Wednesday, November 1, 2017

Semua orang terlahir jenius

Keterangan gambar dari Richard Feynman (Fisikawan Pemenang Nobel tahun 1965 [bersama Julian Schwinger dan fisikawan Jepang, Shin-ichiro Tomonaga]):
Ketika SMA, guru fisika saya—Mr. Bader—suatu hari seusai jam pelajaran memanggil saya, “Kamu kelihatan bosan; aku ingin mengajarimu sesuatu yang menarik.” Yang lantas dia ajarkan memang sangat menarik, dan sejak saat itu, selalu saya dapati sebagai hal yang senantiasa menarik […] Yang dia ajarkan adalah prinsip aksi terkecil. Mr. Bader bilang pada saya, “Misalkan kamu punya benda dalam pengaruh gravitasi yang bergerak bebas dari satu titik ke titik lain—kamu lempar, melambung sebentar, lantas jatuh bebas (gambar lintasan benda berwarna merah). Benda itu bergerak dari titik awal ke titik akhir dalam waktu tertentu. Nah, sekarang kamu andaikan benda itu bergerak dalam lintasan gerak yang berbeda, dari titik awal tiba di titik akhir dalam waktu yang sama (gambar lintasan benda yang berwarna abu-abu dan garis putus-putus).” Kemudian Mr. Bader mengatakan: “Jika kita hitung energi kinetik dikurang energi potensial pada setiap momen dalam lintasan gerak itu kemudian diambil integralnya terhadap waktu di sepanjang lintasan itu, maka akan kita dapati hasil yang selalu lebih besar ketimbang lintasan gerak yang sebenarnya ditempuh. Dengan kata lain, hukum Newton bisa dinyatakan tidak dalam bentuk F = ma, tapi dalam bentuk: integral selisih antara energi kinetik dengan energi potensial terkecil untuk lintasan gerak benda dari satu titik ke titik lain.”
*****************
“Pada suatu ketika Nabi saw sedang berbicara dengan orang banyak, tiba-tiba datang seorang Arab dusun menanyakan kepada beliau: ‘Bilakah datangnya sa’at?’ Rasulullah tidak langsung menjawab, tetapi beliau meneruskan pembicaraannya dengan orang banyak. Karena sikap Rasulullah yang demikian itu, sementara orang mengatakan Rasulullah mendengar pertanyaan itu tetapi beliau tidak menyukainya. Dan setengah lagi mengatakan beliau tidak mendengarnya. Setelah Rasulullah selesai berbicara beliau bertanya, ‘Di mana orang yang bertanya perkara sa‘at tadi?’ Orang itu menyahut, ‘Saya ya, Rasulullah!’ Rasulullah bersabda ‘Apabila amanah telah disia-siakan orang, maka waspadalah terhadap datangnya sa‘at.’ Tanya orang itu, ‘Bagaimanakah cara disia-siakannya amanah?’ Jawab Rasulullah, ‘Apabila suatu amr diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka waspadalah terhadap datangnya sa‘at.’”(HR Bukhari) 
Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, adakah telah dikenal para penduduk surga dan para penduduk neraka?” Jawab Rasulullah Saw, “Ya!” Kemudian kembali ditanyakan, “Kalau begitu apalah gunanya lagi amal-amal orang yang beramal?” Beliau menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (HR Bukhari) 
Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Beliau Saw menjawab, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan apa yang Dia telah ciptakan untuk itu.” (HR. Bukhari)
*****************
Dalam kehidupan di dunia ini, manusia tak ubahnya seperti Jason Bourne (diperankan Matt Damon) dalam film Bourne Identity. Film tersebut berkisah tentang agen CIA yang menderita amnesia akut dan berjuang untuk menemukan kembali ingatannya. Bourne tahu bahwa ia begitu cekatan bermain pisau, memiliki pengetahuan komplit soal senjata, jago berkelahi, tangkas kebut-kebutan, pandai bicara berbagai bahasa—yang bagi Marie (Franka Potente) dianggap sebagai skill-set yang “tidak wajar”—namun Bourne menyadari satu hal penting yang justru tidak ia ketahui, yaitu, siapa dirinya, identitas dirinya. Bourne pun berkata kepada Marie: “Now, Marie, how could I know all that and not know who I am?” Dan ketika akhirnya dia bertemu kembali dengan atasannya, dia pun bertanya “Who am I?” yang dijawab oleh atasannya “You’re U.S. Government property. You’re a malfunctioning-thirty-million-dollar-weapon!” 
Bahkan Albert Einstein pun pernah berkata: “Semua orang terlahir jenius. Tetapi jika engkau memaksa seekor ikan harus punya kemampuan memanjat pohon, maka ikan itu akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempercayai bahwa dirinya bodoh.” Di lain kesempatan, dia juga kembali berkata: “Semua orang yang dilahirkan ke muka bumi ini pada dasarnya adalah jenius. Masalahnya mereka selalu diukur kecerdasannya bukan atas apa yang mereka miliki, melainkan atas hal-hal yang tidak mereka miliki.” John Mason pun pernah berkata: “Anda dilahirkan orisinil, jadi tidak perlu setengah mati meniru orang lain.”
