Wednesday, November 22, 2017

Membebaskan Jiwa dari Pengaruh Jasad

Proses membebaskan jiwa kita dari pengaruh jasad adalah proses yang panjang. Setelah sekian puluh tahun lamanya jasad kita terbiasa dengan pola makan tertentu, pola tidur tertentu, memiliki selera tertentu, keinginan tertentu yang semuanya seperti membentuk siapa diri kita, padahal semuanya kebanyakan terpengaruh dari orang tua, masa asuhan, keluarga dan masyarakat sekitar. 'Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu', kenali dirimu maka engkau akan mengenali Rabb-mu, proses membebaskan jiwa dari pengaruh jasadiyah merupakan bagian dari proses pengenalan diri.
Lalu dimulai dari mana? Minimal kita mengimani dulu bahwa kehidupan kita yang tampaknya berserakan dan tak berhubungan ini ada hubungannya dengan Al-Qur'an. Minimal itu. Karena kalau sudah tidak yakin dengan Al-Qur'an, maka Al-Qur'an itu tidak akan bekerja untuk kita. Sesuatu yang tidak diyakini, pastilah tidak akan mujarab.
Prinsipnya, jika sudah ada kepercayaan bahwa ada hubungan antara kita dengan Al-Qur'an, baru akan terbuka rahasianya. Kalau tidak peduli dengan Al-Qur'an-nya, dibaca pun tidak, tidak peduli juga dengan nasib kita, dan kita pun tidak berusaha mencari jawaban pertanyaan dalam kehidupan selain hanya menunggu entah mentor yang menerangkan, entah pak ustadz, maka, sungguh, harta karun itu tidak akan terbuka. 
Jadi, masing-masing harus membuka sendiri. Kenapa? Karena setiap orang beda-beda kepalanya, beda-beda ujiannya, beda jalan hidupnya. Tidak ada yang mengetahui dengan detail kehidupan sahabat sekalian kecuali diri sendiri dan Allah Ta'ala.
(Sepenggal pemaparan dari Mursyid saya ketika beliau mengampu Pengajian Hikmah Al-Quran.)

Akhlaq yang mulia itu adalah karya seni terbaik Allah SWT.

“Akhlaq yang mulia itu adalah karya seni terbaik Allah SWT.”
(Zamzam Ahmad Jamaluddin T., Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu (fîkum) ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan (al-‘amri) benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada ‘al-iman’ dan menjadikan ‘al-iman’ itu indah (zayana) di dalam qalb-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (alrrâsyidûna), sebagai karunia dan ni‘mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Hujurât [49]: 7-8)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Akhlaq dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari “khuluq”, dan secara bahasa akhlaq sering diterjemahkan sebagai budi pekerti, perangai, tingkah laku, perangai atau tabiat. Namun, akar kata “khalaqa” yang artinya ‘menciptakan’ menjadi pembentuk kata khuluq, akhlaq, makhluq (yang diciptakan) dan Khaliq (Sang Pencipta). Dalam QS Al-Qalam [68]: 4 dinyatakan, ihwal Rasulullah saw, bahwa “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (khuluqul adzim).” Al-Adzim adalah salah satu asma (nama) Allah, dan untuk lebih memahami hal ini, perlu disimak tentang hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menoleh dengan memalingkan mukanya—yakni menoleh dengan memutar lehernya—karena jika menoleh, beliau menghadap dengan seluruh tubuhnya. Sadruddin Al-Qunawi menjelaskan bahwa:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ketahuilah, di antara masalah yang menjadi sandaran para muhaqqiq dan syariat adalah bahwa kesempurnaan manusia adalah dalam berakhlak dengan akhlak Allah serta berhias dan meniru sifat-sifat-Nya yang agung. Tidak ada keraguan dalam keesaan al-Haqq, keesaan limpahan karunia-Nya, dan perhatian-Nya untuk menciptakan apa yang Dia kehendaki ciptakan. Perhatian-Nya pada penciptaan semut adalah seperti perhatian-Nya pada penciptaan ‘Arsy dan al-Kursiy. Karena, Dia disucikan dari terbayang padanya berbagai arah yang berbeda yang memberi aib di dalam tindakan-Nya sebab tidak ada kemajemukan dan pembagian. Keberbilangan, kemajemukan, perbedaan, dan sebagainya termasuk sifat-sifat segala yang bersifat mungkin (mumkinat) yang menerima perlakuan-Nya, dan menampakkan limpahan karunia-Nya.
Ketika masalahnya seperti itu, maka wajib bagi setiap orang yang berakhlak dengan akhlak Tuhannya agar tidak memperhatikan sesuatu kecuali secara keseluruhan. Dia harus menjaga diri dari mencampurkan bagian sesuatu dengan yang lain, sehingga dapat membagi perhatian. Bahkan, ia harus memperhatikan dengan sempurna segala sesuatu dengan kehadiran yang sempurna, meniru Tuhannya dalam hal menampakkan sifat-sifat-Nya yang menghiasi dirinya. Maka pahamilah niscaya engkau mendapat petunjuk. Insya Allah.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ayat Al-Quran, hadis dan paparan dari Sadruddin Al-Qunawi di atas memperlihatkan keterkaitan antara akhlaq dengan makhluq dan Khaliq; bahwa, sebagaimana telah dijelaskan di awal, manusia itu diciptakan menurut citra Ar-Rahman, maka dalam ber-akhlaq pun, makhluq (manusia) harus berperilaku sebagai representasi atau perpanjangan dari Khaliq (Sang Pencipta).
(Cuplikan dari tulisan saya yang berjudul “Etika [dalam] Islam” dan pernah dimuat di Majalah Basis.)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Istilah lain yang suka dilekatkan kepada tashawwuf adalah mistisisme. Kata mistik berasal dari kata Yunani “mio” dan juga “myein” yang berarti “menutup mata” dan menunjukkan batas dari pengalaman inderawi untuk memandang ke dalam diri. Dalam pengertian ini, mistik berkaitan dengan upaya untuk masuk ke kedalaman (realitas). Kata “myeo” dalam bahasa Yunani juga merupakan asal kata mistik yang berarti “mengantar ke dalam misteri”, sementara kata “mysterion” berarti “upacara rahasia” untuk menyelami rahasia-rahasia iman. Kata “mystikos” dalam bahasa Yunani berarti “sebuah pencapaian kesatuan dengan yang sakral.” Mistik adalah pengalaman yang ‘melampaui' (transenden) pengalaman sehari-hari dengan ‘menyentuh inti realitas’ (yaitu yang Ilahi). Dalam ‘persentuhan’ itu terjadi ‘peleburan’ antara subjek yang mengalami dan isi pengalaman (Yang Ilahi). Karena bersentuhan dengan kedalaman misteri, pengalaman mistis tidak bisa diungkapkan sepenuhnya secara diskursif. Orang memakai metafora, perumpamaan dan simbol untuk mengekspresikan pengalaman itu, misalnya “perkawinan jiwa”, “larut bagai setetes air dalam lautan”, “mabuk cinta Ilahi”; selain itu ada juga lambang-lambang yang lazim seperti perjalanan, keheningan, terang dan gelap, kekeringan, padang gurun dan lain sebagainya. Mistisisme merupakan Jalan yang “tidak dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual” dan merupakan “arus besar keruhanian yang mengalir dalam semua agama” yang dalam Islam disebut dengan tashawwuf. Dalam ilmu ergonomi, dijelaskan bahwa 80% aktivitas tubuh manusia itu menggunakan mata; dengan demikian, kata mistisisme itu sendiri mengisyaratkan suatu cara perolehan pengetahuan bukan melalui tubuh maupun inderanya. Istilah ‘mistik’ yang biasa diucapkan secara populer dan asal-asalan di Indonesia tidak mengacu pada batasan di atas. Dalam pemakaian populer dan asal-asalan itu, kata ‘mistik’ tidak lain adalah sinonim dari ‘magi’ atau ‘sihir’ atau hal-hal klenik lainnya. Al-Ghazali membedakan dua jenis penglihatan, yaitu mata lahir yang disebut bashar, dan mata batin yang disebut bashirah. Dengan bashar, manusia hanya mampu melihat hal-hal yang lahiriah atau hanya penampakannya saja, yang Al Ghazali sebut sebagai khalq atau fisik. Sedangkan dengan bashirah, manusia bisa melihat khuluq atau wujud batin. Dari kata khuluq inilah nantinya dibentuk kata plural akhlaq, sehingga dengan demikian, akhlaq itu tak lain adalah wujud batin manusia. Sedangkan pengalaman mistik dalam tashawwuf itu tujuannya adalah untuk “fana” yaitu berserah diri total kepada Allah dan juga agar bisa mengenal Allah.
(Cuplikan dari tulisan saya yang berjudul “Ketika Tashawwuf Jadi Sebatas Tamasya Wacana: Mendudukkan Kembali Signifikansi Mursyid, Salik dan Thariqah” dan Insya Allah akan dimuat dalam Journal of Tashawwuf Studies, PICTS, Juli 2018.)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad...

