Wednesday, December 13, 2017

Hamba di Perbatasan

Seusai menonton film CHRISYE untuk kedua kalinya, mas Panji Siswanto Bin Suparlan berkata kepada saya dan Alex, juga kepada dirinya sendiri: “Badan gede-gede gini, tapi nonton film aja pada nangis”... Well, sebenarnya ‘banjir’ di mata saya tidak seheboh waktu menonton pertama kali, walau masih becek juga sih. Saat menonton pertama kali, saya memang diharu biru oleh berbagai momen mengharukan dalam kehidupan sang penyanyi pujaan hati ini. Namun, dalam kesempatan menonton untuk kedua kalinya ini, saya jadi lebih fokus melihat pada sesuatu yang lain.
Film ini diawali dengan berbagai kesulitan Chrisye untuk bisa memilih serius dalam bermusik. Bahkan saat band Gipsy mendapat kesempatan pergi ke New York, Chrisye nyaris tak bisa pergi karena tak diizinkan oleh Papinya. Namun, dua hari menjelang keberangkatan teman-teman band-nya (tanpa Chrisye), Papinya mendapat mimpi yang mengubah penolakannya tersebut. Maka, Chrisye pun pergi ke New York.
Namun, ‘kegembiraan’ bisa pergi ke New York itu pun disusul dengan berita duka lainnya, yang membuat Chrisye sangat bersedih. Namun, sekembalinya ke Tanah Air, Chrisye mendapat kesempatan tak terduga yang mengubahnya dari pemain bass menjadi penyanyi solo.
Juga kisah percintaannya yang diwarnai pula dengan duka kehilangan. Namun, duka itu disusul pula dengan kegelisahan batinnya yang berujung pada pilihan menjadi mualaf. Kemudian pernikahan yang diwarnai dengan pendapatan sebagai penyanyi solo yang pas-pasan, sementara dia sudah memiliki dua anak perempuan, dan rumah masih menumpang. Lalu itu berubah saat album “Aku Cinta Dia” laku di pasaran. Chrisye pun akhirnya bisa mendapatkan rumah miliknya sendiri, dan saat dia ingin punya anak lelaki, Allah memberinya kembar sekaligus.
Namun, kegembiraan ini kemudian disusul lagi dengan karir musik Chrisye yang mandek, kejenuhan serta rasa malu karena lebih banyak di rumah sebab tak ada pekerjaan. Sebagaimana yang diungkapkannya kepada sang istri, “saya hanya bisa menyanyi”, keadaan memaksa Chrisye mencoba berbisnis di kargo. Dalam kondisi yang terasa suram seperti ini, mendadak datang tawaran untuknya mengadakan konser tunggal di Balai Sidang Senayan. Proyek ambisius dan pertama kali bagi penyanyi Indonesia. Didukung Erwin Gutawa dan Jay Subiakto, Chrisye bersama para pemusiknya tetap latihan walau tak ada kepastian ihwal siapa yang akan menjadi sponsor. Dan, saat mereka akhirnya menyerah, tak diduga, ada sponsor yang akhirnya mau mendanai proyek ambisius tersebut. Apakah setelah adanya sponsor ini, maka semuanya berjalan lancar? Tidak. Tapi, harus bagaimana lagi? Semuanya sudah siap dan tiket pun sudah habis terjual, dan pertunjukan pun harus tetap dilangsungkan walau tanpa ada kepastian apakah memang akan ada lagu yang Chrisye nyanyikan di konser tersebut.
Dan kita semua tahu bahwa konser tunggal pertama seorang penyanyi legendaris Indonesia itu berlangsung sukses. Bahkan menjadi liputan di halaman depan koran. Dalam memoarnya, Chrisye bercerita bahwa saat dia berada di atas panggung dan penonton mengelu-elukannya, dia membatin kepada Allah bahwa betapa kecil dan tak berarti dirinya di hadapan Allah. Lalu, setelah konser ini, Chrisye kembali merasakan kegelisahan. Kepada saudaranya, Chrisye mengungkapkan bahwa dia merasa diangkat oleh Allah lalu kemudian dihempaskan. Dalam kegelisahan ini, lahirlah lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”, sebuah lagu yang dari mulai proses penciptaan hingga rekamannya membuat Chrisye diaduk-aduk oleh pengalaman batin yang mengharu biru.
Menonton film Chrisye untuk kedua kalinya ini, membuat saya fokus pada hal lain, yaitu pada pola bagaimana Dia berulang kali membawa sang hamba dari suatu keadaan nyaris ke keadaan nyaris lainnya, untuk menegaskan pada sang hamba bahwa “Akulah jalan keluar itu, Akulah yang menyelamatkanmu”...
Saya teringat pada nasihat Mursyid Penerus minggu lalu tentang ciri-ciri orang yang banyak disebut di berbagai ayat Al-Qur‘an, yaitu “orang-orang yang menyembah kepada Allah di atas perbatasan”, yaitu “di perbatasan antara baik dan buruk”. Saat Allah memberinya nikmat dan berbagai hal baik yang menyenangkan, dia tidak bertambah baik. Seharusnya, setiap kali mendapatkan nikmat dan kebaikan itu, dia melangkah semakin jauh ke dalam “wilayah kebaikan”. Ternyata, dia hanya diam saja di atas “perbatasan” tersebut. Tak bergerak sama sekali. Maka, saat dia mendapatkan ujian, fitnah dan musibah, karena berada di atas perbatasan, dengan mudah ketika mundur satu langkah saja karena ujian, fitnah dan musibah tersebut, dia sudah “berpaling” dan masuk ke wilayah keburukan. Seandainya, setiap kali mendapatkan nikmat dan berbagai kebaikan itu dia melangkah lebih jauh ke wilayah kebaikan, maka saat mendapatkan ujian, fitnah dan musibah lalu dia mundur selangkah, toh dia masih tetap berada di wilayah kebaikan, karena dia sudah berada jauh di dalamnya. Sementara, jika dia tetap bertahan di atas perbatasan walau Allah telah memberinya nikmat dan berbagai kebaikan, maka datangnya ujian, fitnah dan musibah yang membuatnya mundur “satu langkah” saja, sudah menjerumuskan keadaannya jadi lebih buruk dari sebelumnya. Dan bagaimanakah sabda Rasulullah ihwal orang yang keadaan hari ininya lebih buruk daripada hari kemarin?
