Monday, December 4, 2017

pandangan Islam atas psikologi



Seorang mahasiswi psikologi datang untuk wawancara. Dia menanyakan: Apa pandangan Islam atas psikologi? Bagaimana posisinya?
Saya tegaskan bahwa yang saya katakan ini bukan mewakili posisi psikologi dalam Islam. Ini hanya pendapat saya. Sebagaimana dinyatakan oleh Jane Idelman Smith & Yvonne Yazbeck Haddad bahwa “…sebagian dari ajaran-ajaran eskatologi yang lebih populer, yang dalam hal ini, para penulis—kalangan teolog tradisionalis—telah gagal membedakan antara istilah nafs dan ruh, jiwa dan roh, baik dengan cara mempertukarkan kedua istilah itu maupun menggunakan yang satu untuk mengganti yang lain. Kecenderungan ini juga menjadi ciri sebagian besar analisis kontemporer. Persoalan bagaimana menamakan dan memahami fithrah kemanusiaan memang cukup njelimet sehingga banyak penulis kontemporer menegaskan bahwa mereka sangat malas membicarakan hal ini.”
Kerancuan itu bahkan terlihat lebih luas lagi dalam wacana Psikologi Islam, misalnya, bagaimana ketidaktelitian untuk membedakan antara nafs dengan hawa nafsu, nafs dengan psikis, lubb atau ‘aql (orang yang memilikinya disebut ulil albab) dengan nalar (otak), dan lain sebagainya. 
Gejala ini sebenarnya telah diungkapkan penyebabnya oleh Al-Ghazali sepuluh abad yang lalu, dan ternyata masih terus terjadi hingga hari ini, yaitu, dikarenakan pemahaman akan istilah nafs, ruh, qalb dan ‘aql yang “…sedikitlah kalangan ulama-ulama yang terkemuka, yang mendalam pengetahuannya tentang nama-nama ini, tentang perbedaan pengertian-pengertiannya, batas-batasnya dan apa yang dinamakan dengan nama-nama tersebut. Kebanyakan kesalahan itu terjadi karena kebodohan dengan arti nama-nama ini dan persekutuannya di antara apa yang dinamakan itu yang bermacam-macam.”
Saya katakan bahwa saat masuk ke toko buku, lalu melihat buku-buku yang membahas "kemana ruh kita akan pergi setelah kematian?", saya terdiam. Atau buku yang menceritakan bahwa seorang sufi telah didatangi oleh ruh Abu Yazid al-Busthami? Hah, bagaimana bisa ruh Abu Yazid datang kepada sufi itu? Bukannya nafs? Bahkan membedakan nafs dengan ruh pun sudah gagal, bagaimana mau membahas soal hidup setelah kematian? Lebih hancur lebur lagi saat muncul istilah 'arwah gentayangan'; oh ya? Ada arwah gentayangan? Apaan itu? Atau mendengar kata-kata: 'Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan.' Lho, satu orang itu punya berapa ruh sih sampai dikatakan 'semoga arwahnya' yang merupakan bentuk jamak dari ruh? Lagi pula, Al-Quran sama sekali tak pernah menyebutkan ada ruh yang ternodai oleh dosa dan disiksa karenanya. Atau melihat buku psikologi Islam dan sang penulis menyamakan psikis dengan nafs, bahkan dengan ruh. Saya langsung hilang selera. Saya katakan kepada sang mahasiswi: "Tolong sebutkan kepada saya, satu saja teori psikologi yang memandang bahwa psikis itu adalah entitas hidup yang terpisah dari tubuh. Tolong sebutkan satu saja teorinya. Apakah ada?" Dan dia menggeleng. Saya lanjutkan: "Itulah kenapa bab 2 tesis saya isinya membahas soal perubahan dari konsep diri sebagai jiwa yang terpisah dari tubuh hingga menjadi seperti sekarang, bahwa diri itu ya diri yang menempel di tubuh ini, atau gampangnya, ya tubuh ini sendirilah yang disebut sebagai diri."
Lalu saya katakan: "Merleau-Ponty bercerita tentang Schneider, seorang veteran perang, yang kepalanya kena pecahan granat dan jadi bermasalah dengan gerakan abstrak. Singkatnya, kalau ada kerusakan di otak kita, maka itu bisa berpengaruh juga pada psikis kita bukan? Kalau psikis itu punya kaitan erat dengan struktur fisiologis otak kita, maka saat kita mati dan otak ini terurai jadi tanah lagi, kenapa mendadak ada yang hidup lagi untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di muka bumi ini kepada Tuhan? Apa itu? Otak dan syaraf kita yang maujud jadi wujud astral bernama entah itu jiwa atau ruh, terserah sang penulis, itukah? Atau misalnya pernah ada penulis yang menyamakan id sebagai nafs amara bi su, lalu nafs lawammah sebagai ego, dan nafsul muthmainnah sebagai superego, maka nanti, saat Allah memanggil: 'Wahai nafsul muthmainnah' maka yang datang ke hadapan Allah Ta'ala adalah 'tempat penyimpanan nilai yang diajarkan oleh orangtua maupun para pengganti orangtua', karena itulah definisi superego menurut Freud. Begitukah?"
Lalu saya tunjukkan koleksi buku-buku saya sambil berkata: "Itulah sebabnya kenapa koleksi buku saya mayoritas adalah buku filsafat Barat juga psikologi Barat plus kajian budaya, di satu sisi, lalu kitab-kitab para sufi dan kajiannya, di sisi lain. Buku yang membahas topik seperti psikologi Islam, misalnya, sama sekali tidak saya beli karena seringkali hanya membuang uang saja."

0 comments:

Post a Comment