Anda Bisa Menjadi Apapun yang Anda Inginkan?

"Anda Bisa Menjadi Apapun yang Anda Inginkan?"
'Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Asal berusaha keras!'
Well, no. Nggak juga, sebenarnya. Itu cuma 'comforting lie', kalimat setengah BS untuk menaikkan semangat belajar kita ketika kanak-kanak.
Atau sekedar bumbu untuk memotivasi para trainee yang somehow sudah sulit melihat makna hidup dalam pekerjaannya atau kesehariannya--sehingga sekedar untuk menyalakan motivasinya sendiri ia sudah tidak mampu, lalu membayar dan menyuruh orang untuk menyalakannya.
Yah, kadang menyala sih. Untuk beberapa hari.
Kalau sampai dewasa dan kita masih percaya bahwa 'kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan', mungkin perlu sedikit lebih membuka mata melihat kenyataan.
The truth is, no. Kita nggak bisa menjadi seperti apapun yang kita inginkan.
Kalau kita nggak punya suara yang bagusnya agak jauh di atas rata-rata, ya nggak bisa jadi penyanyi. Nggak akan sukses dan bahagia di sana.
Kalau sampai usia SMU kita masih belum bisa mengimajinasikan konsep dan abstraksi di balik rumus-rumus matematika dan fisika (yang kita kira itu cuma hafalan), ya nggak akan jadi saintis di NASA. Kalau kita sampai kuliah selalu buruk dalam koordinasi otot jemari, ya nggak akan bisa jadi ahli bedah syaraf atau pemain piano. Kalau di usia 40 anda tiba-tiba ingin berubah haluan menjadi dokter, ya nggak bisa berkarir sebagai dokter.
Batasan itu ada. Selalu ada.
Gimana kalo berusaha keras?
Gini. Kalau kita terus berusaha keras meski tidak berbakat, tetap akan kalah oleh orang yang berbakat PLUS berusaha keras.
Saya tidak sedang bilang untuk tidak berusaha keras mencapai sesuatu dan hidup santai-santai saja. Bukan. Tapi, daripada berusaha keras pada bidang-bidang yang bukan bakat kita dan bukan natur kita, bukankah jauh lebih mudah--dan lebih menyenangkan--jika kita berusaha keras pada bidang-bidang yang memang kita berbakat di sana, dan senang berada di sana?
Bayangkan kalau Anda tidak berbakat masak, tapi ingin menjadi master chef. Anda berusaha keras, membeli buku-buku, dan sepulang kerja waktu Anda gunakan untuk kursus ini dan itu demi meningkatkan kemampuan, sampai lewat tengah malam. Waktu untuk anak istrinya dikorbankan. Badannya yang perlu istirahat tidak dipedulikan. Sedikit banyak, ia menzalimi kesehatan dirinya dan waktu untuk keluarganya.
Sementara rekan Anda, yang berbakat masak. Sekedar melihat dan mencicipi sebuah masakan, ia sudah bisa membayangkan resepnya dan bisa langsung membuatnya. Sekedar masak biasa saja, orang sudah meminta dibuatkan masakan. Ketika mencoba buka restoran, restorannya laku keras. Rezeki mengalir mudah. Dan mencapai titik ini dengan biasa saja, tanpa harus kursus sampai lewat tengah malam, sehingga tetap punya waktu untuk anak dan istrinya. Badannya tetap sehat karena hak istirahatnya tidak dilanggar.
Jika seseorang berhasil menemukan bakatnya dan bekerja pada naturnya, maka lingkungannya (baca: semestanya) pun terpenuhi semua hak-haknya dengan adil dan tidak terzalimi.
: :
Sabda Rasulullah, "Sesungguhnya setiap diri dimudahkan untuk mengerjakan untuk apa dia diciptakan." Bukhari 2026.
"Setiap manusia diciptakan untuk sebuah jenis pengabdian tertentu, sebuah tugas tertentu. Dan hasrat untuk melakukan jenis pekerjaan masing-masing itu telah disematkan dalam hati setiap orang." Jalaluddin Rumi.
"Carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja." Confucius.
Artinya, ketika kita melakukan apa yang kita sukai, dan mudah bagi kita, kita tidak akan merasa sedang bekerja membanting tulang. Kita akan riang dalam bekerja.
: :
Bakat itu salah satu tanda yang akan mengarahkan kita ke bidang-bidang yang dimudahkan buat kita.
Di sisi lain, itu juga berarti bahwa setiap manusia juga memiliki bidang-bidang yang tidak dimudahkan baginya. Pagar ini jangan dilanggar. Nanti jadi bencana: kita tidak bahagia. Akhirnya jadi tidak bersyukur. Sampai tua mengeluh dan mati dengan menggerutu.
It's perfectly ok untuk menerima bahwa kita (ternyata) nggak bisa menjadi apapun sebagaimana yang kita inginkan. Makin cepat kita bisa menerima itu, makin baik. Artinya, kita bisa semakin fokus ke bidang-bidang lain: bidang yang kita suka, mudah mengerjakannya. Bidang yang kita sangat berbakat di sana.
Daripada sibuk menambal apa yang kurang, lebih baik fokus mengasah bakat dan kelebihan. Daripada memikirkan yang kita tidak punya, lebih baik menggunakan apa yang sudah di tangan.
Berusaha keras. Jangan diam dan santai-santai. Tapi akan lebih enak jika itu dilakukan dalam koridor bakat, atau yang mudah (baca: dimudahkan Allah) bagi kita.
Tapi saya nggak berbakat apa-apa, kang.
Itu mustahil. Setiap orang pasti, pasti, pasti, punya bakat dalam hal-hal tertentu. Hal-hal yang buat kita gampang, tapi buat orang lain sulit.
Allah itu --mustahil-- tidak memberikan bakat pada manusia. Itu kan modal dasar untuk menempuh kehidupan? Masa nggak dikasih.
Masalah sudah ketemu atau belum, atau belum mencoba mengeksplorasi dan menguji apa saja bakat kita atau pada bidang apa saja kita dimudahkan, itu persoalan lain.
Memang idealnya sejak kecil anak dibiarkan bereksplorasi pada berbagai hal--jangan dibilang boros. Biarkan anak mengerti pada bidang apa saja ia suka, dan bidang-bidang apa saja yang membuatnya bosan dan tidak suka, dan selalu gagal di sana -- meski sudah berusaha keras. Itu artinya, dia belajar mengenal dirinya. Sehingga kelak di usia SMA, anak sudah yakin dengan bidangnya dan pada hal-hal apa saja ia akan berkarya dengan ringan dan dimudahkan.
Dengan demikian, kuliahnya pun tidak 'sekedar' kuliah, 'sekedar' sarjana, 'sekedar' mencari pekerjaan, dan 'sekedar' untuk mencari uang, 'sekedar' syarat naik pangkat dan kenaikan gaji. Tidak. Jika seorang anak memasuki usia dewasa dengan memahami kelebihan-kelebihan dirinya dan pada bidang apa saja ia 'gape' dalam melakukannya, ia akan --berkarya-- di sana, bukan sekedar bekerja.
Ikan akan mati kalau ingin hidup di darat. Elang akan tersiksa dan hilang keindahannya jika dipaksa hidup di permukaan air. Itu naturnya bangau, bukan elang. Meski keduanya sama-sama burung. Itu sebuah ayat dari Allah ta’ala.
Kalau orang terus memaksa diri dalam pekerjaan dan lingkungan yang salah, itu akan jadi neraka baginya. Tapi, kalau orang ada dalam bidangnya, ia akan bersinar menjalaninya. 
Salam.
(Herry Mardian)
: :

