Wednesday, December 13, 2017

Meminta Kepada Allah

Sesungguhnya banyak meminta kepada Allah itu adalah sebentuk kebersyukuran dan bisa mencegah kita dari berkeluh kesah; sedangkan tidak meminta itu adalah sebentuk kesombongan kepada Allah. Setiap insan memiliki masalah, dan yang Allah lihat adalah cara kita menghadapi masalah tersebut. Misalnya, Allah mengizinkan dalam suatu saat kita jatuh sakit, itu agar kita memohon meminta kesembuhan kepada Allah.
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah." (QS At-Taghabun [64]: 11)
Begitulah, semua perkara yang kita hadapi dalam keseharian intinya adalah agar kita meminta kepada Allah. Hendaknya dalam setiap hal kita biasakan memohon kepada Allah, bahkan ide; memohon bimbingan dalam semua hal, karena nanti kita akan dimintai pertanggungjawabannya atas semua hal. Ketahuilah, semua masalah yang kita terima kita sebagai hamba Allah, pastilah dikadar dan ada tujuannya. Dan itu dikatakan berhasil, jika kita mengembalikan semua urusan kepada Allah; itulah dzikir yang sesungguhnya.
Berserah diri adalah berkerja keras untuk memahami kehendak-Nya. Pasrah kepada Allah berarti berserah kepada kehendak-Nya. Nah, yang tidak mudah itu adalah memahami tentang kehendak-Nya; belum lagi terkait perbuatan yang kita lakukan, apakah sesuai dengan kehendak Allah? Berserah diri itu mengalir kepada kehendak-Nya, berbaring pada kehendak-Nya, "sabbaha", bertasbih, berkerja keras untuk memahami kehendak-Nya.
Setiap musibah yang menimpa itu pasti atas izin Allah--jika Allah menghendaki itu terjadi maka ada sebuah perkara besar di baliknya karena setiap manusia berada dalam rancangan Allah Ta'ala. Sesungguhnya kehidupan akan menjadi "megah", jika kita memahami karsa Allah yang menciptakan keadaan. Bukanlah berserah diri itu hanya nrimo tapi hati mengeluh. Itu hanyalah pasrah kepada keadaan; tidak berdaya, itu hanya sebentuk keputusasaan. Semestinya seorang yang beriman itu senantiasa bergembira dalam setiap kondisi karena dia melihat karsa Allah di setiap keadaan. Sesungguhnya yang membuat seseorang menjadi mulia adalah daya perenungannya dalam kehidupan yang dijalani; sebuah kesadaran dalam memahami kehidupan; "daya kunyah"-nya atas semua yang hadir dalam kehidupan ini, baik susah mau pun senang.
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu" (QS Al-Hadiid [57]: 23)
Berserah diri adalah berkerja keras memahami kehendak-Nya; sebuah kesibukan pribadi mencari apa yang Allah kehendaki, hingga kemudian menyelaraskan kehendak pribadi dengan kehendak Allah. Berserah diri itu senantiasa mendudukkan Allah Ta'ala sebagai hal yang "terpenting" di atas segalanya. Sungguh, kehebatan seorang manusia yang beriman adalah mengikatkan antara realitas yang sepertinya sederhana dalam kehidupan keseharian agar senantiasa terkait dengan hal yang tertinggi; hal yang jauh (alam malakut, jabarut, yaumul akhir dlsb). Itulah sebuah kemegahan alam pikiran; suatu cahaya yang memancar di kepalanya; cahaya yang menunjukkan daya renung orang tersebut. Ahwal orang yang beriman adalah menyibukkan diri dengan Allah, membaca kehidupan yang fisik sedari hal yang kecil namun senantiasa biasa melihat karsa Allah dalam setiap hal; senantiasa bolak-balik antara Allah dengan kehidupannya; senantiasa mengharapkan bimbingan Allah dalam kehidupannya.
Adalah tidak mudah untuk memahami karsa Allah Ta'ala. Concern utama seorang yang beriman adalah "perasaan Tuhan"; senantiasa membaca, mencari; seminimalnya menebak apa yang menjadi kehendak-Nya. Kita semua memiliki kesempatan yang sama, yaitu kehidupan ini, yang kita jalani di alam dunia, siapa pun itu; entah nabi, rasul, wali atau kita; hanya bedanya, para nabi dan orang beriman itu memiliki kecerdikan dalam menyikapi kehidupan. Seperti saya katakan tadi, concern orang beriman adalah "perasaan Tuhan"; senantiasa "bergumul" dengan Dia; membangun relasi dengan Yang Maha Tinggi, yang menjadi jalan syafaat baik di alam dunia ini dan juga untuk alam-alam berikutnya.
Kebanyakan para penghuni di alam barzakh itu seperti orang yang tenggelam di lautan. Karena itu berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Jangan takut dengan kematian; yang ditakuti adalah bagaimana kita menjalani sebuah keberadaan setelah kematian. Karena itu, yang harus benar-benar dibangun adalah relasi dengan Yang Maha Tinggi mulai sedari di alam dunia ini, karena baik di dunia maupun di barzakh dan yaumil akhir toh Tuhannya masih Tuhan yang sama.
Ibn ‘Umair berkata, “Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah Saw.”
Maka ‘Aisyah menangis, lalu berkata, “Setiap ihwalnya menakjubkan. Pada malam giliranku, ia datang kepadaku sehingga kulitnya menyentuh kulitku. Beliau berkata, ‘Biarkan aku shalat kepada Tuhanku.’
Maka beliau pergi ke tempat air, lalu berwudhu. Kemudian beliau shalat. Maka beliau menangis sehingga basah janggutnya. Kemudian beliau sujud sehingga air matanya membasahi tanah. Selanjutnya beliau berbaring pada salah satu sisinya hingga datang Bilal menyeru shalat subuh.
Maka Bilal bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang.’
Beliau menjawab, ‘Bagaimana kamu ini, wahai Bilal, apa yang mencegahku untuk menangis. Sesungguhnya pada malam ini Allah SWT telah menurunkan wahyu, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. (QS Ali Imran [3]: 190)”
Selanjutnya beliau bersabda, ‘Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak memikirkannya.’”
(Sepenggal nasihat dari Mursyid saya di suatu sore, semoga ada gunanya...) alfathri

0 comments:

Post a Comment