalin, para “Big Brother” sebagaimana yang ditadaruskan Orwell, dan mengabaikan sepenuhnya bahwa kejahatan, dalam rupa yang lain, bisa juga muncul dari wajah-wajah ganteng dan pribadi-pribadi elegan para pialang saham di Wall Street, atau dari persekongkolan para eksekutif perusahaan minyak, otomotif, atau industri properti dalam sebuah pesta yang bermartabat di balai kota atau mansion-mansion mewah di ibukota.
Jadi, sekali lagi, jika Anda menemukan 'framing' "rasis" atas sebuah kritik yang sebenarnya bersifat ekonomi-politik, maka ingatlah kembali USI. Para penuduh itu sejak dulu berasal dari kelompok yang sama. #repost

0 comments:

Post a Comment