Wednesday, November 15, 2017

BILAL BIN RABAH

Bilal bin Rabah tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi, hingga Nabi meninggal dunia. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar, memintanya untuk jadi mu‘adzin kembali, dengan hati pilu Bilal berkata: “Biarkan aku jadi mu‘adzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan mu‘adzin siapa-siapa lagi.”
Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf, apakah engkau membebaskanku karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi mu‘adzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. 
Lalu Bilal pun ikut pasukan menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi saw hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “‘Ya Bilal, wa mâ hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?” Bilal pun bangun terperanjat. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk ziarah pada Nabi. 
Abu Bakr telah meninggal, dan kini Umar bin Khaththab-lah yang menjadi Khalifah. Dan hari itu, kerinduan Bilal benar-benar membuncah. Ia ingat sekali ketika terakhir kali ia menyiramkan air pada makam Nabi sebelum akhirnya ia pindah menuju Syam.
Dan kerinduan itu pun mendorongnya untuk kembali mendatangi Madinah.
Sesampainya, ia bersegera menuju makam sang kekasih, bersimpuh dan menangis rindu. Tangisannya tersedu-sedu, mengingat segala kebersamaan dahulu kala. Ia teringat pada semuanya, apalagi Bilal adalah salah seorang yang menjadi ‘bendahara’ Nabi selama beliau hidup.
Di tengah isak tangisnya, Hasan dan Husain, dua cucu Nabi saw, melihatnya dari kejauhan. Mereka berdua segera berlari menuju Bilal, memeluk dan mencium Khadim dan Mu‘adzin Nabi itu. Mereka berdua begitu merindukan Bilal. Dan mereka berkata, “Wahai Pamanda, lantunkanlah adzan; kami merindukan suara adzanmu seperti di zaman Kakek kami hidup dahulu...”
Bilal pun tersenyum, dan menyanggupi permintaan dua orang cucu yang sangat dicintai Nabi itu—membahagiakan cucu Nabi, adalah salah satu cara membahagiakan Sang Nabi.
Waktu adzan pun tiba, dan ia segera menaiki tempat yang dahulu ia melantunkan adzan untuk Sang Nabi.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Allahu Akbar, Allahu Akbar...”
Madinah tersentak sekali. Sunyi tiba-tiba meliputi Kota Suci itu. Mereka mendengar suara yang tak lagi terdengar semenjak Nabi meninggal—mereka rindu sekali dengan suara, seruan dan lantunan itu.
“Asyhadu an laa ilaha illallah...
Asyhadu an laa ilaha illallah...”
Penduduk Madinah pun seketika terlempar menuju masa kebersamaan mereka pada Nabi. Madinah pun bergetar dengan isak tangis kerinduan.
“Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah...”
Penduduk Madinah segera berlari keluar dari rumah mereka, menuju Masjid, tergerak cinta dan rindu mereka. Serak tangis terdengar di sana sini, “Wahai Nabi... Kami merindukanmu!”
“Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah...”
Dan Bilal pun terhenti, tak lagi dapat meneruskan adzannya. Ia menangis tersedu-sedu, lebih tenggelam dalam rindu.
Madinah pun hari itu tengah tenggelam dalam isak tangis rindu. Hari itu, Madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal semenjak Nabi saw wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang telah mengangkat derajatnya.
Sa‘id bin Abdul Aziz berkata: Menjelang wafat Bilal berkata, “Besok para kekasih bertemu dengan Muhammad tercinta dan rombongannya.” Mendengar itu, istrinya berkata, “Aduh betapa tragisnya!” Bilal lalu berkata, “Aduh betapa senangnya.” 
“Sungguh aku bersedih hati,” kata istri Bilal, dalam isak tangisnya. Bilal tengah sakit parah, dan merasakan dekat ajalnya. Ia pun menjawab, “Justru aku sekarang sangat bahagia.” 
“Mengapa?” tanya sang istri.
Bilal pun menjawab, “Ghadan nalqal ahibbah, Muhammadan wa hizbah! Besok aku akan bertemu para kekasih: Muhammad dan para sahabatnya!”
Dan tak lama, napasnya pun terhenti.
*******************************
Hal yang membuat Rasulullah saw merasakan keteduhan dari adzan yang dikumandangkan Bilal bin Rabah adalah kepasrahan, keikhlasan, dan kecintaannya pada Islam serta kepada Nabi saw yang menyebarkannya. 
Pernah suatu saat seorang pemuda mendatangi Rasulullah saw menjelang waktu shalat tiba. Ia memohon kepada Rasulullah saw untuk bisa menjadi mu‘adzin sekali selama beliau saw masih ada. Nabi saw menjawab: “Biarkan Bilal yang menjadi mu‘adzin.” Tak patah arang, pemuda ini kembali mendatangi Nabi saw hingga yang kesekian kalinya di suatu Ashar. Karena Nabi saw merasa bahwa pemuda ini memiliki kehendak yang baik, maka diizinkanlah ia mengumandangkan adzan Ashar saat itu.
Saat Ashar tiba, pemuda ini menempati tempat di mana Bilal biasa mengumandangkan adzan. Rasulullah, para sahabat dan seluruh penduduk terhenyak mendengar lantunan adzan yang tidak biasa. Lantang namun merdu, berbeda dengan Bilal. Terdengar banyak suara memuji keindahan lantunan adzan pemuda ini yang memang terkenal dengan keindahan suaranya di kalangan kaum muslim, sehingga banyak juga yang menyarankan agar ia menjadi pengganti Bilal. Dorongan inilah yang membuat ia memberanikan diri menghadap Rasulullah saw dan meminta menjadi mu‘adzin.
