Saturday, November 18, 2017

memasukkan siang ke dalam malam

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (QS Nuh [71]: 5-6)
#################
Syaikh Al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa “seandainya Nuh menyeru dengan cara ‘memasukkan siang ke dalam malam’ dan ‘malam ke dalam siang’, maka pasti dakwahnya berhasil.”
Dalam suatu kesempatan, Mursyid saya—yang kebetulan seorang dosen ITB dan doktor Geologi—menjelaskan bahwa: “‘Siang’ itu menyimbolkan aspek lahiriah seperti sains atau tradisi zaman, sedangkan ‘malam’ menyimbolkan aspek batiniah, seperti agama dan spiritualitas.”
Secara pribadi, itu pula yang ingin saya coba lakukan. Bahwa saya mempelajari filsafat dan cultural studies serta mencoba menulis dengan kaidah ilmiah—serta meninggalkan doktrin-doktrin agama yang harfiah lagi kaku yang pernah saya cicipi saat masih muda—maka itu adalah kegiatan “siang” saya. Juga aktivitas saya di Studia Humanika (Masjid Salman ITB) mau pun Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB, dan juga kuliah di STF Driyarkara. 
Bagi saya pribadi, itu bukanlah sekadar kegiatan serta kuliah demi selembar ijazah dan gengsi. Bagi saya, itu adalah jalan dakwah juga. Dengan memasukkan agama (malam) dalam setiap kegiatan tersebut; memasukkan malam ke dalam siang, namun juga memasukkan siang ke dalam malam. Saya melihat contoh itu langsung dari Mursyid saya. Sebagai seorang saintis, banyak pemaparan beliau soal hikmah ayat-ayat Al-Qur‘an dijelaskan melalui metafora dan alegori dari fenomena alam yang dideskripsikan secara saintifik. Namun bukan berarti beliau seorang Bucailis, yang menempelkan sebuah teori sains pada satu ayat Al-Qur‘an untuk menunjukkan ‘status ilmiah’ dari Al-Qur‘an. Itu fatal, karena jika suatu saat nanti, teori sains yang ditempelkan pada ayat Al-Qur‘an itu terfalsifikasi atau terbukti salah, maka, konsekuensinya adalah ayat Al-Qur‘an itu jadi ikut ‘terbukti salah’, sehingga bisa saja malah memunculkan tuduhan “ternyata Tuhannya orang Islam tidak tahu apa pun tentang alam yang diciptakan-Nya.” Fatal sekali bukan?
Dalam salah satu percakapan dengan Prof. Bambang Sugiharto, guru filsafat pertama saya, beliau pernah berkata: "Al, saya penasaran, seperti apa jadinya kalau ada seorang saintis merangkap mistikus juga? Kayak apa ya? Penasaran saya." Mendengar hal itu, saya hanya membatin dalam hati: "Saya kenal satu pak, bahkan beliau adalah Mursyid thariqah saya."
Nah, kini, mari kita lihat sejarah. Bukankah abad kejayaan Islam ditandai juga dengan abad kejayaan sainsnya? Tapi, hari ini, untuk menentukan awal bulan—entah itu Ramadhan maupun Syawwal—umat Islam di Indonesia masih meributkan hisab dan rukyat. Padahal astronomi Islam di abad pertengahan adalah yang terdepan di zamannya. Dulu, perkembangan pesat ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam itu justru lahir dari kebutuhan untuk ‘beragama’; bagaimana Aljabar lahir dari hukum waris, bagaimana astronomi lahir dari kebutuhan menentukan arah kiblat saat dalam perjalanan jauh, juga menentukan awal bulan Qamariyah, dan sebagainya. Bahkan indeks yang biasa kita temukan dalam berbagai buku ilmiah itu lahir dari kebutuhan untuk mengelompokkan hadits (karena hadits tidak seperti Al-Quran yang sudah baku urutan dan penomoran suratnya), dan banyak lagi hal lainnya.
Mursyid saya pernah berpesan bahwa “apa pun yang kita kuasai hari ini, yang ada di tangan kita, entah apa pun background keilmuannya, pada dasarnya itu adalah jembatan bagi kita masing-masing untuk berdakwah.” 
Itulah kenapa saya berulang kali menuliskan ihwal Skizofrenia Kultural yang banyak melanda umat Islam. Bagaimana seorang mahasiswa Fisika harus ‘memegang’ kaidah bahwa yang tercepat itu adalah kecepatan cahaya, namun saat datang ke Masjid Salman untuk mengikuti Peringatan Isra Mi‘raj, dia harus berganti ‘jubah’ menjadi seorang muslim yang mengimani ‘perjalanan lintas alam dan di atas kecepatan cahaya’ , atau mahasiswa Ekonomi yang di kampus belajar soal suku bunga dan seluk beluk perbankan lalu datang ke Masjid Salman untuk menyimak khutbah tentang haramnya riba dengan memakai ‘jubah’ sebagai seorang muslim. Dan banyak lagi fenomena semacam ini, belum lagi fenomena bagaimana Islam menjadi 'makmum' atau 'keset: bagi wacana-wacana teoretik (post)modern, sehingga Islam harus selalu menyesuaikan diri terus menerus dengan berbagai ritme perubahan dalam dialektika wacana teoretik (post)modern tersebut.
Belum lagi fenomena medioker, yang belajar segala hal serba tanggung. Seperti kata pepatah: ‘Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.’ Belum lagi fenomena ‘kata ustad ana’ yang sedemikian sakti dan bisa dipakai untuk mengkafirkan siapa pun yang tidak sepengajian dengannya. Walaupun sangat terkenal, tapi kalau kita cari di Google dengan keyword ‘ustad ana’, kok tidak muncul juga wajahnya. Heran. Palingan saya hanya berhasil menemukan obat bernama “ENTECAVIR”, tapi tidak untuk foto wajah ustad ana...
Selain itu, saya pun menolak misi dan visi hilirisasi dari Kemenristekdikti yang memposisikan “manusia hanya terlahir serta dididik untuk industri” yang harus melakoni pekerjaan nan tak disukai dengan pola ‘I don‘t like Monday’ ke ‘thanks God it‘s Friday’. Padahal inti ajaran agama itu bahwa “Allah menciptakan manusia itu dengan tujuan khusus bagi setiap individu.” Seorang Einstein saja bisa menyatakan bahwa “Semua orang terlahir jenius. Tetapi jika Anda memaksa seekor ikan harus bisa memanjat pohon, maka Anda telah membuat dia menghabiskan seumur hidupnya bahwa dirinya bodoh.”
Bagi saya pribadi, ini bukan cuma kata-kata bijak. Saya merasakan sendiri bagaimana menjadi mahasiswa biasa-biasa saja dan nyaris bego abis, karena kuliah di Desain Produk. Saya merasakan bagaimana tidak enaknya jadi “ular laut yang bisa bergerak lincah di dalam laut, namun mendadak kikuk saat diangkat ke darat”. Sedangkan, terkait dengan sisi malam, itu adalah sisi mistik saya sebagai seorang salik dari sebuah thariqah selama 20 tahun ini. Namun, yang saya bagi ke publik pun adalah ajaran-ajaran yang semoga berguna bagi siapa saja (dan bukan pengalaman mistik yang hanya untuk diri sendiri).
(Cuplikan obrolan lama bersama para sahabat yang memiliki visi sama.)

0 comments:

Post a Comment