Friday, November 17, 2017

Khalifah di Muka Bumi

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 30)
#################
Kita masuk ke ayat 30 dari Al-Baqarah yang berkaitan dengan penciptaan Adam as. Istilah ‘khalifah’ dalam hal ini dimaknai sebagai ‘wakil’, ‘pengganti’ tapi tidak semata-mata pengganti; sebagai wakil Allah di muka bumi tentu harus bisa mewakili Allah. Jadi, secara simbolik yang disebut khalifah itu sesuatu yang mewakili; semakin ia mewakili maka semakin ia mirip dengan atribut Ilahiyyah, dan pada prinispnya semakin tinggi derajat khalifah itu.
Ketika Allah memberitakan kepada malaikat tentang khalifah fil ardh, walaupun Adam dicipta di surga, tapi memang untuk diturunkan ke bumi, bukan untuk di surga. Kalimatnya “Ia akan mengadakan di bumi seorang khalifah”; jadi bukan karena salah Adam kemudian dia turun ke bumi, tapi memang itu mekanisme yang Allah Ta’ala kehendaki.
Khalifah dalam terminologi kita sebagai pejalan itu berarti menjadi citra, dan seafdhal-afdhal khalifah itu adalah yang merupakan bayangan Allah. Ada sebuah peristiwa khusus yang terjadi dalam penciptaan Adam as sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits qudsi:
#################
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ketika Allah menciptakan Adam dan telah meniupkan ruh adanya, Adam bersin, lalu ia mengucapkan: “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)”, ia memuji Allah dengan seizin-Nya. Lalu Allah berfirman kepadanya: “Rahimakallah ya Adam (Hai Adam, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu). Pergilah kepada para malaikat itu, yakni yang duduk-duduk dari mereka, dan ucapkanlah: “Assalamu'alaikum (semoga kesejahteraan tetap atasmu).” Mereka menjawab: “Wa'alaikas salam wa rahmatullah (semoga kesejateraan dan rahmat Allah atasmu).”
Kemudian ia kembali kepada Tuhannya. Allah berfirman: “Inilah tahiyyat (penghormatan)-mu dan tahiyyat di kalangan anak cucumu.” Lalu Allah berfirman kepadanya dengan tergenggam kedua belah tanganNya: “Pilihlah mana yang kamu sukai?” Adam menjawab: “Aku memilih tangan kanan TuhanKu.” Dua tangan Tuhanku yang kanan adalah penuh berkah, kemudian dibentangkannya, tiba-tiba di sana ada Adam dan keturunannya. Adam berkata: “Wahai Tuhanku, apakah itu?” Allah berfirman: “Mereka adalah keturunanmu.” Masing-masing dari mereka telah tercatat umurnya di antara dua matanya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang paling bersinar atau termasuk orang yang bersinar dari mereka. Adam berkata: “Wahai Tuhanku, siapakah ini?” Allah berfirman: “Ini adalah anakmu, Dawud, telah Aku catat umurnya 40 tahun.” Adam berkata: “Wahai Tuhanku, tambahlah umurnya.” Allah berfirman: “Itulah vang telah Aku catat baginya.” Adam berkata: “Wahai Tuhanku, aku memberikan 60 tahun dari umurku untuknya.” Allah berfirman: “Seperti yang kau inginkan.” 
Kemudian Allah menempatkannya di surga selama yang dikehendaki Allah, kemudian diturunkan dari padanya dan Adam menghitung (umur) dirinya. Beliau bersabda: “Malakul maut (malaikat penjabut ruh) datang kepadanya, lalu Adam berkata : “Kamu tergesa-gesa, saya telah dicatat berumur 1000 tahun.” Malaikat maut menjawab: “Memang, tetapi kamu telah memberikan kepada anakmu, Dawud, 60 tahun.” Lalu Adam menentang, maka keturunannyapun menentang. Adam lupa, maka keturunannya pun lupa. Beliau bersabda: “Sejak itu, diperintahkan untuk membuat catatan dan saksi-saksi.” (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).
#################
Di dalam Al-Quran, Dawud disebut secara khusus sebagai khalifah di QS Shaad [38]: 26.
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
