Tuesday, November 21, 2017

Mengabdilah kepada Allah dengan segala kerelaan hati

"Kemuliaan seseorang itu terletak dalam keridhaannya terhadap takdir Allah Ta'ala, entah apakah Allah sedang menempatkan ia seperti Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, atau seperti Nabi Musa yang terusir dari negeri Mesir atau dalam keagungan singgasana Nabi Sulaiman, baginya sama saja, bahwa ia tetap ridha akan Allah, dan dalam pandangan Allah, itulah kemuliaan yang sejati."
(Ucapan Mursyid saya yang sampai kepada saya melalui istrinya. Setahu saya, dalam salah satu hadits, Rasulullah saw pernah bersabda "Mengabdilah kepada Allah dengan segala kerelaan hati. Jikalau engkau tidak sanggup, maka bersabar atas apa yang tiada engkau sukai itu banyak kebajikannya.")
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri?
Tidak, tujuannya ialah untuk menyenangkan anak-anak atau mengingatkan kembali teman-teman yang telah lama berpisah kepada kenangan terhadap mereka yang mencintainya.
Adakah pembuat tembikar yang membuat kendi demi kendi itu sendiri dan bukan karena mengharapkan air?
Adakah kaligrafer yang menulis demi tulisan semata dan bukan demi kepentingan pembacanya?
Ini seperti langkah dalam catur, anakku: hasil dari setiap langkah dirasakan pada langkah selanjutnya.
Dengan memahami sebab di balik sebab, satu setelah lainnya, engkau mencapai kemenangan dan men-skak-mati.
Orang yang jiwanya bebal tidak tahu bagaimana maju: dia berbuat berdasarkan keyakinan serta melangkah secara buta.
Keyakinan buta, jika engkau ikut bertempur, adalah sia-sia seperti keyakinan penjudi atas keberuntungannya.
Apabila rintangan di muka dan di belakang terangkat, maka mata akan menembus dan membaca lembaran Yang Tak Terlihat.
Orang yang waskita ini melihat ke belakang ke asal keberadaannya – dia melihat para Malaikat mendebat Yang Maha Kuasa ketika hendak menjadikan Ayah kita (Adam) sebagai wakil-Nya,
Dan, sambil mengarahkan matanya ke masa depan, dia melihat segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Pengadilan.
Setiap orang melihat sesuatu yang tak terlihat menurut kadar cahayanya.
Semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah ia melihat segala.
Kesucian ruhani terlimpah dari Karunia Ilahi; keberhasilan dalam menggosoknya juga merupakan Anugerah-Nya.
Usaha dan doa tergantung pada cita-cita: Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Tuhan sendiri adalah Pemberi aspirasi: orang yang kasar takkan bercita-cita menjadi Raja;
Namun takdir Tuhan tentang nasib tertentu bagi seseorang tidak merintanginya untuk berkemauan dan mengambil pilihan.
Ketika kesulitan datang, orang yang bernasib sial akan berpaling dari Tuhan, sementara orang yang diberkahi akan mendekat kepada-Nya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

0 comments:

Post a Comment