Kembali kepada film Chrisye tersebut, pola menaik lalu turun hingga ke “nyaris” untuk kemudian Dia selamatkan lagi dan lagi—dibarengi dengan Chrisye yang religius, reflektif dan rendah hati—membuat saya bisa merasakan bahwa spiritualitas itu universal dan hak siapa pun serta hadir di bidang apa pun, bukan hanya milik segelintir orang dengan berbagai atribut maupun simbol keagamaan serta lingkungan eksklusifnya. Bahwa kerinduan kepada-Nya itu adalah rahasia hati seseorang dengan Tuhannya, dan bisa hadir di “dunia” yang tak terduga, dunia musik dan selebritis. Pola dari satu nyaris ke nyaris ini mengingatkan pada percakapan saya dengan Mursyid Penerus. Suatu ketika, saya berkata kepada beliau ihwal betapa hancur leburnya hidup saya yang selalu terjatuh dalam kesalahan yang sama berulang kali dan tampaknya hanya akan memiliki akhir hidup yang tragis.
Lalu beliau pun menjawabnya sebagai berikut:
# # # # # # # # # # # # # # # # #
KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah SWT untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah SWT akan membukakan laut bagi mereka? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah SWT akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.
Musa as dan umatnya, dalam tekanan kebingungan yang hebat, terjebak di antara laut dan kepulan debu gurun yang dihamburkan ke angkasa oleh ribuan kereta perang Fir’aun Merneptah. Cacian-cacian kepada sang Nabi mulai berhamburan dari lisan-lisan umatnya sendiri, karena Musa, nabi mereka, malah mengarahkan mereka terkepung dan terdesak ke laut Merah.
Sementara pada saat itu, seorang pemuda yang tulus, panglima dan murid Musa as, berseru ke imamnya dari atas kuda yang terus diarahkannya ke laut, sesuai perintah imamnya. “Ya Nabiyullah, masih terus?” Pertanyaannya menunjukkan kesiapannya.
Air laut sudah seleher kudanya, dan dia, Yusha’ bin Nun, masih terus berusaha memacu kudanya yang sangat ketakutan itu untuk tetap maju menuju ke laut. Ia tidak mempertanyakan, apalagi membantah, perintah Allah untuk menembus laut Merah. Meski ia tahu bahwa Musa, imamnya dan Nabinya, juga belum mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka setelah itu.
Apakah seorang pangeran muda yang bernama Musa, bertahun-tahun sebelum peristiwa di atas, mengetahui bahwa pukulannya—yang hanya sekali—kepada seorang koptik akan membunuhnya? Satu kejadian “sial” yang membuat Musa menjadi tercela dan kehilangan singgasanannya. Ia ketakutan dan melarikan diri ke Madyan, tempatnya Nabi Syu’aib as. Suatu peristiwa yang merevolusi hidupnya, dari seorang pangeran Mesir menjadi cuma seorang pengemis lain di dunia ini. Namun tanpa peristiwa “sial” itu, ia tidak akan bertemu Syu’aib a.s. yang menjadi gurunya.
Kita semua adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahkan untuk semenit ke depan. Tidak kita, tidak para orang suci, tidak juga para Rasul yang lain. Kita dilarang bahkan untuk sekadar ingin mengetahui zaman di depan. Keinginan seperti itu hanya akan menjadikan kita masuk ke dalam golongan mayoritas, golongan orang-orang yang tidak bersyukur. *
Masa depan adalah kotak Pandora, dan keghaiban hari esok adalah bagian dari palu Allah yang dipergunakan-Nya untuk menempa dan membentuk jiwa kita. Kita semua adalah hamba-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bangga ketika mengatakan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, dan rasul-Nya”.
Mari kita sambut dengan suka cita dan kita nikmati palu kegaiban-Nya, karena kita tidak tahu palu yang mana yang akan digunakan-Nya membentuk jiwa kita esok hari. Tenanglah, karena kita berada dalam genggaman Sang Maha Sutradara yang Sangat Terpercaya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan, semua sudah diukur-Nya dengan rapi. Kita hanya melompat dari keadaan “nyaris” yang satu ke “nyaris” yang lain. Semakin tebal tabungan “nyaris” kita, semakin terbukalah Wajah-Nya yang Maha Indah. Hati kita mungkin dibuat-Nya remuk, tapi bukankah Allah SWT mengatakan, “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.
Kedigjayaan diri adalah musuh hati, dan keperihan adalah obat. Keutamaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari penglihatan-penglihatan tentang alam yang tak terlihat, atau bisikan-bisikan skenario masa depan. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.
Sahabatku, saudara-saudaraku seperjalanan, kita semua sama, dibuat kalang kabut dengan “pengaturan-pengaturan” suci dari-Nya, dan hati kita semua ada diantara permainan dua Jemari-Nya.
Jangan ada lagi ketragisan di hati. Kita semua ada dalam genggaman-Nya.***
# # # # # # # # # # # # # # # # #
[*] “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS Al-Mu‘mîn [40]: 61)
(Jawaban beliau ini diedit dan diperbaiki seperlunya oleh sahabat saya, Herry Mardian)


0 comments:

Post a Comment