Monday, November 13, 2017

Pergeseran Besar di Timur Tengah

Ini tentu menyedihkan tetapi mau dikata apa. Saudi Arabia ditubir kehancurannya.
1.0
Donald Trump melalui Jared Kusher mantu sekaligus pengumpul modal di pilpres AS lalu mengatakan bahwa Saudi harus membayar 500 milyar dollar bagi persenjataan yang dibutuhkan untuk menghindari serangan Yaman dan Iran.
Sepertinya inilah awal dari pembekuan sekaligus penahanan para pangeran dan pengusaha Saudi Arabia atas tuduhan korupsi dan persekongkolan jahat. Pangeran Salam tidak memiliki banyak pilihan, ia mengikuti saja cara-cara licin pemerintah AS untuk mengakuisisi duit para pangeran yang memang kebanyakan di simpan di bank-bank AS-Israel.
Ini artinya Trump memainkan politik sekali tepuk dua nyawa melayang.
Pertama ia mendorong Pangeran bin Salman mengambil alih kekuasaan dari Ayahnya (Raja Salman). Dengan begitu akan lebih mudah mengatur pemuda yang belum banyak pengalaman dan emosional.
Kedua, ia menggunakan Pangeran bin Salman untuk menghabisi lawan-lawan politiknya yang juga mungkin tidak terlalu mudah diatur oleh AS.
Setelah menahan 30 lebih pangeran dan pengusaha atas tuduhan korupsi, Pangeran bin Salman menahan Pangeran Bandar bin Salman atas tuduhan konspirasi jahat. Bandar Bin Salman adalah arsitek Saudi yang bertanggungjawab dengan perang-perang di Suriah, Irak, Yaman, dll..
2.0
Saudi sudah lama terperangkah double security dillemma (hampir 4 tahun lalu kita sudah membahasnya). Dimana mereka dipaksa untuk membeli banyak senjata canggih buatan AS, Kanada, dan Eropah untuk bersaing dengan Iran. Yang mana persaingan ini sebenarnya tidak akan membuat mereka menjadi lebih aman karena pihak lawan akan meningkatkan belanja arsenalnya pula.
Sejak lima tahun ke belakang harga minyak anjlok. Ekonomi Saudi terpukul keras dan lebih keras lagi dengan perang-perang yang mereka terlibat didalamnya seperti Irak, Suriah, dan terakhir Yaman.
Mereka dipaksa untuk menggunakan cadangan devisa untuk mendanai belanja arsenal tadi. Yang sayangnya belanja ini diperparah dengan keterlibatan mereka di banyak front tempur.
Dulu kita prediksikan jika Saudi akan ambruk dalam tiga tahun perang melawan Yemen. Yang pada waktu itu, Bandar Bin Salman mengatakan bahwa cukup dua minggu untuk menghabisi milisi Houthi. Prediksi ini merendahkan daya lawan.
Dulu kita prediksikan jika Saudi akan ambruk dalam tiga tahun perang melawan Yemen. Prediksi ini merendahkan daya lawan. Kini bukan hanya dapat bertahan lebih dari tiga tahun, milisi Houthi telah menggunakan rudal untuk menyerang bandara-bandara internasional di Saudi.
Artinya Yaman mulai memasuki babak baru perang melawan Saudi. Bila selama ini mereka menggunakan serangan sporadis, sergapan dan gerilya ke pos-pos pertahanan Saudi. Kini mereka menyerang dengan rudal ke bandara-bandara Saudi.
Tujuannya mungkin bukan untuk merusak infrastruktur bangunan -mengingat jumlah rudal mereka yang terbatas. Tetapi serangan atas bandara akan meningkatkan asuransi keselamatan bagi penerbangan. Ini artinya jumlah penerbangan dari dan ke Saudi akan terpengaruh.
Singkatnya, Saudi Arabia yang selama ini hobi mengimpor perang di negara-negara tetangganya mulai mendulang hasil kerja mereka. Yaitu destabilitas di dalam negerinya sendiri. Yaitu yang datang dari luar (serangan milisi Houthi akan semakin keras) dan lebih parah lagi perpecahan itu datang dari tubuh keluarga kerajaan sendiri.
Kita belum dapat memprediksinya, masih ada banyak hal yang akan terjadi di negara bani Saud, Hanya dapat kita pastikan, harga minyak akan bergejolak dan ongkos haji akan naik.

0 comments:

Post a Comment