Wednesday, November 22, 2017

Akhlaq yang mulia itu adalah karya seni terbaik Allah SWT.

“Akhlaq yang mulia itu adalah karya seni terbaik Allah SWT.”
(Zamzam Ahmad Jamaluddin T., Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu (fîkum) ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan (al-‘amri) benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada ‘al-iman’ dan menjadikan ‘al-iman’ itu indah (zayana) di dalam qalb-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (alrrâsyidûna), sebagai karunia dan ni‘mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Hujurât [49]: 7-8)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Akhlaq dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari “khuluq”, dan secara bahasa akhlaq sering diterjemahkan sebagai budi pekerti, perangai, tingkah laku, perangai atau tabiat. Namun, akar kata “khalaqa” yang artinya ‘menciptakan’ menjadi pembentuk kata khuluq, akhlaq, makhluq (yang diciptakan) dan Khaliq (Sang Pencipta). Dalam QS Al-Qalam [68]: 4 dinyatakan, ihwal Rasulullah saw, bahwa “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (khuluqul adzim).” Al-Adzim adalah salah satu asma (nama) Allah, dan untuk lebih memahami hal ini, perlu disimak tentang hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menoleh dengan memalingkan mukanya—yakni menoleh dengan memutar lehernya—karena jika menoleh, beliau menghadap dengan seluruh tubuhnya. Sadruddin Al-Qunawi menjelaskan bahwa:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ketahuilah, di antara masalah yang menjadi sandaran para muhaqqiq dan syariat adalah bahwa kesempurnaan manusia adalah dalam berakhlak dengan akhlak Allah serta berhias dan meniru sifat-sifat-Nya yang agung. Tidak ada keraguan dalam keesaan al-Haqq, keesaan limpahan karunia-Nya, dan perhatian-Nya untuk menciptakan apa yang Dia kehendaki ciptakan. Perhatian-Nya pada penciptaan semut adalah seperti perhatian-Nya pada penciptaan ‘Arsy dan al-Kursiy. Karena, Dia disucikan dari terbayang padanya berbagai arah yang berbeda yang memberi aib di dalam tindakan-Nya sebab tidak ada kemajemukan dan pembagian. Keberbilangan, kemajemukan, perbedaan, dan sebagainya termasuk sifat-sifat segala yang bersifat mungkin (mumkinat) yang menerima perlakuan-Nya, dan menampakkan limpahan karunia-Nya.
Ketika masalahnya seperti itu, maka wajib bagi setiap orang yang berakhlak dengan akhlak Tuhannya agar tidak memperhatikan sesuatu kecuali secara keseluruhan. Dia harus menjaga diri dari mencampurkan bagian sesuatu dengan yang lain, sehingga dapat membagi perhatian. Bahkan, ia harus memperhatikan dengan sempurna segala sesuatu dengan kehadiran yang sempurna, meniru Tuhannya dalam hal menampakkan sifat-sifat-Nya yang menghiasi dirinya. Maka pahamilah niscaya engkau mendapat petunjuk. Insya Allah.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ayat Al-Quran, hadis dan paparan dari Sadruddin Al-Qunawi di atas memperlihatkan keterkaitan antara akhlaq dengan makhluq dan Khaliq; bahwa, sebagaimana telah dijelaskan di awal, manusia itu diciptakan menurut citra Ar-Rahman, maka dalam ber-akhlaq pun, makhluq (manusia) harus berperilaku sebagai representasi atau perpanjangan dari Khaliq (Sang Pencipta).
(Cuplikan dari tulisan saya yang berjudul “Etika [dalam] Islam” dan pernah dimuat di Majalah Basis.)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Istilah lain yang suka dilekatkan kepada tashawwuf adalah mistisisme. Kata mistik berasal dari kata Yunani “mio” dan juga “myein” yang berarti “menutup mata” dan menunjukkan batas dari pengalaman inderawi untuk memandang ke dalam diri. Dalam pengertian ini, mistik berkaitan dengan upaya untuk masuk ke kedalaman (realitas). Kata “myeo” dalam bahasa Yunani juga merupakan asal kata mistik yang berarti “mengantar ke dalam misteri”, sementara kata “mysterion” berarti “upacara rahasia” untuk menyelami rahasia-rahasia iman. Kata “mystikos” dalam bahasa Yunani berarti “sebuah pencapaian kesatuan dengan yang sakral.” Mistik adalah pengalaman yang ‘melampaui' (transenden) pengalaman sehari-hari dengan ‘menyentuh inti realitas’ (yaitu yang Ilahi). Dalam ‘persentuhan’ itu terjadi ‘peleburan’ antara subjek yang mengalami dan isi pengalaman (Yang Ilahi). Karena bersentuhan dengan kedalaman misteri, pengalaman mistis tidak bisa diungkapkan sepenuhnya secara diskursif. Orang memakai metafora, perumpamaan dan simbol untuk mengekspresikan pengalaman itu, misalnya “perkawinan jiwa”, “larut bagai setetes air dalam lautan”, “mabuk cinta Ilahi”; selain itu ada juga lambang-lambang yang lazim seperti perjalanan, keheningan, terang dan gelap, kekeringan, padang gurun dan lain sebagainya. Mistisisme merupakan Jalan yang “tidak dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual” dan merupakan “arus besar keruhanian yang mengalir dalam semua agama” yang dalam Islam disebut dengan tashawwuf. Dalam ilmu ergonomi, dijelaskan bahwa 80% aktivitas tubuh manusia itu menggunakan mata; dengan demikian, kata mistisisme itu sendiri mengisyaratkan suatu cara perolehan pengetahuan bukan melalui tubuh maupun inderanya. Istilah ‘mistik’ yang biasa diucapkan secara populer dan asal-asalan di Indonesia tidak mengacu pada batasan di atas. Dalam pemakaian populer dan asal-asalan itu, kata ‘mistik’ tidak lain adalah sinonim dari ‘magi’ atau ‘sihir’ atau hal-hal klenik lainnya. Al-Ghazali membedakan dua jenis penglihatan, yaitu mata lahir yang disebut bashar, dan mata batin yang disebut bashirah. Dengan bashar, manusia hanya mampu melihat hal-hal yang lahiriah atau hanya penampakannya saja, yang Al Ghazali sebut sebagai khalq atau fisik. Sedangkan dengan bashirah, manusia bisa melihat khuluq atau wujud batin. Dari kata khuluq inilah nantinya dibentuk kata plural akhlaq, sehingga dengan demikian, akhlaq itu tak lain adalah wujud batin manusia. Sedangkan pengalaman mistik dalam tashawwuf itu tujuannya adalah untuk “fana” yaitu berserah diri total kepada Allah dan juga agar bisa mengenal Allah.
(Cuplikan dari tulisan saya yang berjudul “Ketika Tashawwuf Jadi Sebatas Tamasya Wacana: Mendudukkan Kembali Signifikansi Mursyid, Salik dan Thariqah” dan Insya Allah akan dimuat dalam Journal of Tashawwuf Studies, PICTS, Juli 2018.)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad...

0 comments:

Post a Comment