Tuesday, December 5, 2017

Yang Ini Kafir, Yang Itu Bukan Islam.

Muslim itu apa? Apa batasan seorang disebut muslim atau Islam?
Tentu keberserahdirian kepada Allah adalah persoalan hati. Nggak kelihatan dari luar. Tapi ada indikatornya.
"Siapa yang bersaksi Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), menghadap ke kiblat kita, shalat sepeti shalat kita dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah Muslim, baginya hak dan kewajiban sebagai seorang Muslim." (H. R. Bukhari 379, 391, 392, 393, H. R. Muslim 30. Hal senada juga ada dalam H. R. Muslim 47).
: :
Bagaimana jika kesaksiannya itu palsu?
Walaupun kesaksiannya palsu. Sabda Rasulullah, "apakah sudah engkah belah dadanya, sehingga engkau melihat hatinya sungguh-sungguh mempersaksikan itu atau tidak?"
Bahkan kalimat itu, walaupun dinyatakan secara palsu, sudah membuat seseorang memperoleh perlindungan dan hak-haknya dari Allah ta'ala.
Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra.,
Rasulullah saw. mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menemukan seorang kafir. Dia segera mengucapkan: "Laa ilaaha illallah", tetapi aku terus saja menikamnya.
Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku. Maka (karena hatiku tidak enak) aku menyampaikannya kepada Nabi saw.
Rasulullah saw. bertanya: 'ia mengucapkan "Laa ilaaha illallah" dan (kenapa) engkau tetap membunuhnya?'
Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang (takut dibunuh).
Rasulullah saw. bersabda: "Apakah engkau sudah membelah dadanya, sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?"
Hari itu Beliau terus saja mengulang-ulang perkataan itu ("Apakah engkau sudah membelah dadanya, sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?") kepadaku dan terus melancarkan kritiknya kepadaku, sampai-sampai aku berandai-andai, kalau saja hari aku baru masuk Islam (sehingga Rasulullah tidak sedemikian marahnya kepadaku)."
~ H. R. Bukhari 3935, Bukhari 379, H. R. Muslim 140
: :
Siapapun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, maka baginya hak dan kewajiban sebagai muslim. Ia memperoleh perlindungan.
Dan justru dengan mengkafirkan, memerangi atau membunuhnya adalah kekufuran.
Hadits-hadits berikut menegaskan hal itu.
“Barangsiapa memanggil seseorang dengan 'kafir' atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal ia tidak demikian, maka panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” (H. R. Muslim)
Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya; 'Wahai Kafir' maka (kekufuran itu) akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (H. R. Bukhari 5639)
Rasulullah saw bersabda, "apabila seorang lelaki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut." (H. R. Muslim 91)
Rasulullah SAW bersabda, "mencela orang muslim adalah fasik, dan memeranginya adalah kufur." (H. R. Bukhari 6549, 5584. H. R. Muslim 97)
Rasulullah SAW bersabda, "jangan mengkafirkan orang yang melakukan shalat karena perbuatan dosanya, meskipun mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa." (H. R. Ath-Thabarani)
: :
Hadis riwayat Miqdad bin Aswad ra., ia berkata:
"Wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku bertemu dengan seorang kafir, lalu ia menyerangku. Dia penggal salah satu tanganku dengan pedang, hingga terputus. Kemudian ia berlindung dariku pada sebuah pohon, sambil berkata: 'Aku berserah diri kepada Allah (masuk Islam)'. Bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan itu?"
Rasulullah saw. menjawab: "Jangan engkau bunuh dia."
Aku memprotes, "Wahai Rasulullah, tapi ia telah memotong tanganku. Dia mengucapkan itu sesudah memotong tanganku. Bolehkah aku membunuhnya?"
Rasulullah saw. tetap menjawab: "Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya. Jika engkau membunuhnya, maka engkau sama seperti dia sebelum engkau membunuhnya (kafir), dan engkau sama seperti ia sebelum ia mengucapkan kalimat yang ia katakan (kafir). (H. R. Muslim 139)
: :
Jangan menzalimi, mengganggu kehormatan, menyakiti hati, membuka aib, memfitnah, dan sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda, "seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Ia tidak boleh berbuat zalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, makan Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak." (H. R. Muslm 4677, H. R. Bukhari 2262, 6437)
Rasulullah SAW bersabda, "muslim yang sempurna adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan Al-Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang hijrah dari apa-apa yang Allah larang." (H. R. Bukhari 6003)
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, "muslim yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab, "Yaitu muslim yang orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya." (H. R. Muslim 57)
: :
Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci dan saling memusuhi.
Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli atas sesuatu yangg masih dalam penawaran muslim lainnya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.
Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara, tak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Taqwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya; maksudnya, tidak terlihat dari luar). Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.
Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.
Sesungguhnya Allah tak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian (seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau).
(H. R. Muslim 4650)
: :
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain agama Islam secara dusta, maka dia seperti apa yang dia katakan. Barangsiapa bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan disiksa di neraka Jahannam dengan sesuatu yang ia pergunakan untuk bunuh diri. Barangsiapa melaknat seorang muslim maka ia seperti membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang muslim dengan kekafiran, maka ia seperti membunuhnya.” (H. R. Bukhari 5640)
*
Siapapun yang bersaksi 'La Ilaha Ilallah', yang shalat, yang menghadap kiblat, yang menyembelih hewan makanan dengan bismillah, adalah muslim.
Semua yang muslim tidak boleh dihujat, dicela, diganggu, dikafirkan, disakiti hatinya. Apalagi diperangi dan dibunuh.
Di sisi lain, demikian pula Abu Bakr r.a., Umar r.a., Utsman r.a., Aisyah r.a., mereka muslim juga. Jangan juga dihujat dan dicela. Memandang rendah, menghina dan menghujat mereka, tentu juga akan menyakiti hati muslim lain, selain jelas-jelas melanggar larangan Rasulullah di hadis-hadis tersebut. Lagipula, untuk apa menghujat mereka, selain sebagai ekspresi kebencian?
Masalah beda jalur, beda mahzhab, beda sejarah, itu persoalan lain.
Hadis-hadisnya begitu jelas. Semuanya sangat sahih. Rasulullah melarang mengkafirkan, jangan menghujat, jangan menyakiti, jangan mengganggu. Kenapa bersikeras mengikuti anjuran yang sebaliknya? Apakah anjuran itu derajatnya lebih tinggi daripada hadits?
Jangan karena satu atau dua perilaku yang membuat kita tidak suka, sakit hati, atau marah, atau mungkin karena persoalan sejarah (yang diwariskan turun-temurun), membuat kita menjadi tidak adil sudut pandangnya.
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, mempersaksikan dengan keadilan (qist). Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil dekat dengan taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah: 8)
Jika sebuah kebencian atas suatu hal membuat persaksian kita terhadap seluruh persoalan jadi nggak adil, itu salah.
Dan di ayat itu juga, adil itu 'qarib' dengan taqwa. Herry M

0 comments:

Post a Comment