Namun kemudian, malaikat Jibril as tiba-tiba mendatangi Nabi saw dan bertanya untuk mengingatkan Rasulullah: “Tidakkah engkau menunaikan shalat Ashar, padahal sudah lewat dari waktunya?” Nabi saw menjawab: “Sudah wahai Jibril, baru saja kami menunaikannya.” Makaikat Jibril menimpali: “Mengapa kami di Arsy tidak mendengar suara adzan dikumandangkan?” Tercekat mendengar jawaban itu, maka Nabi saw bertanya: “Tidakkah kalian mendengar suara adzan yang dikumandangkan dengan lantang namun merdu?” Malaikat Jibril menegaskan: “Tidak, ya Rasulullah.”
*******************************
Kepada sosok Bilal ini, Maulana Jalaluddin Rumi mempersembahkan sebuah puisi indah sebagai berikut:
*******************************
Ketika Bilal melemah, dan menjadi menjadi kurus bagaikan bulan sabit, warna kematian merona di wajahnya.
Melihatnya, istrinya menjerit, “Wahai, kesedihan!” Tetapi Bilal berkata kepadanya, “Tidak. Tidak. Katakanlah: ‘Wahai, kegembiraan!’”
Hingga kini aku senantiasa dalam kesedihan karena hidup: tidakkah engkau ketahui alangkah menyenangkannya kematian itu, dan apa sebenarnya hakikatnya?”
Ketika ia tengah mengatakan demikian, pipinya memekar bagaikan bunga narcissus, kelopak mawar dan anemon.
Cahaya wajahnya dan matanya yang bersinar bersaksi akan kebenaran kata-katanya.
Setiap orang yang berhati legam memandangnya sebagai orang hitam yang hina; tetapi mengapakah pupil mata berwarna hitam?
Orang yang buta itu hitam wajahnya, sedangkan orang dengan bashirah itu cermin bagi Sang Rembulan.
Siapakah di dunia ini, yang melihat pupil mata dalammu, terkecuali Lelaki dengan pandangan yang tajam?
Karena tiada seorang pun selain Lelaki pemilik pandangan yang menatapnya, lalu siapakah, kecuali dia, yang memperoleh pengetahuan tentang warna sejatinya?
Oleh karena itu, semua kecuali Dia, Sang Pelihat, hanyalah peniru: tanpa pengetahuan langsung, tentang sifat-sifat tersembunyi insan.
Sang istri berkata kepadanya, “Inilah perpisahan, wahai lelaki yang shalih.” “Tidak, tidak,” ia menjawab, “ini adalah penyatuan. Penyatuan.”
Istrinya berkata, “Malam ini engkau akan berangkat ke sebuah negeri asing, engkau akan terpisah dari keluarga dan sanak saudara.”
“Tidak. Tidak,” jawabnya, “sebaliknya, malam ini jiwaku kembali pulang dari suatu negeri asing.”
Istrinya bertanya, “Dimanakah kami dapat menatap wajahmu?” Dia menjawab, “Dalam lingkaran yang dipilih Tuhan.”
Lingkaran yang dipilih-Nya besertamu, jika engkau memandang ke atas, dan bukannya ke bawah.
Dalam lingkaran itu, Cahaya dari Tuhan Pencipta makhluk bersinar bagaikan segel di tengah cincin.
“Sayangnya,” istrinya berkata, “rumah ini telah rusak.” “Tataplah rembulan,” jawabnya, “jangan memandang ke awan.”
Dia telah menghancurkannya agar Dia dapat membuatnya lebih berseri-seri: sanak saudaraku banyak jumlahnya dan rumah ini terlalu sempit.
Sebelumnya, bagaikan Adam, aku terpenjara dalam kesedihan; kini Timur dan Barat penuh dengan keturunan jiwaku.
Sebelumnya, aku adalah pengemis dalam rumah bagai penjara ini; kini aku telah menjadi seorang raja: diperlukan sebuah istana bagi seorang raja.
Sesungguhnya, istana-istana adalah tempat bersenang bagi para raja; bagi orang yang jiwanya bagaikan mati, sebuah kubur adalah rumah dan tempat tinggal yang cukup.
Bagi para nabi, dunia ini tampak sempit: bagai para raja mereka pergi ke alam tanpa batas.
Bagi mereka yang jiwanya bagaikan mati, dunia ini tampak indah; sepertinya ia tampak luas, padahal hakikatnya dunia itu sempit.
Jika ia tidak sempit, untuk apakah semua rintihan itu? Mengapakah semakin lama seseorang tinggal di dalamnya semakin ia bertambah bongkok karena bebannya?
Ketika fana dan jiwa terlepas, perhatikanlah bagaimana ia gembira berada di tempat itu.
Orang yang jahat lalu terlepas dari kejahatannya sendiri, sang narapidana terlepas dari kurungan pikiran-pikirannya.
Bumi yang luas ini dan juga langit jadi teramat sempit saat ia terbaring.
Raga bagaikan penjara yang menutupi pandangan: ia tampak luas, padahal sempit; tertawanya adalah tangisan, seluruh keagungannya adalah kehinaan.
Dunia ini bagaikan sebuah kamar mandi uap yang teramat panas, sehingga engkau tertekan dan jiwamu bagai mencair, tersiksa.
Walaupun kamar mandi itu lebar dan panjang, jiwamu tertekan dan kelelahan karena panasnya.
Kalbumu tidak akan meluas sampai engkau keluar darinya: lalu apa untungnya keluasan ruang itu bagimu?
Atau, engkau ini, wahai orang yang tersesat, bagaikan pergi ke tengah gurun luas, dengan memakai sepatu yang kesempitan.
Luasnya gurun menjadi kesempitan yang menekanmu; gurun dan dataran menjadi sebuah penjara bagimu.

0 comments:

Post a Comment