Friday, November 17, 2017

Ayat Astronomi

“Dan Allah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu serta keseluruhannya, dan Dia menuju pada pembentukan langit (as-sama‘i) lalu menjadikannya tujuh buah langit (as-samawati). Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah [2]: 29)
Jadi jelas, secara astronomi ayat ini membingungkan. Kok membuat bumi dulu, baru langit. Padahal, secara astronomi modern, langit dulu yang dibentuk, baru bumi. Hal ini sebenarnya menjelaskan ayat 22, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizqi untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”; sehingga terlihat agak melompat. Tapi begini cara Allah ‘memainkan’ urusan.
Sehingga, begitu masuk ayat 30...
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” 
...malah jadi tidak nyambung. Padahal sangat nyambung antara ke-air-annya nyamuk dengan penciptaan Adam dan nama-namanya.
(Untuk pembahasan tentang nyamuk dalam Al-Baqarah silakan klik link di bawah ini:
Silakan dibaca juga. Demikian.)
Jika kita berkaca di sebuah cermin, maka kita akan melihat diri kita. Nah, kita bisa berkaca di sebuah cermin yang ada kaca dan rasahnya, atau di sebuah logam yang digosok sedemikian kuat sehingga berkilap. Bahkan cermin yang lebih bagus dibuat dari logam yang dikilapkan. 
Secara spiritual, zaman dahulu bukanlah kaca, tapi logamlah yang digosok. Maka, dalam suluk, penggosokan hati untuk menjadi sebuah cermin yang mengkilap itu dikarenakan hati sang salik adalah logam ‘al-hadid.’ 
(Berbeda dengan batu yang apabila pecah sangat sulit untuk bisa dipersatukan lagi, logam yang patah bisa dipersatukan lagi dengan cara dilebur dan ditempa oleh pandai besi—Alf.)
Di permukaan air pun kita bisa melihat sebuah bayangan yang sama. Jadi, fungsi air pun sama dengan fungsi logam dan kaca, yaitu sama-sama menampilkan diri kita di atasnya. Lantas di manakah Adam? 
Kenapa ketika kita bercermin, lantas ada bayangan kita di atasnya? Karena adanya kaca dan cahaya. Lalu, apa yang kita pandang dengan semua wujud yang kita lihat ini? Sebenarnya, alam semesta pun adalah bayangan Dia. Akan tetapi di mana cermin atau di mana logam yang digosoknya?
Sebenarnya, wujud yang kita terima itu adalah bayangan dari Ar-Rahman, maka disebut ‘surah’ atau citra atau gambaran. 
Kalau kita berkaca di cermin, maka ada bayangan atau surah kita. Namun, tentu saja antara gambar dalam cermin dengan kita tidaklah sama, tapi wujudnya ada.
Begitu pula alam semesta yang fisik ini yang merupakan bayangan atau ‘surah’ dari Ar-Rahman. Kita harus tahu apa itu Dzat Allah, shifat-Nya, asma-asma-Nya. 
Lantas apa itu Ar-Rahman?
Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa manusia itu ‘surah’-nya ‘Huwa’ (Dia), tapi dikatakan manusia itu sebagai ‘surah’-nya ‘Ar-Rahman’. 
Sama ketika Al-Hallaj mengatakan ‘ana al-haqq’ lalu dia disebut mengaku sebagai Allah. Itu bodoh sekali, karena ‘al-haqq’ itu adalah salah satu asma dari Allah Ta‘ala.
Bahkan nama ‘Allah’ sekali pun itu adalah nama dari Dia. Dan antara nama dengan Dia sama sekali tidak sama. Jadi, apa yang kemudian tampil sebagai wujud Adam dan kosmos itu sebenarnya adalah bayangan, karena kita tidak punya wujud.
Bukankah kita ini tidak ada, tidak punya bentuk di alam semesta? Dan kalau pun kita punya wujud, itu karena kita adalah bayangan dari Yang Maha Wujud. Di samping Allah tidak ada wujud yang lain.
Apa bedanya air yang ada di langit atau di awan? Awan itu bukan asap. Itu adalah H2O. H2O itu ada tiga jenis. Ada yang dalam bentuk padat, cair dan gas. Masing-masing kerapatannya berbeda saja. 
Uap yang keluar dari magic jar itu bukanlah H2O gas, tapi H2O cair, hanya saja bentuknya bulat. Jadi, awan atau embun itu bukanlah uap, tapi air cair, hanya saja tidak jatuh ke bumi. Ada air yang jatuh ke bumi, ada air yang melayang.
Maka dari itu, di manakah Allah ketika Dia mencipta? Itu tak ubahnya seperti di dalam awan, karena belum membumi semuanya. Apa yang sampai ke permukaan bumi adalah bayangan Ar-Rahman. Maka, setelah sekian hari mencipta, Dia bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas permukaan air. Arsy itu dalam diri manusia, yaitu qalb.
Apabila ada sebuah benih yang tumbuh di dalam qalb, maka apa pun yang tumbuh di permukaan qalb akan terlempar ke jasad, karena antara Arsy dan alam semesta adalah bayangan. Apa pun yang tampil di Arsy, di Lauh Mahfuz, itu akan terlempar ke bumi. Apa pun yang tumbuh di qalb kita, pasti akan terlempar ke jasad. Jika pohon sabar muncul di qalb, pastilah raga pun akan sabar tanpa harus dipaksa
Ada istilah mata air, tetes air, kelembaban yang belum jatuh ke bumi, tetes air yang terpisah lalu menyatu menjadi sebuah danau yang besar. Kalau kita bercermin di kaca, maka kita melihat wujud kita dalam bentuk 2 dimensi. Tapi, karena Dia Ta‘ala sangat canggih dalam mencipta, maka bayangannya pun 3 dimensi. 
Jadi, di balik diri kita ada cerminnya. Ada pun yang tampil ini adalah bayangannya. Inilah yang dikatakan dalam QS Al-Insan [76]: 1: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Itulah yang dikatakan bahwa ‘kalau kita berkaca di sebuah cermin, maka bayangan di cermin itu tidaklah hidup.’ Kalau bayangan yang di dalam cermin itu diberi ruh, maka mulailah ada perbedaannya. Geraknya pun mulai tidak kompak lagi akrena menjadi hidup terpisah. Itulah yang dimaksudkan dengan “Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang. Dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia jadikannya (bayang-bayang itu) tetap, kemudian kami jadikan matahari sebagai petunjuk. Kemudian Kami menariknya (bayang-bayang itu) kepada Kami sedikit demi sedikit.” (QS Al-Furqan [25]: 45-46)
(Sepenggal paparan dalam pengajian Hikmah Al-Quran yang diampu oleh Mursyid saya.)

0 comments:

Post a Comment