Thursday, December 21, 2017

Ke Konflik Suriah versus Israel

Lima tahun ke belakang telah kita bahas sebuah skenario yang pada akhirnya akan menghadapkan Israel dengan Suriah dalam sebuah konflik. 
Saat ini, Pasukan Suriah Arab hanya tinggal memberikan satu pukulan terakhir kepada milisi takfiri di wilayah Dataran Tinggi Golan. Bila ini diselesaikan maka tidak ada penghalang bagi Suriah untuk mulai meledakkan perang terbuka dengan Israel.
0.1
Sejak dimulainya konflik Suriah pada 2011, Beit al Jin salah satu kota Suriah yang menjadi pintu masuk ke wilayah Golan yang dikuasai Israel jatuh ke tangan sekelompok orang yang mengaku sebagai oposisi. Selanjutnya kelompok oposisi ini mengubah namanya menjadi grup-grup yang mengaku berafiliasi dengan Al Qaeda dan ISIS. 
Sesungguhnya, Israel memanfaatkan kelompok ekstrimis ini untuk memperluas zona penyangga Golan bagi kepentingan politik okupansinya. Hanya saja, Assad tidak ingin mengambil langkah terburu-buru menyelesaikan persoalan di wilayah perbatasan ini. Mengingat ia perlu menjaga Damaskus sebagai prioritasnya dari kemungkinan jatuh oleh the so called pemberontak revolusioner Suriah. 
Setelah gagal menguasai Damaskus, dan gagal mempertahankan Homs serta terakhir kota Allepo, maka titik balik permainan ada di pihak pemerintah Assad. Ia hanya tinggal membersihkan sisa-sisa kelompok teroris di kantong-kantong desa dan dari kemampuannya menginkubasi sosial masyarakat Suriah maka tidak ada lagi tempat dimungkinkan bagi kelompok ini untuk bertahan. 
Kini Suriah dengan dukungan Iran dan Hezbollah memiliki basis untuk memulai memicu perang dari wilayah dataran tinggi Golan seandainya Israel melakukan serangan unilateral ke wilayah Suriah. 
0.2
Beberapa alasan dari kemungkinan ini adalah;
Pertama, perang selama enam tahun telah merevolusi tentara Suriah dari jenis tentara pertahanan menjadi tentara gerilya dan teritorial. Mereka dapat digerakkan dengan cepat dari satu kota ke kota lain, dan dari satu posisi ke posisi lain. Tidak ada lagi konsep mempertahankan kota dengan mati-matian. Mereka menjadi pasukan ringan yang mobile tetapi menjadi sangat efektif. 
Kedua, bahwa mereka mampu menciptakan inkubasi sosial di masyarakat yang membuat rasa nasionalisme Suriah semakin kuat. Ini karena mereka menyadari bahwa keberadaan Khilafah atau Daulah Islamiyah tidak dapat diterima oleh masyarakat karena sifat-sifatnya yang bertentangan dengan kondisi empirik masyarakat Suriah yang heterogen. 
Sentimen nasionalis ini yang membuat tentara Suriah tidak pernah kekurangan personel meskipun mereka telah kehilangan lebih dari setengah pasukan regulernya dalam perang melawan ISIS dan pemberontak. 
Ketiga, perang ini membuktikan jika persenjataan utama sistem pertahanan bukanlah pada alat perang yang mutakhir dan mahal. Melainkan ada pada manusia. 
Suriah hanya menggunakan pesawat-pesawat Mig tua dan artileri peninggalan era Soviet. 
Perang yang brutal ini hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen mempertahankan kedaulatan negaranya. Sementara mereka menyadari bahwa ISIS dan pasukan pemberontak tidak memiliki basis kesadaran akan tanah air ini. Mereka hidup di alam realitas sementara musuhnya hidup di dunia realisme. 
Kesadaran ini pula yang kemudian menjadikan isu Golan kembali ke Suriah menjadi perbincangan penting masyrakat suriah bila perang melawan ISIS telah usai.
0.3
Dalam perang ini, Suriah menjadi sekutu efektif bagi Hisbullah Lebanon dan Iran. Keduanya adalah kelompok perlawanan yang menempatkan Israel dan isu Al Quds Jerusalem sebagai tujuan utamanya. 
Perang enam tahun ini juga telah mengubah tentara Hezbollah dari milisi pertahanan menjadi tentara profesional yang dapat dimobilisasi sesuai kebutuhan. Hisbullah kehilangan lebih dari 1500 milisinya, tetapi jumlah tadi tidak menjadikannya lemah. Ini karena dalam perang Suriah, Hezbollah mengambil keuntungan dari kerjasama dan arsenal yang diperolehnya di lapangan. 
0.4
Perang Suriah, membalik keadaan di lapangan. AS dan Israel yang berharap Assad terjungkal dan Suriah menjadi negara lemah, harus menerima kenyataan jika kini mereka berhadapan dengan Super Power Rusia sekaligus Iran di belakang Suriah. 
Hanya dibutuhkan sedikit triger seperti pernyataan presiden AS Donald Trump yang mendukung Jerusalem sebagai ibukota Israel. 
Perhitungan-perhitungan ke arah konflik sudah tidak lagi dapat dihindari. Persoalannya hanyalah masalah waktunya saja.

0 comments:

Post a Comment