Tuesday, November 21, 2017

Mengabdilah kepada Allah dengan segala kerelaan hati

"Kemuliaan seseorang itu terletak dalam keridhaannya terhadap takdir Allah Ta'ala, entah apakah Allah sedang menempatkan ia seperti Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, atau seperti Nabi Musa yang terusir dari negeri Mesir atau dalam keagungan singgasana Nabi Sulaiman, baginya sama saja, bahwa ia tetap ridha akan Allah, dan dalam pandangan Allah, itulah kemuliaan yang sejati."
(Ucapan Mursyid saya yang sampai kepada saya melalui istrinya. Setahu saya, dalam salah satu hadits, Rasulullah saw pernah bersabda "Mengabdilah kepada Allah dengan segala kerelaan hati. Jikalau engkau tidak sanggup, maka bersabar atas apa yang tiada engkau sukai itu banyak kebajikannya.")
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri?
Tidak, tujuannya ialah untuk menyenangkan anak-anak atau mengingatkan kembali teman-teman yang telah lama berpisah kepada kenangan terhadap mereka yang mencintainya.
Adakah pembuat tembikar yang membuat kendi demi kendi itu sendiri dan bukan karena mengharapkan air?
Adakah kaligrafer yang menulis demi tulisan semata dan bukan demi kepentingan pembacanya?
Ini seperti langkah dalam catur, anakku: hasil dari setiap langkah dirasakan pada langkah selanjutnya.
Dengan memahami sebab di balik sebab, satu setelah lainnya, engkau mencapai kemenangan dan men-skak-mati.
Orang yang jiwanya bebal tidak tahu bagaimana maju: dia berbuat berdasarkan keyakinan serta melangkah secara buta.
Keyakinan buta, jika engkau ikut bertempur, adalah sia-sia seperti keyakinan penjudi atas keberuntungannya.
Apabila rintangan di muka dan di belakang terangkat, maka mata akan menembus dan membaca lembaran Yang Tak Terlihat.
Orang yang waskita ini melihat ke belakang ke asal keberadaannya – dia melihat para Malaikat mendebat Yang Maha Kuasa ketika hendak menjadikan Ayah kita (Adam) sebagai wakil-Nya,
Dan, sambil mengarahkan matanya ke masa depan, dia melihat segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Pengadilan.
Setiap orang melihat sesuatu yang tak terlihat menurut kadar cahayanya.
Semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah ia melihat segala.
Kesucian ruhani terlimpah dari Karunia Ilahi; keberhasilan dalam menggosoknya juga merupakan Anugerah-Nya.
Usaha dan doa tergantung pada cita-cita: Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Tuhan sendiri adalah Pemberi aspirasi: orang yang kasar takkan bercita-cita menjadi Raja;
Namun takdir Tuhan tentang nasib tertentu bagi seseorang tidak merintanginya untuk berkemauan dan mengambil pilihan.
Ketika kesulitan datang, orang yang bernasib sial akan berpaling dari Tuhan, sementara orang yang diberkahi akan mendekat kepada-Nya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Sedekah

