Wednesday, November 22, 2017

Anda Bisa Menjadi Apapun yang Anda Inginkan?

"Anda Bisa Menjadi Apapun yang Anda Inginkan?"
'Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Asal berusaha keras!'
Well, no. Nggak juga, sebenarnya. Itu cuma 'comforting lie', kalimat setengah BS untuk menaikkan semangat belajar kita ketika kanak-kanak.
Atau sekedar bumbu untuk memotivasi para trainee yang somehow sudah sulit melihat makna hidup dalam pekerjaannya atau kesehariannya--sehingga sekedar untuk menyalakan motivasinya sendiri ia sudah tidak mampu, lalu membayar dan menyuruh orang untuk menyalakannya.
Yah, kadang menyala sih. Untuk beberapa hari.
Kalau sampai dewasa dan kita masih percaya bahwa 'kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan', mungkin perlu sedikit lebih membuka mata melihat kenyataan.
The truth is, no. Kita nggak bisa menjadi seperti apapun yang kita inginkan.
Kalau kita nggak punya suara yang bagusnya agak jauh di atas rata-rata, ya nggak bisa jadi penyanyi. Nggak akan sukses dan bahagia di sana.
Kalau sampai usia SMU kita masih belum bisa mengimajinasikan konsep dan abstraksi di balik rumus-rumus matematika dan fisika (yang kita kira itu cuma hafalan), ya nggak akan jadi saintis di NASA. Kalau kita sampai kuliah selalu buruk dalam koordinasi otot jemari, ya nggak akan bisa jadi ahli bedah syaraf atau pemain piano. Kalau di usia 40 anda tiba-tiba ingin berubah haluan menjadi dokter, ya nggak bisa berkarir sebagai dokter.
Batasan itu ada. Selalu ada.
Gimana kalo berusaha keras?
Gini. Kalau kita terus berusaha keras meski tidak berbakat, tetap akan kalah oleh orang yang berbakat PLUS berusaha keras.
Saya tidak sedang bilang untuk tidak berusaha keras mencapai sesuatu dan hidup santai-santai saja. Bukan. Tapi, daripada berusaha keras pada bidang-bidang yang bukan bakat kita dan bukan natur kita, bukankah jauh lebih mudah--dan lebih menyenangkan--jika kita berusaha keras pada bidang-bidang yang memang kita berbakat di sana, dan senang berada di sana?
Bayangkan kalau Anda tidak berbakat masak, tapi ingin menjadi master chef. Anda berusaha keras, membeli buku-buku, dan sepulang kerja waktu Anda gunakan untuk kursus ini dan itu demi meningkatkan kemampuan, sampai lewat tengah malam. Waktu untuk anak istrinya dikorbankan. Badannya yang perlu istirahat tidak dipedulikan. Sedikit banyak, ia menzalimi kesehatan dirinya dan waktu untuk keluarganya.
Sementara rekan Anda, yang berbakat masak. Sekedar melihat dan mencicipi sebuah masakan, ia sudah bisa membayangkan resepnya dan bisa langsung membuatnya. Sekedar masak biasa saja, orang sudah meminta dibuatkan masakan. Ketika mencoba buka restoran, restorannya laku keras. Rezeki mengalir mudah. Dan mencapai titik ini dengan biasa saja, tanpa harus kursus sampai lewat tengah malam, sehingga tetap punya waktu untuk anak dan istrinya. Badannya tetap sehat karena hak istirahatnya tidak dilanggar.
Jika seseorang berhasil menemukan bakatnya dan bekerja pada naturnya, maka lingkungannya (baca: semestanya) pun terpenuhi semua hak-haknya dengan adil dan tidak terzalimi.
: :
Sabda Rasulullah, "Sesungguhnya setiap diri dimudahkan untuk mengerjakan untuk apa dia diciptakan." Bukhari 2026.
