Wednesday, December 13, 2017

Tanda Kebenaran

"Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa dikenali dari individu-individunya, tetapi akan bisa dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui siapa saja yang mengikuti kebenaran."
(Ali bin Abi Thalib ra)
________________________________
"Kebenaran tidak diukur berdasarkan rijal (figur), pelajarilah kebenaran itu, niscaya engkau akan tahu siapa sejatinya pemanggul kebenaran."
(Ali bin Abi Thalib ra)
________________________________
Orang-orang yang bodoh salah mengambil uang logam palsu karena tampak seperti asli.
Bila di dunia tidak ada mata uang logam asli yang sah, bagaimana para pemalsu dapat mengedarkan uang palsu.
Kepalsuan tidak ada artinya jika tak ada kebenaran, yang membuatnya sedap dipandang.
Adalah cinta kebenaran yang memikat manusia ’tuk berbuat salah.
Biarkan racun dicampur gula, mereka akan menjejalkannya ke dalam mulutnya.
Oh, janganlah berteriak bahwa seluruh syahadat adalah sia-sia!
Berbagai aroma, sedikit saja bau kebenaran mereka miliki, selanjutnya mereka takkan terpedaya.
Jangan berseru, ”Alangkah sangat fantastis!”
Di dunia ini tiada khayalan yang sama sekali tak benar
Di tengah-tengah kerumunan Darwis, tersembunyilah seorang fakir sejati.
Carilah dengan teliti dan engkau akan menemukannya!
(Maulana Jalaluddin Rumi)
________________________________
Di dunia ini tiada keburukan yang mutlak: keburukan itu nisbi. Sadarilah kenyataan ini.
Di dunia Waktu sesuatu pastilah menjadi pijakan bagi seseorang dan belenggu bagi yang lainnya.
Bagi seseorang merupakan pijakan, bagi lainnya merupakan belenggu; bagi seseorang merupakan racun, bagi lainnya merupakan manis dan bermanfaat laksana gula.
Bisa ular merupakan kehidupan bagi ular, namun maut bagi manusia; lautan merupakan sumber kehidupan bagi binatang laut, namun bagi makhluk daratan merupakan luka yang mematikan.
Zayd, meski orangnya sama, bisa jadi setan bagi seseorang dan menjadi Malaikat bagi lainnya:
Bila engkau ingin ia baik padamu, maka pandanglah ia dengan pandangan seorang pencinta.
Janganlah kau pandang Yang Maha Indah dengan matamu sendiri: melihat Yang Dicari itu dengan mata sang pencari.
Sebaliknya, pinjamlah pandangan dari Dia: pandanglah wajah-Nya dengan mata-Nya.
Tuhan berfirman, ”Barangsiapa telah menjadi milik-Ku, Aku menjadi miliknya: Aku adalah matanya, tangannya dan hatinya.”
Semua yang dibenci menjadi yang dicintai manakala ia membawamu pada Sang Kekasihmu.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

0 comments:

Post a Comment