SEGALA sesuatu ada sedekahnya. Kenapa? Karena kita tidak memiliki segalanya seratus persen. Selalu ada hak orang lain di dalamnya. Katakanlah, mungkin 2,5 persen. Saya juga nggak tahu angka persisnya.
Segala sesuatu ada sedekahnya. Sedekah harta, tentu kita sudah tahu semua. Sedekah bagi perut (haknya perut) adalah dipuasakan. Sedekah bagi pikiran, haknya pikiran, adalah dibawa hening untuk merenung. Sedekah rumah adalah ruang tamunya: untuk menerima tamu. Sedekah bagi wajah adalah senyum dan bermuka ramah. Sedekah bagi tulang belulang kita adalah shalat dhuha. Sedekah bagi ruangan adalah pernah digunakan shalat atau membaca quran di dalamnya.
Kalau kita tidak pernah memberikan hak perut, misalnya, suatu saat tentu ia akan bermasalah. Bukan karena ia marah. Tapi, simply, karena membuatnya bekerja tanpa henti itu bertentangan dengan naturnya. Jadi wajar kalau 'rusak'. Itu satu contoh saja.
Sedekah kendaraan? Memberi tumpangan. Sedekah tenaga adalah membantu orang. Sedekah waktu, sedekah kesehatan, sedekah kemampuan, sedekah keahlian. Jika kita seorang dokter, misalnya, harus ada saat setiap bulan atau setiap tahun, di mana kita berperan sebagai dokter tanpa dibayar. Mungkin untuk orang kecil, sebulan sekali? Teknisnya, terserah masing-masing.
Seorang raja akan dihukum berat kelak, jika hak-hak rakyatnya tidak terpenuhi. Kita mungkin bukan raja di negeri kita--dihukumi tentang ini akan menjadi urusan para pemimpin kita. Namun kita adalah raja di jasad kita masing-masing. Kita juga akan dihukumi, jika hak-hak para penduduk negeri kita ini kita lalaikan. Kita akan dihukumi terkait diri kita dan apa yang kita miliki (baca: rakyat kita): harta kita, jasad kita, perasaan kita, ucapan, pikiran, lintasan hati, tenaga, dan lainnya. Seorang ibu akan dihukumi terkait diri, anak, dan rumah tangga. Seorang ayah akan dihukumi terkait diri, anak, istrinya. Seorang atasan akan dihukumi terkait bawahan-bawahannya. Dan seterusnya.
Kalau kita lalai bersedekah, Allah akan melindungi kita dari penghisaban berat kelak, dengan mengambil apa-apa yang bukan hak kita sebelum kita wafat. Dengan begitu, Dia tidak perlu menghisab kita terkait hal itu. Entah mengambilnya dengan cara apa, Dia lebih tahu. Kecurian? Kebakaran? Sakit berat yang biaya pengobatan sangat mahal? Atau saudara yang butuh dinafkahi? Banyak cara Allah membersihkan harta kita. 
Untuk apa sedekah? Bukan sekedar untuk, misalnya, membantu orang miskin. Itu cuma kewajiban sosial. Atau sekedar 'merasakan penderitaan orang yang tidak mampu'. Bukan. Itu terlalu naif. 
Sedekah adalah untuk menghubungkan kita dengan Allah ta'ala. Tapi yang menghubungkan kita dengan dia dalam hal ini bukan 'cuma' pahala. Ada yang lebih utama dari itu.
Jadi apa?
Jadikan sedekah kita sebagai 'mas kawin' akad kita pada Allah ta'ala. Sebuah transaksi. Berdaganglah dengan Allah ta'ala, jika mau disebut begitu. Atau apapun lah namanya. Intinya, ketika sedekah--uang, waktu, tenaga, pikiran, kemampuan--akadkan, "Ya Allah, aku suka menolong orang ini, karena aku pun akan sangat suka jika Engkau tolong. Tolonglah aku dalam dalam hari-hari sulit kelak, di dunia maupun di akhirat." Atau, "Ya Allah, mudahkan aku dalam hari-hari sulit, sebagaimana aku memudahkan orang ini menghadapi kesulitannya." Semacam itu. Itu contoh agar sedekah kita terhubung dengan Allah ta'ala. 
Nah. Dengan begitu, sedekah kita itu menjadi "sebuah doa dalam bentuk perbuatan". Du'a bil hal. Ada harapan kepada Allah yang dibawa oleh tindakan itu. Itu jadi sebuah tanda butuhnya kita pada Dia. Ada sebuah ingatan kita pada Allah, sebuah zikir, yang kita pakukan pada Sang Waktu, melalui tindakan itu. Makin berat upaya yang kita keluarkan, artinya semakin dalam kita memakunya.
Setelah itu, lupakan. Forget it and just go. Go on and live the life. Biarkan Allah yang mengingatnya.
Jadi, berbuat baik atau menolong pada orang lain bukan dengan pengharapan agar kelak dia menolong kita balik pada saat sulit. Atau ada sebersit harapan kecil untuk membina hubungan baik, agar bisnis dengan bapaknya lancar. Itu pamrih namanya. Salah besar. Apalagi sedekah sekedar untuk mengusir orang agar cepat pergi.
Dengan demikian, karena bukan itu tujuannya, maka kita pun tidak boleh sakit hati jika orang yang pernah kita tolong ternyata tidak menolong balik ketika kita dalam kesulitan. Itu tanda bahwa kita belum murni pengharapan pada Allah-nya. Belum ikhlas.
Tapi seandainya pun kita masih begitu, ya tidak apa. Artinya kita masih harus memohon pada Allah agar Dia memperbaiki diri kita--dan 'kegagalan ikhlas' ini pun menjadi ilmu buat kita tentang kondisi hati kita hari ini. Ini sebuah hikmah yang lain dari sedekah.
Kepada siapa bersedekah? Kepada yang benar-benar butuh. Cari. Lebih utama pada mereka yang menyembunyikan kesulitannya, atau menolak meminta-minta. Ini lebih sulit nyarinya.
Nggak usah nanya agamanya apa. Dia sholat atau tidak, atheis atau alim, bukan masalah dalam hal ini. Just help. Apa kita mau Allah pilih-pilih terhadap kita--hanya menolong kita hanya ketika kita sedang alim dan rajin baca Qur'an? Kita tentu ingin ditolong-Nya dalam segala keadaan dan segala kelemahan kita. Dalam ingat maupun dalam keadaan berdosa.
Semoga bermanfaat, dan selamat berhari Jumat.
(Herry Mardian - 21 November 2014).
: :
#repost [edit 21-11-2017]

