Monday, November 13, 2017

Alif Laam Miim

Alif Laam Miim adalah ummul kitab (induk kitab), simbol, rangkuman dari surat Al-Baqarah. Lalu, ayat dua dan seterusnya hingga terakhir adalah kitabul mubin (kitab penjelas) dari Alif Laam Miim. Apakah Alif Laam Miim itu? Pada ayat dua bisa kita lihat bahwa di situ dinyatakan “dzaalikal kitab”, “itulah al-kitab”. Jadi Alif Laam Miim itu adalah al-kitab. Yang disebut al-kitab itu secara umum ada tiga, yaitu Kitab Kauniyah, Kitab Quraniyah, dan Kitab Insaniyah.
Yang termasuk dalam kategori Kitab Quraniyah bukan hanya Al-Quran, tapi juga Zabur, Taurat, Injil karena merupakan representasi Al-Haqq dalam bentuk kitab tertulis. Al-Haqq adalah asma Allah, dan kitab-kitab itu merupakan sebentuk representasi dan manifestasi Al-Haqq, begitu juga dengan Kitab Kauniyah dan Kitab Insaniyah. Sedang Kitab Kauniyah adalah alam semesta, baik lahir mau pun batinnya. Ingat bahwa alam itu ada alam jabarut, malakut, dan mulk wa syahadah. Hubungannya adalah sebagai berikut: kalau kita melihat alam semesta, saat kita melihat gunung, lautan, bintang, planet, dan lain sebagainya, maka itu adalah alam mulk wa syahadah (alam yang diperintah dan bisa dipersaksikan oleh mata lahiriah) yang merupakan aspek zahir dari Kitab Kauniyah. Sementara aspek batin dari Kitab Kauniyah adalah alam malakut dan jabarut. Manusia pun demikian, ada lahir dan batinnya; ada jasad yang merupakan aspek lahir dan ada nafs serta ruh yang merupakan aspek batin. Demikian pula halnya dengan Al-Quran yang juga memiliki aspek lahir dan batin.
Al-Haqq itu hanya satu, namun kemudian ‘ditampilkan’ dalam tiga bentuk, yaitu Kitab Quraniyah, Kauniyah dan Insaniyah, dan sebenarnya ketiga bentuk ini memiliki kesamaan namun seringkali kita tidak menyadarinya. Bahwa secara kulliyah atau overall antara kita dengan alam semesta memiliki kesamaan, namun di manakah kesamaannya? Karena kesamaan itulah maka di Al-Quran pun digunakan istilah-istilah seperti air, hujan, gunung dan manusia; bahwa antara Kitab Kauniyah dan Quraniyah itu ada kesamaan dan hubungan. Siapa sebenarnya kita harusnya tergambarkan di Al-Quran yang kita baca. Al-Quran sebagai buku (kitab), kitab diri kita dan alam semesta, ketiganya itu ‘berbicara’ dan saling berkaitan, sehingga nantinya harus kita temukan siapa diri kita dalam semesta ini, siapa kita dalam Al-Quran, bahkan takdir apa yang menimpa kita dalam kehidupan lahiriah kesemuanya itu ada dalam hukum Al-Quran.
Sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw bahwa “Sesungguhnya Al-Quran itu ada lahir dan ada batinnya. Untuk setiap batin ada batinnya, sampai tujuh lapis batin.”, maka aspek batin itu adalah aspek nafs atau langit di dalam setiap ayat dalam Al-Quran. Dan Rasulullah saw pun pernah bersabda bahwa setiap huruf dalam Al-Quran itu ada penjaganya, ada ruhnya, apalagi huruf-huruf yang membentuk kalimat. Wajar apabila seseorang membaca Al-Quran dengan baik, menghargai Al-Quran dengan benar, maka dia tidak hanya akan bertemu dengan aspek batin dari Al-Quran, tapi juga bisa bertemu dengan aspek ruh dari Al-Quran, sebagaimana pernah dinyatakan Rasulullah saw dalam salah satu hadits:
Dari Buraidah ra, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Al-Quran bertanya, ‘Apakah engkau mengenalku?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengenalmu!’. Al-Quran berkata, ‘Aku adalah temanmu, Al-Quran, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu.’ Lalu dia memberikan hak milik orang itu dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Quran mengenakan dua pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, ‘Karena apa kami engkau kenakan?’ Ada yang menjawab: ‘Karena peranan Al-Quran.’ Kemudian dikatakan kepada orang itu, ‘Bacalah sambil naik ke tingkatan-tingkatan surga dan biliknya.’ Maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik di baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad dan Ad-Darimi).
