Wednesday, December 13, 2017

mengetuk pintu

Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Dan singgahlah ke hatiku cinta kepada-Mu, lalu ia beranjak pergi dengan riang.
Sekali lagi ia datang, tinggal sejenak, lalu bertolak pergi lagi.
Dengan sopan aku mengundangnya tinggal: "sebentar, barang dua, tiga hari."
Akhirnya ia menetap, tak pernah lagi ia ingin tinggalkan hatiku.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Mengapa bangkit hasadmu di tengah lautan kepemurahan ini?
Mengapa kau tolak datangnya kebahagiaan yang menggelombang?
Tak seekor pun ikan pertahankan secangkir air bagaikan harta karun; ketika dia tahu, samudera luas tak pernah tolak kehadirannya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Wahai insan, kau miliki sebuah negeri di balik petala langit, tapi pada tanah dan debu kau tujukan dirimu.
Telah kau hujamkan citra dirimu pada permukaan bumi; melupakan negeri yang jauh tempat kelahiranmu.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Aku masuk ke dalam hatiku untuk melihat bagaimana keadaannya.
Sesuatu di sana membuatku mendengar seluruh dunia menangis.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Kita semua bergantung sepenuhnya pada kemahakuasaan Sang Pencipta.
Seluruh kuasa, seluruh kekayaan, semata milik-Nya; kita pengemis rudin.
Lalu mengapa kita mendaku, lebih unggul satu sama lain?
Bukankah kita semua sama, tengah bermohon di muka pintu istana-Nya?
(Maulana Jalaluddin Rumi)

0 comments:

Post a Comment