Friday, December 15, 2017

OKI akan Gagal dalam Resolusi Jerusalem

Pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (IOC, OKI) di Istanbul Turki untuk menyikapi pernyataan Trumps terkait Jerusalem menjadi ibukota Israel akan menghadapi jalan buntu.
Dapat dipastian bahwa masing-masing pihak dari negara anggota akan lebih banyak berbicara common-sense daripada mengambil langkah konkrit untuk menghukum Amerika dan Israel.
Beberapa poin yang perlu kita perhatikan dari konflik ini adalah:
1. Pernyataan Trumps tentang dukungan AS untuk Jerusalem sebagai Ibukota Israel bukanlah tanpa konsultasi dengan mitra di kawasan (MENA) Timur Tengah.
Ia bukan sesuatu yang begitu saja muncul. Trumps melihat ini sebagai kesempatan baik bagi kepentingan politik dalam negerinya dengan mengambil perhatian kelompok bankir Yahudi sekaligus melanjutkan politik unilateral mereka di kawasan.
2. Pernyataan ini mesti sudah diketahui Turki dan Saudi sebagai sekutu utama AS dalam NATO dan Timur Tengah.
3. Keberanian Trump juga didukung dengan kenyataan bahwa aktor berkonflik sebenarnya yaitu Palestina sendiri tidaklah dalam posisi bersatu.
Kelompok Fatah dan Hamas adalah dua kelompok Palestina yang saling bertikai dan berbeda sikap dalam perjuangan untuk Palestina merdeka. Sikap politik Hamas yang keras dan Fatah yang lebih moderat dan terbuka untuk dialog dengan Tel Aviv membuat keduanya tidak dapat bersatu.
4. Selanjutnya kedua faksi Palestina ini pun berbeda sikap dalam menyikapi isu Arab Springs. Faksi Fatah lebih dekat kepala Qatar sementara mereka dianggap organisasi pengacau oleh Saudi. Sebaliknya Saudi menganggap Fatah sebagai kawan dimana Qatar menganggapnya bukan kawan potensial.
5. Pada konflik Suriah, baik Fatah dan Hamas keduanya sama-sama menghendaki Basir Al Assad jatuh. Ada hampir 500 ribu orang Palestina yang menjadi pengungsi di Suriah, namun sebagian besar mereka tidak menyukai kebijakan Assad yang menolak naturalisasi (nasionalisasi) dengan mengeluarkan passport Suriah bagi pengungsi Palestina.
Bagi Assad, resistensi atau perlawanan harus terus dimunculkan oleh para pengungsi untuk mewujudkan negara Palestina merdeka. Kebijakan menolak naturalisasi pada para pengungsi inilah yang membuat mereka condong kepada kelompok oposisi dan ISIS.
Ada lebih dari tiga ribu pengungsi Palestina yang tewas dalam perang anti-teror Assad. Jumlah yang mencengangkan dan lebih mengejutkan lagi mereka ada di pihak melawan Assad, yang justru banyak mendukung Hamas dari segi senjata miiter.
6. Selain sikap kebanyakan pengungsi dan pemimpin Palestina yang memusuhi Damaskus, maka Suriah sendiri memiliki kepentingan untuk merebut kembali Dataran Tinggi Golan dari Israel. Dimana mereka akan membuat perhitungan besar dengan mengambil momentum kemenangan melawan kelompok teroris ISIS.
Tindakan Suriah ini adalah bagian dari komitmen koalisi perlawanan (resistance groups) baru yang terdiri dari Hezbollah (Lebanon)-Suriah-Iran-Irak.
7. Turki tidak dalam kepentingan untuk mengangkat urusan Jerusalem dan Palestina.
Turki memiliki hubungan diplomatik dan dagang dengan Israel dan mereka terus meminta hubungan yang lebih luas termasuk kerjasama militer.
Pernyataan Erdogan yang "dengan keras" mengutuk pernyataan Trumps hanyalah bersifat lipstik saja. Ia membutuhkan pencitraan positif di mata kelompok politik Ikhwanul Muslim sebagai penggalang Islam. Erdogan tidak akan menaikkan eskalasi penolakan atas pernyataan Trump dalam wujud membekukan misi diplomatik dengan Israel apalagi mengancam perang.
8. Saudi Arabia tidak akan mau forum OKI menjadi forum persatuan bagi umat Islam.
Saudi sedang berkonflik dengan Yaman. Kematian Ali Abdullah Shaleh -mantan presiden Yaman- yang dibunuh kelompok Abdullah Houthi (milisi Houthi) karena dianggap berkhianat dengan pernyataan mendukung dialog negara Saudi dan menuduh Houthi sebagai milisi tak bertanggungjawab adalah titik tanpa pilihan.
Mereka (Saudi) harus menerima kenyataan bahwa soft-strategi untuk keluar sebagai pemenang dalam perang Yaman dengan berhasil mengubah keberpihakan Ali Abdullah Shaleh yang seharusnya dapat membuat mereka mudah menghadapi milisi Houthi dan memenangkan perang ternyata gagal.
Kematian Ali Shaleh, memaksa Saudi untuk menghadapi perang yaman lebih lama lagi dan tidak ada tanda-tanda mereka dapat meraih objektif atas sasaran-sasaran kemenangan. ,Maka usulan perdamaian dan persatuan dalam menghadapi musuh bersama yaitu Israel dalam isu Jerusalem nanti sama sekali tidak ada dalam pembahasan mereka.
9.Yang justru akan menarik adalah pernyataan delegasi Iran, Irak, Suriah, dan Lebanon dalam menyikapi isu Jerusalem ini dengan lebih keras dan sasaran lapangan yang detail.
Artinya, bila kemungkinan akan pecah konflik Israel versus Arab, maka keempat negara ini yang akan berkonflik di tingkat lapangan.
Andi H

0 comments:

Post a Comment