Sunday, January 28, 2018

Keep Calm: Sebagai Anekdot Sosial

Baru membaca jika kalimat -stay/keep calm - yang biasanya dilanjutkan dengan kata-kata lainnya itu adalah anekdot yang pernah populer di Iran. 
Bertempat di Persipolis, Reza Pahlevi, Shah Iran dalam peringatan 2500 tahun di tahun 1971 menyampaikan pidatonya yang terkenal di depan kuburan Cyrus Pertama. Pidato yang kemudian menjadi anekdot sosial. 
"Cyrus (Raja Persia)! Tenanglah, biar kami yang bekerja." 
Setelah pidato yang dibuat dengan visualisasi modern dan ditayangkan ke seluruh Iran dan dunia, besoknya masyarakat Iran sudah membicarakannya di pasar-pasar, kedai, sekolah, kampus, pesantren, dan jalan-jalan sebagai anekdot. Shah menyelenggarakan pesta perayaan emperium parsia dengan mengundang seluruh kepala negara dunia, dengan mengubah gurun Persipolis menjadi kampung tenda penuh perhiasan, makanan. 
Pada tahun yang sama, PBB mengeluarkan laporan, Iran adalah negara dengan lebih dari separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Kesulitan air, makanan, dan kesehatan menyebabkan tingkat kematian ibu dan anak yang tinggi. 
Maka pidato Shah Reza yang seharusnya bersejarah dan epik itu menjadi ironi dan kemudian gurauwan di masyarakat yang kesusahan. 
Keep Calm. Biar kami yang menjual minyak ke luar negeri. Stay Calm. Kami saja yang menjual perusahaan negara ke swasta asing. Keep Calm. Kami sedang korupsi dana kesejahteraan rakyat. Keep Calm, Stay Calm dll.. lainnya.
Anekdot ini mirip dengan kondisi kita hari ini. Ada laporan 150 jiwa meninggal dunia dan terdampak campak akibat kemiskinan , gizi buruk dan kekurangan makan di Asmat. Pada saat presiden berkata dimana-mana bahwa pemerintahan kerja-kerja-kerja sukses meningkatkan kesejahteraan via trans tol Papua. 
Keep Calm: Biar kami import beras asing daripada beli panen petani. Keep Calm. Biar kami naikin harga BBM diam-diam. Stay Calm: Kami selesaikan persoalan daya beli menurun dengan kaos oblong, dan sendal jepit.

Monday, January 15, 2018

Nabi Musa "hanya berhasil" mentaubatkan 70 orang saja.

“Hancur” hati, tak karuan rasanya mendengar ucapan Mursyid saya yang mengungkapkan bahwa Nabi Musa, nabi yang dianggap paling besar oleh Bani Israil, dalam misi kenabiannya "hanya berhasil" mentaubatkan 70 orang saja.
Bagaimana tidak. Bani Israil turut melihat bagaimana Nabi Musa menghadirkan sekian mukjizat di hadapan Firaun, memperlihatkan azab bagi Firaun dan pengikutnya, entah itu berupa belalang dan sekian azab lainnya, hingga berpuncak pada matinya semua anak sulung orang Mesir. Bani Israil turut menyaksikan semua mukjizat itu. Maka, Firaun pun melepaskan mereka untuk pergi dari Mesir. Lalu dengan dipimpin oleh Musa, Bani Israil pun berhijrah tanpa banyak berhenti, semata agar tidak terkejar oleh pasukan Firaun. Namun, betapa cintanya Allah pada mereka, maka pada siang hari mereka dinaungi oleh gunung yang mereka kira adalah awan, malam hari mereka dituntun oleh tiang dari api.
Lalu, saat mereka mendapati Laut Merah menghadang di hadapannya, terbayang betapa tidak karuan perasaan kebanyakan Bani Israil saat itu. Di kejauhan mereka melihat pasukan Firaun datang mendekat, sementara di hadapan mereka Laut Merah menghadang. Lari menyusuri pantai berarti bunuh diri massal. Pantai adalah ladang pembantaian yang terbuka bagi mereka. Tak ada tempat untuk lari. Di tengah iman dan kepercayaan Bani Israil kepada Musa dan Allah yang tengah jungkir balik karena diuji seperti itu, ada seorang anak muda berusia belasan bernama Yusa bin Nun yang mengikuti dengan patuh “arahan” Nabi Musa. Dia mengarahkan kudanya memasuki laut sembari bertanya: "Terus ke sana ya Nabi Musa?". Musa mengiyakan, dan dia pun mengarahkan kudanya untuk terus memasuki air laut hingga setinggi lehernya dan bertanya lagi "Terus ke sana ya Nabi Musa?". Dan saat itulah Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut, dan Laut Merah pun terbelah. (Kelak anak muda inilah yang akan menemani Nabi Musa mencari dan menemui Nabi Khidir.)
Saat Laut Merah terbelah, Malaikat Jibril rupanya berdiri di tengah dasar laut itu. Hal itu terlihat juga oleh Samiri, sang Dajjal, yang kemudian "mengambil segenggam pasir dari tempat bekas berdirinya sang Ruhul Amin" sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran.
Lalu kita semua tahu bahwa Firaun beserta pasukannya ditenggelamkan saat mereka menyusul memasuki jalan di tengah Laut Merah yang terbelah, namun menjelang detik-detik tenggelam itu Firaun masih sempat menyatakan pertaubatan dan keimanannya.