Saturday, November 18, 2017

memasukkan siang ke dalam malam

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (QS Nuh [71]: 5-6)
#################
Syaikh Al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa “seandainya Nuh menyeru dengan cara ‘memasukkan siang ke dalam malam’ dan ‘malam ke dalam siang’, maka pasti dakwahnya berhasil.”
Dalam suatu kesempatan, Mursyid saya—yang kebetulan seorang dosen ITB dan doktor Geologi—menjelaskan bahwa: “‘Siang’ itu menyimbolkan aspek lahiriah seperti sains atau tradisi zaman, sedangkan ‘malam’ menyimbolkan aspek batiniah, seperti agama dan spiritualitas.”
Secara pribadi, itu pula yang ingin saya coba lakukan. Bahwa saya mempelajari filsafat dan cultural studies serta mencoba menulis dengan kaidah ilmiah—serta meninggalkan doktrin-doktrin agama yang harfiah lagi kaku yang pernah saya cicipi saat masih muda—maka itu adalah kegiatan “siang” saya. Juga aktivitas saya di Studia Humanika (Masjid Salman ITB) mau pun Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB, dan juga kuliah di STF Driyarkara. 
Bagi saya pribadi, itu bukanlah sekadar kegiatan serta kuliah demi selembar ijazah dan gengsi. Bagi saya, itu adalah jalan dakwah juga. Dengan memasukkan agama (malam) dalam setiap kegiatan tersebut; memasukkan malam ke dalam siang, namun juga memasukkan siang ke dalam malam. Saya melihat contoh itu langsung dari Mursyid saya. Sebagai seorang saintis, banyak pemaparan beliau soal hikmah ayat-ayat Al-Qur‘an dijelaskan melalui metafora dan alegori dari fenomena alam yang dideskripsikan secara saintifik. Namun bukan berarti beliau seorang Bucailis, yang menempelkan sebuah teori sains pada satu ayat Al-Qur‘an untuk menunjukkan ‘status ilmiah’ dari Al-Qur‘an. Itu fatal, karena jika suatu saat nanti, teori sains yang ditempelkan pada ayat Al-Qur‘an itu terfalsifikasi atau terbukti salah, maka, konsekuensinya adalah ayat Al-Qur‘an itu jadi ikut ‘terbukti salah’, sehingga bisa saja malah memunculkan tuduhan “ternyata Tuhannya orang Islam tidak tahu apa pun tentang alam yang diciptakan-Nya.” Fatal sekali bukan?
Dalam salah satu percakapan dengan Prof. Bambang Sugiharto, guru filsafat pertama saya, beliau pernah berkata: "Al, saya penasaran, seperti apa jadinya kalau ada seorang saintis merangkap mistikus juga? Kayak apa ya? Penasaran saya." Mendengar hal itu, saya hanya membatin dalam hati: "Saya kenal satu pak, bahkan beliau adalah Mursyid thariqah saya."
Nah, kini, mari kita lihat sejarah. Bukankah abad kejayaan Islam ditandai juga dengan abad kejayaan sainsnya? Tapi, hari ini, untuk menentukan awal bulan—entah itu Ramadhan maupun Syawwal—umat Islam di Indonesia masih meributkan hisab dan rukyat. Padahal astronomi Islam di abad pertengahan adalah yang terdepan di zamannya. Dulu, perkembangan pesat ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam itu justru lahir dari kebutuhan untuk ‘beragama’; bagaimana Aljabar lahir dari hukum waris, bagaimana astronomi lahir dari kebutuhan menentukan arah kiblat saat dalam perjalanan jauh, juga menentukan awal bulan Qamariyah, dan sebagainya. Bahkan indeks yang biasa kita temukan dalam berbagai buku ilmiah itu lahir dari kebutuhan untuk mengelompokkan hadits (karena hadits tidak seperti Al-Quran yang sudah baku urutan dan penomoran suratnya), dan banyak lagi hal lainnya.
Mursyid saya pernah berpesan bahwa “apa pun yang kita kuasai hari ini, yang ada di tangan kita, entah apa pun background keilmuannya, pada dasarnya itu adalah jembatan bagi kita masing-masing untuk berdakwah.” 
Itulah kenapa saya berulang kali menuliskan ihwal Skizofrenia Kultural yang banyak melanda umat Islam. Bagaimana seorang mahasiswa Fisika harus ‘memegang’ kaidah bahwa yang tercepat itu adalah kecepatan cahaya, namun saat datang ke Masjid Salman untuk mengikuti Peringatan Isra Mi‘raj, dia harus berganti ‘jubah’ menjadi seorang muslim yang mengimani ‘perjalanan lintas alam dan di atas kecepatan cahaya’ , atau mahasiswa Ekonomi yang di kampus belajar soal suku bunga dan seluk beluk perbankan lalu datang ke Masjid Salman untuk menyimak khutbah tentang haramnya riba dengan memakai ‘jubah’ sebagai seorang muslim. Dan banyak lagi fenomena semacam ini, belum lagi fenomena bagaimana Islam menjadi 'makmum' atau 'keset: bagi wacana-wacana teoretik (post)modern, sehingga Islam harus selalu menyesuaikan diri terus menerus dengan berbagai ritme perubahan dalam dialektika wacana teoretik (post)modern tersebut.
Belum lagi fenomena medioker, yang belajar segala hal serba tanggung. Seperti kata pepatah: ‘Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.’ Belum lagi fenomena ‘kata ustad ana’ yang sedemikian sakti dan bisa dipakai untuk mengkafirkan siapa pun yang tidak sepengajian dengannya. Walaupun sangat terkenal, tapi kalau kita cari di Google dengan keyword ‘ustad ana’, kok tidak muncul juga wajahnya. Heran. Palingan saya hanya berhasil menemukan obat bernama “ENTECAVIR”, tapi tidak untuk foto wajah ustad ana...
Selain itu, saya pun menolak misi dan visi hilirisasi dari Kemenristekdikti yang memposisikan “manusia hanya terlahir serta dididik untuk industri” yang harus melakoni pekerjaan nan tak disukai dengan pola ‘I don‘t like Monday’ ke ‘thanks God it‘s Friday’. Padahal inti ajaran agama itu bahwa “Allah menciptakan manusia itu dengan tujuan khusus bagi setiap individu.” Seorang Einstein saja bisa menyatakan bahwa “Semua orang terlahir jenius. Tetapi jika Anda memaksa seekor ikan harus bisa memanjat pohon, maka Anda telah membuat dia menghabiskan seumur hidupnya bahwa dirinya bodoh.”
Bagi saya pribadi, ini bukan cuma kata-kata bijak. Saya merasakan sendiri bagaimana menjadi mahasiswa biasa-biasa saja dan nyaris bego abis, karena kuliah di Desain Produk. Saya merasakan bagaimana tidak enaknya jadi “ular laut yang bisa bergerak lincah di dalam laut, namun mendadak kikuk saat diangkat ke darat”. Sedangkan, terkait dengan sisi malam, itu adalah sisi mistik saya sebagai seorang salik dari sebuah thariqah selama 20 tahun ini. Namun, yang saya bagi ke publik pun adalah ajaran-ajaran yang semoga berguna bagi siapa saja (dan bukan pengalaman mistik yang hanya untuk diri sendiri).
(Cuplikan obrolan lama bersama para sahabat yang memiliki visi sama.)

