Monday, January 15, 2018

Nabi Musa "hanya berhasil" mentaubatkan 70 orang saja.

“Hancur” hati, tak karuan rasanya mendengar ucapan Mursyid saya yang mengungkapkan bahwa Nabi Musa, nabi yang dianggap paling besar oleh Bani Israil, dalam misi kenabiannya "hanya berhasil" mentaubatkan 70 orang saja.
Bagaimana tidak. Bani Israil turut melihat bagaimana Nabi Musa menghadirkan sekian mukjizat di hadapan Firaun, memperlihatkan azab bagi Firaun dan pengikutnya, entah itu berupa belalang dan sekian azab lainnya, hingga berpuncak pada matinya semua anak sulung orang Mesir. Bani Israil turut menyaksikan semua mukjizat itu. Maka, Firaun pun melepaskan mereka untuk pergi dari Mesir. Lalu dengan dipimpin oleh Musa, Bani Israil pun berhijrah tanpa banyak berhenti, semata agar tidak terkejar oleh pasukan Firaun. Namun, betapa cintanya Allah pada mereka, maka pada siang hari mereka dinaungi oleh gunung yang mereka kira adalah awan, malam hari mereka dituntun oleh tiang dari api.
Lalu, saat mereka mendapati Laut Merah menghadang di hadapannya, terbayang betapa tidak karuan perasaan kebanyakan Bani Israil saat itu. Di kejauhan mereka melihat pasukan Firaun datang mendekat, sementara di hadapan mereka Laut Merah menghadang. Lari menyusuri pantai berarti bunuh diri massal. Pantai adalah ladang pembantaian yang terbuka bagi mereka. Tak ada tempat untuk lari. Di tengah iman dan kepercayaan Bani Israil kepada Musa dan Allah yang tengah jungkir balik karena diuji seperti itu, ada seorang anak muda berusia belasan bernama Yusa bin Nun yang mengikuti dengan patuh “arahan” Nabi Musa. Dia mengarahkan kudanya memasuki laut sembari bertanya: "Terus ke sana ya Nabi Musa?". Musa mengiyakan, dan dia pun mengarahkan kudanya untuk terus memasuki air laut hingga setinggi lehernya dan bertanya lagi "Terus ke sana ya Nabi Musa?". Dan saat itulah Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut, dan Laut Merah pun terbelah. (Kelak anak muda inilah yang akan menemani Nabi Musa mencari dan menemui Nabi Khidir.)
Saat Laut Merah terbelah, Malaikat Jibril rupanya berdiri di tengah dasar laut itu. Hal itu terlihat juga oleh Samiri, sang Dajjal, yang kemudian "mengambil segenggam pasir dari tempat bekas berdirinya sang Ruhul Amin" sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran.
Lalu kita semua tahu bahwa Firaun beserta pasukannya ditenggelamkan saat mereka menyusul memasuki jalan di tengah Laut Merah yang terbelah, namun menjelang detik-detik tenggelam itu Firaun masih sempat menyatakan pertaubatan dan keimanannya.
Nah, sesampainya Bani Israil di seberang Laut Merah, apa yang terjadi? Setelah sekian banyak "mukjizat kosmik" dihadirkan di hadapan mereka oleh Allah melalui Nabi-Nya, Bani Israil begitu mudah lupa dan berpaling, mereka kemudian malah menyembah patung anak sapi emas (yang di buat dengan emas yang dibawa oleh Bani Israil dari Mesir) lalu "di campur" dengan pasir bekas jejak Ruhul Amin, sehingga anak sapi emas itu hidup dan berkata-kata (ingat, fungsi ruh adalah untuk menghidupkan), walau pun tidak lama.
Nabi Musa marah melihat itu semua, lalu beliau mengusir Samiri dan tidak membunuhnya (karena hanya "bayi yang lahir tanpa disentuh oleh setan" sajalah yang bisa membunuh Dajjal, dan sepanjang sejarah manusia, hanya ada dua bayi yang lahir tanpa disentuh oleh setan, yaitu Maryam [karena sudah dinazarkan oleh ibunya untuk Allah Ta’ala] dan Nabi Isa yang lahir dari rahim sang perawan suci, yang selalu mendapatkan makanan langsung dari Allah Ta’ala, lahir sudah dengan penyertaan Ruh Al-Quds). Kemudian, Nabi Musa pun membakar patung anak sapi emas itu hingga menjadi abu dan menebarnya ke lautan.