Al-Quran yang maujud itu adalah aspek ruh dalam Al Quran. Bukan hanya Al-Qurannya saja, bahkan setiap surat juga ada ruhnya. Misalnya, seperti cerita Ibn ‘Arabi sewaktu beliau masih kecil dan menderita demam tinggi, dalam demam itu dia menggigau dan kemudian bermimpi melihat ada makhluk hitam yang mengepung dan mau menerkam. Namun tiba-tiba muncul seseorang yang sangat tampan dan bercahaya, kemudian makhluk hitam itu pun lari. Ibn ‘Arabi kecil kemudian bertanya kepada orang itu, “Siapa engkau?” Orang itu mengatakan, “Saya Yaasiin.” Lalu Ibn ‘Arabi terbangun dan melihat ayahnya sedang menangis sambil membaca Yaasiin agar Ibn ‘Arabi sembuh. Jadi, Yaasiin yang diberikan oleh ayahnya itu maujud menjadi ruh yang menolong Ibn ‘Arabi. Begitulah, setiap ayat itu hidup, karenanya berhati-hatilah dengan Al-Quran. Jadikanlah Al-Quran sebagai benda terbaik yang pernah dimiliki dalam hidup ini.
Kembali kepada kesetaraan Kitab Kauniyah, Quraniyah, Insaniyah, Allah membentangkan Kitab Kauniyah, menciptakan alam semesta terlebih dahulu, kemudian menciptakan Al-Quran, untuk membentuk Kitab Insaniyah, yang tak lain adalah Alif Laam Miim, atau Insan Kamil. Alif Laam Miim itu juga mengungkapkan Alif sebagai Rububiyah, Laam sebagai Jibril yang malakutiyah, Miim sebagai Muhammad yang mulkiyah. Sekali lagi terlihat ada jabarut, malakut dan mulk wa syahadah.
Dalam kasus tertentu, pada Insan Kamil, Rasulullah Saw adalah Alif Laam Miim, Kitab Insaniyah yang paling sempurna. Rasulullah saw adalah “dzaalikal kitab”, “itulah al kitab, tidak ada keraguan di dalamnya”, dan di dalam diri Rasulullah saw itu ada “hudan lil muttaqiin”, petunjuk bagi al-mutaqin. Begitu juga dengan insan kamil lainnya, bahwasanya mereka pun adalah Alif Laam Miim, tapi belum tentu terbaca oleh kita. Kehadiran seorang nabi akan menjadi hudan (petunjuk) bagi yang bertaqwa, karena setiap nabi dan rasul akan memerintahkan manusia untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Dengan bertaqwa, barulah akan terlihat hudan dalam diri sang nabi atau rasul tersebut sebab apabila seseorang itu bertaqwa, niscaya dia akan melihat hudan, akan melihat kebenaran karena dia diajari oleh Allah; “wattaqullah wa yu‘alimukumullah”, “bertaqwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu.”
Kemudian ayat 3, “alladziina yu‘minuuna bil ghaib”, “yaitu mereka yang mengimani dengan penyertaan al-ghaib” (itu adalah sebuah upaya pendekatan penerjemahan, walau maknanya yang lebih tepat sukar dikejar dalam terjemahan bahasa Indonesia), “yang menegakkan shalat, dan berinfak dengan apa yang dirizqikan kepada mereka.” Kata yu‘minuuna merupakan kata kerja, “orang yang tengah mengimani”, sementara kalau beriman itu berbentuk kata benda. Bisa jadi dalam bahasa Indonesia tidak terlalu terasa perbedaan pengertiannya, namun dalam Bahasa Arab dinamikanya lebih terasa. Yu‘minuuna adalah fi‘il mudhari, kata kerja yang sekarang atau yang datang. Jadi mereka yang tengah mengimani sekarang, sementara mereka yang sekarang sedang tidak mengimani dan tidak yakin kepada Allah Ta’ala tidak disapa oleh kata dalam ayat ini. Kemudian kata-kata “mereka yang sedang mengimani dalam kegaiban”, “bil ghaib”. “Bi” itu artinya “penyertaan”, setidaknya dengan menggunakan pendekatan penerjemahan yang lebih harfiah artinya menjadi “mereka yang mengimani dalam kegaiban”, yang maksudnya “mengimani Allah dalam kondisi bertawakal kepada-Nya.”
Konkretnya sebagai berikut: setiap manusia pasti akan diberikan masalah, dan biasanya manusia akan berusaha untuk menebak masalah itu, berjuang mencari solusinya, dan sebagian yang lainnya ingin mengetahui apa yang Allah takdirkan kepadanya, bahkan ingin mengetahui masa depan, padahal tidak boleh ingin mengetahui apa yang akan terjadi besok. Orang beriman dan bertakwa harus membangun ketawakalan dan bukannya malah menumbuhkan keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok.
Ada hal yang menarik terkait perkara “bil ghaib” dengan nasihat seorang sufi, Omo Sukama, tentang 5 kunci untuk mencapai ma‘rifat, yaitu Keberanian, Kemampuan, Ketabahan, Ketekunan, Keuletan dan Kesabaran. Dalam salah satu kisahnya, Ibn ‘Arabi menceritakan pertemuannya dengan seorang sufi perempuan yang mengatakan bahwa untuk menemukan Tuhan itu dibutuhkan lima jalan, yaitu, Al-Yaqiin (keyakinan), Tawakkul, Azimah (tekad yang kuat), Shiddiq, dan As-Shabr. Paparan keduanya sama saja, hanya paparan dari sufi perempuan itu lebih komprehensif.
(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran yang diampu oleh Mursyid saya) Alfathri

0 comments:

Post a Comment