Saturday, October 13, 2018

Toleransi

Istilah “toleransi” (Indonesia) atau “toleration” (Inggris) itu berasal dari bahasa Latin “tolerare” yang artinya “menerima dengan sabar”, “persetujuan” atau “membiarkan.” Istilah ini pada umumnya mengacu pada “penerimaan bersyarat dari” atau “non-interferensi” terhadap keyakinan, tindakan atau praktik yang dianggap salah tetapi masih “dapat ditolerir.”
Akan tetapi, apakah toleransi itu identik dengan anarki? Istilah anarki berasal dari bahasa Yunani yaitu “an-arkhe” yang artinya “ketiadaan prinsip” atau “tanpa komando.” Apakah toleransi itu meniscayakan “anything goes” alias “apa pun boleh”?
Tidak. Toleransi adalah “penerimaan bersyarat”, bukan “anarki yang membolehkan apa pun.” Karena itu selalu akan ada batas-batas dalam toleransi. Begitu pula halnya dengan Islam sejauh yang pahami dan anut, sebuah agama yang memiliki aturan dan hukum meliputi seluruh kehidupan umatnya, dari mulai buang hajat, berhubungan suami istri, dalam bertetangga (sehingga terkesan bahwa tetangga pun memiliki hak waris), sesaat bayi keluar dari rahim langsung disambut hukum waris dan sesaat seseorang meninggal berbagai sunnah dan juga hukum waris langsung menyentuhnya, hingga saat ‘beraudiensi’ dengan Tuhan tanpa sepengetahuan siapa pun.
Dalam selorohan dengan sebagian teman, saya kadang berkata bahwa “agama ini (Islam) ‘terlalu nyinyir’ mengatur segenap kehidupan umatnya sehingga sukar untuk dimasuki oleh ide tentang sekularisme.” Namun beda perkaranya jika si muslimnya itu sendiri yang melucuti hukum-hukum Islam dari dirinya. Atau, lagi dan lagi dan lagi saya mengatakan ini berulang-ulang kali, Islam malah dijadikan ‘budak’ bagi berbagai wacana teoretik (post)modern oleh sebagian muslim yang terpesona pada kebebasan sekular dari arus pemikiran tersebut. Sesuatu yang belakang disadari juga oleh Ulil Abshar Abdala dan diistilahkannya sebagai “bias for.”
Adapun untuk diri saya pribadi, toleransi pun merupakan “suatu penerimaan bersyarat yang memiliki batasan.”
Setiap tahun saya selalu mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Paskah kepada kalangan Nasrani secara terbuka di wall FB, dengan resiko yang sama dari tahun ke tahun, mulai dari dikafirkan atau dituduh liberal hingga di-unfriend atau diblokir. Namun, hingga saat ini, sikap saya pernah berubah. Bagi para pengguna FB yang memang ingin menjadi ‘friend’ saya, tunggu saja. Sebentar lagi Natal akan tiba, dan biasanya akan ada beberapa jatah friend yang mendadak kosong. Dua bulan itu tidak lama kok.
Begitu juga saat seorang ustadz menyebut “Salib” sebagai tiang jemuran. Saya ikut marah dan mencoba sebisa saya membela serta menjelaskan apa arti salib itu dan bagaimana itu adalah simbol yang sangat agung bagi agama Nasrani, agama yang saya istilahkan sebagai agamanya para martir. Anda tahu apa arti kata “martir”?
Kata MARTIR berasal dari bahasa Yunani “MARTUS” yang artinya adalah saksi. Istilah ini pertama kali dikenakan kepada para rasul dalam Kisah 1: 8 yang berbunyi “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku (MARTUS) di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”; dan Kisah 1: 22 yang berbunyi “yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”
Kita bisa melihat bahwa kata “SAKSI” atau “MARTUS/MARTIR” itu disandingkan dengan Roh Kudus, dan bagaimana MARTUS dan SYUHADA itu artinya sama, yaitu SAKSI YANG BENAR.
Lebih jauh, coba simak Kisah 2: 1-4 yang berbunyi sebagai berikut:
“(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;(3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.(4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”
Namun, setelah umat Kristen awal mendapat banyak tekanan dan siksaan karena mereka tidak mau meninggalkan agamanya, maka istilah MARTUS pun dilekatkan juga kepada mereka yang mati dalam mempertahankan imannya. Dan orang pertama yang digelari MARTUS karena mati dalam mempertahankan imannya adalah Stefanus, seorang Diakon, yang kita bisa jumpai kisah pembunuhannya oleh orang Yahudi dalam Kisah 6 sampai 8. Dan penyebutan Stefanus sebagai MARTUS atau SYUHADA bisa kita jumpai dalam Kisah 22: 20 yang berbunyi sebagai berikut:
“Dan ketika darah Stefanus, saksi-Mu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya.”
Jika Anda mempelajari sejarah awal kalangan Nasrani, Anda akan mendapati bagaimana umatnya, dari yang masih kecil hingga yang tua renta, ibu beserta bayinya, dengan gagah berani menyambut kematian. Entah itu dimasukkan ke dalam sumur lalu dilempari batu hingga mati, atau diikat di sebuah tiang lalu dibalut kain kemudian dilumuri minyak untuk dibakar menjadi obor penerangan jalan di malam hari, atau diumpankan kepada singa-singa lapar sambil disaksikan sebagai pertunjukan bagi orang banyak, atau dijadikan ‘mangsa’ para gladiator, lain sebagainya. Kenapa mereka bisa sedemikian gagah beraninya menyambut kematian? Karena inspirasi dari Yesus yang mati di tiang salib! Jika Anda membaca juga sejarah tokoh-tokoh kudus di kalangan Nasrani, Anda bisa melihat sendiri bagaimana sebagian besar dari mereka itu mati sebagai martir.
Berbeda dengan sejarah Nasrani di masa awal yang tidak diwarnai dengan peperangan, Islam adalah agama yang di masa awalnya memiliki sejumlah sejarah perang yang dilakoni langsung oleh Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya. Lalu, apa kata Rasulullah Muhammad ihwal kemartiran di kalangan umat muslim?
“Kebanyakan syuhada dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya. Dan banyak pula orang yang terbunuh di antara dua baris perang, yang Allah Maha Mengetahui apa niat sebenarnya.” (HR Ahmad dari Ibnu Mas’ud)
Bahkan Khalid bin Walid, sahabat Rasulullah saw yang berperang dengan gagah berani di banyak peperangan, yang pada saat jenazahnya dimandikan memperlihatkan bagaimana berbagai luka bekas senjata tajam tersebar di segenap tubuhnya, justru mati di atas tikar tidurnya, dan bukan di medan perang. Karenanya, janganlah seorang muslim itu menghina simbol agung milik kalangan Nasrani tersebut.
Namun, sekali lagi, bagi saya pribadi, toleransi itu memiliki batas. Saya sering diajak bicara oleh kalangan non-muslim ihwal poligami dalam nada nyinyir dan terkadang mengejek, bahkan menyiratkan bahwa itu adalah ‘pelacuran yang dilegalkan melalui hukum agama.’ Mungkin karena kegemaran saya kepada wacana teoretik cultural studies dan filsafat memberi kesan bahwa saya adalah seorang yang berpikiran terbuka (bisa juga dibaca “liberal”) dan menolak hal tersebut. Jika percakapan itu terjadi dengan kalangan Katolik, misalnya, saya akan bersikap dengan tegas dengan mengatakan bahwa “Bukankah di agama Anda yang dianggap utama itu adalah mereka yang tak menikah? Lalu dengan modal apa Anda bisa mengkritisi seluk beluk hukum pernikahan dalam agama saya yang bukan hanya memperbolehkan poligami, tapi juga mengatur soal perceraian, sehingga memang berbeda sama sekali dengan hukum dalam agama Anda? Tak usahlah jahil mengurusi hukum agama orang lain. Bukankah di agama Anda pun banyak masalah yang harus ditangani? Biarkanlah ini jadi keributan tersendiri di kalangan umat muslim saja. Anda tak perlu repot-repot ikut mengurusi.”
Namun, jika ada sebagian dari kalangan umat muslim ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi Islamisme, misalnya, maka saya adalah salah satu yang akan bangkit melawan mereka. Selain menerjemahkan buku “Islam and Islamism” karya Bassam Tibi, saya pun pernah menulis artikel berjudul “Tata Negara dan Peradaban Islam: Antara Cita-cita dan Ilusi” yang dimuat di sebuah jurnal milik UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Itu salah bentuk toleransi lainnya bagi saya pribadi, bahwa di negara yang semua agama pernah masuk, bukan berarti agama mayoritas boleh seenaknya menentukan ideologi bernegara yang menjadi pijakan tata kehidupan bersama atau politik.
Demikian pula halnya dengan LGBT. Saya tak ambil pusing jika para penganut agama lain bersikap lebih longgar atau bahkan cenderung menerima hal tersebut dengan embel-embel toleransi, keberagaman, hak azasi manusia, urusan privat yang bebas selama tidak kriminil, dan lain sebagainya. Silakan, itu urusan para penganut agama tersebut, bukan urusan saya. Namun, sebagai seorang muslim yang mempunyai dua guru pemikir terkenal di negeri ini dan mempunyai dua mursyid di sebuah thariqah, saya akan bangkit menolong agama-Nya dari penggerusan Islam melalui kemahiran akrobat logika yang disalurkan melalui lidah dan jari jemarinya. Semoga Allah berkenan menolong saya.