Dalam fisika, kita bisa menemukan pemisalan yang tepat untuk berbagai kemampuan yang Bourne punyai tersebut sebagai “prinsip aksi terkecil” atau boleh juga kita sebut sebagai energi minimal, yaitu ketika seseorang terlihat oleh orang lain seperti tengah bekerja keras mengerjakan sesuatu. Padahal, bagi yang bersangkutan, kerja keras tersebut tak ubahnya seperti ikan yang bernapas di air. Atau seperti analogi Einstein di atas. Sehingga begitu mudahnya dia melarutkan diri dalam keasyikan, dalam kerja. Semua rumus fisika bekerja dalam prinsip aksi terkecil tersebut. Dan alam semesta pun bekerja dalam energi mininalnya. 
Namun tidak dengan kebanyakan manusia. Kenapa? Karena mereka sibuk menghabiskan energinya untuk bersusah payah memperturutkan syahwat dan hawa nafsunya, entah itu karena ingin dipandang pandai atau bahkan jenius, serba bisa, atau ingin mencari uang sebanyak-banyak dengan berbagai keahlian yang sebenarnya tak dikuasai dan disukainya, atau menjadi politikus tanpa bakat sama sekali demi kursi jabatan di bidang yang sama sekali tak dikuasainya serta uang banyak yang bisa diraihnya, dan lain sebagainya. Singkatnya, begitu banyak manusia hidupnya sangat berat dan mengeluarkan banyak energi karena mereka lebih memilih menempuh hidup seperti garis melengkung berkelok-kelok dalam gambar di atas, ketimbang mencari dan menempuh jalan berupa garis merah seperti terlihat dalam gambar di atas. Untuk apa? Entah. Hasilnya? Lihat saja bagaimana kondisi negeri kita sendiri saat ini.
Bahkan dalam dunia pendidikan dan dunia kerja kita bisa melihat (atau bahkan merasakan sendiri) para mahasiswa yang ‘salah jurusan’ atau para karyawan yang harus mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tak dicintainya. Hidup hanya berganti-ganti dari “I don‘t like Monday” ke “Thanks God it‘s Friday”. Betapa memilukannya kehidupan manusia ya, padahal sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali: “Ketahuilah, bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi suatu tujuan agung.”
Akan tetapi, inti ajaran Islam ihwal setiap manusia diutus ke muka bumi dengan tugas khusus untuk tiap individu ini telah terkubur dan hilang, tertutup oleh berbagai doktrin ihwal wajibnya mendirikan khilafah atau negara Islam, perselisihan yang berujung saling mengkafirkan sesama muslim, ribut di wilayah fiqih yang oleh masyarakat awam bisa menjadi landasan untuk menuduh sesat satu sama lain, keterpesonaan terhadap berbagai hal yang datang dari Barat, akibat mentalitas inferior (serta romantisme masa lalu sebagai mantan super power yang merajai dunia), pandangan anti-esensialisme yang dianut secara sadar mau pun tidak, dan lain sebagainya, membuat begitu banyak umat muslim tak tergugah sedikit pun dengan kelebihan dan kemudahannya dalam mengerjakan suatu hal dan tidak dalam hal lainnya. Maka bumi pun jadi dipenuhi oleh orang-orang yang tak merasa perlu tahu kenapa dan untuk apa dirinya dicipta.
Dalam dunia ilmiah, hal ini semakin diteguhkan, misalnya, bahwa secara biologis, menurut Harold Urey, asal mula kehidupan adalah terbentuknya zat-zat organik dari zat-zat anorganik yang ada di atmosfer berupa gas karbondioksida, metana, amonia, hidrogen, dan uap air. Semua zat ini bereaksi membentuk zat organik karena energi petir. Kehidupan berevolusi dari proses tahapan tersebut. Secara filosofis, menurut Heidegger, manusia adalah Dasein (ada di sana) yang mengalami faktisitas atau keterjatuhan ke muka bumi dan entah untuk apa, tak ubahnya Mr. Bean yang jatuh dari langit dan keluyuran ke sana sini tanpa tahu arah. Atau menurut Sartre bahwa hidup itu absurd, lalu manusia pun melahirkan ‘gejala salah’ atau ‘bad faith’ atau ‘mauvaise foi’ yang tercermin dalam ungkapan ‘saya memang dari sononya sudah begini’, ‘apa boleh buat memang begini bawaannya’ serta berbagai pernyataan yang menyatakan ketidakmungkinan untuk berubah. Atau Michel Foucault yang mengajukan konsep ‘the aesthetic of existence’, bahwa ‘hidup kita adalah karya kita’, sembari menggugat “mitos besar tentang dunia batin” dalam pandangan anti-esensialisnya. Bukankah psikologi pun menganut pandangan anti-esensialisme dan bahwasanya tak ada satu pun teori psikologi yang memandang jiwa sebagai entitas otonom yang terlepas dari tubuh sebagai akibat langsung dari runtuhnya hierarki realitas atau the great chain of being. Bahwa alam ini hanya semata terdiri dari realitas fisik material, dan manusia yang sebenarnya adalah tubuh ini, serta sains akan menjadi penjelas atas itu semua tanpa tersisa satu pun.