Di QS Al Baqarah [2]: 30, tidak secara eksplisit nama Adam disebut bergandengan dengan khalifah, tapi di QS Shaad [38]: 26 disebut namanya, “Ya Dawud, sesungguhnya ja’alnaka...” Dalam tafsir sufistik, kalau sudah ada “ja‘alnaka” itu sudah menunjukkan kedekatan dengan Allah Taala. Aku—Dia. Nama Dawud dalam ayat itu sudah berhubungan dengan “khalifah fil ardh.” Jadi, sejak Adam diciptakan, khalifah yang sesungguhnya itu adalah Daud as.
Dalam sebuah kitab tashawwuf disebutkan bahwa “Era agama itu diawali dari nabi Daud as.” Padahal kita tahu sebelumnya ada Musa as. Kalau kita bandingkan Musa as dengan nabi Dawud as, maka simbol “Rubbubiyah” atau pemeliharaan itu ada di Dawud as, simbol kekuasaan seorang raja yang memerintah dan memelihara masyarakatnya. Pada masanya, Adam belum punya umat, kecuali anak-anaknya, sehingga tidak terlihat aspek Rubbubiyah-nya. Musa memang punya umat yang banyak, tapi pada masa Dawud as sudah ada kiblat, yaitu Masjidil Aqsha. 
Adapun Musa as mengekspresikan umat yang belum menemukan baitullah-nya. Mereka masih hijrah, dan simbol ‘rumah Tuhan’-nya ada dalam tabut, dan tabut itu dibawa-bawa oleh mereka. Ketika nanti mereka menemukan Yerusalem sebagai tempat baitullah, maka tabut yang diusung itu pun ditaruh di dalam Baitul Maqdis. Tabut itu adalah wadahnya Musa yang masih bayi. Tabutnya Musa yang awal itu—bersama dengan semua perlengkapan keluarga Musa dan Harun—dibawa dalam sebuah kotak yang ditandu. Jadi ke mana pun Bani Israil berjalan-jalan, bahkan saat terkatung-katung selama 40 tahun di gurun Tih, Tabut itu selalu mereka bawa, terlebih mereka tidak mempunyai tempat. Barulah setelah menaklukkan bangsa Filistin, mereka mempunyai tempat. 
Itu merupakan simbol bahwa kita, sebagai insan, yang sekarang sedang dalam pengembaraan. Setiap salik yang belum menemukan diri berarti belum menemukan “ka‘bah diri”-nya, sehingga sebenarnya si salik itu belum ada di era agama, karena ad-dîn itu sudah mencakup semua tindakan yang Allah perintahkan. Jadi, secara hakikat, pejalan yang belum mencapai ma‘rifat berarti belum menegakkan ad-dîn , karena “awaluddina ma ‘rifatullah”, “awal dari ad-dîn adalah ma‘rifatullah”, dan ini betul-betul konsisten dengan hadits Rasulullah saw bahwa “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu”, “barang siapa mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal Rabb-nya.” Nah, “ma‘rifatu Rabb” itu awal dari “ma‘rifatullah.”
Kalau seorang salik sudah mengenal nafs-nya, mengenal Rabb-nya, maka dia akan mengenal jati dirinya. Kalau seseorang sudah mengerjakan misi hidupnya, maka dikatakan bahwa orang itu sudah dalam ad-dîn-nya. Nah, perkara inilah yang oleh sebagian pemuka agama dibantah, karena tidak dipahami apa itu “ma‘rifatullah”, apa itu misi hidup.
Dalam QS Al-Baqarah [2]: 27, “orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah” itu artinya orang-orang yang tidak mengikuti apa yang Allah perintahkan. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang melanggar perjanjian, karena kita sedang berjuang untuk menemukan perjanjian itu.
Pada zaman Rasulullah saw, kompleksitasnya lebih rendah, dalam arti yang dihadapi sebagai orang kafir itu jelas dan berperang. Maka, orang-orang di zaman Nabi itu pejuang yang tidak takut lapar dan tidak takut miskin, sehingga kematiannya dikatakan sebagai mati syahid, karena fokus perjuangan pada zaman itu adalah melawan kaum kafir Quraisy. Tentu saja perjuangan di zaman sekarang tidak sama bentuknya dengan di zaman nabi, walaupun esensinya sama memerangi kekafiran dalam diri kita, dalam masyarakat. Bahwa kapan kita harus mengangkat pedang, itu Allah yang Maha Tahu. Tapi, minimal, perang di zaman ini adalah perang pengetahuan.
Kembali ke ayat barusan, khalifah sesungguhnya itu ada di Dawud as, yang pertama. Selain itu, ada juga Sulaiman as, karena menampilkan kebesarannya secara fisik.
(Sepenggal paparan ihwal apa arti khalifah dalam Pengajian Hikmah Al-Quran yang diampu oleh Mursyid saya.)

0 comments:

Post a Comment