Lalu Bani Israil bertaubat, dan mereka disuruh "membunuh diri". Lalu ada mukjizat manna dan salwa, hidangan dari langit, tapi hati manusia begitu sering dengan mudahnya menjadi bebal. Mereka pun meminta bawang-bawangnya dan berbagai makanan dari kota, padahal di hadapan mereka ada hidangan dari langit.
Dan kemudian mereka melewati Gurun Tih, dan sampailah di suatu kota. Nabi Musa memerintahkan mereka menyerang kota itu (dengan sebelumnya mengirim 12 orang pemuda untuk memata-matai kota itu), namun mereka menolaknya. Hanya Kaleb dan Yusa bin Nun yang mendukung perintah itu. Tapi kebanyakan Bani Israil menolak. Dengan mudahnya mereka mengatakan agar Musa dan Tuhannya saja yang pergi berperang sebagaimana tertuang dalam Al-Quran. (Kalau tidak salah, saat itu Nabi Harun sudah meninggal dunia). Karena takut berperang, mereka pun kemudian merengek-rengek menyesali kepergiannya dari Mesir dulu, dan mereka merengek-rengek ingin kembali saja ke Mesir.
Begitulah, sekian mukjizat kosmik yang Allah turunkan melalui Nabi-Nya di hadapan mereka, ternyata itu semua tidak membuat mereka jadi beriman juga. Maka, mereka pun dihukum untuk luntang-lantung di Gurun Tih selama 40 tahun. (Hukuman ini pada akhirnya membuat anak-anak yang lahir dalam periode hukuman di Gurun Tih ini menjadi anak-anak yang kuat karena ditempa oleh panas dan kerasnya Gurun, sehingga merekalah nantinya yang akan diajak berperang oleh Nabi Yusa yang sudah tua untuk menaklukkan Yerikho.)
Mengerikan duh Gusti, ya Allah, ampuni aku, betapa hancurnya hati membayangkan itu semua. Mursyid pernah berkata bahwa mukjizat itu adalah semacam “langkah terakhir” untuk membuat "orang-orang yang kurang kuat akalnya" untuk beriman; bahwa Allah harus mengubah hukum alam sedemikian rupa untuk menunjukkan Kuasa-Nya. (Mursyid berkata, kalau orang menjadi beriman karena diperlihatkan mukjizat terlebih dahulu, maka orang itu “akalnya lemah”. Bayangkan oleh Anda, betapa kuatnya akal para sabiqunna awaalun yang bisa mengimani Rasulullah saw yang buta huruf itu, yang mantan penggembala domba, miskin dan yatim piatu itu, tanpa harus diperlihatkan mukjizat dulu di hadapan mereka. Luar biasa sekali para sabiquna awwalun tersebut.)
Saya ngeri ya Allah, betapa mudah hati ini untuk berpaling dan lupa. Setelah sekian mukjizat Allah “pertontonkan” ke hadapan Bani Israil, di tahap berikutnya begitu mudah mereka untuk lupa dan berpaling.
Selama 19 tahun bersuluk, tak terbayang sudah berapa ratus atau ribu kali saya lupa pada wejangan Mursyid Almarhum dan Mursyid Penerus; lupa, berpaling, dinasehati lagi, menyesal, menjadi baik untuk beberapa waktu, lalu lupa dan kemudian berpaling lagi. Begitu terus menerus polanya. Sedang mukijzat di depan mata saja bisa dilupakan dan diabaikan saat berpaling, apalagi nasihat dan pengajian yang berupa kata-kata, yang akan begitu mudah dilupakan.
Saya hancur membayangkan semua itu. Pantas saja Nabi Isa sampai melarikan diri dari orang bodoh seperti terbaca dalam puisi Rumi. Betapa Rasulullah saw pun tak sanggup mengubah hati pamannya untuk beriman. Betapa hati itu sangat mudah terbolak-balik. Ampun ya Gusti. 
Astagfirullah al-Adzim untuk ke sekian sekian sekian sekian kalinya T_T

0 comments:

Post a Comment