Nah, sesampainya Bani Israil di seberang Laut Merah, apa yang terjadi? Setelah sekian banyak "mukjizat kosmik" dihadirkan di hadapan mereka oleh Allah melalui Nabi-Nya, Bani Israil begitu mudah lupa dan berpaling, mereka kemudian malah menyembah patung anak sapi emas (yang di buat dengan emas yang dibawa oleh Bani Israil dari Mesir) lalu "di campur" dengan pasir bekas jejak Ruhul Amin, sehingga anak sapi emas itu hidup dan berkata-kata (ingat, fungsi ruh adalah untuk menghidupkan), walau pun tidak lama.
Nabi Musa marah melihat itu semua, lalu beliau mengusir Samiri dan tidak membunuhnya (karena hanya "bayi yang lahir tanpa disentuh oleh setan" sajalah yang bisa membunuh Dajjal, dan sepanjang sejarah manusia, hanya ada dua bayi yang lahir tanpa disentuh oleh setan, yaitu Maryam [karena sudah dinazarkan oleh ibunya untuk Allah Ta’ala] dan Nabi Isa yang lahir dari rahim sang perawan suci, yang selalu mendapatkan makanan langsung dari Allah Ta’ala, lahir sudah dengan penyertaan Ruh Al-Quds). Kemudian, Nabi Musa pun membakar patung anak sapi emas itu hingga menjadi abu dan menebarnya ke lautan.
Lalu Bani Israil bertaubat, dan mereka disuruh "membunuh diri". Lalu ada mukjizat manna dan salwa, hidangan dari langit, tapi hati manusia begitu sering dengan mudahnya menjadi bebal. Mereka pun meminta bawang-bawangnya dan berbagai makanan dari kota, padahal di hadapan mereka ada hidangan dari langit.
Dan kemudian mereka melewati Gurun Tih, dan sampailah di suatu kota. Nabi Musa memerintahkan mereka menyerang kota itu (dengan sebelumnya mengirim 12 orang pemuda untuk memata-matai kota itu), namun mereka menolaknya. Hanya Kaleb dan Yusa bin Nun yang mendukung perintah itu. Tapi kebanyakan Bani Israil menolak. Dengan mudahnya mereka mengatakan agar Musa dan Tuhannya saja yang pergi berperang sebagaimana tertuang dalam Al-Quran. (Kalau tidak salah, saat itu Nabi Harun sudah meninggal dunia). Karena takut berperang, mereka pun kemudian merengek-rengek menyesali kepergiannya dari Mesir dulu, dan mereka merengek-rengek ingin kembali saja ke Mesir.
Begitulah, sekian mukjizat kosmik yang Allah turunkan melalui Nabi-Nya di hadapan mereka, ternyata itu semua tidak membuat mereka jadi beriman juga. Maka, mereka pun dihukum untuk luntang-lantung di Gurun Tih selama 40 tahun. (Hukuman ini pada akhirnya membuat anak-anak yang lahir dalam periode hukuman di Gurun Tih ini menjadi anak-anak yang kuat karena ditempa oleh panas dan kerasnya Gurun, sehingga merekalah nantinya yang akan diajak berperang oleh Nabi Yusa yang sudah tua untuk menaklukkan Yerikho.)
Mengerikan duh Gusti, ya Allah, ampuni aku, betapa hancurnya hati membayangkan itu semua. Mursyid pernah berkata bahwa mukjizat itu adalah semacam “langkah terakhir” untuk membuat "orang-orang yang kurang kuat akalnya" untuk beriman; bahwa Allah harus mengubah hukum alam sedemikian rupa untuk menunjukkan Kuasa-Nya. (Mursyid berkata, kalau orang menjadi beriman karena diperlihatkan mukjizat terlebih dahulu, maka orang itu “akalnya lemah”. Bayangkan oleh Anda, betapa kuatnya akal para sabiqunna awaalun yang bisa mengimani Rasulullah saw yang buta huruf itu, yang mantan penggembala domba, miskin dan yatim piatu itu, tanpa harus diperlihatkan mukjizat dulu di hadapan mereka. Luar biasa sekali para sabiquna awwalun tersebut.)
Saya ngeri ya Allah, betapa mudah hati ini untuk berpaling dan lupa. Setelah sekian mukjizat Allah “pertontonkan” ke hadapan Bani Israil, di tahap berikutnya begitu mudah mereka untuk lupa dan berpaling.
Selama 19 tahun bersuluk, tak terbayang sudah berapa ratus atau ribu kali saya lupa pada wejangan Mursyid Almarhum dan Mursyid Penerus; lupa, berpaling, dinasehati lagi, menyesal, menjadi baik untuk beberapa waktu, lalu lupa dan kemudian berpaling lagi. Begitu terus menerus polanya. Sedang mukijzat di depan mata saja bisa dilupakan dan diabaikan saat berpaling, apalagi nasihat dan pengajian yang berupa kata-kata, yang akan begitu mudah dilupakan.
Saya hancur membayangkan semua itu. Pantas saja Nabi Isa sampai melarikan diri dari orang bodoh seperti terbaca dalam puisi Rumi. Betapa Rasulullah saw pun tak sanggup mengubah hati pamannya untuk beriman. Betapa hati itu sangat mudah terbolak-balik. Ampun ya Gusti. 
Astagfirullah al-Adzim untuk ke sekian sekian sekian sekian kalinya T_T