IMF dan Buruh

Satu klausul yang selalu mengambang dalam pembahasan Kerjasama Pembangunan Global adalah seberapa besar alokasi hutang akan memberikan peluang bagi kelompok tenaga kerja.
Nona Erni dari Buruh Migran tidak dapat membayangkan jika persoalan hutang sama selalu belum dihitung detail karena menurutnya resiko-resiko tadi tidak masuk hitungan. Kami bertemu terakhir di Nairobi pada acara Pertemuan Tingkat Tinggi Kerjasama Yang Effectif (GDPEC). Seberapa besar investasi/hutang Cina, US, Jepang, dan OECD misalnya membuka lapangan pekerjaan dengan bayaran layak bagi buruh lokal Hari ini orang berteriak tentang hilangnya kesempatan kerja karena bersama investasi asing selalu hadir tenaga kerja import.
Vietnam, Indonesia, dan Malaysia mulai mengeluh dengan kehadiran TKA Cina. Yang terjadi di ketiga negara ASEAN tadi adalah munculnya isu politik identitas, yaitu nasionalisme populis. Beberapa negara Afrika juga demikian dengan intensitas yang lebih ringan. Sementara di eropa, Jerman mulai khawatir investasi Cina di manufaktur. Mereka ditakutkan akan akan membawa-alih atau reverse industri
enjinering Jerman ke Cina.
Tentu kita tidak dapat menyalahkan Cina, mereka pun punya hitungannya tetapi isu kepentingan nasional adalah yang paling utama adalah klausul terpenting dari seluruh bentuk kerjasama dunia.
Berbeda dengan antisipasi yang telah dilakukan negara-negara reseptor, sepertinya Indonesia belum memiliki formula menghadapi shifting dari model kerjasama hari ini. Sebagian menganggap kecurigaan kita kepada pekerja migran cina itu tidak beralasan seraya membandingkan TKI import kita di Malaysia, Hongkong, atau Arab Saudi. Kedua kasus ini tentu saja berbeda, sebab TKI kita tidak datang karena Indonesia berinvestasi di LN, namun karena sulitnya lapangan kerja DN. Mereka pun umumnya menjadi pekerja kasar, buruh rumah tangga, layanan di rumah jompo, atau proyek-proyek yang penduduk lokalnya tidak lagi mau bekerja di sana.
Minggu ini di Bali dilaksanakan pertemuan tahunan IMF-WB. Perihal seberapa besar ia akan memberikan kemanfaatan kepada kelompok buruh juga belum atau sama sekali tidak menyentuh pembicaraan ini. Sekali lagi, kelompok pekerja dan pembukaan lapangan kerja masih akan dianggap bagian tidak penting dari kerjasama ini.
Kita dapat melihat pada beberapa kasus di tanah air. Misalnya kebermanfaatan proyek-proyek infrastruktur yang memanfaatkan dana-dana ini kecil sekali kontribusinya kepada kelompok buruh. Belum lagi kepada operator lokal seperti asosiasi-asosiasi kontraktor. Hal yang sama dengan kebijakan di sektor kelautan -tol laut-, kebijakan penangkapan ikan, dll., yang semakin jauh dari menghadirkan kesejahteraan bagi pekerja nelayan.
Siang tadi saiya berbincang dengan beberapa peserta aksi di Taman Monas depan Patung Arjuna, mereka dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia -KSPI dan beberapa lainnya barangkali. Mereka melaksanakan aksi untuk mengkritis perhelatan mahal IMF-WB Annual Meeting.
"Belum ada tindakan maupun sekedar kebijakan yang jelas dari pemerintah pada event ini mas. Terutama keberpihakan kepada kepentingan pekerja lokal."
Saiya mengangguk dan jika tidak keliru dua minggu lalu KSPI melakukan aksi di depan Kementerian Kelautan dan Perlaukan Nasional. Yang membuat saiya sedikit kagum adalah, bahwa kedua anak muda tadi berbicara dengan bahasa yang bagus dan paparan yang tertib. Saiya tidak kepikiran bahwa mereka itu adalah pekerja logam yang apa pentingnya memikirkan persoalan IMF-WB.
Ya, saiya mengatakan ya setelah berkata kemana para peserta aksi.
"Yang lain masih menjalankan shalat jum'at pak. Di sana di gedung-gedung di depan pak."
Saiya tidak heran, jika anggota KSPI ini cerdas dan di sisi lain mereka orang yang hormat dalam menyimbangkan urusan politik jalanan dengan menjalankan kewajiban agamanya. Ada transformasi besar dari model aksi-aksi buruh dalam kurun lima-sepuluh tahun ke belakang. Itu tentu karena faktor-faktor followershipness yang digagas para tokohnya.
Satu diantaranya yang saiya kenal rendah hati tetapi cerdik adalah Tuan Muhammad Rusdi. Ia cukup serius menggarap perkaderan sebagai wakil presiden di serikat pekerja itu.
"...perubahan itu mungkin tidak dalam lima atau sepuluh tahun ke depan ya Bung. Tetapi sedikit banyak kita sudah melakukan usaha ke arah yang lurus. Ya, kita butuh training yang mengkombinasikan kepentingan dengan nilai-nilai/values"
Begitu katanya ketika kami bertemu im promtu di sebuah Taman untuk berolahraga.
Yang olahraganya sendiri akhirnya kandas karena olah perut, tetapi itu pembicaraan yang menarik di pagi hari. Apakah kerjasama internasional dan organisasi seperti IMF-WB ini sudah pula memasukkan values di dalam klausul model kerjasamanya, itu kita faham belum ada buktinya. Hutang adalah hutang, jika anda tidak membayar kami ambil yang kami inginkan.