"Setiap manusia diciptakan untuk sebuah jenis pengabdian tertentu, sebuah tugas tertentu. Dan hasrat untuk melakukan jenis pekerjaan masing-masing itu telah disematkan dalam hati setiap orang." Jalaluddin Rumi.
"Carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja." Confucius.
Artinya, ketika kita melakukan apa yang kita sukai, dan mudah bagi kita, kita tidak akan merasa sedang bekerja membanting tulang. Kita akan riang dalam bekerja.
: :
Bakat itu salah satu tanda yang akan mengarahkan kita ke bidang-bidang yang dimudahkan buat kita.
Di sisi lain, itu juga berarti bahwa setiap manusia juga memiliki bidang-bidang yang tidak dimudahkan baginya. Pagar ini jangan dilanggar. Nanti jadi bencana: kita tidak bahagia. Akhirnya jadi tidak bersyukur. Sampai tua mengeluh dan mati dengan menggerutu.
It's perfectly ok untuk menerima bahwa kita (ternyata) nggak bisa menjadi apapun sebagaimana yang kita inginkan. Makin cepat kita bisa menerima itu, makin baik. Artinya, kita bisa semakin fokus ke bidang-bidang lain: bidang yang kita suka, mudah mengerjakannya. Bidang yang kita sangat berbakat di sana.
Daripada sibuk menambal apa yang kurang, lebih baik fokus mengasah bakat dan kelebihan. Daripada memikirkan yang kita tidak punya, lebih baik menggunakan apa yang sudah di tangan.
Berusaha keras. Jangan diam dan santai-santai. Tapi akan lebih enak jika itu dilakukan dalam koridor bakat, atau yang mudah (baca: dimudahkan Allah) bagi kita.
Tapi saya nggak berbakat apa-apa, kang.
Itu mustahil. Setiap orang pasti, pasti, pasti, punya bakat dalam hal-hal tertentu. Hal-hal yang buat kita gampang, tapi buat orang lain sulit.
Allah itu --mustahil-- tidak memberikan bakat pada manusia. Itu kan modal dasar untuk menempuh kehidupan? Masa nggak dikasih.
Masalah sudah ketemu atau belum, atau belum mencoba mengeksplorasi dan menguji apa saja bakat kita atau pada bidang apa saja kita dimudahkan, itu persoalan lain.
Memang idealnya sejak kecil anak dibiarkan bereksplorasi pada berbagai hal--jangan dibilang boros. Biarkan anak mengerti pada bidang apa saja ia suka, dan bidang-bidang apa saja yang membuatnya bosan dan tidak suka, dan selalu gagal di sana -- meski sudah berusaha keras. Itu artinya, dia belajar mengenal dirinya. Sehingga kelak di usia SMA, anak sudah yakin dengan bidangnya dan pada hal-hal apa saja ia akan berkarya dengan ringan dan dimudahkan.
Dengan demikian, kuliahnya pun tidak 'sekedar' kuliah, 'sekedar' sarjana, 'sekedar' mencari pekerjaan, dan 'sekedar' untuk mencari uang, 'sekedar' syarat naik pangkat dan kenaikan gaji. Tidak. Jika seorang anak memasuki usia dewasa dengan memahami kelebihan-kelebihan dirinya dan pada bidang apa saja ia 'gape' dalam melakukannya, ia akan --berkarya-- di sana, bukan sekedar bekerja.
Ikan akan mati kalau ingin hidup di darat. Elang akan tersiksa dan hilang keindahannya jika dipaksa hidup di permukaan air. Itu naturnya bangau, bukan elang. Meski keduanya sama-sama burung. Itu sebuah ayat dari Allah ta’ala.
Kalau orang terus memaksa diri dalam pekerjaan dan lingkungan yang salah, itu akan jadi neraka baginya. Tapi, kalau orang ada dalam bidangnya, ia akan bersinar menjalaninya. 
Salam.
(Herry Mardian)
: :

0 comments:

Post a Comment