Thursday, December 7, 2017

Membagi Shalat

Saat shalat, kita memulainya dengan gerakan berdiri. Posisinya, kepala (sebagai simbol pikiran, fungsi otak kita) berada di atas hati (seringkali disimbolkan dengan jantung yang menyerupai buah shanaubar, dan memunculkan istilah ‘hati sanubari’). Saat berdiri itu, kita diwajibkan membaca Al-Fatihah, dan sebagaimana dinyatakan dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876), Rasulullah saw bersabda:
Allah Ta‘ala berfirman: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) antara Diri-Ku dengan hamba-Ku dua bagian. Tatkala insan mengucapkan, ‘Alhamdulillahi Rabbil Alamin’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Ar-Rahmani Rahim’, Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan Diri-Ku.’ ‘Maliki yaumiddin’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengagungkan Diri-Ku.’ Di lain kesempatan Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.’ Manakala ia mengucapkan, ‘Iyyakana‘ budu wa iyyakanasta‘in’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Ini antara Aku dengan hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’ Dan ketika ia mengucapkan,‘Ihdina shirathal mustaqim, shirathal ladzina an‘am ta‘alaihim, ghairil maghdubi ‘alaihim waladhaalin’, Allah Ta’ala menjawab, ‘Inilah milik hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’”
Jadi, mudahnya, Al-Fatihah itu terbagi dari satu bagian milik Allah, satu bagian terbagi menjadi milik Allah dan milik hamba-Nya, serta satu bagian lagi milik sang hamba.
Lalu, kita pun ruku‘ dengan posisi badan yang benar adalah lurus. Nenek saya pernah bercerita bahwa saat beliau muda, di Padangpanjang, para santri dilatih agar ruku‘ dengan posisi badan yang lurus menggunakan papan sebagai media latihannya. Posisi lurus ini akan membuat ‘kepala’ dan ‘hati’ kita jadi sejajar. Dan saat ruku‘ ini, kita membaca ‘Subhana Rabbiyal Adzim’. Dalam QS Al-Qalam [68]: 4 dinyatakan ihwal Rasulullah saw bahwa “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (khuluqul adzim).” Al-Adzim adalah salah satu asma (nama) Allah. Sebagai umat beliau saw, kita harus menjadikan beliau saw sebagai ‘uswatun hasanah’, dan sebagaimana halnya beliau saw, kita pun harus memiliki ‘khuluqul adzim’. Posisi ruku‘ ini menunjukkan bahwa sebagai hamba, kita masih bisa disematkan asma Al-Adzim dalam kaitan dengan akhlaq sebagai umat Rasulullah Muhammad saw.
Lalu, kita pun sujud, yang merupakan gerakan paling agung dan mulia dalam shalat, yaitu saat ‘kepala’ kita berada di bawah ‘hati’, lalu kita pun membaca ‘Subhana Rabbiyal A‘la’, yang menunjukkan Dia sebagai Yang Maha Tinggi, dan sama sekali tak ada yang menyamai apalagi menyerupai-Nya. Di hadapan Dia Yang Maha Tinggi ini, kita ‘meniadakan diri’ dengan sujud sedalam-dalamnya, meringkuk nyaris menyerupai angka nol. Dan bahkan saat sujud akhir kita dianjurkan berdoa dan meminta kepada Dia Yang Maha Tinggi ini. Demikian yang Mursyid Penerus ajarkan kepada saya.
Nah, dengan melihat rangkaian gerakan shalat ini, semoga kita bisa lebih menyiapkan diri dalam momen perjumpaan dengan-Nya tersebut. Setidaknya secara pakaian saja dulu, sebelum ke masalah khusyu dan berbagai hal yang lebih dalam lagi. Seandainya kita diundang untuk bertemu dengan selebritis idola atau pejabat, maka kita akan ‘berdandan’ sedemikian heboh dan wangi. Lalu, kenapa saat hendak ‘menjumpai’ yang telah menciptakan kita dan memberi kita banyak kebaikan (dengan janji bahwa ‘rahmat-Ku mendahului murka-Ku’), kita malah seperti sekenanya saja. Setelah tidur semalaman, badan berkeringat dan menempel di baju tidur, kusut, lalu bangun untuk kemudian mengerjakan shalat subuh dengan masih mengenakan pakaian saat tidur yang kondisinya entah bagaimana. Seperti itukah penghargaan kita untuk momen perjumpaan dengan-Nya? Sungguh, jika kita menghargai momen perjumpaan dengan-Nya melalui penghormatan sebagaimana yang kita berikan kepada selebritis atau pejabat, atau bahkan lebih, pastilah Dia akan menghargai upaya kita tersebut. “Shalatlah dengan pakaian yang khusus”, demikian yang Mursyid (alm.) ajarkan kepada saya.

0 comments:

Post a Comment