Intoleran

INTOLERAN!!! Tampaknya ada tendensi bahwa label semacam ini jadi lebih ‘mematikan’ daripada ‘kafir’ atau ‘murtad’ atau ‘pendosa besar’... Tak jarang label ini diikuti juga dengan berbagai isu canggih lainnya seperti toleransi (tentu saja), lalu pluralisme, keberagaman (diversity), hak azasi manusia, pemisahan ranah privat dan publik, kebebasan dan berbagai isu keren lainnya.
Saya sering merasa ‘terbakar’ ketika melihat orang-orang yang hanya ingin hidup bersahaja dalam ketaatan menjalankan agamanya itu malah ditantang dan dihantam dengan berbagai pelintiran lidah yang memuntahkan omongan-omongan canggih tersebut dari kalangan yang merasa dirinya toleran lagi terpelajar.
Apakah memang ada jaminan bahwa kalangan yang toleran lagi terpelajar itu memang setoleran klaim mereka? Bagaimana dengan ungkapan ‘bigot’ atau ‘onta Arab’ dan berbagai ejekan lainnya yang diobral dalam percakapan sesamanya, entah saat di kantor, saat nongkrong, atau di media sosial? Bagaimana dengan kebencian yang langsung muncul begitu saja saat melihat orang yang memakai sorban, gamis, berjanggut, bercadar lalu diiringi ucapan-ucapan paranoid? Benarkah ada objektivitas dalam berbagai sentimen dan kenyinyirannya saat mempermasalahkan berbagai sepak terjang politikus atau kalangan yang tak disukainya (baca: ‘dibenci’, tapi saya tak memakai kata ini secara langsung karena maknanya yang intoleran he he he he he...).
Begitu juga dengan isu El Ge Be Te (sengaja ditulis begini biar nggak di-banned oleh FB). Saya sudah berulang kali menjelaskan dalam berbagai tulisan, baik di jurnal maupun artikel koran, dan juga status FB, bahwa Islam itu agama yang resis terhadap sekularisme. Gagasan semacam itu sukar untuk masuk ke kesadaran umat dari agama yang memiliki hukum sedemikian rinci dalam mengatur seluruh kehidupan mereka, dari perkara paling remeh hingga saat ‘berdua’ bersama Tuhannya. Kecuali jika si muslimnya sendiri yang mengenyahkan itu semua lalu memilih hidup sekehendaknya, atau, yang agak lebih canggih, menjadikan Islam sebagai ‘keset’ bagi berbagai wacana teoretik Barat sekular.
Dalam tulisan di Majalah Basis dan juga di Journal of Tasawwuf Studies, saya mengutip penjelasan dari Ibn ‘arabi dan anak angkatnya, Sadruddin Al-Qunawi, ihwal kenapa memperturutkan syahwat dan hawa nafsu itu dosa terutama sekali adalah karena si pelakunya memposisikan dirinya sejajar dengan Allah serta mengambil asma “Iradah” (Maha Berkehendak) milik Allah untuk berbuat semaunya, padahal hanya Allah yang boleh berbuat semaunya, dan manusia adalah hamba yang seharusnya tunduk pada kemauan Tuannya.
Perkara hukum “tak boleh membebaskan hasrat” semacam ini tentu sulit untuk dipahami dalam bingkai sekularisme atau dalam teologi agama-agama yang tak memposisikan hubungan Tuhan sebagai Tuan dan manusia sebagai hamba seketat agama Islam. Maunya sih, Islam di(post)modernkan sesuai standar Barat sekular, yang kebetulan saat ini trendnya sedang mengembalikan hasrat, si anak hilang dalam dunia filsafat, ke kancah wacana humanisme yang tengah mengalami kebuntuan setelah manusia itu sendiri 'dibunuh' oleh kalangan post-strukturalis Prancis.
Kembali ke masalah intoleran tadi, secara pribadi saya sudah sangat sering menyaksikan sendiri secara langsung bahwa klaim “toleran” yang diusung kalangan terpelajar lagi terbuka itu tidaklah seindah yang mereka gaungkan. Nada-nada paranoid, kenyinyiran, kebencian, ejekan merendahkan, arogansi dan sejenisnya tak berhasil disembunyikan secara rapi dalam berbagai perkataan dan tulisannya.
Begitu juga dengan isu El Ge Be Te. Saya adalah seorang bapak dari dua anak, yang sulung perempuan dan si bungsunya lelaki. Saya akan melindungi kedua buah hati tersebut dengan segenap kemampuan dari perusakan orientasi seks semacam itu. Saya akan melawan dengan segenap daya pikir saya, dengan jari jemari saya, dan dengan iman yang Allah pinjamkan ke hati ini. Jika Dia Ta‘ala memang memberi saya kemudahan untuk mengunyah bacaan filosofis teoretik yang ampuh untuk menakut-nakuti kalangan awam agar tunduk dan menerima isu-isu yang mengikis Islam, agama saya, maka semoga Dia pun berkenan memberi saya kekuatan buat memanfaatkan kemampuan itu untuk balik melawan guna menolong agama-Nya.
Sudah berulang kali saya mengalami kejadian nyaris mati, dan mungkin umur saya pun tak akan lama. Semoga tak terlambat bagi saya untuk berbuat sesuatu guna menolong agama-Nya. Karena jika terlambat, maka saya akan menempuh perjalanan sesudah kematian dalam keadaan tak tertolong lagi. Perkara besar ini membuat label “intoleran” yang ditempelkan kepada saya sama sekali bukan sesuatu yang menakutkan.

Saturday, October 6, 2018

Petunjuk

Wahai manusia! Kalian memiliki petunjuk, maka ikutilah petunjuk-petunjuk kalian. Dan kalian memiliki batas, maka capailah batas-batas kalian.
Sesungguhnya orang mu'min itu berada di antara dua ketakutan, yakni di antara batas waktu yang telah berlalu yang ia tidak tahu apa yang telah Allah lakukan padanya dan batas waktu tersisa yang ia tidak tahu apa yang akan Allah putuskan baginya.
Hendaklah seorang hamba mengambil kemaslahatan untuk dirinya sendiri, mengambil dunianya untuk akhiratnya, mengambil masa mudanya sebelum tiba masa tuanya, dan mengambil kesempatan hidupnya sebelum kematiannya tiba.
Demi jiwa Muhammad yang ada di dalam genggaman Tangan-Nya, sungguh setelah kematian tidak ada lagi kesempatan untuk meminta kerelaan, dan tidak ada setelah dunia ini negeri selain surga dan neraka ...
- Rasulullah Muhammad saw -