Friday, November 17, 2017

Khalifah di Muka Bumi

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 30)
#################
Kita masuk ke ayat 30 dari Al-Baqarah yang berkaitan dengan penciptaan Adam as. Istilah ‘khalifah’ dalam hal ini dimaknai sebagai ‘wakil’, ‘pengganti’ tapi tidak semata-mata pengganti; sebagai wakil Allah di muka bumi tentu harus bisa mewakili Allah. Jadi, secara simbolik yang disebut khalifah itu sesuatu yang mewakili; semakin ia mewakili maka semakin ia mirip dengan atribut Ilahiyyah, dan pada prinispnya semakin tinggi derajat khalifah itu.
Ketika Allah memberitakan kepada malaikat tentang khalifah fil ardh, walaupun Adam dicipta di surga, tapi memang untuk diturunkan ke bumi, bukan untuk di surga. Kalimatnya “Ia akan mengadakan di bumi seorang khalifah”; jadi bukan karena salah Adam kemudian dia turun ke bumi, tapi memang itu mekanisme yang Allah Ta’ala kehendaki.
Khalifah dalam terminologi kita sebagai pejalan itu berarti menjadi citra, dan seafdhal-afdhal khalifah itu adalah yang merupakan bayangan Allah. Ada sebuah peristiwa khusus yang terjadi dalam penciptaan Adam as sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits qudsi:
#################
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ketika Allah menciptakan Adam dan telah meniupkan ruh adanya, Adam bersin, lalu ia mengucapkan: “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)”, ia memuji Allah dengan seizin-Nya. Lalu Allah berfirman kepadanya: “Rahimakallah ya Adam (Hai Adam, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu). Pergilah kepada para malaikat itu, yakni yang duduk-duduk dari mereka, dan ucapkanlah: “Assalamu'alaikum (semoga kesejahteraan tetap atasmu).” Mereka menjawab: “Wa'alaikas salam wa rahmatullah (semoga kesejateraan dan rahmat Allah atasmu).”
Kemudian ia kembali kepada Tuhannya. Allah berfirman: “Inilah tahiyyat (penghormatan)-mu dan tahiyyat di kalangan anak cucumu.” Lalu Allah berfirman kepadanya dengan tergenggam kedua belah tanganNya: “Pilihlah mana yang kamu sukai?” Adam menjawab: “Aku memilih tangan kanan TuhanKu.” Dua tangan Tuhanku yang kanan adalah penuh berkah, kemudian dibentangkannya, tiba-tiba di sana ada Adam dan keturunannya. Adam berkata: “Wahai Tuhanku, apakah itu?” Allah berfirman: “Mereka adalah keturunanmu.” Masing-masing dari mereka telah tercatat umurnya di antara dua matanya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang paling bersinar atau termasuk orang yang bersinar dari mereka. Adam berkata: “Wahai Tuhanku, siapakah ini?” Allah berfirman: “Ini adalah anakmu, Dawud, telah Aku catat umurnya 40 tahun.” Adam berkata: “Wahai Tuhanku, tambahlah umurnya.” Allah berfirman: “Itulah vang telah Aku catat baginya.” Adam berkata: “Wahai Tuhanku, aku memberikan 60 tahun dari umurku untuknya.” Allah berfirman: “Seperti yang kau inginkan.” 
Kemudian Allah menempatkannya di surga selama yang dikehendaki Allah, kemudian diturunkan dari padanya dan Adam menghitung (umur) dirinya. Beliau bersabda: “Malakul maut (malaikat penjabut ruh) datang kepadanya, lalu Adam berkata : “Kamu tergesa-gesa, saya telah dicatat berumur 1000 tahun.” Malaikat maut menjawab: “Memang, tetapi kamu telah memberikan kepada anakmu, Dawud, 60 tahun.” Lalu Adam menentang, maka keturunannyapun menentang. Adam lupa, maka keturunannya pun lupa. Beliau bersabda: “Sejak itu, diperintahkan untuk membuat catatan dan saksi-saksi.” (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).
#################
Di dalam Al-Quran, Dawud disebut secara khusus sebagai khalifah di QS Shaad [38]: 26.
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
Di QS Al Baqarah [2]: 30, tidak secara eksplisit nama Adam disebut bergandengan dengan khalifah, tapi di QS Shaad [38]: 26 disebut namanya, “Ya Dawud, sesungguhnya ja’alnaka...” Dalam tafsir sufistik, kalau sudah ada “ja‘alnaka” itu sudah menunjukkan kedekatan dengan Allah Taala. Aku—Dia. Nama Dawud dalam ayat itu sudah berhubungan dengan “khalifah fil ardh.” Jadi, sejak Adam diciptakan, khalifah yang sesungguhnya itu adalah Daud as.
Dalam sebuah kitab tashawwuf disebutkan bahwa “Era agama itu diawali dari nabi Daud as.” Padahal kita tahu sebelumnya ada Musa as. Kalau kita bandingkan Musa as dengan nabi Dawud as, maka simbol “Rubbubiyah” atau pemeliharaan itu ada di Dawud as, simbol kekuasaan seorang raja yang memerintah dan memelihara masyarakatnya. Pada masanya, Adam belum punya umat, kecuali anak-anaknya, sehingga tidak terlihat aspek Rubbubiyah-nya. Musa memang punya umat yang banyak, tapi pada masa Dawud as sudah ada kiblat, yaitu Masjidil Aqsha. 
Adapun Musa as mengekspresikan umat yang belum menemukan baitullah-nya. Mereka masih hijrah, dan simbol ‘rumah Tuhan’-nya ada dalam tabut, dan tabut itu dibawa-bawa oleh mereka. Ketika nanti mereka menemukan Yerusalem sebagai tempat baitullah, maka tabut yang diusung itu pun ditaruh di dalam Baitul Maqdis. Tabut itu adalah wadahnya Musa yang masih bayi. Tabutnya Musa yang awal itu—bersama dengan semua perlengkapan keluarga Musa dan Harun—dibawa dalam sebuah kotak yang ditandu. Jadi ke mana pun Bani Israil berjalan-jalan, bahkan saat terkatung-katung selama 40 tahun di gurun Tih, Tabut itu selalu mereka bawa, terlebih mereka tidak mempunyai tempat. Barulah setelah menaklukkan bangsa Filistin, mereka mempunyai tempat. 
Itu merupakan simbol bahwa kita, sebagai insan, yang sekarang sedang dalam pengembaraan. Setiap salik yang belum menemukan diri berarti belum menemukan “ka‘bah diri”-nya, sehingga sebenarnya si salik itu belum ada di era agama, karena ad-dîn itu sudah mencakup semua tindakan yang Allah perintahkan. Jadi, secara hakikat, pejalan yang belum mencapai ma‘rifat berarti belum menegakkan ad-dîn , karena “awaluddina ma ‘rifatullah”, “awal dari ad-dîn adalah ma‘rifatullah”, dan ini betul-betul konsisten dengan hadits Rasulullah saw bahwa “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu”, “barang siapa mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal Rabb-nya.” Nah, “ma‘rifatu Rabb” itu awal dari “ma‘rifatullah.”
Kalau seorang salik sudah mengenal nafs-nya, mengenal Rabb-nya, maka dia akan mengenal jati dirinya. Kalau seseorang sudah mengerjakan misi hidupnya, maka dikatakan bahwa orang itu sudah dalam ad-dîn-nya. Nah, perkara inilah yang oleh sebagian pemuka agama dibantah, karena tidak dipahami apa itu “ma‘rifatullah”, apa itu misi hidup.
Dalam QS Al-Baqarah [2]: 27, “orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah” itu artinya orang-orang yang tidak mengikuti apa yang Allah perintahkan. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang melanggar perjanjian, karena kita sedang berjuang untuk menemukan perjanjian itu.
Pada zaman Rasulullah saw, kompleksitasnya lebih rendah, dalam arti yang dihadapi sebagai orang kafir itu jelas dan berperang. Maka, orang-orang di zaman Nabi itu pejuang yang tidak takut lapar dan tidak takut miskin, sehingga kematiannya dikatakan sebagai mati syahid, karena fokus perjuangan pada zaman itu adalah melawan kaum kafir Quraisy. Tentu saja perjuangan di zaman sekarang tidak sama bentuknya dengan di zaman nabi, walaupun esensinya sama memerangi kekafiran dalam diri kita, dalam masyarakat. Bahwa kapan kita harus mengangkat pedang, itu Allah yang Maha Tahu. Tapi, minimal, perang di zaman ini adalah perang pengetahuan.
Kembali ke ayat barusan, khalifah sesungguhnya itu ada di Dawud as, yang pertama. Selain itu, ada juga Sulaiman as, karena menampilkan kebesarannya secara fisik.
(Sepenggal paparan ihwal apa arti khalifah dalam Pengajian Hikmah Al-Quran yang diampu oleh Mursyid saya.)

