Wednesday, January 10, 2018

The Legend of Bagger Vance: A Novel of Golf and the Game of Life

“Bhagavad Gita artinya ‘Nyanyian Tuhan’ atau ‘Nyanyian Suci’. Kitab suci umat Hindu ini adalah bagian dari Bhisma Parwa dari Mahabharata yang disusun oleh Bhagawan Wyasa ... Isinya ialah pembicaraan antara Sri Krishna dan Arjuna dalam medan perang Kuruksetra di mana berhadapan antara saudara Pandawa dan Kaurawa. Pembicaraan ini dibukukan dalam 700 sloka...Bhagavad Gita juga disebut dengan lain nama, yaitu Upanishad, bagian akhir dari Weda-weda. Ini mengingat juga bahwa apa yang diajarkan oleh Sri Krishna sebagai Awatara dari Bhatara Wishnu adalah pengetahuan suci yang abadi dan diulangi dari zaman ke zaman bila keadaan dunia dalam kegelapan di mana umat manusia melupakannya ... Di sini Sri Krishna sebagai Awatara dari Bhatara Wishnu mengajarkan pada Arjuna bagaimana mencapai pembebasan diri, kebahagiaan yang abadi, mengatasi kesengsaraan hidup, dengan melaksanakan kewajiban di dalam hidup menurut Swadharma.” 
Begitulah penjelasan tentang Bhagavad Gita sebagaimana dituliskan oleh Prof. Dr. I. B. Mantra, salah seorang penerjemah otoritatif kitab tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
Bhagavad Gita adalah kitab paling muda dari semua teks agama Hindu yang diperkirakan baru ditulis sekitar 400 SM, dan malah ada yang menyatakannya baru ditulis sekitar 200 SM. Namun, menariknya, kitab ini justru mendapatkan popularitas paling besar dan bisa dibilang mempunyai kedudukan sentral dalam menyatukan banyak sekte Hindu yang berkembang di kemudian hari. Menurut Ronald W. Neufeldt, popularitas Bhagavad Gita baru dimulai pada abad sembilan belas, sebelum itu Bhagavad Gita dianggap sebagai salah satu kitab Upanishad yang hanya dikenal oleh kalangan elit atau kalangan Hindu terpelajar. Bagi Mahatma Gandhi, popularitas dan penerimaan yang luas atas Bhagavad Gita adalah dikarenakan nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, hal itu semakin cepat menyebar dan disukai karena Bhagavad Gita pun mudah dipahami sebab ditulis dengan bahasa Sanskrit yang sederhana, serta menawarkan nilai-nilai moral yang mudah dipahami oleh masyarakat biasa.
Bahkan, salah satu bentuk popularitas dari Bhagavad Gita di masa ini bisa kita lihat ketika kitab itu diadaptasi oleh Steven Pressfield menjadi novel berjudul “The Legend of Bagger Vance: A Novel of Golf and the Game of Life” yang kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun 2000 dengan judul “The Legend of Bagger Vance”. Film ini disutradarai oleh Robert Redford, serta dibintangi oleh sederetan bintang papan atas seperti Will Smith, Matt Damon dan Charlize Theron. 
Film ini bercerita tentang seorang pemain golf muda berbakat, yang kemudian menjadi tentara saat Perang Dunia I lalu mengalami trauma perang dan akhirnya menjadi seorang pemabuk penyendiri yang tak bisa lagi bermain golf (saat itu bersamaan dengan Amerika tengah mengalami Depresi Besar). Namanya adalah Rannulph Junah yang apabila disingkat namanya akan tertulis R. Junah. Saat akan diadakan pertandingan golf bergengsi yang diadakan oleh mantan pacarnya, putri seorang jutawan yang bunuh diri, dan mengundang para pegolf papan atas, Junah dipaksa untuk kembali ke lapangan golf. Pertandingan tersebut diadakan di Krue Island yang akan dengan mudah mengingatkan kita kepada medan pertempuran Kurus, Kuruksetra, dan ini mengingatkan pula pada beberapa lapangan golf paling terkenal di dunia yang ternyata dirancang oleh seorang pakar kamuflase militer, Alister Mackenzie. 
Entah dari mana asalnya, mendadak datang seorang caddy Afro-Amerika bernama Bagger Vance, yang apabila diucapkan namanya akan terdengar sebagai Bhagavan, nama lainnya dari Sri Krishna. Bagger Vance ini kemudian mengajarkan rahasia dari pukulan golf autentik yang ternyata juga menjadi rahasia untuk menguasai tantangan apa pun dan menemukan makna dalam hidup R. Junah. Dalam salah satu scene film itu muncul dialog sebagai berikut: 
Bagger Vance : “See, the trick is to find your swing.”
Rannulph Junuh : “What’d you say?”
Bagger Vance : “Well you lost your swing. We got to go find it. Now it’s somewhere... in the harmony... of all that is... All that was... All that will be...”
Untuk membangkitkan R. Junah dari keterpurukannya, Bagger Vance pun mengatakan: “Inside each and every one of us is one true authentic swing. Somethin’ we was born with. Somethin’ that’s ours and ours alone. Somethin’ that can’t be taught to ya or learned. Somethin’ that’s got to be remembered. Over time the world can rob us of that swing; it get buried inside us under all our wouldas and couldas and shouldas... Some folk even forget what their swing was like.”