Saturday, August 11, 2018

Nasehat Yang Baik dan Betoel di Pilpres 2019

Sebagaimana ajaran hikmah maka saiya akan memberikan nasehat yang baik dan betoel kepada rekan pemirsa pendukung #2019GantiPresiden. Bagi pendukung #2019DuaPeriode nasehatnya besok lagi.
1) Jadi bagi kalian para pendukung geraan #2019GantiPresiden, hendaknya mereka terpumpun (fokus) saja pada isu ganti presiden.
Jangan mau tertipu untuk menghabiskan amunisi menyerang cawapres. Tokh target utamanya ganti presiden bukan ganti wapres.
2) Percayalah, pilihan Ma'ruf Amien adalah jalan tengah bagi mandegnya pembahasan antara Elit Relawan versus Elit Partai. Ini bukan soal ulama atau kesolehan. This is about money. Relawan di periode ini cukup nyaman dengan menjadi komisaris atau direksi perusahaan nagari. Tetapi elit partai tidak terlalu beruntung.
Naiknya Mahfud MD bagi Relawan Jokowi jauh lebih aman tetapi ia ancaman bagi kepentingan elit partai.
Jokowi ada pada satu titik dimana ia harus menyingkirkan Mahfud yang sudah pede menjadi cawapres. Jika tidak beberapa -partai sore kemaren- akan menarik dukungan.
Maruf Amin adalah the best alternative choice, pilihan alternatif dari kondisi terburuk bagi kelompok pendukung Jokowi. Jadi MA adalah produk dari sebuah krisis
3) Anda pendukung #2019GantiPresiden harus mengambil pelajaran besar pada kasus Mahfud MD dan belajar tentang nilai followershipness (Kepengikutan dan Kesetiaan) dari Prabowo.
Pada pilpres 2014, Prabowo memuliakan Mahfud MD yang dulu disingkirkan dari pentas politik sebagai sebagai Ketua Tim Nas Pemenangan Prabowo-Hatta.
Mahfud mengkhianati penghargaan tadi dengan bersilat lidah dan menimbangnya secara pragmatis saja. Ia berpikir dengan menyeberang akan memberikan padanya peluang.
Pada pilpres 2019 ini, tepat tiga puluh menit menjelang dipastikan dan dengan keyakinan mendalam, Mahfud ditendang tanpa reserve. Ia langsung hilang dari pembicaraan, berikut harga diri dan kebanggaan-kebanggaan lainnya. Rupanya setelah diangkat dan dikipas-kipas, ia betul-betul dibanting kena dikibulin.
4) Anda harus bangga pada pilihan Anda. Prabowo adalah orang yang mau tidak mau harus kita angkat topi memberikan penghormatan.
Ia seorang pemimpin dengan corak perkader yang matang. Kita ingat bagaimana ia menerima dan mendorong Anies Baswedan ke posisi elit sebagai seorang Gubernur sebuah Daerah Khusus bersama Sandi Uno. Posisi setingkat Menteri dengan anggaran lebih kurang 70 Trilyun dan ratusan program siap di implementasikan maka Anies memiliki peluang terbesar maju di pilpres 2024. Ia akan menjadi bahan pemberitaan lima tahun ke depan.
Dulunya ,pada 2014 Anies adalah jubir Jokowi-JK yang pandai memproduksi kata-kata untuk menyerang sisi pribadi Prabowo. Prabowo dikuliti dari persoalan rumah tangga sampai karir yang sial.
Tetapi setelah Anies dicampakkan dari posisi Mendikbud, oleh Jokowi setelah sebelumnya ia mengorbankan integritas keilmuannya sebagai jubir Jokowi, maka Prabowo juga yang mengantarnya kembali kepada posisinya sekarang.
Anda para pendukung #2019GantiPresiden, ada di satu pilihan yang dibenarkan akal sehat, nalar, dan budi pekerti.

Friday, August 10, 2018

Law Kana Bainana

Wahai Tuhanku, kami telah lalai lupa,
Namun setiap orang daripada kami tetap harapkan,
Keampunan-Mu, dan sifat pemurah-Mu dan
kebebasan daripada neraka-Mu,
Dan juga kami harapkan syurga, 
yang dimasuki bersama-sama penghulu seluruh manusia.
Kami mohon pada-Mu...
Mohon dengan sangat, wahai Tuhanku,
Dari sudut hati kami yang paling dalam...
Kalaulah Kekasih-Mu,
masih berada bersama-sama kami,
Akan terlunaslah segala hutang
dan semakin hampirlah dengan haruman Baginda,
sebelum hilangnya,rasa yang meronta-ronta
untuk berada hampir dengan Kekasih-Mu.
Berada berhampiran Baginda, jiwa turut menjadi harum
Dan apa jua yang kalian doakan kepada Allah, akan diperkenankan,
Cahaya Nabi Muhammad tidak akan pernah sirna,
Sempatkanlah kami bertemu dengan Baginda,
Wahai Tuhan yang Maha Memperkenankan doa hamba...
Hidayahmu kepada alam merata meluas,
Tanda hampirnya kasih sayang Tuhan pemberi hidayah,
Hadith-hadithmu ibarat sungai mengalir jernih,
Berada di sisimu bagaikan dahan yang tumbuh segar dan basah.
Kutebus diriku dengan dirimu, wahai Kekasihku,
Nabi Muhammad yang mulia, yang asing,
Berada berhampiranmu, jiwa menjadi harum,
Wahai yang diutuskan sebagai tanda kasih sayang Tuhan kepada seluruh alam....
Wahai Kekasihku, wahai Nabi Muhammad
Wahai doktor hatiku, wahai yang dipuji dipuja
Dirimu memiliki kelebihan yang diakui
Oleh Tuhan yang turut berselawat ke atasmu.

Saturday, July 28, 2018

"Miskin Nanggung" , SKTM, dan Special Privilege

Hery Darmawan, 28 Juli 2018
Sebulan terakhir ini sedang ramai diskusi ttg menurunnya tingkat kemiskinan di Indonesia dan juga ttg keistimewaan pemilik SKTM untuk masuk sekolah negeri (dengan mengabaikan nilai Ujian Nasional?)...
Saya sendiri jadi inget masa2 sulit keluarga semenjak saya kecil sampe lulus kuliah.. Saya dulu suka memberi istilah "Miskin Nanggung"... Kenapa ?? Karena kita dulu secara kategori "Miskin" menurut pemerintah, tidak masuk kategori itu, tapi secara realistisnya hidup kekurangan..
Dulu, alm Apa mengambil pensiun dini sebelum saya masuk SD, jadi mendapatkan uang pensiun yang tidak full.. yang saya ingat dari sejak saya SD sampe SMP, gaji pensiun Apa itu hanya Rp 180rb/bulan... itu untuk menghidupi 7 anak2 yang sedang pada sekolah.. Pas saya SMA, ada kenaikan gaji menjadi Rp 250rb/bulan.. tapi karena selama 3 tahun Apa sering masuk rumah sakit dan memakai ruangan di atas hak-kelasnya, maka di tahun 95, kena potongan dari kantor sangat besar.. akhirnya hanya mendapatkan uang pensiun Rp 1700/bulan.. udah kayak "kiamat" aja saat itu.. Mamah sampai nangis karena katanya potongan itu harus dijalani selama 3 tahun ke depan.. Padahal saat itu saya baru masuk ke kelas 3 SMA dan adik masuk kelas 1 SMA.. alhamdulillah bbrp Kakak udah pada kerja dan berkeluarga, jadi bisa ikut bantuin jg...Tp pas Apa meninggal dunia di November'96, alhamdulillah hutang2 itu "diputihkan" dan Ibu dapat pensiun janda Rp 180rb/bulan..
Dulu pas saya mau masuk ITB di Agustus 96, belum ada beasiswa BidikMisi kayak sekarang.. Jadi untuk menyiapkan uang masuk Rp 750rb (spp 450rb/semester,seragam olah raga, jas,dll), kakak2 harus sampai pontang-panting juga cari pinjaman kemana2.. Alhamdulillah, uang2 pinjaman itu bisa terkumpul last minutes (jam 23 menuju deadline batas pembayaran besoknya)...sport jantung banget saat itu.. Sore sblm dapat uang, Saya udah nyiapin surat permohonan penangguhan pembayaran uang pendaftaran untuk dibawa ke ITB..
Ada kejadian cukup lucu juga pas mau memasuki semester 2 kuliah..saat itu IOM membuka beasiswa untuk "Mahasiswa Tidak Mampu" ... Saya dengan status "Anak Yatim" dan "Miskin (nanggung)" dengan pede mencoba mendaftarkan diri dengan membawa slip gaji pensiun janda Mamah sebesar Rp 180rb/bulan + "surat kematian alm Apa"... kejadian lucu dimulai saat wawancara.. pewawancara melihat saya dari atas ke bawah berulang kali sambil bilang "ini Adek ndak ada tampang miskin sama sekali...badan juga gemuk" 😅🙈... pas ditanya ttg kondisi rumah, saya jawab dengan jujur "rumah sih besar Pak.. luas 220m2 di dalam gang...tapi ndak ada uang Pak !" ... setelah re-check semua dgn "Kategori tidak Mampu" saat itu, akhirnya saya dinyatakan gagal.. pas pulang ke rumah dan ditanyain Mamah ttg status beasiswa, saya bilang "Gagal, karena "Miskinnya Nanggung"" ...
Setelah itu, saya dan Mamah ndak berhenti2 berdo'a agar dilepaskan dari kesulitan2 ekonomi ini...alhamdulillah semester berikutnya, mulai panen beasiswa sampe lulus kuliah... Saya rasa, banyak juga di Indonesia ini yg punya status "Miskin Nanggung", terutama untuk pensiunan janda dari PNS atau BUMN...

