Wednesday, December 13, 2017

masalah di kalangan umat Islam dalam hal interaksi dan toleransi antar umat beragama

Dalam percakapan dengan om Aphrem Risdo Maulitua Simangunsong, saya ditanya soal apa kira-kira yang menjadi masalah di kalangan umat Islam dalam hal interaksi dan toleransi antar umat beragama. Waktu itu, saya menjawab secara spontan, namun di sini saya akan coba lebih sistematikkan jawabannya.
PERTAMA, hilang atau diabaikannya tashawwuf dalam pemahaman keagamaan kebanyakan umat Islam. Al-Quran melarang kita untuk taklid, karena setiap tindakan, ucapan, pemikiran dan bahkan lintasan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Tak bisa kita berlindung di balik dalih 'kata ustad ana', karena kita semualah yang mempertanggungjawabkan sendiri segala hal terkait diri kita, dan bukan ustad ana. Termasuk ketika ustad ana berkata bahwa tashawwuf itu bid'ah dan tidak diajarkan oleh Rasulullah saw, seharusnya seorang yang serius mencari jalan kembali kepada Allah akan menguji dan membuktikannya sendiri, dengan banyak mengkaji dan membaca, serta memohon tuntunan dan perlindungan kepada Allah Ta'ala dan mengirimkan shalawat kepada Rasulullah saw agar terhindar dari kesesatan dan kesia-siaan dalam belajar apa pun.
Tashawwuf, sebagai syariat batin, akan memperlihatkan wajah Islam yang sebenarnya dan khazanah spiritual Islam yang sangat kaya. Tashawwuf akan mengimbangi wajah jalal atau aspek maskulin dari Islam. Terlebih di masa ini Islam seringkali dipakai sebagai pembenaran bagi berbagai obsesi duniawi, termasuk obsesi politik dan hasrat kekerasan. Tashawwuf akan membantu orang menyelam lebih dalam ketika mempelajari agama, dan dengan menapaki jalan thariqah, orang akan lebih paham bahwa setiap diri ini diciptakan untuk suatu misi hidup indivisual yang berbeda satu sama lain, akan menyadarkan pentingnya ma'rifatun nafs ma'rifatullah, pentingnya penyucian hati. Thariqah akan mengajari orang melakoni apa yang diajarkan dalam khazanah tashawwuf dan bukan cuma mahir ngomong alias teori doang. Dan juga bukan cuma jadi orang yang seolah shalih secara lahiriah, namun busuk di dalam hati karena penuh arogansi merasa paling shalih, paling paham agama, merasa paling benar dalam beragama. Tashawwuf akan memperlihatkan banyak khazanah esoterik dan seperti apa titik temu agama-agama di wilayah esoterik sehingga orang tak sembarangan mengiyakan pembagian agama dunia dan agama langit yang sama sekali tidak pernah dicetuskan oleh Rasulullah saw. Namun sayang, jiwa dari Islam ini, yaitu tashawwuf, malah ditabukan, dibid'ahkan dan diabaikan oleh kebanyakan umat Islam, dan tak jarang itu hanya bermodalkan 'kata ustad ana' yang terkenal itu (namun, herannya, saat saya coba googling, gak ada tuh fotonya ustad ana, kayak apa wajahnya hi hi hi hi hi...)
KEDUA, budaya literasi yang memprihatinkan. Baiklah, di era ini memang sudah sangat jarang sekali kita temui kelisanan primer, namun residual kelisanan teramat sangat banyak. Banyak orang Indonesia telah mengenyam pendidikan, bahkan hingga pendidikan tinggi, bisa baca tulis, namun, ironisnya, mereka tidak punya budaya literasi; tidak suka membaca dan gagap kalau harus menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Bukan hanya itu, budaya literasi yang belum tumbuh dan berakar dengan baik itu, malah dihantam oleh internet dan gadget yang menumbuhsuburkan budaya the shallow, segala hal yang serba dangkal. Seolah banyak tahu tapi hanya permukaan dan mudah lupa serta tidak bermutu. Ini juga efek dari pendidikan di Indonesia yang visinya hanya untuk melanggengkan mentalitas kuli, dan tak menciptakan para peserta didik yang gemar membaca. Lihatlah ke toko-toko buku lalu amati bagaimana yang kini nangkring di toko buku adalah buku-buku kacangan tidak bermutu dan dangkal. Itu merupakan representasi paling gamblang dari selera membaca orang Indonesia secara umum. Di masa ini, orang sekolah hingga tinggi bukan untuk menjadi pemilik ilmu, bukan untuk memiliki wawasan luas dan gemar mengkaji, tapi cuma untuk memiliki ijazah hanya untuk menjadi kuli berdasi, bermacet-macetan dan berlelah badan untuk mencari uang yang tak pernah terpuaskan tanpa tergugah untuk berpikir lebih mendalam: 'untuk inikah saya hidup?'