Sunday, January 14, 2018

Umar Farooq ibn Al Khattab



Suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, Amirul Mu‘minin ‘Umar bin Khaththab membaca doa: “Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah).” (HR Malik) 
Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji tersebut, ‘Umar pun menceritakan ihwal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, “Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya.”
Dengan ringan, ‘Umar menjawab, “Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
‘Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw, yaitu Al-Faruq, yang berarti “orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.” 
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “‘Umar bin Khaththab meminta izin kepada Rasulullah saw, sementara itu dalam majelis beliau banyak sekali wanita-wanita Quraisy yang bicara kepada beliau dengan suara keras yang melebihi suara beliau saw. Ketika ‘Umar bin Khaththab meminta izin masuk, maka mereka bangkit dan buru-buru mengenakan hijab (penutup seluruh tubuh) kemudian Rasulullah saw mengizinkannya masuk, maka ‘Umar masuk sementara Rasulullah saw tertawa, maka ia berkata, ‘Semoga Allah membukakan gigimu (untuk tertawa) wahai Rasulullah.’
Nabi saw bersabda, ‘Aku kagum dengan wanita-wanita yang berada dalam majelisku ini, tatkala mereka mendengar suaramu, maka dengan cepat mengenakan hijabnya.’
‘Umar berkata, ‘Padahal engkau paling berhak ditakuti oleh mereka, wahai Rasulullah.’ Kemudian ‘Umar melanjutkan, ‘Wahai musuh-musuh diri kalian sendiri, apakah kalian takut kepadaku dan tidak takut kepada Rasulullah saw?’
Mereka menjawab, ‘Ya, sebab engkau lebih tajam (kata-katanya) dan lebih keras dari Rasulullah saw.’
Nabi saw bersabda, ‘Sudahlah wahai putra Al-Khathab. Demi Dzat yang jiwaku ada pada-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu berjalan pada suatu jalan yang sama kecuali ia mencari jalan selain jalanmu.’” (HR Bukhari dan Muslim)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Rumi pernah menjelaskan hal ini, yaitu bagaimana setan bisa mendekati Nabi—sebuah hadits menyatakan bahwa “Setan lari dari bayangan ‘Umar”—bahwa “Muhammad adalah sebuah samudera, sedangkan ‘Umar sebuah cangkir. Kita tidak melindungi samudera dari air ludah anjing, sebab samudera tidak akan cemar hanya oleh mulut anjing, sedangkan sebuah cangkir akan tercemar; sebab isi sebuah benda yang kecil akan berubah menjadi buruk akibat jilatan seekor anjing.” Dengan demikian, apa pun yang tampaknya merupakan materi tidak suci yang menyentuh Nabi, tidak akan mengubah kesucian pribadinya yang bagaikan samudera.
Namun, di sisi lain, jika kita mau mengamati dalam sejarah bahwasanya selama ‘Umar masih hidup dan bahkan ketika beliau menjadi khalifah, kehidupan kaum Muslim relatif aman. Para tukang fitnah dan setan yang mengipas-ngipasi mereka seperti mati kutu. Kenapa? Karena selain seperti hadits yang Rasulullah sabdakan di atas, ihwal setan yang lari dari ‘Umar, maka sebagai orang yang pernah lama hidup dalam dunia kelam, ‘Umar tentu saja sangat paham akan sepak terjang serta pola pikir para pendosa dan alam syaithan. Akibatnya, mereka mati gaya selama ‘Umar masih hidup.
Hudzaifah ra pernah berkata: Dahulu kami duduk-duduk bersama ‘Umar, lalu dia mengatakan, “Siapakah di antara kalian yang masih hafal hadits Rasulullah saw yang mengisahkan tentang fitnah persis sebagaimana yang beliau katakan?”
Maka aku katakan, “Aku.”
Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kamu telah berani angkat bicara, maka bagaimanakah yang beliau katakan tentangnya?”
Aku katakan; “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Fitnah yang timbul pada diri seseorang karena keluarganya, harta, jiwa, anak maupun tetangganya, maka itu semua akan bisa terhapus akibatnya dengan menjalankan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma‘ruf serta nahi munkar.’” 
Maka ‘Umar pun berkata: “Bukan itu yang aku maksudkan, yang aku inginkan adalah cerita tentang fitnah yang datangnya bergelombang bagaikan ombak lautan.” 
Maka Hudzaifah berkata: Aku katakan kepadanya, “Tidak ada urusan apa-apa antara Anda dengannya, wahai Amirul mukminin. Sesungguhnya antara Anda dengan fitnah itu terdapat pintu gerbang yang terkunci.” 
Maka ‘Umar bertanya: “Apakah pintu itu nanti akan didobrak atau dibuka?” 
Hudzaifah berkata: Aku katakan: “Tidak, akan tetapi pintu itu akan didobrak.” Maka ‘Umar berkata, “Kalau demikian, maka tentunya pintu itu tidak akan bisa terkunci untuk selamanya.” 
Maka para sahabat pun bertanya kepada Hudzaifah: “Apakah ‘Umar mengetahui siapakah yang dimaksud dengan pintu itu?” 
Maka Hudzaifah menjawab: “Iya, sebagaimana dia tahu bahwa setelah malam ini akan datang esok hari. Sesungguhnya aku telah menceritakan kepadanya suatu hadits yang bukan termasuk perkara yang rumit.” 
Perawi berkata: “Marilah kita tanyakan kepada Hudzaifah siapakah yang dimaksud dengan pintu itu, maka kami pun bertanya kepada Masruq: ‘tanyakanlah kepadanya.’ Maka dia pun bertanya kepada Hudzaifah, lalu dia menjawab: ‘Pintu itu adalah ‘Umar.’” (HR Bukhari - Muslim)
Dan setelah ‘pintu fitnah itu didobrak’, yaitu terbunuhnya ‘Umar bin Khaththab, kita semua menyaksikan bagaimana para pendosa, penyebar fitnah beserta syaithan yang mengipas-ngipasinya seperti ‘merayakan kebebasan’ untuk membuat banyak kekacauan di tengah umat Islam saat itu hingga berujung pada terbunuhnya Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra. Bahkan ketika menjelang ajalnya, dalam pangkuan sahabat yang memegangi ‘Umar yang tengah meregang nyawa sempat berkata: “Bukankah aku adalah pintu fitnah yang Rasulullah pernah katakan?” Dan sejarah mencatat bahwa sepeninggal beliau, umat Muslim kala itu dilanda “fitnah yang datangnya bergelombang bagaikan ombak lautan.”
Hal ini dikuatkan pula dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dzar ra. Suatu hari ‘Umar bertemu dengan Abu Dzar dan dia langsung menggandeng tangan Abu Dzar dengan kuat sehingga Abu Dzar berkata setengah berteriak: “Lepaskan tanganku, wahai penghalang fitnah!”
Dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa Abu Dzar ra pernah berkata sambil menunjuk kepada ‘Umar: “Ketahuilah, fitnah tidak aman terjadi selama engkau masih hidup.”
Demikian juga Utsman bin Mazh‘un pernah berkata kepada ‘Umar: “Wahai pengunci fitnah!”
Abdullah bin Salam ra pernah berkata kepada ‘Umar: “Aku melihat dalam Taurat bahwa engkau ini adalah salah satu gerbang menuju neraka Jahanam.” Maka ‘Umar berkata: “Tafsirkanlah untukku (ungkapanmu itu).” Abdullah bin Salam berkata: “Engkau adalah pintu yang menutupinya agar orang-orang tidak dapat memasukinya, tetapi sepeninggalnya terbukalah pintu itu.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Di antara sebagian sahabat, Mughirah bin Syu'bah memiliki seorang budak yang bernama Fairuz yang dijuluki dengan sebutan Abu Lu‘lu‘ah Al-Majusi. Pada suatu hari, Abu Lu‘lu‘ah mengadu kepada ‘Umar bahwa uang yang dipatok Mughirah untuk pekerjaannya sangat besar, sedangkan ia tidak mampu membayarnya. ‘Umar bin Khaththab kemudian berkata: “Harga ini cukup, takutlah kepada Allah dan berbuat baiklah pada tuanmu.”
