Monday, November 13, 2017

perumpamaan tentang kalimah yang thayyib

"Apakah engkau perhatikan bagaimana Allah membuat sebuah perumpamaan tentang kalimah yang thayyib, diumpamakan sebagai pohon yang baik. Pohon itu memberikan buah dengan seizin Rabbnya, Allah membuat perumpamaan agar manusia berpikir. Ada pun perumpamaan kalimah khabiitsah (kalimah yang buruk) seperti pohon yang buruk yang telah tercerabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat tegak sedikit pun. (QS Ibrahim [14]: 24-27)
'Kalimah' adalah istilah untuk kata atau nama. Sebuah pohon dinamakan pohon zaitun karena berbuah zaitun. Maka, pohon pun dinamai sesuai dengan buah yang dihasilkannya. Itu adalah 'kalimah'. Masing-masing manusia pun ada ‘nama'-nya, sesuai dengan buah dari pohon diri yang dihasilkan, yaitu berkarya dalam misi hidupnya masing-masing. Dengan demikian, 'kalimah' juga merupakan fitrah manusia.
Dalam Al-Quran atau Hadits Rasulullah kerap kali manusia digambarkan sebagai sebuah pohon. Dimulai dari benih yang ditanam, akarnya mulai tumbuh, dahannya menjulang ke langit, daunnya lebat hingga ia mengeluarkan buahnya. Perumpamaan sangat indah yang berkali-kali diungkapkan agar kita mengambil pelajaran darinya.
Sebagaimana benih pohon yang ditanam di dalam tanah, maka benih 'ketuhanan' dalam jiwa manusia ditanamkan di dalam raga masing-masing insan dan diturunkan ke alam dunia. Benih akan mengeluarkan akarnya yang berfungsi untuk menyerap sari makanan dari dalam tanah. Maka manusia pun harus bekerja dalam kehidupan, berikhtiar mencari sari-sari ilmu pengetahuan untuk menumbuhkan benih diri.
Batang dari benih yang tumbuh akan menjulang ke langit, menumbuhkan dedaunan yang berfungsi untuk menyerap sinar matahari dan melakukan fotosintesis untuk menghasilkan buah. Begitu pun benih yang tumbuh dalam diri manusia akan tumbuh dalam jiwa, yang sering diibaratkan sebagai langit, sebagai lawan dari raga--yaitu aspek kebumian. Ada pun daun yang tumbuh adalah simbol dari amal shalih setiap manusia. Pohon yang bagus adalah yang rindang daunnya dan banyak buahnya. Manusia yang baik di mata Allah Ta’ala pun adalah yang banyak amalnya untuk sesama dan lingkungannya.
Oleh karena itu, tidak aneh bila para rahib, biksu atau para waliyullah di berbagai penjuru dunia dalam waktu yang berbeda-beda mengajarkan para muridnya untuk bercocok tanam. Selain untuk melatih kesabaran dan melembutkan hati, kegiatan menanam benih, menumbuhkan, memelihara serta memetik hasilnya juga sebagai pelajaran yang jelas tentang aspek benih dan pohon diri yang harus dipelihara di dalam diri masing-masing manusia. Dan tidaklah Allah memberi perumpamaan itu semua agar manusia berpikir.
(Cuplikan dari materi Pengantar Mengenal Tashawwuf dari Mursyid saya) Alfathri

0 comments:

Post a Comment