Budaya literasi memiliki kelebihan dalam memupuk sensitivitas kita dalam memandang suatu permasalahan secara lebih mendasar. Budaya literasi membuat kita bisa menciptakan distansi kritis dalam melihat suatu persoalan. Ini berbeda dengan tradisi lisan dan juga mental residual kelisanan yang cenderung reaktif, asal heboh dulu; auratik alias melihat masalah hanya pada aspek luarannya saja dan mudah heboh oleh sesuatu yang justru bukan merupakan pokok persoalannya; dan partisipatif alias tak bisa menciptakan distansi kritis, selalu dalam posisi terlibat, misalnya begini: saat saya mengkritik aspek tertentu dari fenomena keberislaman mendadak ada yang sewot dan berreaksi 'Anda telah menghina Islam, dan itu berarti menghina umat Islam dan juga menghina saya'... Lalu saya sendiri bagaimana? Apakah tak ada artinya status saya sebagai seorang Muslim juga? Contoh lainnya, pernah dalam suatu bedah buku, sekian orang dari ormas Islam yang doyan kekerasan memprotes dan mengancam dengan kekerasan acara bedah buku itu. Alasannya? Karena buku itu telah menghina Islam. Namun, saat ditanya satu per satu: apakah Anda sudah membaca buku itu?; jawabannya: belum! Jadi, marah-marahnya itu karena apa? Itulah salah satu aspek yang paling memprihatinkan dari salah satu wajah umat Islam Indonesia yang mengaku sebagai umat dari Nabi tertinggi sepanjang masa, yaitu tidak punya budaya literasi yang matang sehingga mudah menjadi massa yang reaktif dan tak bisa memiliki otonomi individu. Lenyap dalam kerumunan. Budaya literasi juga punya keunggulan dalam memupuk individualitas yang matang, yang otonom dan tak mudah asal ikut suara mayoritas. Sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-An’aam [6]: 116: “Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah."
KETIGA, pengetahuan, wawasan dan pemahaman soal sejarah yang memprihatinkan di kalangan umat Islam Indonesia. Banyak anak muda Indonesia malah tumbuh menjadi generasi tuna sejarah, dan dengan mudah menjadi korban doktrin import ahistoris. Bahkan seorang yang berpendidikan tinggi bisa dengan bodohnya melontarkan pernyataan 'saya tidak percaya sejarah'. Itu sama sekali bukan pernyataan yang keren; sama sekali bukan! Itu sangat memprihatinkan malah. Bagaimana seorang muslim berpendidikan tinggi memilih bersikap fatalis seperti itu dan bukannya malah bertarung serta gigih mencari kebenaran sejarah. Seorang yang gemar belajar akan tertantang untuk mencari lebih gigih ketika dia disodorkan berbagai bentuk 'kebenaran' sambil sujud kepada Allah Ta'ala memohon agar ditunjuki mana kiranya jalan yang harus ditempuh dalam mencari dan belajar. Kita tidak tergugah untuk mencari tahu dari kisah pertemuan Rasulullah dengan Bukhara, penerusnya dan Waraqah bin Naufal yang nota bene adalah Nasrani; Nasrani aliran apakah mereka? Kita hanya tahu Katolik dan Protestan lalu berpuas diri dengan pengetahuan sejarah yang memprihatinkan tersebut. Di sisi lain, dengan belajar sejarah, umat Islam akan sadar bahwa di bumi nusantara ini, semua agama pernah masuk, bahwa di bumi nusantara ini ada ratusan etnis dan ratusan bahasa, dan bagaimana semua etnis dan agama di Indonesia berjuang bersama untuk meraih kemerdekaan. Bagaimana para bapak bangsa yang hebat-hebat itu--dan kita belum tentu setanding dengan kebersahajaan, kecerdasan serta pengorbanan mereka--menyusun dasar negara ini dengan pertimbangan yang matang. Mereka adalah orang yang lahir dalam masa penjajahan dan berjuang untuk kemerdekaan bangsanya, dan mereka mengenyampingkan perbedaan dan mencari jalan tengah bersama bagi semua etnis dan agama agar bisa bekerja bersama membangun Indonesia, sekali pun Islam adalah agama mayoritas di Indonesia.
Mursyid saya pernah memberikan pemaparan ihwal pentingnya mempelajari sejarah sebagai berikut:
***************************************
Manusia terlahir di dunia ini tidak lepas dari ordinat ruang dan waktu.
Kapan kita dilahirkan? Peristiwa apa yang mengelilingi kita? Apa zaman yang tengah dihadapi sekarang? Bagaimana masa lalu kita dan orang tua?
Suka atau tidak suka, kita semua terikat dengan sejarah masing-masing. Oleh karenanya tidak bisa menutup mata, cuek terhadap sejarah atau bahkan mencoba memotong sejarah masing-masing dengan alasan 'terlalu kelam untuk diingat', karena sesungguhnya setiap penggal kehidupan kita sangat berharga dan tidak ada yang sia-sia karena semua datang dari desain Sang Maha Pencipta.
Di kitab suci pun kita menemukan banyak kisah tentang Nabi, Rasul dan para Shiddiqin, karena semua itu memberikan bekal dan arahan untuk kita dalam menghadapi kehidupan. Akan tetapi kebanyakan manusia terperangkap oleh urusan per hari ini, kesibukan hari ini, butuh uang hari ini; dan setan pun akan sibuk menutup pandangan kita dari melihat permasalahan secara utuh agar kita pontang-panting menghabiskan usia hanya dengan disibukkan oleh urusan dunia yang tidak ada habis-habisnya.
Penting untuk belajar sejarah, karena itu memberikan visi dan kita bukan sekadar belajar data sejarah, peradaban dan berjuang memperbaiki masyarakat tapi mencari sesuatu yang ada sentuhan Tuhan di dalam sejarah itu. Jadi, target kita adalah Allah-nya, kita berjuang untuk mencintai dan dicintai oleh-Nya.
***************************************
Demikian tiga hal yang terlintas di benak saya ihwal apa permasalahan yang menjadi pangkal dari buruknya interaksi dan toleransi umat beragama di Indonesia, khususnya di umat Islam Indonesia. Tentu saja masih banyak permasalahan lainnya, namun yang baru terpikirkan oleh saya saat ini baru tiga hal ini. Demikian, mohon maaf kalau ada silap kateu. Wallahu'alam bishawwab. alfathri

0 comments:

Post a Comment