Abu Lu‘lu‘ah Al-Majusi kemudian pergi mengadukan ‘Umar kepada orang-orang bahwa ia telah berbuat adil kepada seluruh manusia kecuali kepada dirinya. Dia berkata: “‘Umar telah memakan hatiku!” Dari sinilah sebuah konspirasi berawal yang dipelopori oleh empat orang. Abu Lu‘lu‘ah adalah salah satu dari empat sumber konspirasi tersebut. Dua orang lainnya adalah Majusi dan Yahudi.
Pada suatu hari, tatkala Al-Faruq bersama sahabatnya, ia melihat Abu Lu‘lu‘ah. Lantas ‘Umar berkata kepadanya: “Aku telah mendengar bahwa engkau mampu membuat penggilingan yang dapat digerakkan dengan angin.” Kemudian Abu Lu‘lu‘ah memandang ‘Umar dan berkata: “Aku akan membuatkan untukmu penggilingan yang bisa berbicara dengan manusia.” Mendengar itu para sahabat merasa senang.
Umar bin Khaththab kemudian berkata kepada mereka: “Apakah kalian merasa senang?” 
Mereka menjawab: “Ya!” 
‘Umar kemudian berkata: “Sesungguhnya ia mengancam hendak membunuhku.” 
Mendengar penjelasan Umar, para sahabat lalu berkata: “Kalau begitu kita bunuh saja dia!” 
‘Umar berkata: “Apakah kita hendak membunuh seseorang dengan prasangka? Demi Allah, aku tidak akan bertemu dengan Allah sedangkan di leherku terdapat darah lantaran prasangka.” 
Mereka berkata: “Jika begitu, kita lenyapkan saja dia.” 
‘Umar berkata lagi: “Apakah aku akan berbuat zalim terhadap seseorang dan mengeluarkannya dari dunia lantaran prasangkaku bahwa dirinya akan membunuhku? Sekiranya Allah hendak mencabut nyawaku melalui kedua belah tangannya, niscaya urusan Allah itu merupakan takdir yang telah digariskan.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Suatu hari saat menjelang subuh, ‘Umar bin Khaththab pun berkeliling kota guna membangunkan umat muslim untuk shalat subuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur shaf (barisan) dan mengimami para jamaah. 
Akan tetapi, di antara kegelapan subuh tersebut, bersembunyi Abu Lu‘lu‘ah Al-Majusi di dekat masjid, menunggu kedatangan ‘Umar, dan ia tetap berada di tempat itu sampai akhirnya ‘Umar masuk masjid. 
Dan, saat ‘Umar mengucapkan takbiratul ihram, Abu Lu‘lu‘ah keluar dari persembunyiannya lalu menikamkan sebilah pisau ke ‘Umar. Tusukan pertama mengenai dada, kedua mengenai perut dan terakhir mengenai bagian bawah pusar. Darah pun menyembur.
Namun, Khalifah yang juga diberi julukan “Singa Padang Pasir” ini tak bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Namun, sekuat apa pun ‘Umar bertahan, toh akhirnya tubuh beliau roboh juga di samping mihrab. Meski demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin ‘Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.
Saat itu, beliau sendiri mengulang-ulang Firman Allah: “Dan ketentuan Allah adalah takdir yang pasti terjadi.” (QS Al-Ahzab [33]: 38)
Lalu Abdurrahman bin Auf pun maju menggantikan ‘Umar untuk menyelesaikan shalat Jamaah tersebut. Adapun setelah menusuk ‘Umar, Abu Lu‘lu‘ah menerobos ke shaf shalat umat muslim dengan pisaunya yang diayun-ayunkan ke kiri dan kanan. Ada 13 orang yang terkena pisau itu, tujuh di antaranya meninggal dunia. Lalu ia berhenti mengayunkan pisaunya lalu menghunuskannya. Setiap orang yang mendekati, pasti diserangnya, hingga ada seseorang yang melempar sebuah kain selendang tebal ke arahnya. Abu Lu‘lu‘ah pun terhuyung-huyung. Karena merasa umat muslim akan segera meringkusnya, maka seketika itu juga ia tikamkan pisau itu ke tubuhnya sendiri. Abu Lu‘lu‘ah membunuh dirinya sendiri.
Sementara ‘Umar, beberapa saat setelah ditikam, kesadarannya datang dan hilang silih berganti. Para sahabat yang mengelilinginya sedemikian cemas akan keselamatan ‘Umar Al-Faruq. Lalu salah seorang di antara para sahabat berkata, “Jika beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!”
Maka, para sahabat yang hadir pun serentak berkata: “Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan.”
Beliau langsung tersadar, “Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat.” Lalu, beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Namun, tak lama kemudian, sahabat dan mertua Rasulullah saw ini pun ambruk kembali.
Ketika Umar bin Khaththab siuman, Ibnu Abbas berkata, “Shalatlah, wahai Amirul Mukminin.” Al-Faruq menoleh ke arahnya seraya berkata: “Aku hendak berwudhu untuk mengerjakan shalat.” Mereka kemudian membangunkan Umar untuk wudhu, sedangkan lukanya terus mengeluarkan darah. Dengan keadaan begitulah ‘Umar menuntaskan shalat subuhnya,
: : : : : : : : : : : : : : : : :
‘Umar pun dibopong ke rumahnya. Orang-orang yang menunggui di sekitarnya pun menangis. ‘Umar pingsan hingga menjelang matahari terbit. Ketika sadar, dipandanginya wajah orang-orang di sekelilingnya. Pertanyaan yang pertama kali ia ucapkan adalah: “Apakah manusia sudah shalat?”
“Sudah,” jawab mereka semua.
“Segala puji bagi Allah. Sesungguhnya tak dianggap Islam orang yang meninggalkan shalat,” seru ‘Umar.
Saat itu darah terus mengalir dari lukanya, sehingga para sahabat pun menutupinya dengan kain sorban. Lalu ‘Umar pun bertanya kepada Ibnu Abbas: “Lihatlah siapa yang telah membunuhku?”
“Seorang budak majusi. Beberapa orang juga telah diserangnya, lalu dia bunuh diri,” jawab sahabat lainnya.
“Segala Puji Bagi Allah yang menjadikan pembunuhku tidak dapat memusuhiku di hadapan Allah dengan satu sujud pun,” tutur beliau. “Apakah ia telah bersepakat dengan salah seorang dari kaum muslimin?” tanya ‘Umar. 
Ibnu Abbas lantas keluar seraya bertanya kepada kaum muslimin, “Wahai kaum muslimin sekalian! Apakah ada seorang di antara kalian yang bersekongkol dengan Abu Lu‘lu‘ah?”
Mendengar hal itu, tangis umat Muslim semakin keras. Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh kami ingin menambahkan umur kami kepada ‘Umar bin Khaththab.” Kaum muslimah pun berkata: “Demi Allah, kematian anak-anak kami lebih kami sukai daripada matinya ‘Umar bin Khaththab.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Setelah itu, tabib datang mengobati luka beliau. Kemudian tabib itu berkata kepada ‘Umar, “Wahai Amirul Mukminin berwasiatlah. Aku yakin kalau tidak hari ini, pasti besok engkau akan meninggal.”
‘Umar menjawab, “Engkau benar. Andai saja engkau tidak mengucapkan yang seperti tadi, pasti kau telah berbohong. Demi Allah, seandainya aku miliki semua isi dunia, akan aku gadaikan demi menghadapi dahsyatnya suatu hari saat menghadap Allah,” lanjutnya.
Luka tusuk pada ‘Umar sangatlah parah. Bahkan ketika dia diberi minum air kurma dan diminumnya, air itu keluar dari tenggorokannya. Begitu juga saat diberi air susu, dan beliau meminumnya, maka air susu itu keluar dari lukanya.