Bhagavad Gita bermula dari dilema yang dihadapi oleh Arjuna. Ia tahu bahwa membunuh adalah perbuatan yang tercela. Tetapi apabila ia berhadapan dengan kejahatan, dalam hal ini diwakili oleh para Kurawa, apakah membunuh dibolehkan atau tidak. Dharma Arjuna sebagai satria (ksatriyadharma) mengharuskan dia untuk menegakkan keadilan, dan dengan demikian berarti membunuh Kurawa. Namun dharma Arjuna sebagai sanak saudara (kuladharma) bagi Kurawa mengharuskan ia untuk mengasihi mereka. Menariknya, dilema ini tidak dihadapi oleh Duryadana, di pihak Kurawa, yang merasa yakin bahwa perang yang ada di hadapannya adalah sebuah perang yang benar, untuk memperebutkan tahta kerajaan Astina, dan dharma-nya adalah menjadi seorang raja. 
Dalam dilema itu, Arjuna berniat ingin melarikan diri dari dharma-nya sebagai seorang satria, karena ia mengira dapat membebaskan diri dari karma buruk yang akan ditanggungnya jika ia tetap maju ke medan perang. Kesemuanya ini memberikan dilema yang berat bagi Arjuna, hingga dia tidak dapat melanjutkan untuk maju ke medan perang. Di titik inilah ia meminta bantuan kepada Sri Krishna, penasehatnya, sekaligus kusirnya di medan perang. Sri Krishna pun menegur paham Arjuna yang melihat bahwa melarikan diri dari tindakan adalah solusi dari dilemanya, maka dimulailah percakapan tentang dharma dalam Bhagavad Gita.
Kata “Dharma” berasal dari bahasa Sanskerta, akar katanya adalah “dhr” (baca: dri) yang artinya menjinjing, memangku, memelihara, mengatur, atau menuntun. Akar kata “dhr” ini kemudian berkembang menjadi kata dharma yang mengandung arti hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta beserta segala isinya. Dalam hubungan dengan peredaran alam semesta, kata dharma dapat pula berarti kodrat (diri). Sedangkan dalam kehidupan manusia, dharma dapat berarti ajaran, kewajiban atau peraturan-peraturan suci yang memelihara dan menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup yaitu tingkah laku dan budi pekerti yang luhur.
Istilah ‘agama’ dengan ‘dharma’ mempunyai pengertian yang sulit dibedakan, maka dalam kaitannya dengan nama agama, Hindu biasa juga disebut Hindu Dharma, bahkan di India lebih umum nama ini dipakai. Konsep dharma itu penting untuk memahami Bhagavad Gita, sebuah konsep yang berkembang di India, namun tidak terbatas pada ajaran agama baik Hindu atau pun Buddha. Dharma adalah sebuah kata yang sulit untuk diterjemahkan, bahkan Agama Hindu menyebut dirinya sebagai Sanatana Dharma. 
Secara sempit, dharma bisa diterjemahkan sebagai kewajiban, semacam tatanan kehidupan, yang merupakan hukum universal yang mengatur seluruh alam semesta, bahkan sebelum penciptaan. Contohnya, adalah dharma seekor kerbau untuk memamah biak, adalah dharma seekor ular untuk menjadi pemangsa. Kehidupan di dunia ini berjalan bila masing-masing makhluk, baik yang hidup atau yang mati, menjalankan dharma-nya. Secara lebih spesifik, dharma dalam tradisi Weda berarti penerapan dari dharma yang universal itu sendiri, yaitu segala macam kewajiban hidup yang sesuai dengan hukum universal.
Bahwa pada awalnya ada keserupaan antara konsepsi Yunani tentang manusia dengan Hinduisme, dan dalam hal ini adalah konsep tentang aretè yang sering diterjemahkan menjadi kebajikan (virtue), digunakan dalam bentuk tunggal maupun plural. Aretè berarti menjadi baik pada sesuatu, dan adalah sudah lumrah apabila orang Yunani bertanya “aretè dari apa atau siapa?” yang secara sepintas seringkali dipahami orang sebagai ‘efisiensi’. 
Pada abad kelima muncul para guru Sofis yang juga mengajarkan aretè namun belum dalam pengertian etis sebagaimana yang dikemukakan oleh Sokrates, Platon, atau pun Aristoteles; ketiga pemikir ini mengubah aretè menjadi kata sifat anthropine yaitu suatu keunggulan yang dimiliki oleh setiap manusia dalam kehidupannya. Namun mereka pun menekankan bahwa pada kenyataannya kebanyakan manusia tidak mengetahui aretè tersebut, dan oleh karena itu manusia harus mencari serta menemukan ergon (amal)-nya sehingga manusia dapat mengetahui apa keunggulannya di muka bumi ini. 
Aretè mengungkapkan kualitas-kualitas diri seseorang, keluhuran, kemanfaatan, dan kebaikan dalam memberikan pelayanan; keunggulan yang dimiliki (functioning excellence). Bila seseorang menjalankan fungsi yang dirancang untuknya dan ia melakukannya dengan sempurna maka ia dipandang memiliki aretè; ia cakap di bidang itu, misalnya, aretè sebuah alat pangkas adalah untuk memotong dahan-dahan pohon di mana ia dirancang untuk tujuan itu dan melakukan tugas itu lebih baik daripada yang lainnya. Sejauh ia sanggup melakukan fungsinya dengan baik, ia mempunyai aretè. Dalam hal ini, kata aretè ini dapat dipadankan dengan dharma yang ada dalam agama Hindu.

0 comments:

Post a Comment