Thursday, July 26, 2018

Amal Baik dan Amal Shalih

Alfathri 20 Juli 2018
Orang boleh berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, akan tetapi jika perbuatan itu tidak terhubung kepada Allah di dalam hati, maka amal itu hanya terbatas menjadi amal baik saja. Bukan amal shalih yang akan menjadi pemberat timbangan di Yawmil Akhir nanti.
Kuncinya adalah mengerjakan apa-apa yang Allah mudahkan ke dalam diri masing-masing. Ada yang dimudahkan dalam mengerjakan proyek, ada yang terampil dalam menjahit, ada yang encer otaknya dalam membuat tulisan, dan lain sebagainya. Setiap potensi diri yang ada patut untuk diberi perhatian agar ia tumbuh berkembang dengan baik.
Akan tetapi berhati-hatilah, karena dalam suluk, kita akan diuji dengan tembok yang merintangi. Apabila suatu urusan dirasakan banyak rintangannya serta belum pas, sebaiknya jangan diterjang.
Demikian pula jika yang merintangi bukanlah tembok, akan tetapi pintu yang masih tertutup. Sebaiknya jangan memaksa membuka peluang untuk mengerjakan sesuatu sebelum pintunya Allah bukakan.
Di tahapan yang lebih halus lagi, kadang penghalang itu bagaikan sehelai sutra tipis. Seolah-olah bukan penghalang bagi kita untuk mengerjakannya, akan tetapi, secara etika, penghalang yang tipis itu jangan disibakkan sampai Allah Ta'ala berkenan memberikan ketetapan ihwal saatnya yang haqq.
Jadi, apa pun proses penantian kita itu, entah itu menanti datangnya jodoh, menanti pekerjaan yang lebih menyenangkan, menanti momongan, keinginan untuk memulai bisnis baru, menanti saat yang tepat untuk melanjutkan sekolah, rencana menambah anak, keinginan pindah rumah, dan lain sebagainya, hendaknya kita berhati-hati dalam membaca tanda-tanda kehidupan, hati-hati dalam membaca kapan saat yang tepat untuk mengambil keputusan, karena bisa jadi kita diuji dengan "binatang buruan yang mudah didapat."
Maka, sujudkan kepala dalam-dalam dengan menyerahkan hati sepenuh keberserahdirian kepada-Nya. Sungguh, tidak akan kecewa mereka yang memohon kepada-Nya
(Cuplikan nasihat dari Kajian Hikmah Al Qur'an yang diampu oleh mursyidku.)

Ujian dalam Kehidupan

Alfathri 25 Juli 2018
Ada hukum kehidupan yang Allah Ta'ala nyatakan dalam Al-Qur'án, tentang keniscayaan ujian dalam kehidupan; khususnya bagi mereka yang mencari Allah Ta'ala.
Di sisi lain, bagi orang yang kufur kepada-Nya, maka Dia akan bukakan pintu-pintu khazanah dunia. Semua hal dibuat mudah, mencari rezeki mudah, bisnis untung terus. Manusia tertentu akan dibuat tenggelam dalam dunianya masing-masing, entah apakah itu dalam bisnis, dalam karir akademis, dalam kehidupan sosial atau bahkan yang dalam dunia seolah-olah berbau spiritual.
Tapi, semua yang dilakoninya bukan membuat hatinya semakin dekat dengan Allah Ta'ala, dan tanpa disadarinya tiba-tiba maut datang menjemput.
Na'udzubillahi min dzalik.
Bukti bahwa hatinya masih berjarak dengan Allah Ta'ala adalah ketidakmengertiannya atas banyak fenomena kehidupan atau berbagai peristiwa yang menimpa dirinya, keraguannya dalam perjalanan, kecemasannya akan masa depan, ketakutannya terhadap masa lalu, ketidaksabarannya menghadapi ujian, kesombongannya menikmati limpahan karunia-Nya, keterputusannya dengan Al-Quran, bahkan hingga memaki-maki Allah, baik di lisan maupun dalam hati, serta menuduh bahwa “Dia tidak adil! Dia membuat aku sengsara! Dia tidak mengabulkan doaku!”
Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah Ta'ala berkenan mengangkat segenap hijab dalam hati kita.
(Secuplik paparan dalam Pengajian Hikmah Al Quran yang diampu oleh Mursyidku.)

