Sunday, January 28, 2018

Keep Calm: Sebagai Anekdot Sosial

Baru membaca jika kalimat -stay/keep calm - yang biasanya dilanjutkan dengan kata-kata lainnya itu adalah anekdot yang pernah populer di Iran. 
Bertempat di Persipolis, Reza Pahlevi, Shah Iran dalam peringatan 2500 tahun di tahun 1971 menyampaikan pidatonya yang terkenal di depan kuburan Cyrus Pertama. Pidato yang kemudian menjadi anekdot sosial. 
"Cyrus (Raja Persia)! Tenanglah, biar kami yang bekerja." 
Setelah pidato yang dibuat dengan visualisasi modern dan ditayangkan ke seluruh Iran dan dunia, besoknya masyarakat Iran sudah membicarakannya di pasar-pasar, kedai, sekolah, kampus, pesantren, dan jalan-jalan sebagai anekdot. Shah menyelenggarakan pesta perayaan emperium parsia dengan mengundang seluruh kepala negara dunia, dengan mengubah gurun Persipolis menjadi kampung tenda penuh perhiasan, makanan. 
Pada tahun yang sama, PBB mengeluarkan laporan, Iran adalah negara dengan lebih dari separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Kesulitan air, makanan, dan kesehatan menyebabkan tingkat kematian ibu dan anak yang tinggi. 
Maka pidato Shah Reza yang seharusnya bersejarah dan epik itu menjadi ironi dan kemudian gurauwan di masyarakat yang kesusahan. 
Keep Calm. Biar kami yang menjual minyak ke luar negeri. Stay Calm. Kami saja yang menjual perusahaan negara ke swasta asing. Keep Calm. Kami sedang korupsi dana kesejahteraan rakyat. Keep Calm, Stay Calm dll.. lainnya.
Anekdot ini mirip dengan kondisi kita hari ini. Ada laporan 150 jiwa meninggal dunia dan terdampak campak akibat kemiskinan , gizi buruk dan kekurangan makan di Asmat. Pada saat presiden berkata dimana-mana bahwa pemerintahan kerja-kerja-kerja sukses meningkatkan kesejahteraan via trans tol Papua. 
Keep Calm: Biar kami import beras asing daripada beli panen petani. Keep Calm. Biar kami naikin harga BBM diam-diam. Stay Calm: Kami selesaikan persoalan daya beli menurun dengan kaos oblong, dan sendal jepit.

0 comments:

Post a Comment