Para sahabat mengetahui bahwa beliau akan meninggal. Kemudian datanglah manusia dan memujinya, Tiba-tiba datanglah seorang pemuda dan berkata kepadanya, “Berbahagialah engkau wahai Amirul Mukminin, Kau menjadi sahabat Rasulullah, kemudian menjadi khalifah yang adil, lalu mati syahid.”
Kemudian ‘Umar berkata, “Aku cukup senang ketika keluar dari dunia dalam keadaan telah melaksanakan semua tugas. Tak perlu tambahan pujian bagiku.”
Rasa sakit yang dialami ‘Umar bertambah parah. Abdullah bin ‘Umar, putranya berkata: “Ayahku pingsan, lalu kuletakkan kepalanya di atas tanganku, ketika dia sadar.
Namun rasa sakit yang dialami ‘Umar bertambah parah, dan Abdullah bin ‘Umar pun berkata: “Ayahku pingsan lagi, lalu kuletakan kepalanya di atas tanganku, ketika dia sadar. Lalu ‘Umar berkata: ‘Letakkan kepalaku di atas tanah.’ Lalu dia pingsan kembali. Kupegangi kepalanya dengan tanganku. Ketika dia sadar kembali, ia mengulangi pintanya: ‘Letakkan kepalaku di atas tanah.’ Aku berkata: ‘Wahai Ayah, apakah tidak sama saja antara tanganku dan tanah?’ ‘Umar menjawab: ‘Temukan wajahku dengan tanah. Semoga Allah mengasihaniku. Kalau aku sudah mati, segeralah kubur aku. Yang demikian adalah kebaikan yang kau segerakan bagiku, atau sebuah kejelekan yang kau lepaskan dari pundak kalian.’ ‘Umar berkata: ‘Celakalah ‘Umar, celakalah Ibunya, jika Allah tidak mengampuninya.’” 
Lalu tubuhnya pun melemah. 
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Beberapa hari sebelum kematiannya, ‘Umar bin Khaththab bertanya kembali kepada Hudzaifah bin Yaman tentang orang yang disebut Rasulullah saw termasuk dalam golongan orang-orang munafik. ‘Umar berkata: “Aku bersumpah kepadamu, apakah Rasulullah saw memasukkan aku dalam nama-nama orang munafik?” 
Hudzaifah lalu menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, sudah aku katakan kepadamu bahwa Rasulullah saw tidak memasukkanmu ke dalam golongan orang-orang munafik.” 
‘Umar kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah.”
Kemudian ia menatap Hudzaifah: “Beritahukan kepadaku tentang fitnah yang akan menenggelamkan umat!” 
Hudzaifah kemudian berujar: “Sesungguhnya antara dirimu dan fitnah tersebut terdapat pintu yang menutup selama engkau hidup.” 
‘Umar lantas berkata: “Wahai Hudzaifah, apakah pintu itu akan dibuka ataukah didobrak?” 
Hudzaifah menjawab: “Pintu itu akan didobrak!” 
‘Umar bin Khaththab kemudian berkata lagi: “Jikalau begitu, ia tidak akan kembali ke tempatnya.” 
Hudzaifah menimpali: “Benar, wahai Amirul Mukminin.” 
Setelah itu Umar berdiri dan menangis. Lalu orang-orang bertanya kepada Hudzaifah tentang fitnah dan pintu itu. Hudzaifah menjawab: “Pintu itu adalah Umar. Jika ‘Umar bin Khaththab meninggal, maka pintu fitnah itu akan dibuka.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Abdullah bin Abbas kemudian masuk menemui ‘Umar bin Khaththab lalu mengusap dada Al-Faruq seraya berkata, “Wahai Amirul Mu‘minin, tenanglah. Engkau telah berhukum dengan kitab Allah dan engkau telah berlaku adil kepada sesama.” 
Mendengar hal itu, ‘Umar tersenyum lalu berkata, “Apakah engkau bersaksi untukku dengan hal ini pada hari kiamat kelak?” 
Ibnu Abbas kemudian menangis. Umar lalu menepuk bahunya seraya berkata lagi, “Apakah engkau akan bersumpah untukku pada hari kiamat kelak bahwa aku telah berhukum dengan kitab Allah dan berlaku adil?” 
Ibnu Abbas lalu menjawab, “Aku akan bersaksi untukmu, wahai Amirul Mu‘minin.” 
Ketika itu Ali bin Abi Thalib menimpali: “Dan aku akan bersaksi pula untukmu, wahai Amirul Mu‘minin.”
‘Umar bin Khaththab kemudian berkata: “Lalu bagaimana dengan hutang-hutangku? Aku takut bila menghadap Allah, sedangkan aku masih memiliki hutang.” 
Kemudian para sahabat menghitung semua hutang-hutangnya. Setelah usai menghitung, terbilanglah bahwa hutangnya sebanyak delapan puluh enam ribu dirham.
Setelah itu, para sahabat mengumpulkan harta mereka untuk melunasi hutang-hutang ‘Umar bin Khaththab hingga ketika ia bertemu dengan Allah, ia tidak memiliki hutang. Sepekan setelah kematian ‘Umar, terkumpullah harta tersebut lalu dibayarkan kepada Khalifah Utsman bin Affan, sehingga, setelah itu, ‘Umar bin Khaththab telah terbebas dari tanggungan hutang mana pun.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Pada detik-detik terakhir menjelang kematiannya, ‘Umar meminta puteranya menghadap Ummul Mu‘minin Aisyah ra untuk meminta izin agar setelah kematiannya nanti ia dikuburkan di dekat makam Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia berkata kepada puteranya: “Katakanlah kepada Aisyah ra, ‘Umar meminta izin dan jangan engkau katakan Amirul Mukminin meminta izin, sebab aku tidak patut sebagai pemimpin bagi kaum muslimin. Dan katakan kepadanya bahwa ‘Umar tidak akan merasa tenang sehingga ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya, dan ia meminta izin kepadamu. Jika ia mengizinkanku, maka segeralah datang kemari menemuiku!”
Ketika Abdullah bin ‘Umar tiba di tempat Ummul Mukminin, ia mendapatinya tengah menangis. Aisyah sadar, kematian ‘Umar itu sama halnya dengan terbukanya pintu-pintu fitnah. Ibnu ‘Umar kemudian berkata kepadanya: “Dia meminta kepadamu agar ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya.” 
Mendengar hal itu, Aisyah menjawab: “Sebenarnya aku ingin agar tempat itu untukku. Jika ‘Umar menginginkannya, maka aku mengutamakan dirinya daripada diriku.”
Setelah itu, Abdullah bin ‘Umar kembali menemui bapaknya untuk memberi kabar gembira tersebut. ‘Umar bertanya kepadanya: “Apa yang ia katakan padamu, wahai Ibnu ‘Umar?”
Abdullah menjawab: “Wahai Amirul Mu‘minin, aku beritahukan kabar gembira untukmu bahwa ia telah mengizinkanmu.” 
Mendengar hal itu, ‘Umar berkata: “Alhamdulillah.” Lalu ia kembali berkata: “Wahai Ibnu ‘Umar, jika aku telah mati, bawalah aku dan baringkanlah aku di depan pintu Aisyah, lalu katakanlah bahwa ‘Umar meminta izin. Boleh jadi ia mengizinkanku ketika aku masih hidup karena merasa malu kepadaku.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Sebelum ‘Umar bin Khaththab meninggal, ia telah memilih enam orang di antara para sahabat yang akan menggantikannya menjadi khalifah. Mereka adalah, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa‘ad bin Abu Waqqash dan Abdurrahman bin Auf. Ketika puteranya diusulkan menjadi salah satu dari Dewan Syura, ia berkata: “Cukuplah satu saja keluarga ‘Umar bin Khaththab yang akan ditanya tentang urusan manusia pada hari kiamat kelak.”
Umar bin Khattab meninggal pada hari Rabu, tanggal 23 Dzulhijjah. Tepatnya, pada tahun 23 Hijriyah. Seluruh penduduk Madinah menangisi kepergiannya, dan ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya. Dengan kematiannya ini, maka terdobraklah pintu fitnah yang datang seperti ombak di samudera yang tetap ada di tengah umat Muslim hingga hari ini.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Rabbanâ lâ taj‘alnâ fitnatan lilladzîna kafarû waighfir lanâ rabbanâ innaka anta al‘azîzu alhakîmu.
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Mumtahanah [60]: 5)

