Friday, November 17, 2017

Thariqah dan tasawuf adalah "tipu daya iblis" seperti tertulis dalam buku Talbis Iblis?

Pandangan negatif terhadap thariqah, tasawuf dan sufi yang beredar di masyarakat awam, sedikit banyak muncul dari kesalahpahaman dalam membaca buku Talbis Iblis ("Tipu Daya Iblis") karya Ibnul Jauzi, seorang ulama fiqh ternama asal Baghdad yang juga merupakan sejarawan, ahli ilmu hadits dan tafsir, yang hidup di abad 12 M.
Buku yang cukup populer di negeri kita ini memang kerap dijadikan argumen dari suatu kelompok tertentu untuk mencap kesesatan tarekat, tasawuf, dan sufi, serta menganggapnya sebagai "tipu daya iblis". Menurut hemat kami, hal ini bertolak belakang dengan konteks dan maksud Ibnul Jauzi sendiri dalam menulis buku ini, di mana beliau sebenarnya berupaya memberi peringatan akan bahaya tipu daya iblis — yakni hal-hal yang dipandang baik, tapi sebenarnya sebuah kesesatan — tidak hanya kepada kalangan sufi, melainkan semua kalangan dalam agama.
Ibnul Jauzi adalah salah satu ulama yang terdepan dalam memerangi bid'ah jaman itu, yaitu dari berbagai pandangan yang menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran yang semestinya.
Di dalam Talbis Iblis ini, Ibnul Jauzi tidak hanya memberi peringatan kepada kelompok sufi saja, melainkan berbagai kalangan dalam agama, seperti khawarij, rafidah, batiniyah, bahkan sampai para filsuf, ahli tafsir, fuqaha (ahli ilmu fiqh), qurra' (pembaca Al-Qur'an), para ahli hadits (terutama asbabul hadits) dan masih banyak lagi yang lain. Beliau tidak secara khusus mengajukan penentangan terhadap ajaran sufi, akhlaq atau tasawuf, melainkan lebih pada menguraikan seluk-beluk "tipu daya iblis" yang senantiasa mengintai kalangan mana pun, tidak hanya kaum sufi.
Buktinya adalah bahwa di dalam buku Talbis Iblis ini (Bab 11), Ibnul Jauzi justru secara eksplisit menyebutkan beberapa tokoh sufi besar di masa-masa awal, seperti Abu Sulaiman al-Darani, Abu Yazid al-Bistami, dan Al-Junaid sebagai orang-orang yang menekankan pentingnya berpegang pada Kitabullah dan Sunnah dalam pengajarannya.
Sementara itu jika kita tilik buku beliau yang lain seperti Shifatush Shafwa ("Sifat-Sifat Terpilih"), Ibnul Jauzi malahan memuji lebih banyak lagi tokoh sufi ternama, seperti Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham, Ma'ruf al-Kharkhi, bahkan Rabi'atul Adawiyah (sufi wanita ternama dari Basra). Beliau berpandangan bahwa para wali/auliya' yang benar adalah mereka yang tidak menyalahi aqidah dan syari'at agama. Bahkan tentang auliya' dan shalihin itu, beliau menuliskan dalam bukunya bahwa "Mereka adalah maksud dari kejadian/penciptaan ("al-auliya' wa ash-shalihun hum al-maqsud min al-kaun"). Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan yang mengamalkannya dengan pengetahuan yang benar… yakni mengamalkan apa yang diketahuinya, sedikit tersentuh pada kehidupan dunia, mencari kehidupan akhirat, dan bersiap mati dengan mata yang senantiasa awas dan bekal yang cukup."
Ini semua merupakan indikasi bahwa Ibnul Jauzi, melalui bukunya Talbis Iblis ini, tidak sedang "menyerang" semua kaum sufi atau seluruh ajaran sufi atau tasawuf — yang justru beliau pandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari agama — melainkan sebagian kelompok saja yang menurut beliau tidak sesuai dengan ajaran yang semestinya, yakni yang tidak melandaskan ajarannya pada Al-Qur'an dan Sunnah.
: :
Dari wall-nya Herry Mardian

0 comments:

Post a Comment