Tasawuf atau Sufisme

Herry Alfathri 22 Juli 2018
Banyak yang mengklaim bahwa tasawuf, atau sufisme, tidak ada dasarnya. Mana dalilnya, katanya. Tanpa dalil, lalu dikatakan bid'ah. Atau bahkan kafir.
Well, kalau ditelaah, dalil atau hukum fiqh, bukan pertimbangan yang paling dasar -- kalau tidak mau dikatakan tidak selalu menjadi sudut pandang paling dasar -- dalam agama. Ada hukum atau pertimbangan lain yang lebih mendasar dari hukum fiqh atau syariat, namun 'hukum' ini tidak selalu bisa didalilkan.
Sebagai contoh pertama: aurat pria. Batasan aurat bagi pria adalah semua bagian tubuh antara pusar hingga lutut. Itu wajib ditutup terhadap semua orang yang bukan muhrimnya.
Lalu, syarat sah shalat adalah menutup aurat. Secara fiqh, jika saya shalat hanya mengenakan celana tiga perempat dari pusar sampai lutut dan tak mengenakan baju atasan, shalat saya jelas sah. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat hal ini.
Kemudian, saya pergi ke masjid, lalu dan menjadi khatib dan imam shalat Jum'at -- dengan pakaian yang sama: celana selutut dan tanpa baju atasan. Sahkah shalat Jum'at saya? Sah, jika hanya fiqh, atau syariat lahiriah, yang jadi pertimbangannya.
Tapi maukah Anda menjadi ma'mum saya? "Jadi imam kok pakaiannya begitu," Anda akan marah. Tapi kalau saya tanya, coba sebutkan dalilnya, mana riwayat yang melarang seseorang menjadi khatib atau imam jika ia hanya mengenakan celana tiga perempat, Anda tak akan bisa menjawab. Memang tidak ada.
Sah, secara fiqh. Tapi bagaimana mungkin ada seseorang menghadap Allah ta'ala dengan pakaian sedemikian?
Ada hal yang lebih mendasar dalam agama, dari 'sekadar' (dalam tanda kutip) hukum fiqh atau syariat.
Contoh kedua. Hukum fiqh menyebutkan, pernikahan seorang pria tanpa ada walinya, sah. Wali hanya diwajibkan bagi pihak wanita. Jika Anda seorang mahasiswa yang jatuh cinta pada seorang wanita, Anda boleh mendatangi rumah seorang wanita untuk menemui orangtuanya dan melamarnya. Jika sang Ayah menikahkan Anda dengan putrinya, dan ada saksinya, maka Anda berdua sudah menjadi suami istri yang sah, secara hukum syariat.
Tapi bagaimana jika Anda adalah seorang ayah atau ibu? Anda sudah membesarkannya, membanting tulang, bersusah payah agar putra Anda berpendidikan sebaik yang ia bisa Anda usahakan. Dan suatu hari, putra Anda datang menemui Anda dengan membawa seorang istri dan dua orang anaknya. Tanpa kabar apa pun sebelumnya.
Apakah rumah tangganya batal dan pernikahannya tidak sah? Tidak. Pernikahannya sah. Tapi bagaimana hati Anda sebagai seorang Ayah atau ibunya? Atau, bagaimana perasaan ayah Anda, atau ibu Anda, jika Anda melakukan itu terhadapnya?
Atau, jika Anda seorang istri. Secara fiqh sangat sah jika suami Anda memutuskan untuk menikah lagi tanpa memberi tahu Anda terlebih dahulu. Tapi bagaimana perasaan Anda?
Nah. Itu hanya contoh saja. Selalu ada hal lain yang lebih mendasar dari sekadar hukum syariat atau hukum fiqh. Karena itu, agama tidak identik dengan hukum syariat atau fiqh. Agama bukanlah sekadar hafalan dalil dan hukum fiqh. Agama tidak akan utuh sebagai rahmat, jika hanya diidentikkan dengan sederet dalil dan hafalan hukum fiqh.
Agama sesungguhnya jauh lebih dalam dari itu.
Dan tentu, karena hanya persoalan permukaan, maka perbedaan landasan fiqh maupun madzhab sangat tidak ada gunanya untuk jadi bahan keributan.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Agama, atau ad-Diin, sesungguhnya terdiri dari tiga komponen: Iman, Islam dan Ihsan. 'Iman' terkait dengan cahaya iman dan keyakinan. 'Islam' terkait dengan ibadah formal, hukum syariat dan fiqh. 'Ihsan' terkait dengan kesempurnaan 'iman' dan 'islam'-nya, sejauh mana seseorang melihat Allah dalam perilakunya, atau dilihat Allah dalam perilakunya, sehingga perbuatannya sesempurna mungkin.
Aspek ihsan inilah yang jauh lebih dalam dari sekadar syariat, yang memagari seseorang untuk shalat sekenanya dengan bertelanjang dada dan bercelana selutut, atau menikah tanpa memberi tahu Ayah atau Ibunya, meski secara hukum syariat perbuatan itu sah-sah saja.
Dalam tasawuf atau sufisme, ini disebut 'syariat batiniah'. Ada hukum lain yang lebih dalam dari sekadar hukum lahiriah, yang kadang hukum ini tidak bisa dirumuskan. Ada aspek rasa, adab dan kepatutan yang sangat dominan di sini: sejauh mana Allah akan suka pada perbuatan seseorang.
Pada awalnya, di masa Rasulullah, ketiga aspek ini menyatu, utuh, tidak terpisah-pisah dalam satu label yang dibawa oleh beliau saw: Diin Al-Islam; agama keberserahdirian (bukan sekadar 'pasrah') pada Allah.
Lama kelamaan, karena terkait studi dan budaya, ketiga aspek ini terpisah satu sama lain. Sayangnya, kebanyakan penganutnya bahkan lupa bahwa Diin Al-Islam tadinya terdiri dari tiga aspek yang menyatu utuh.
Belakangan, di usia-usia termuda peradaban, muncullah golongan yang bersikukuh bahwa Ad-Diin Al-Islam sesungguhnya hanya terkait ibadah, syariat lahiriah dan ilmu fiqh saja. Lalu, aspek 'iman' direduksi menjadi hanya sekadar percaya, atau cuma implikasi dari mengucapkan kalimat syahadat. Dua aspek inti lainnya, (cahaya) Iman dan Ihsan, yang tadinya menyatu, tidak lagi dilihat sebagai bagian dari agama Islam. Dan golongan yang masih memegang teguh dua aspek itu 'dikeluarkan' dari bendera Islam, dan diberi label sufi atau tasawuf, agar benar-benar terpisah dari 'Islam'.
'Sayangnya' (dalam tanda kutip), golongan yang masih memelihara aspek ihsan dalam dirinya tentu berkembang menjadi golongan yang toleran, penuh pemakluman, lembut, dan tidak menyukai keributan, sehingga cenderung diam dengan labelisasi ini. Mereka tentu masih merasa ber-Islam secara utuh dengan tiga aspeknya, sementara oleh golongan lain mereka justru dikatakan sebagai kaum yang bukan Islam lagi. [*]
Sebaliknya, golongan yang tumbuh tanpa aspek ke-ihsan-an (baca: tanpa mempertimbangkan faktor-faktor selain hukum fiqh dan syariat dalam dua contoh di atas), tentu saja kemudian tumbuh menjadi golongan yang keras, penuh penghakiman, dan tidak lentur menyikapi perbedaan. Padahal, perbedaan di antara umat manusia adalah sebuah keniscayaan yang sudah Allah tetapkan.
"Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (QS Al-Mâidah [5]: 48)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
[*] Ada memang, sebagian kecil golongan yang mengaku tasawuf dan sufi, tapi justru meninggalkan aspek syariat lahiriah sama sekali. Tidak shalat lagi, misalnya. Tapi ini hanya sebagian kecil yang terlepas dari gagasan inti agama, dan tidak bisa digeneralisasikan.
(Herry Mardian)

Siang berbincang dengan penceramah pengajian.

Andi Hakim 25 Juli 2018
Ia pengurus NU dan menurutnya medsos mengkhawatirkan karena memproduksi manusia-manusia yang mudah memfitnah dan berbohong.
Kami berbincang sampai ia berkata bahwa Islam Nusantara ada penemuan bangsa Indonesia dalam mengapresiasi syariah dan adat-istiadat. Yang membuat dunia Islam di luar kita ingin belajar dan mengadopsi praktik sosialnya seperti di Indonesia.
"...para ulama terdahulu kita itu begitu visioner. Mereka misalnya mengadapsi ajaran silaturahim menjadi halal bi halal."
Ia berkata dan melanjutkan.
"Bayangkan bagaimana silaturahim hari ini kalau tidak ada halal bi halal. Ratusan orang berkumpul, bertemu dan saling memaafkan. Jika tidak di halal bi halal maka berapa lama itu silaturahim dari rumah ke rumah."
Ya, baginya itu mungkin sebuah artefak mulia yang digali dari khasanah praktik Islam di tanah air kita. Tetapi setiap waktu dan tempat memiliki ekspresinya masing-masing yang juga mulia bagi orang di sana.
Di Irak anda bisa menemukan jika di bulan Muharram warga memasak dan bersedekah kepada siapa saja yang berziarah dalam seremonial Karbala. Mereka memuliakan para tamu tanpa meminta bayaran. Di Pakistan atau Iran jika anda dalam kesempitan mereka akan memberi anda cukup perbekalan. Sementara muslim di Uighur atau Kadzhaktan akan mengundang orang yang baru mereka kenal untuk makan di rumahnya.
Belum lagi di Lebanon atau Suriah, keramahtamahan ini juga punya cara tampilnya masing-masing nan unik.
Tidak perlu membanggakan sebuah ekspresi atau artefak kebudayaan. Bahwa milik kita lebih baik daripada misalnya yang dari Arab atau Eropah sana. Semua punya kelebihan dan kekurangannya bila diperbandingkan. Lagi pula jangan pula ber halal bi halal kalau nantinya saling menilai di belakang dari cara berpakaian, berkendaraan, bertanya gaji atau status pernikahan anda sekarang.
#IslamSaleroNusantara, tamboh ciek.