Saturday, January 13, 2018

Dalam Penciptaan Benda Milik Bersama di Kota

Yang perlu kita pelajari dari kritik Kota sebagai Ruang Urban adalah kenyataan bahwa ia adalah satu tempat dimana bermukim orang dengan lingkungan yang saling bergaul, berkumpul, bergosip, juga bersaing dan bertentang satu dengan yang lainnya. 
Kebanyakan dari kita menyimpan utopia kota sebagaimana diterangkan dalam pandangan Marxis bahwa ia adalah tempat dimana contoh persemakmuran, keberadaban, kemajuan berpikir, teknologi, kesetaraan, keadilan dan etika hidup dijunjung dengan semestinya. 
0.1
Meski pada kenyataannya yang demikian itu tidak mudah begitu saja diterima semenjak bila kita mengutip Garret Hardin dalam "Tragedy of the Commons"; Semenjak ciri kota adalah rupa dari perkembangan kapital, maka efisiensi yang paling superior tentu adalah hak-hak privatisasi atas kepemilikan pribadi. Dimana hak tadi sering keliru dibaca sebagai proses memaksimalkan utilitasnya atas kepemilikan yang tambah lama semakin menggeser definisi dari apa yang disebut dengan common-ownership atau kepemilikan bersama menjadi kepemilikan pribadi (private-ownership). 
Semenjak cita-cita dari hampir seluruh ideologi di dunia ini adalah menghadirkan kesejahteraan umum, memakmurkan kehidupan bangsa, dan kesetaraan di segala bidang, maka polemik yang berkembang dalam teori-teori sosial memang tidak lebih daripada pertarungan definisi antara apa yang disebut dengan public good dan private good. Satu lagi tambahan yang kini dikenal sebagai common goods. Diskusi kita adalah pada persoalan barang apa yang semestinya dapat diprivatisasi (private goods) dan mana yang harus tetap menjadi milik bersama masyarakat (public goods) serta mana yang tetap menjadi milik bersama keduanya (common goods).
0.2
David Harvey menjelaskan barang seperti air, udara, tanah, jalan, pantai, laut, hutan, ruang terbuka pada batas tertentu adalah barang bersama atau common public goods. Meskipun definisi seperti ini disadarinya pula secara moral mesti melahirkan polarisasi pemikiran seperti apakah hak-hak tadi dibiarkan saja menjadi urusan masing-masing ataukah mesti ada satu sistem pemerintahan yang otoriter harus mengintervensi demi menghindari akumulasi kapital dan kepemilikan pada satu dua kelompok saja. 
Barang yang menjadi kehendak umum juga menjadi persoalan misalnya dari segi pengadaan perumahan di tengah kota. Apakah sanitasi, air kotor, listrik, serta hidran pemadam itu seharusnya disediakan oleh pengembang properti swasta, atau masing-masing pemilik unit, ataukah pemerintah kota yang seharusya menyediakannya sebagai bagian dari barang umum.
Sementara itu Elinor Ostrom lebih menekankan kepada perlunya pembedaan antara public-good dengan common urban. Dimana yang disebut terakhir dapat berarti ruang bersama bagi para penghuni kota (inhabitant) untuk mengaktualisasi, merepresentasikan, atau berekspektasi tentang sesuatu yang dianggapnya perlu dilakukan. Rumah sakit -sebagai representasi urban common bagi manusia kota kebutuhan akan kesehatan, sekolah -sebagai kebutuhan akan hak pendidikan-, stasiun kereta api, terminal bus -sebagai aktualisasi kebutuhan bersilaturahmi-bepergian-kebebebasan. Begitu pula dengan alun-alun, taman-taman, bunderan kota sebagai ruang representasi demokrasi, dll. Yang perlu dilakukan adalah memulai menciptakan aturan main, yang disebutnya dengan pengaturan umum dalam buku Governing the Commons. 
Namun yang demikian itu juga tidak terlalu mudah difahami, mengingat mana yang lebih penting secara ekonomi atau politik. Misalnya dalam common urban apakah lingkungan yang nyaman itu adalah; sebuah taman penuh dengan tangga-tangga, ampi teater, lukisan mural, kolam ikan, air mancur raksasa, lampu-lampu, dan typografi huruf besar-besar yang dibiayai dari anggaran pemerintah kota ataukah ruang itu dipenuhi rumpun bambu, jejeran tanaman durian, nangka, semangka, strawberi, atau bunga spinola yang dapat menghasilkan minyak goreng dan bernilai komersial?. 
Artinya apa yang ingin dicapai dengan keberadaan common urban -bila merujuk kepada perkembangan pemikiran ia adalah sesuatu yang dinamis- Ia bergerak dengan dialektika pro atau kontra yang melibatkan semua pemain. Baik itu dari orang kaya, orang miskin, pemerintah, penduduk yang tinggal di pemukiman mewah atau kumuhnya dan tentu saja pengaruh modal-modal di luar ruang itu (investasi) yang datang ke dalamnya. 
0.3
Apabila kita mengangkat kasus kota-kota di Indonesia misalnya, sejak 2007 boleh dikatakan terjadi percepatan perpindahan kepemilikan lahan-lahan dari masyarakat atau negara kepada modal-modal baru yang tergabung dalam kelompok yang kita sebut saja predator modal. Predator tadi terbagi-bagi kembali sesuai dengan kelompok barang atau jasa yang diokupansinya. Ada predator tanah, predator perizinan, predator mall, predator distrik bisnis, dan predator jalanan.
Misalnya sejak 2007 (sampai krisis 2008) kampung-kampung di Jakarta boleh dibilang hampir punah berikut gang-gangnya yang disepakati sebagai ruang bersama (common space) yang sebenarnya tidak ikut diperjual belikan. Tetapi ditangan predator tanah, masjid kampung, gang-gang, wc umum, jembatan ludes diambil alih untuk dibuatkan satu kavling baru yang sebut saja: kawasan terpadu, kawasan bisnis center, dan kawasan urban. 
Ambil kasus hunian, dan distrik di wilayah Sudirman, Tanah Abang, Kebon Sirih, Kemayoran, dan kini reklamasi pantai di Pluit. Sekarang yang disebut kampung Kebon Sirih dengan jalan Jaksa sebagai land-mark (skala internasional) sebagai pusat penginapan backpackers murah sudah tidak ada lagi secara aktual karena telah berubah menjadi hotel-hotel. 
Begitu juga dengan pedagang-pengamen di stasiun-stasiun yang secara keras harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak boleh lagi berjualan di komuter line. Bahwa dulunya stasiun tadi adalah common public good bagi masyarakat urban untuk sama-sama mencari sekedar rejeki telah di-privatisasi- dengan alasan misalnya kebersihan, keindahan, dan ketertiban. Yang sebenarnya alasan tadi adalah apa yang ditulis Harvey, sebagai pleonasme dari telah berpindahnya hak sewa dari negara misalnya ke manajemen PT Kereta Api atas nama profit dan profesionalisme manajemen yang dibuktikan dari laporan keuntungan tahunan. 
Demikian pula pemain-pemain lama sektor transportasi seperti PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) atau Metromini-Kopaja ditikam pelan-pelan oleh modal baru dan berpindah menjadi TransJakarta. Argumen yang paling kasar digunakan adalah karena moda tadi ketinggalan jaman, tidak layak jalan, dan pantas berada di Ibu kota. Sehingga diperlukan kehadiran armada baru, penggajian karyawan yang baru, dan tentu saja pemilik dan modal-modal baru. Jadi di sini, metromini-kopaja yang adalah common good masyarakat kota Jakarta dipersalahkan untuk kemudian dihancurkan dengan masuk dengan nalar intrumentalities. Yang nantinya hal ini akan membuka jenis kreativitas baru bertahan hidup di kota dengan lahirnya ojeg-ojeg (opang-online) dan aneka angkutan jarak dekat yang menyembunyikan diri sebagai odong-odong kereta wisata anak.
Bila kita pertanyakan mengapa di negara-negara lain yang lebih dahulu memiliki sistem transportasi publik jauh lebih kompleks dan tua, kita masih dapat menemukan para pedagang ini diproteksi. Mereka satu bagian dari ritme dan bukannya diusir. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang apa yang disebut common space atau ruang bersama belum terbangunkan. 
Di beberapa negara kota maju seperti Shanghai, Mumbai, Sao Paolo, Los Angeles, Tokyo, dan Berlin, pola produksi, pola penggunaan, dan tentu saja perlindungan warga kepada hak akan barang publik dan barang bersama telah menjadi isu-isu utama gerakan sosial dan arah demokrasi kota. 
Meski di Jakarta, Bandung, atau kota-kota lain gerakan sosial kolektif yang lebih kekinian masih kecil untuk merespon pembangunan yang sifatnya masih kosmetik (penataan sungai sebagai solusi banjir, tapi pada saat yang sama membiarkan pengurugan pantai Pluit di Jakarta), atau pembangunan taman-taman tetapi hak publik akan perumahan yang pantas diabaikan. Menciptakan mall-mall dan pasar tanpa studi sosial ekonomi yang akhirnya ditinggalkan penyewa karena pembeli malas datang. Bagi mereka lebih masuk akal berbelanja sambil mampir lewat pulang di sekitaran stasiun dan terminal.
Meskipun demikian satu gerakan sosial kolektif mau tidak mau akan melawan ke arah yang semestinya. Artinya benturan antara kehendak masyarakat urban dengan kebijakan penataan yang tidak bijak tidak dapat terelakkan lagi. Mereka yang merasa paling berhak mendefinisikan perwajahan kota dengan mereka yang merasa punya hak untuk tinggal sebagai warga kota (citizen).
Sebaliknya jika pemerintah kota mengenali keinginan-keinginan ini melalui dialog-dialog dan keterlibatan masyarakat, maka gerakan tadi akan menjadi instrumen positif mendorong kepada ruang kota yang beradab.

