Wednesday, November 15, 2017

Kita berlindung dengan Allah, dari ilmu yang tidak bermanfaat.



Kita berlindung dengan Allah, dari ilmu yang tidak bermanfaat. (HR Ibn Majah)
#################
Alkisah, seorang Arab Badawi bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulang kali ia mencoba meletakkan karung itu di atas punggung unta, dan berulang kali ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terlintas pada pikirannya pemecahan yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya dengan pasir. Ia merasa lega ketika dua karung tersebut bergantung dengan seimbang pada kendaraannya dan bersegera ia berangkat ke pasar.
Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang asing yang berpakaian compang camping dan bertelanjang kaki. Ia diajak oleh orang asing itu berhenti sejenak, beristirahat, dan berbincang-bincang. Sebentar saja orang Badawi itu menyadari bahwa yang mengajaknya berbincang itu adalah orang yang banyak pengetahuan. Ia sangat terkesan karenanya.
Tiba-tiba orang asing itu menyaksikan dua karung yang bergantung pada punggung unta. “Bapak, katakan apa yang bapak angkut itu. Kelihatannya sangat berat,” tanya orang asing itu. 
“Salah satu karung berisi gandum yang akan saya jual ke pasar. Satu lagi karung berisi pasir untuk menyeimbangkan keduanya pada punggung unta,” jawab orang Badawi. 
Sambil tertawa, orang pintar itu memberi nasihat, “Mengapa tidak ambil setengah dari karung yang satu dan memindahkannya ke karung yang lain. Dengan begitu, unta itu menanggung beban yang lebih ringan dan ia dapat berjalan lebih cepat.”
Orang Badawi takjub, ia tidak pernah berpikir secerdas itu. Tetapi sejenak kemudian, ketakjubannya berubah menjadi kebingungan. Ia berkata, “Anda memang pintar, tapi dengan segala kepintaran ini, mengapa Anda bergelandangan seperti ini, tidak punya pekerjaan dan bahkan tidak memiliki sepatu. Seharusnya kepandaian Anda dapat mengubah tembaga menjadi emas dan menjadikan Anda kaya”.
Orang pandai itu menarik napas panjang, “Jangankan sepatu, hari ini saja saya tidak memiliki uang sepeser pun untuk makan malam saya. Setiap hari saya berjalan dengan kaki telanjang untuk mengemis sekerat atau dua kerat roti”. 
“Lalu apa yang Anda peroleh dengan seluruh kepandaian dan kecerdikan itu?”, kata Orang Badawi. 
“Dari semua pelajaran dan pemikiran, saya hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa. Percayalah, semua ini hanya candaan bagiku, bukan keberuntungan”, jawab orang asing itu.
Orang Badawi itu berdiri, melepaskan tali unta, dan siap-siap untuk pergi. Kepada orang pandai yang kelaparan itu ia memberi nasihat, “Hai, orang yang tersesat. Menjauhlah dariku karena aku khawatir kemalanganmu akan menular padaku. Bawalah semua kepandaian itu sejauh-jauhnya dariku. Sekiranya dengan ilmu itu kau ambil suatu jalan, maka aku akan mengambil jalan yang lainnya. Sekarung gandum dan sekarung pasir boleh jadi berat, tetapi lebih baik daripada kepandaian yang tersia-siakan. Anda boleh menjadi pandai, tapi kepandaian Anda itu hanya menjadi kutukan. Saya boleh jadi bodoh, tetapi kebodohan saya mendatangkan berkah, karena walau pun saya tidak pandai, tetapi hati saya dipenuhi rahmat-Nya dan jiwa saya berbakti kepada-Nya.”
(Maulana Jalaluddin Rumi)
#################
Kita kecanduan diskusi rumit, dan gemar mengatasi masalah.
Bolak-balik kita membuat simpul lalu mengurainya kembali.
Terus menerus kita membuat aturan tentang cara menampilkan kesulitan, dan untuk menjawab aneka pertanyaan yang diajukan.
Kita seperti burung yang melonggarkan jerat lalu mengencangkannya kembali dalam rangka meningkatkan keterampilan.
Sehingga hilang kesempatan terbang jelajahi medan terbuka; sehingga hilang kesempatan kunjungi padang rumput, habis umur sibuk dengan simpul.
Tetap saja buhul jerat tak terkuasai, walau sayap burung berkali-kali patah.
Simpul jerat tak untuk dilawan, jaga agar sayapmu tak patah.
Jangan rusak bulu pelindungmu hanya sekadar untuk tunjukkan pada dunia, betapa hebatnya usahamu.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
Sumber:
Rumi: Matsnavi II: 3733 – 3738 versi Camille dan Kabir Helminski dalam “Rumi: Daylight”, Threshold Books, 1994; transliterasi dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh mas Herman Soetomo.

0 comments:

Post a Comment