Wednesday, July 25, 2018

Reasoning Dalam Kebijakan

Andi Hakim 24 Juli 2018
Pokok bahasan dalam penalaran (reasoning) adalah proses menempatkan dalil dasar atau prinsip bagi sebuah tindakan.
Kebanyakan pembuat kebijakan (policy makers) di dalam pemerintahan selalu diperhadapkan dengan dilema antara bagaimana membuat satu rekomendasi kebijakan yang tepat dan rekomendasi yang sekedar pembelaan karena alasan politis yang dikehendaki atasan. Yang pertama disebut pendalilan atau Reasoning sementara yang kedua disebut pendalihan atau Argumenting.
Zeger (2013) menulis fenomena intervensi hubungan politik antara si pembuat dengan si pengguna (user/atasan) dalam pengambilan kebijakan ini. Intervensi ini bisa terjadi karena pengguna melibatkan orang-orang dari luar atau dalam birokrasinya yang kurang memahami bagaimana kebijakkan dibuat.
Ia menilai jika pejabat puncak yang dipilih berdasarkan penunjukan politis (political appointe) itu membawa "orang-orang bawaan" maka si orang bawaan ini selalu mendorong kebijakan lebih condong kepada prinsip asal hubungan baik terjaga. Daripada memberikan rekomendasi yang tepat tetapi tidak disukai karena dianggap penting bagi pencitraan (policy of populist). Sebagai konsekuensinya birokrasi di bawahnya akan banal, mempraktikkan kebijakan asal kamu suka.
Pada kasus seorang menteri berkata bahwa penyebab naiknya harga telur (dan kini daging ayam) karena helatan Piala Dunia FIFA 2018. Namun setelah dua minggu acara final sepakbola tadi selesai harga telur rupanya belum mau turun juga. Ia kita katakan sedang mengargumentasikan sebuah kebijakan yang keliru. Ia berbohong kepada publik untuk mengelakkan atau pasang badan asal jawab atas kekecewaan yang terjadi di masyarakat.
Pada dasarnya penalaran dari telur mahal adalah, bahwa produksi telur ditentukan oleh pakan yang dikonsumsi induk ayam. Pakan ini diimport dan importir ingin pemerintah memberikan lebih banyak kemudahan baik subsidi, insentif maupun pengurangan biaya-biaya. Alasannya kenaikan nilai tukar dollar dan terpuruknya rupiah. Singkatnya, kartel menghendaki beban biaya ibi digeser ke pihak publik, yaitu pemerintah dan masyarakat.
Pertanyaan kita adalah apakah pakan ini harus diimport? Bisakah ia diproduksi di dalam negeri? Mungkinkah pemerintah terbebas dari praktik main sandera dengan kartel ayam dan telur? Adakah kebijakan lain untuk menyediakab asupan protein pada masyarakat? dst..
Tentu saja pertanyaan ini bersayap dan konsekuensinya barangkali tidak terlalu menyenangkan bagi kelompok yang menikmati meroketnya harga telur di masyarakat. Tetapi sebuah kebijakan seburuk apapun harus dijalankan dengan nalar.
Kasus-kasus lain dimana aspek membela diri atas kebijakan yang keliru juga kita dapat temukan. Misalnya pada kasus meruginya PLN, Garuda, Pelabuhan, sampai soal proyek masif infrastruktur jalan tol yang lebih banyak mematikan usaha umkm sepanjang pinggir jalan by-pass di daetah-daerah masyarakat yang kini dilewati tol adalah beberapa kebijakan keliru. Mereka didasarkan bukan kepada pendalilan nalar tetapi lebih kepada pendalihan kepentingan.

Bezoek Politie: Dari Lapas sampai Rumah Sakit

Andi Hakim, 23 Juli 2018
Beberapa hari ini kita dihidangkan dramaturgi penahan artis yang tengah mengunjungi famili di lapas Sukamiskin karena dicurigai membawa uang suap up-grade layanan lapas.
Selanjutnya seorang Presiden (mantan) mengalami sakit dan harus dirawat di RSPAD karena keletihan. Ia mendapat banyak kunjungan dari sanak famili sampai kolega dari pejabat pemerintah juga parpol.
Penggrebegan lapas menurut pembawa acara yang ngos-ngosan seolah-olah ia hidup bekerja keras untuk pelaporan tadi berkata; jika aksi ini untuk membongkar praktik suap-menyuap fasilitas ruang tahanan.
Sama dengan kunjungan petinggi parpol dan negara ke ke RS. Keduanya adalah aksi politik bezoek.
Lewat besoek orang bersilaturahmi, saling buka dan tutup kangen dengan tidak lupa antaran kue-buah dan tentu saja pesan-pesan.
Soal praktik suap-menyuap, atau duit rokok itu praktik lama di institusi penjara. Orang memakluminya pada beberapa kasus. Tetapi serangan dari aksi tadi bukan soal praktik korupsi melainkan pengetatan ulang sistem keamanan; kebanyakan orang penting di Sukamiskin adalah mantan politisi dan pejabat ulung. Di tahun politik seperti sekarang, orang banyak butuh konsultasi.
Dimana tempat konsultasi yang paling netral? Tentu saja di Lapas dan Rumah Sakit. Orang tidak dicurigai atau merasa nyaman untuk beralasan bahwa saiya sedang Bezoek kawan.
Politik bezoek ini sudah bisa mempetakan siapa berkoalisi lewat apa.