Wednesday, January 10, 2018

The Legend of Bagger Vance: A Novel of Golf and the Game of Life

“Bhagavad Gita artinya ‘Nyanyian Tuhan’ atau ‘Nyanyian Suci’. Kitab suci umat Hindu ini adalah bagian dari Bhisma Parwa dari Mahabharata yang disusun oleh Bhagawan Wyasa ... Isinya ialah pembicaraan antara Sri Krishna dan Arjuna dalam medan perang Kuruksetra di mana berhadapan antara saudara Pandawa dan Kaurawa. Pembicaraan ini dibukukan dalam 700 sloka...Bhagavad Gita juga disebut dengan lain nama, yaitu Upanishad, bagian akhir dari Weda-weda. Ini mengingat juga bahwa apa yang diajarkan oleh Sri Krishna sebagai Awatara dari Bhatara Wishnu adalah pengetahuan suci yang abadi dan diulangi dari zaman ke zaman bila keadaan dunia dalam kegelapan di mana umat manusia melupakannya ... Di sini Sri Krishna sebagai Awatara dari Bhatara Wishnu mengajarkan pada Arjuna bagaimana mencapai pembebasan diri, kebahagiaan yang abadi, mengatasi kesengsaraan hidup, dengan melaksanakan kewajiban di dalam hidup menurut Swadharma.” 
Begitulah penjelasan tentang Bhagavad Gita sebagaimana dituliskan oleh Prof. Dr. I. B. Mantra, salah seorang penerjemah otoritatif kitab tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
Bhagavad Gita adalah kitab paling muda dari semua teks agama Hindu yang diperkirakan baru ditulis sekitar 400 SM, dan malah ada yang menyatakannya baru ditulis sekitar 200 SM. Namun, menariknya, kitab ini justru mendapatkan popularitas paling besar dan bisa dibilang mempunyai kedudukan sentral dalam menyatukan banyak sekte Hindu yang berkembang di kemudian hari. Menurut Ronald W. Neufeldt, popularitas Bhagavad Gita baru dimulai pada abad sembilan belas, sebelum itu Bhagavad Gita dianggap sebagai salah satu kitab Upanishad yang hanya dikenal oleh kalangan elit atau kalangan Hindu terpelajar. Bagi Mahatma Gandhi, popularitas dan penerimaan yang luas atas Bhagavad Gita adalah dikarenakan nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, hal itu semakin cepat menyebar dan disukai karena Bhagavad Gita pun mudah dipahami sebab ditulis dengan bahasa Sanskrit yang sederhana, serta menawarkan nilai-nilai moral yang mudah dipahami oleh masyarakat biasa.
Bahkan, salah satu bentuk popularitas dari Bhagavad Gita di masa ini bisa kita lihat ketika kitab itu diadaptasi oleh Steven Pressfield menjadi novel berjudul “The Legend of Bagger Vance: A Novel of Golf and the Game of Life” yang kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun 2000 dengan judul “The Legend of Bagger Vance”. Film ini disutradarai oleh Robert Redford, serta dibintangi oleh sederetan bintang papan atas seperti Will Smith, Matt Damon dan Charlize Theron. 
Film ini bercerita tentang seorang pemain golf muda berbakat, yang kemudian menjadi tentara saat Perang Dunia I lalu mengalami trauma perang dan akhirnya menjadi seorang pemabuk penyendiri yang tak bisa lagi bermain golf (saat itu bersamaan dengan Amerika tengah mengalami Depresi Besar). Namanya adalah Rannulph Junah yang apabila disingkat namanya akan tertulis R. Junah. Saat akan diadakan pertandingan golf bergengsi yang diadakan oleh mantan pacarnya, putri seorang jutawan yang bunuh diri, dan mengundang para pegolf papan atas, Junah dipaksa untuk kembali ke lapangan golf. Pertandingan tersebut diadakan di Krue Island yang akan dengan mudah mengingatkan kita kepada medan pertempuran Kurus, Kuruksetra, dan ini mengingatkan pula pada beberapa lapangan golf paling terkenal di dunia yang ternyata dirancang oleh seorang pakar kamuflase militer, Alister Mackenzie. 
Entah dari mana asalnya, mendadak datang seorang caddy Afro-Amerika bernama Bagger Vance, yang apabila diucapkan namanya akan terdengar sebagai Bhagavan, nama lainnya dari Sri Krishna. Bagger Vance ini kemudian mengajarkan rahasia dari pukulan golf autentik yang ternyata juga menjadi rahasia untuk menguasai tantangan apa pun dan menemukan makna dalam hidup R. Junah. Dalam salah satu scene film itu muncul dialog sebagai berikut: 
Bagger Vance : “See, the trick is to find your swing.”
Rannulph Junuh : “What’d you say?”
Bagger Vance : “Well you lost your swing. We got to go find it. Now it’s somewhere... in the harmony... of all that is... All that was... All that will be...”
Untuk membangkitkan R. Junah dari keterpurukannya, Bagger Vance pun mengatakan: “Inside each and every one of us is one true authentic swing. Somethin’ we was born with. Somethin’ that’s ours and ours alone. Somethin’ that can’t be taught to ya or learned. Somethin’ that’s got to be remembered. Over time the world can rob us of that swing; it get buried inside us under all our wouldas and couldas and shouldas... Some folk even forget what their swing was like.”
Bhagavad Gita bermula dari dilema yang dihadapi oleh Arjuna. Ia tahu bahwa membunuh adalah perbuatan yang tercela. Tetapi apabila ia berhadapan dengan kejahatan, dalam hal ini diwakili oleh para Kurawa, apakah membunuh dibolehkan atau tidak. Dharma Arjuna sebagai satria (ksatriyadharma) mengharuskan dia untuk menegakkan keadilan, dan dengan demikian berarti membunuh Kurawa. Namun dharma Arjuna sebagai sanak saudara (kuladharma) bagi Kurawa mengharuskan ia untuk mengasihi mereka. Menariknya, dilema ini tidak dihadapi oleh Duryadana, di pihak Kurawa, yang merasa yakin bahwa perang yang ada di hadapannya adalah sebuah perang yang benar, untuk memperebutkan tahta kerajaan Astina, dan dharma-nya adalah menjadi seorang raja. 