AL-BIRR (Mengabdi atau Kebaktian)

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu al-birr, akan tetapi sesungguhnya al-birr itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah [2]: 177)
#################
Memberi saat kita sedang berkelebihan itu adalah kewajiban. Memberi saat kita sendiri justru sedang berada dalam kesempitan itu adalah al-birr.
(Zamzam Ahmad Jamaluddin T., Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah)
#################
Yang namanya pengabdian (kebaktian atau al-birr) itu ya mengabdi, hanya mengabdi tiada lain selain mengabdi. Mengabdi itu berarti berbuat bukan untuk dirinya sendiri. Seseorang yang mengabdi, melakukan pengabdian, tidak akan pernah memikirkan keuntungan apa yang bakal diraih. Dia berbuat sesuatu yang bermanfaat bukan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk di luar dirinya. Jiwanya telah terbebas dari pamrih.
Mengabdi itu banyak cara, beragam jalan, tanpa harus diseragamkan. 
Mengabdi itu sesuatu yang sangat alami tidak dibuat-buat, tidak butuh pengakuan, tidak perlu diberitakan.
Mengabdi ya cukup mengabdi saja bukan untuk diapa-siapakan, bukan untuk sebutan gelar terpandang, menjadi semakin berjarak meninggikan ego.
Saat semuanya berbuah menjadi manfaat buat semesta, kita menjadi semakin sadar bahwa dalam sebuah pengabdian, tidak ada yang kita korbankan selain ego kita sendiri.
(Mbah Rezha Rochadi, pakar IT merangkap salik dan ustadz)

Ayat Astronomi

“Dan Allah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu serta keseluruhannya, dan Dia menuju pada pembentukan langit (as-sama‘i) lalu menjadikannya tujuh buah langit (as-samawati). Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah [2]: 29)
Jadi jelas, secara astronomi ayat ini membingungkan. Kok membuat bumi dulu, baru langit. Padahal, secara astronomi modern, langit dulu yang dibentuk, baru bumi. Hal ini sebenarnya menjelaskan ayat 22, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizqi untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”; sehingga terlihat agak melompat. Tapi begini cara Allah ‘memainkan’ urusan.
Sehingga, begitu masuk ayat 30...
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” 
...malah jadi tidak nyambung. Padahal sangat nyambung antara ke-air-annya nyamuk dengan penciptaan Adam dan nama-namanya.
(Untuk pembahasan tentang nyamuk dalam Al-Baqarah silakan klik link di bawah ini:
Silakan dibaca juga. Demikian.)
Jika kita berkaca di sebuah cermin, maka kita akan melihat diri kita. Nah, kita bisa berkaca di sebuah cermin yang ada kaca dan rasahnya, atau di sebuah logam yang digosok sedemikian kuat sehingga berkilap. Bahkan cermin yang lebih bagus dibuat dari logam yang dikilapkan. 
Secara spiritual, zaman dahulu bukanlah kaca, tapi logamlah yang digosok. Maka, dalam suluk, penggosokan hati untuk menjadi sebuah cermin yang mengkilap itu dikarenakan hati sang salik adalah logam ‘al-hadid.’ 
(Berbeda dengan batu yang apabila pecah sangat sulit untuk bisa dipersatukan lagi, logam yang patah bisa dipersatukan lagi dengan cara dilebur dan ditempa oleh pandai besi—Alf.)
Di permukaan air pun kita bisa melihat sebuah bayangan yang sama. Jadi, fungsi air pun sama dengan fungsi logam dan kaca, yaitu sama-sama menampilkan diri kita di atasnya. Lantas di manakah Adam? 
Kenapa ketika kita bercermin, lantas ada bayangan kita di atasnya? Karena adanya kaca dan cahaya. Lalu, apa yang kita pandang dengan semua wujud yang kita lihat ini? Sebenarnya, alam semesta pun adalah bayangan Dia. Akan tetapi di mana cermin atau di mana logam yang digosoknya?
Sebenarnya, wujud yang kita terima itu adalah bayangan dari Ar-Rahman, maka disebut ‘surah’ atau citra atau gambaran. 
Kalau kita berkaca di cermin, maka ada bayangan atau surah kita. Namun, tentu saja antara gambar dalam cermin dengan kita tidaklah sama, tapi wujudnya ada.
Begitu pula alam semesta yang fisik ini yang merupakan bayangan atau ‘surah’ dari Ar-Rahman. Kita harus tahu apa itu Dzat Allah, shifat-Nya, asma-asma-Nya. 
Lantas apa itu Ar-Rahman?
Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa manusia itu ‘surah’-nya ‘Huwa’ (Dia), tapi dikatakan manusia itu sebagai ‘surah’-nya ‘Ar-Rahman’. 
Sama ketika Al-Hallaj mengatakan ‘ana al-haqq’ lalu dia disebut mengaku sebagai Allah. Itu bodoh sekali, karena ‘al-haqq’ itu adalah salah satu asma dari Allah Ta‘ala.
Bahkan nama ‘Allah’ sekali pun itu adalah nama dari Dia. Dan antara nama dengan Dia sama sekali tidak sama. Jadi, apa yang kemudian tampil sebagai wujud Adam dan kosmos itu sebenarnya adalah bayangan, karena kita tidak punya wujud.
Bukankah kita ini tidak ada, tidak punya bentuk di alam semesta? Dan kalau pun kita punya wujud, itu karena kita adalah bayangan dari Yang Maha Wujud. Di samping Allah tidak ada wujud yang lain.
Apa bedanya air yang ada di langit atau di awan? Awan itu bukan asap. Itu adalah H2O. H2O itu ada tiga jenis. Ada yang dalam bentuk padat, cair dan gas. Masing-masing kerapatannya berbeda saja. 
Uap yang keluar dari magic jar itu bukanlah H2O gas, tapi H2O cair, hanya saja bentuknya bulat. Jadi, awan atau embun itu bukanlah uap, tapi air cair, hanya saja tidak jatuh ke bumi. Ada air yang jatuh ke bumi, ada air yang melayang.
Maka dari itu, di manakah Allah ketika Dia mencipta? Itu tak ubahnya seperti di dalam awan, karena belum membumi semuanya. Apa yang sampai ke permukaan bumi adalah bayangan Ar-Rahman. Maka, setelah sekian hari mencipta, Dia bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas permukaan air. Arsy itu dalam diri manusia, yaitu qalb.
Apabila ada sebuah benih yang tumbuh di dalam qalb, maka apa pun yang tumbuh di permukaan qalb akan terlempar ke jasad, karena antara Arsy dan alam semesta adalah bayangan. Apa pun yang tampil di Arsy, di Lauh Mahfuz, itu akan terlempar ke bumi. Apa pun yang tumbuh di qalb kita, pasti akan terlempar ke jasad. Jika pohon sabar muncul di qalb, pastilah raga pun akan sabar tanpa harus dipaksa
Ada istilah mata air, tetes air, kelembaban yang belum jatuh ke bumi, tetes air yang terpisah lalu menyatu menjadi sebuah danau yang besar. Kalau kita bercermin di kaca, maka kita melihat wujud kita dalam bentuk 2 dimensi. Tapi, karena Dia Ta‘ala sangat canggih dalam mencipta, maka bayangannya pun 3 dimensi. 
Jadi, di balik diri kita ada cerminnya. Ada pun yang tampil ini adalah bayangannya. Inilah yang dikatakan dalam QS Al-Insan [76]: 1: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Itulah yang dikatakan bahwa ‘kalau kita berkaca di sebuah cermin, maka bayangan di cermin itu tidaklah hidup.’ Kalau bayangan yang di dalam cermin itu diberi ruh, maka mulailah ada perbedaannya. Geraknya pun mulai tidak kompak lagi akrena menjadi hidup terpisah. Itulah yang dimaksudkan dengan “Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang. Dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia jadikannya (bayang-bayang itu) tetap, kemudian kami jadikan matahari sebagai petunjuk. Kemudian Kami menariknya (bayang-bayang itu) kepada Kami sedikit demi sedikit.” (QS Al-Furqan [25]: 45-46)
(Sepenggal paparan dalam pengajian Hikmah Al-Quran yang diampu oleh Mursyid saya.)

