Wednesday, November 22, 2017

Membebaskan Jiwa dari Pengaruh Jasad

Proses membebaskan jiwa kita dari pengaruh jasad adalah proses yang panjang. Setelah sekian puluh tahun lamanya jasad kita terbiasa dengan pola makan tertentu, pola tidur tertentu, memiliki selera tertentu, keinginan tertentu yang semuanya seperti membentuk siapa diri kita, padahal semuanya kebanyakan terpengaruh dari orang tua, masa asuhan, keluarga dan masyarakat sekitar. 'Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu', kenali dirimu maka engkau akan mengenali Rabb-mu, proses membebaskan jiwa dari pengaruh jasadiyah merupakan bagian dari proses pengenalan diri.
Lalu dimulai dari mana? Minimal kita mengimani dulu bahwa kehidupan kita yang tampaknya berserakan dan tak berhubungan ini ada hubungannya dengan Al-Qur'an. Minimal itu. Karena kalau sudah tidak yakin dengan Al-Qur'an, maka Al-Qur'an itu tidak akan bekerja untuk kita. Sesuatu yang tidak diyakini, pastilah tidak akan mujarab.
Prinsipnya, jika sudah ada kepercayaan bahwa ada hubungan antara kita dengan Al-Qur'an, baru akan terbuka rahasianya. Kalau tidak peduli dengan Al-Qur'an-nya, dibaca pun tidak, tidak peduli juga dengan nasib kita, dan kita pun tidak berusaha mencari jawaban pertanyaan dalam kehidupan selain hanya menunggu entah mentor yang menerangkan, entah pak ustadz, maka, sungguh, harta karun itu tidak akan terbuka. 
Jadi, masing-masing harus membuka sendiri. Kenapa? Karena setiap orang beda-beda kepalanya, beda-beda ujiannya, beda jalan hidupnya. Tidak ada yang mengetahui dengan detail kehidupan sahabat sekalian kecuali diri sendiri dan Allah Ta'ala.
(Sepenggal pemaparan dari Mursyid saya ketika beliau mengampu Pengajian Hikmah Al-Quran.)

0 comments:

Post a Comment