Dalam dilema itu, Arjuna berniat ingin melarikan diri dari dharma-nya sebagai seorang satria, karena ia mengira dapat membebaskan diri dari karma buruk yang akan ditanggungnya jika ia tetap maju ke medan perang. Kesemuanya ini memberikan dilema yang berat bagi Arjuna, hingga dia tidak dapat melanjutkan untuk maju ke medan perang. Di titik inilah ia meminta bantuan kepada Sri Krishna, penasehatnya, sekaligus kusirnya di medan perang. Sri Krishna pun menegur paham Arjuna yang melihat bahwa melarikan diri dari tindakan adalah solusi dari dilemanya, maka dimulailah percakapan tentang dharma dalam Bhagavad Gita.
Kata “Dharma” berasal dari bahasa Sanskerta, akar katanya adalah “dhr” (baca: dri) yang artinya menjinjing, memangku, memelihara, mengatur, atau menuntun. Akar kata “dhr” ini kemudian berkembang menjadi kata dharma yang mengandung arti hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta beserta segala isinya. Dalam hubungan dengan peredaran alam semesta, kata dharma dapat pula berarti kodrat (diri). Sedangkan dalam kehidupan manusia, dharma dapat berarti ajaran, kewajiban atau peraturan-peraturan suci yang memelihara dan menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup yaitu tingkah laku dan budi pekerti yang luhur.
Istilah ‘agama’ dengan ‘dharma’ mempunyai pengertian yang sulit dibedakan, maka dalam kaitannya dengan nama agama, Hindu biasa juga disebut Hindu Dharma, bahkan di India lebih umum nama ini dipakai. Konsep dharma itu penting untuk memahami Bhagavad Gita, sebuah konsep yang berkembang di India, namun tidak terbatas pada ajaran agama baik Hindu atau pun Buddha. Dharma adalah sebuah kata yang sulit untuk diterjemahkan, bahkan Agama Hindu menyebut dirinya sebagai Sanatana Dharma. 
Secara sempit, dharma bisa diterjemahkan sebagai kewajiban, semacam tatanan kehidupan, yang merupakan hukum universal yang mengatur seluruh alam semesta, bahkan sebelum penciptaan. Contohnya, adalah dharma seekor kerbau untuk memamah biak, adalah dharma seekor ular untuk menjadi pemangsa. Kehidupan di dunia ini berjalan bila masing-masing makhluk, baik yang hidup atau yang mati, menjalankan dharma-nya. Secara lebih spesifik, dharma dalam tradisi Weda berarti penerapan dari dharma yang universal itu sendiri, yaitu segala macam kewajiban hidup yang sesuai dengan hukum universal.
Bahwa pada awalnya ada keserupaan antara konsepsi Yunani tentang manusia dengan Hinduisme, dan dalam hal ini adalah konsep tentang aretè yang sering diterjemahkan menjadi kebajikan (virtue), digunakan dalam bentuk tunggal maupun plural. Aretè berarti menjadi baik pada sesuatu, dan adalah sudah lumrah apabila orang Yunani bertanya “aretè dari apa atau siapa?” yang secara sepintas seringkali dipahami orang sebagai ‘efisiensi’. 
Pada abad kelima muncul para guru Sofis yang juga mengajarkan aretè namun belum dalam pengertian etis sebagaimana yang dikemukakan oleh Sokrates, Platon, atau pun Aristoteles; ketiga pemikir ini mengubah aretè menjadi kata sifat anthropine yaitu suatu keunggulan yang dimiliki oleh setiap manusia dalam kehidupannya. Namun mereka pun menekankan bahwa pada kenyataannya kebanyakan manusia tidak mengetahui aretè tersebut, dan oleh karena itu manusia harus mencari serta menemukan ergon (amal)-nya sehingga manusia dapat mengetahui apa keunggulannya di muka bumi ini. 
Aretè mengungkapkan kualitas-kualitas diri seseorang, keluhuran, kemanfaatan, dan kebaikan dalam memberikan pelayanan; keunggulan yang dimiliki (functioning excellence). Bila seseorang menjalankan fungsi yang dirancang untuknya dan ia melakukannya dengan sempurna maka ia dipandang memiliki aretè; ia cakap di bidang itu, misalnya, aretè sebuah alat pangkas adalah untuk memotong dahan-dahan pohon di mana ia dirancang untuk tujuan itu dan melakukan tugas itu lebih baik daripada yang lainnya. Sejauh ia sanggup melakukan fungsinya dengan baik, ia mempunyai aretè. Dalam hal ini, kata aretè ini dapat dipadankan dengan dharma yang ada dalam agama Hindu.

MENCARI SEBUAH MASJID

MENCARI SEBUAH MASJID
Oleh Taufiq Ismail
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan 
Aku rindu dan mengembara mencarinya 
Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin 
Aku rindu dan mengembara mencarinya 
Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah 
Aku rindu dan mengembara mencarinya 
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa 
Aku rindu dan mengembara mencarinya 
Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita 
Aku rindu dan mengembara mencarinya 
Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana 
Tumpas aku dalam rindu 
Mengembara mencarinya 
Di manakah dia gerangan letaknya ? 
Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata :
"Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan"
dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran. 
Jeddah, 30 Januari 1988
Taufiq Ismail