*****************
“Dan seseorang berkata, ‘Aku telah melupakan sesuatu.’ Sesungguhnya, hanya satu hal saja di dunia ini yang tidak boleh engkau lupakan. Boleh saja engkau melupakan semua hal lain, kecuali yang satu itu, tanpa engkau harus menjadi risau karenanya. Jika engkau mengingat semua yang lain, tapi melupakan yang satu itu maka tiada sesuatu pun telah engkau capai. Dirimu itu bagaikan seorang utusan yang dikirim seorang raja ke sebuah desa dengan suatu tujuan khusus. Jika engkau berangkat dan kemudian mengerjakan seratus tugas lainnya, tapi lalai menyelesaikan tugas yang dikhususkan untukmu tersebut, itu sama saja artinya dengan engkau tidak mengerjakan apa-apa. Demikianlah, manusia diutus ke dunia ini untuk suatu tujuan dan sasaran khusus. Jika seseorang tidak mencapai tujuan itu, berarti ia tidak menyelesaikan apa pun… ‘Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah itu kepada petala langit dan bumi dan gunung-gunung: dan mereka menolak untuk memikulnya dan gentar kepadanya; tetapi Al-Insan mengambilnya; dan sungguh, ia itu zalim dan bodoh’” (QS Al-Ahzab [33]: 72). 
(Maulana Jalaluddin Rumi)
*****************
“Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.”
(Maulana Jalaluddin Rumi)
*****************
Bertahun kucoba kukenali diriku, dengan meniru orang lain.
Dari dalam diriku, aku tak tahu harus lakukan apa.
Tak kulihat siapa, kudengar namaku di seru dari luar.
Lalu jiwaku melangkah keluar dari dalam diriku.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
*****************
Ibn ‘Arabi menceritakan pertemuannya, ketika masih muda, dengan ‘Abd Allah Al-Khayyath atau Al-Qarraq, sebagai berikut: “Aku pertama kali berjumpa dengannya di Masjid ‘Udays di Seville ketika dia baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Penampilannya sangat tidak rapi, berwajah kurus, seorang yang suka berpikir, sangat intens dalam ekstase dan kesedihannya. Tidak lama sebelum aku berjumpa lagi dengannya sekian tahun kemudian, aku telah menerima inspirasi mengenai Jalan yang tak seorang pun belum mengetahuinya. Karena itu, ketika aku melihatnya di masjid itu, aku ingin tampil sebagai tandingan spiritualnya. Aku memandangnya dan dia balik memandangku serta tersenyum. Aku lalu memberikan isyarat kepadanya dan dia melakukan hal serupa. Kemudian, tiba-tiba saja, aku merasa seperti seorang penipu di hadapannya. Dia berkata kepadaku, ‘Rajin-rajin dan tekunlah, sebab terberkahilah seseorang yang mengetahui untuk apa dia diciptakan.”
*****************
Kenalilah dirimu
Kalau kau pahami dirimu sendiri,
Kau akan bisa memisahkan yang kotor dari yang suci
Pertama, akrablah dengan dirimu
Kemudian jadilah pembimbing lingkunganmu
Kalau kau kenal dirimu, kau akan mengetahui segalanya
Kalau kau pahami dirimu, kau akan terlepas dari bencana
Kau tak tahu nilaimu sendiri
Sebab kau tetap begini
Akan kau lihat Tuhan, kalau kau kenal dirimu sendiri
Langit yang tujuh dan bintang yang tujuh adalah budakmu
Namun, kasihan, kau tetap membudak pada ragamu
Jangan pusingkan kenikmatan hewani
Kalau kau pencari surgawi
Jadilah manusia sejati
Tinggalkan tidur dan pesta ria
Tempuhlah perjalanan batin seperti pertapa
Apa pula tidur dan makan-makan?
Itu semua urusan binatang buas
Dengan ilmu jiwamu bertunas
Jagalah sekarang juga
Sudah berapa lama kau tidur?
Pandanglah dirimu sendiri
Kau sesungguhnya luhur
Renungkan, coba pikirkan dari mana kau datang?
Dan kenapa kau dalam penjara ini sekarang?
Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang pemberani
Ada maksud kau dicipta serupa ini
Sungguh malu kalau kau telantarkan maksud penciptaanmu ini.
(Nasir-I Khusrau)

0 comments:

Post a Comment