Thariqah dan tasawuf adalah "tipu daya iblis" seperti tertulis dalam buku Talbis Iblis?

Pandangan negatif terhadap thariqah, tasawuf dan sufi yang beredar di masyarakat awam, sedikit banyak muncul dari kesalahpahaman dalam membaca buku Talbis Iblis ("Tipu Daya Iblis") karya Ibnul Jauzi, seorang ulama fiqh ternama asal Baghdad yang juga merupakan sejarawan, ahli ilmu hadits dan tafsir, yang hidup di abad 12 M.
Buku yang cukup populer di negeri kita ini memang kerap dijadikan argumen dari suatu kelompok tertentu untuk mencap kesesatan tarekat, tasawuf, dan sufi, serta menganggapnya sebagai "tipu daya iblis". Menurut hemat kami, hal ini bertolak belakang dengan konteks dan maksud Ibnul Jauzi sendiri dalam menulis buku ini, di mana beliau sebenarnya berupaya memberi peringatan akan bahaya tipu daya iblis — yakni hal-hal yang dipandang baik, tapi sebenarnya sebuah kesesatan — tidak hanya kepada kalangan sufi, melainkan semua kalangan dalam agama.
Ibnul Jauzi adalah salah satu ulama yang terdepan dalam memerangi bid'ah jaman itu, yaitu dari berbagai pandangan yang menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran yang semestinya.
Di dalam Talbis Iblis ini, Ibnul Jauzi tidak hanya memberi peringatan kepada kelompok sufi saja, melainkan berbagai kalangan dalam agama, seperti khawarij, rafidah, batiniyah, bahkan sampai para filsuf, ahli tafsir, fuqaha (ahli ilmu fiqh), qurra' (pembaca Al-Qur'an), para ahli hadits (terutama asbabul hadits) dan masih banyak lagi yang lain. Beliau tidak secara khusus mengajukan penentangan terhadap ajaran sufi, akhlaq atau tasawuf, melainkan lebih pada menguraikan seluk-beluk "tipu daya iblis" yang senantiasa mengintai kalangan mana pun, tidak hanya kaum sufi.
Buktinya adalah bahwa di dalam buku Talbis Iblis ini (Bab 11), Ibnul Jauzi justru secara eksplisit menyebutkan beberapa tokoh sufi besar di masa-masa awal, seperti Abu Sulaiman al-Darani, Abu Yazid al-Bistami, dan Al-Junaid sebagai orang-orang yang menekankan pentingnya berpegang pada Kitabullah dan Sunnah dalam pengajarannya.
Sementara itu jika kita tilik buku beliau yang lain seperti Shifatush Shafwa ("Sifat-Sifat Terpilih"), Ibnul Jauzi malahan memuji lebih banyak lagi tokoh sufi ternama, seperti Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham, Ma'ruf al-Kharkhi, bahkan Rabi'atul Adawiyah (sufi wanita ternama dari Basra). Beliau berpandangan bahwa para wali/auliya' yang benar adalah mereka yang tidak menyalahi aqidah dan syari'at agama. Bahkan tentang auliya' dan shalihin itu, beliau menuliskan dalam bukunya bahwa "Mereka adalah maksud dari kejadian/penciptaan ("al-auliya' wa ash-shalihun hum al-maqsud min al-kaun"). Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan yang mengamalkannya dengan pengetahuan yang benar… yakni mengamalkan apa yang diketahuinya, sedikit tersentuh pada kehidupan dunia, mencari kehidupan akhirat, dan bersiap mati dengan mata yang senantiasa awas dan bekal yang cukup."
Ini semua merupakan indikasi bahwa Ibnul Jauzi, melalui bukunya Talbis Iblis ini, tidak sedang "menyerang" semua kaum sufi atau seluruh ajaran sufi atau tasawuf — yang justru beliau pandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari agama — melainkan sebagian kelompok saja yang menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran yang semestinya, yakni yang tidak melandaskan ajarannya pada Al-Qur'an dan Sunnah.
: :
Dari wall-nya Herry Mardian