Tuesday, July 17, 2018

Kebuntuan Politik Nasional

Andi Hakim 17 Juli 2018
Harus diakui bahwa menjelang sisa dua minggu penentuan pasangan Pilpres, politik nasional kita hari ini menghadapi kebuntuan.
Belum ada kepastian dari masing-masing pasangan dan pendukungnya untuk benar-benar mengarah kepada satu kemufakatan. Jika ada usulan seperti Jokowi-Mahfud/Jimly/Moeldoko/Cak Imin/Airlangga Hartarto, lalu JK-AHY, AHY-Gatot, Gatot-Anies, Prabowo-Anies, Prabowo-Aher dll.. maka ini hanyalah proposal yang diajukan media untuk segera mengerucutkan narasi pada sosok-sosok.
Tetapi kenyataannya permainan paslon dengan kandidat yang banyak menunjukkan jika politik hari ini menjadi tidaak sesederhana itu. Ada banyak pertimbangan yang membuat kebanyakan pemain politik menunggu "the leap of faith" satu langkah keyakinan yang lebih didorong keterpaksaan karena tidak ada lagi jalan keluar. Buktinya adalah tidak adanya perubahan trend dari perhitungan survey untuk menebak paslon favorit di pilpres nanti. Masing-masing masih membangun dunia fantasinya.
Sementara bahasa-bahasa politik dengan saling kunjung-mengunjungi, dan jajak-menjajaki antar elit partai juga belum mengarah kemana-mana.
Hal ini terjadi karena beberapa peristiwa dan faktor.
A,
Kemenangan Jokowi di pilpres 20I4 menunjukkan dua fenomena politik, Pertama terbelahnya masyarakat secara dikotomis. Satu kelompok selalu berusaha menegasikan kelompok lainnya dalam format lover vs haters, pro vs kontra, dan kampret versus cebong.
Fenomena kedua adalah munculnya the so called elit baru politik; Para RELAWAN. Berbeda dengan anggota dan partisan partai politik, tipikal dari relawan ini adalah mereka membenci politik dan partai politik sampai ke ulu hati, tetapi tidak mengingkari bahwa politik itu adalah sesuatu perangkat yang menjanjikan. Kelak mereka inilah yang menjadi musuh dalam selimut bagi partai-partai pengusung, karena sering dianggap ikut campur dalam mempen.
B,
Kedua, bahwa setelah kalahnya Ahok di Jakarta, orang mulai menghitung jika tuah Jokowi bukan tidak tak terkalahkan.
Terbelahnya politik di negeri kita kepada politik aliran sebenarnya hanya memperkuat kenyataan bahwa pada dasarnya politik identitas itu tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan. Bagaimana bentuk perwajahan dari identitas itu antara lain politik Islam versus nasionalis, Islam versus non-islam, islam moderat versus islam kolot, dan islam eksport versus islam lokal. Hal ini efektif ketika digunakan untuk menyerang ujaran penghinaan terhadap agama pada kasus Ahok.
Kegagalan memenangkan Ahok menunjukkan jika oposisi Islam bisa juga memberikan pukulan keras kepada pemerintah. Sebagai buntut dari peristiwa ini adalah munculnya hastaq #GantiPresiden.
Tentu saja politik aliran termasuk agama ini berlaku juga di agama-agama lain seperti Protestan, Katolik, Budha dan Hindu. Artikulasinya yang berbeda-beda, tetapi ia sekali lagi tetap ada.
C,
Artikulasi non islam inilah yang menjadi pertimbangan, bagi kelompok Islam untuk melihat bahwa di balik Jokowi adalah kepentingan politik kristen.
Majunya isu-isu mendiskreditkan politik islam, politisi islam, dan kriminalisasi ulama sudah masuk kategori menarik-narik agama ke wilayah conflik sosial dari konflik elit. Belum lagi belakangan muncul nrasi untuk mengeliminir islam sebagai identitas kepada isu garis keras, anti toleransi, dan terorisme. Narasi ini dibangun secara general dan dihadap-hadapkan dengan the so called pewaris islam yang toleran. Apa dan bagaimana bentuk si islam itu tidak lagi menjadi soal, karena persoalan terbangunnya konflik sudah terlaksanakan.
D
Hal yang sama juga ada dikubu politik aliran yang ada di angkatan (Tentara dan Polisi).
Masa sekarang bukanlah masa yang menyenangkan bagi kelompok militer, gagasan kembali ke barak sudah bukanlah persoalan profesionalisme tetapi prose marginalisasi tentara dari orbit politik tanah air. Hal ini muncul karena kegagalan transformasi dari military government kepada police government. Penyebabnya adalah kepolisian yang lebih sering ada di posisi menciptakan kekuasaan (police state) daripada penjaga kebijakan (policy state). Awam dan militer menganggap kepolisian sudah terlalu jauh masuk dan mengintervensi proses demokratisasi.
E
Adanya pandangan di kubu militer pada gerakan relawan yang terlalu jelas tetapi tidak berwujud sebagai sebuah organisasi. Wujud gerakan tanpa bayangan ini dipercaya sebagai satu gerakan laten yang dengan mudahnya dikaitkan dengan praktik politik induk-semang dari ideologi Komunis. Kelompok relawan ini dengan mudah dihubungkan kepada sifat gerakan dari komunis.
F
Bila terjadi koalisi Jokowi dengan dukungan kelompok aliran kristen di belakangnya (meski dengan memajukan sosok muslim) maka pilihan rasional bagi koalisi ini adalah Wakil presiden yang dianggap mewakili Islam, bukan orang partai dan ia tidak terlalu islam dalam pengertian pandangan dan aktivitasnya.
Bagi relawan -yang muncul sebagai fenomena baru- politik kita hari ini, maka mereka memang berharap bahwa orang di belakang Jokowi bukanlah orang partai. Tetapi ia yang dianggap dekat dan dapat dimanfaatkan oleh relawan.
G
Jika dorongan relawan pada sosok ini terlalu kuat, maka ada kemungkinan partai politik akan menunjukkan resistensinya.
PAN, Gerindra, dan PKS aalah partai-partai yang mesti menolak gaya politik ala relawan ini. Belakangan ketiga partai berjuang keras untuk kembali memunculkan partai sebagai sebuah organisasi perkaderan. Mereka cukup membuktikan suksesnya melalui kerja-kerja mesin partai dalam pilpres dan pilkada sebelumnya.
Beberapa partai lain akan melakukan hal yang sama, hanya artikulasinya yang berbeda.
H
Bila partai-partai ini belakangan masih seperti melihat menunggu, sementara masa deklrasi paslon semakin dekat maka intensitas politik elit partai untuk membuka kebuntuan harus semakin diintensifkan. Mengingat jika gagal dalam waktu dua minggu ke depan, maka partai akan berhadapan dengan fenoman politik relawan.
Sebenarnya ini akan mengganggu pembentukan demokrasi yang bertanggungjawab. Sifat dan gerak relawan ini sama sekali tidak dapat dicegah atau dikoreksi, mengingat mereka tidak lahir dari sebuah organisasi atau partai yang memiliki mekanisme koreksi, evaluasi, dan monitoring di dalamnya.
Artinya memperbincangkan politik sebagai seni negosiasi, akan lebih mungkin dilakukan oleh elit partai dan ormas daripada elit relawan. Selain mereka dewasa untuk menyadari bahwa kebuntuan akan melahirkan krisis para politisi ini ada dalam posisi untuk mencegah terjadinya protracted social conflict (konflik sosial berkepanjangan) di masyarakat. Yang bukan hanya merugikan bentuk koalisi apapun yang akan dibangun tetapi juga dapat mengarahkan republik ini sebagai negara gagal.

Saturday, July 14, 2018

Mas Pion Jadi Wapres

Andi Hakim 11 Juli 2018
Kurang dari tiga puluh hari lagi semua gundah gulana siapa kandidat presiden dan wakil presiden untuk pemilu akan terjawab.
Sebetulnya dari pilihan tadi, maka posisi capres hari ini tidak terlalu bermasalah. Piublik masih melihat sosok Mas Jokowi, Mas Prabowo, dan Mas X, tetapi pada posisi pendamping yaitu Wakil presiden inilah masing-masing pihak saling mengunci.
Beberapa nama yang telah swadaya mewapreskan atau diwapreskan dirinya antara lain, Muhaimin Iskandar, Gatot Nurmantyo, Moeldoko, Puan Mahearani, Anis Baswedan, Srimulyani, Budi PU, Airlangga Hartarto, Mahfud MD, Tito dll..
Beberapa survey mulai merilis nama-nama yang "cocok" dipasangkan ke Jokowi atau Prabowo. Yang menurut saiya sebetulnya lebih kepada pencocokkan, ini karena kemudian setelah nama disusun baru dilakukan pengelompokkan minat dan ketertarikan. Misal konsultan politik itu lalu memberikan alasan bahwa tokoh tadi dipilih karena; Tokoh militer, polisi, tokoh profesional, tokoh birokrat, tokoh agama. Lalu agar lebih historis seperti bandar bola di Inggris, maka riwayat si tokoh perlu ditulis seperti; jawa, non jawa.
Tetapi kita yang ahli-ahli dalam membaca zaman ini tentu juga punya dugaan-dugaan yang sama kerennya.
Misal kita sebut saja, bahwa siapapun wapresnya dia harus memberikan dua opsi kepada calon presiden. Ingat karena meskipun disebut di UU KPU kita memilih Pasangan pada kenyataannya pemilih itu hanya memilih si Presiden atau si Wapres. Tidak keduanya.
Model power sharing macam begini akan menjadikan posisi Wapres itu kepada dua pokok saja, yaitu dia yang bisa mendukung dari segi perolehan suara (memiliki massa), atau dia mendukung dari segi pendanan (memiliki duit). Sehingga ada duit atau ada massa ini tetap saja jadi pilihan utama, bukan soal pri non pri, jawa-non jawa, tokoh atau masyarakat umum.
Nah bagi Jokowi, Prabowo atau bila ada tambahan calon ketiga, maka si wapres itu harus memenuhi salah satu atau kedua kriteria di atas. Bagaimana ia punya massa atau punya duit itu masalah asset yang penting ini orang harus dianggap bagian dari persoalan kebangsaan. Apa persoalan kebangsaan hari ini> yaitu ambruknya industri manufaktur lokal kita, merosotnya dollar, naiknya inflasi yang menyebabkan mahalnya kebutuhan pokok masyarakat.
Taroklah pemerintah sukses membangun infrastruktur tetapi faedahnya kepada industri nasional hampir tidak ada. Tidak banyak kontraktor lokal dilibatkan, tidak banyak barang barang lokal digunakan dlalam proyek.
Siapa tokoh yang dapat mengatasi kelemahan pemerintahan hari ini itulah yang akan diangkat sebagai wapres baik Jokowi, maupun Prabowo. Wapres yang akan menggenjot kembali produk-produk manufaktur dalam negeri. Yang mencintai produk-produk Indonesia.