Monday, November 13, 2017

Ingatlah Nikmat

"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." (QS Al-Baqarah [2]: 40)
Dalam surat Al-Baqarah ayat 40 itu diceritakan bahwa Bani Israil tidak boleh melupakan nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka. Sebenarnya ayat ini juga menyeru kita semua, karena semua hukum yang menimpa Bani Israil itu berlaku juga untuk kita. Jadi Al Quran bukanlah sekadar pelajaran sejarah, tapi di dalamnya terkandung bekal untuk kita semua.
Di ayat ini dikatakan "ni’mati", nikmat-Ku, jadi sesuatu yang berasal dari sisi-Nya yang dilimpahkan kepada Bani Israil. Akan tetapi nikmat yang mana? Sekali lagi nikmat itu terkait dengan shirâth al-mustaqîm. Di mana-mana, dalam Al-Quran, nikmat selalu terkait dengan shirâth al-mustaqîm. Inilah doa yang kita panjatkan setiap hari dalam shalat. Namun, apakah kita tahu apa "shirâth" itu? Jalan mana yang dimaksud? Oleh karenanya kita harus membaca Al Quran dengan baik untuk mengerti apa yang dimaksud nikmat. Apa itu shirâth al-mustaqîm.
Bani Israil adalah sebuah potret umat yang Allah tuntun; dan jalan tuntunan-Nya itu melewati berbagai tahapan. Tahapan itu adalah tahapan shirâth al-mustaqîm. Jadi, kalau kita hendak menuju shirâth al-mustaqîm, kita juga akan melalui fase-fase itu. Maka, kita harus betul-betul memperhatikan semua peristiwa yang dilalui oleh Bani Israil.
Kalau zaman dahulu Bani Israil diperbudak oleh Fir’aun, maka zaman sekarang, Fir’aun dalam diri kita tidak kelihatan, lebih samar. Kalau dulu ada seorang Musa yang mengeluarkan Bani Israil dari perbudakan, sekarang pun kita harus menggunakan Al-Qur'an untuk keluar dari perbudakan hawa nafsu dan syahwat. Kalau di zaman Musa laut dibelah dua, maka sekarang bagaimana kita bisa melewati lautan dunia tanpa tenggelam di dalamnya. Kalau zaman dulu Bani Israil terkatung-katung di gurun pasir selama 40 tahun, maka saat ini kita sedang terkatung-katung di ‘gurun pasir’ yang mana?
Jika kita memohon untuk ditunjuki shirâth al-mustaqîm dengan penghayatan yang betul, maka insya Allah akan dibukakan kepada setiap diri pemahamannya ihwal 'siapa saya'. Apa anak sapi saya? Apa lautan saya? Masing-masing akan bisa mengerti itu. Tapi yang harus kita sadari juga adalah bahwa di dalam shirâth al-mustaqîm banyak penderitaan. Itu yang tidak mudah... Sama sekali tidak mudah.
(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al-Quran yang diampu oleh Mursyid saya) Alfathri

0 comments:

Post a Comment