Sunday, January 14, 2018

Umar Farooq ibn Al Khattab



Suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, Amirul Mu‘minin ‘Umar bin Khaththab membaca doa: “Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah).” (HR Malik) 
Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji tersebut, ‘Umar pun menceritakan ihwal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, “Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya.”
Dengan ringan, ‘Umar menjawab, “Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
‘Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw, yaitu Al-Faruq, yang berarti “orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.” 
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “‘Umar bin Khaththab meminta izin kepada Rasulullah saw, sementara itu dalam majelis beliau banyak sekali wanita-wanita Quraisy yang bicara kepada beliau dengan suara keras yang melebihi suara beliau saw. Ketika ‘Umar bin Khaththab meminta izin masuk, maka mereka bangkit dan buru-buru mengenakan hijab (penutup seluruh tubuh) kemudian Rasulullah saw mengizinkannya masuk, maka ‘Umar masuk sementara Rasulullah saw tertawa, maka ia berkata, ‘Semoga Allah membukakan gigimu (untuk tertawa) wahai Rasulullah.’
Nabi saw bersabda, ‘Aku kagum dengan wanita-wanita yang berada dalam majelisku ini, tatkala mereka mendengar suaramu, maka dengan cepat mengenakan hijabnya.’
‘Umar berkata, ‘Padahal engkau paling berhak ditakuti oleh mereka, wahai Rasulullah.’ Kemudian ‘Umar melanjutkan, ‘Wahai musuh-musuh diri kalian sendiri, apakah kalian takut kepadaku dan tidak takut kepada Rasulullah saw?’
Mereka menjawab, ‘Ya, sebab engkau lebih tajam (kata-katanya) dan lebih keras dari Rasulullah saw.’
Nabi saw bersabda, ‘Sudahlah wahai putra Al-Khathab. Demi Dzat yang jiwaku ada pada-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu berjalan pada suatu jalan yang sama kecuali ia mencari jalan selain jalanmu.’” (HR Bukhari dan Muslim)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Rumi pernah menjelaskan hal ini, yaitu bagaimana setan bisa mendekati Nabi—sebuah hadits menyatakan bahwa “Setan lari dari bayangan ‘Umar”—bahwa “Muhammad adalah sebuah samudera, sedangkan ‘Umar sebuah cangkir. Kita tidak melindungi samudera dari air ludah anjing, sebab samudera tidak akan cemar hanya oleh mulut anjing, sedangkan sebuah cangkir akan tercemar; sebab isi sebuah benda yang kecil akan berubah menjadi buruk akibat jilatan seekor anjing.” Dengan demikian, apa pun yang tampaknya merupakan materi tidak suci yang menyentuh Nabi, tidak akan mengubah kesucian pribadinya yang bagaikan samudera.
Namun, di sisi lain, jika kita mau mengamati dalam sejarah bahwasanya selama ‘Umar masih hidup dan bahkan ketika beliau menjadi khalifah, kehidupan kaum Muslim relatif aman. Para tukang fitnah dan setan yang mengipas-ngipasi mereka seperti mati kutu. Kenapa? Karena selain seperti hadits yang Rasulullah sabdakan di atas, ihwal setan yang lari dari ‘Umar, maka sebagai orang yang pernah lama hidup dalam dunia kelam, ‘Umar tentu saja sangat paham akan sepak terjang serta pola pikir para pendosa dan alam syaithan. Akibatnya, mereka mati gaya selama ‘Umar masih hidup.
Hudzaifah ra pernah berkata: Dahulu kami duduk-duduk bersama ‘Umar, lalu dia mengatakan, “Siapakah di antara kalian yang masih hafal hadits Rasulullah saw yang mengisahkan tentang fitnah persis sebagaimana yang beliau katakan?”
Maka aku katakan, “Aku.”
Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kamu telah berani angkat bicara, maka bagaimanakah yang beliau katakan tentangnya?”
Aku katakan; “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Fitnah yang timbul pada diri seseorang karena keluarganya, harta, jiwa, anak maupun tetangganya, maka itu semua akan bisa terhapus akibatnya dengan menjalankan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma‘ruf serta nahi munkar.’” 
Maka ‘Umar pun berkata: “Bukan itu yang aku maksudkan, yang aku inginkan adalah cerita tentang fitnah yang datangnya bergelombang bagaikan ombak lautan.” 
Maka Hudzaifah berkata: Aku katakan kepadanya, “Tidak ada urusan apa-apa antara Anda dengannya, wahai Amirul mukminin. Sesungguhnya antara Anda dengan fitnah itu terdapat pintu gerbang yang terkunci.” 
Maka ‘Umar bertanya: “Apakah pintu itu nanti akan didobrak atau dibuka?” 
Hudzaifah berkata: Aku katakan: “Tidak, akan tetapi pintu itu akan didobrak.” Maka ‘Umar berkata, “Kalau demikian, maka tentunya pintu itu tidak akan bisa terkunci untuk selamanya.” 
Maka para sahabat pun bertanya kepada Hudzaifah: “Apakah ‘Umar mengetahui siapakah yang dimaksud dengan pintu itu?” 
Maka Hudzaifah menjawab: “Iya, sebagaimana dia tahu bahwa setelah malam ini akan datang esok hari. Sesungguhnya aku telah menceritakan kepadanya suatu hadits yang bukan termasuk perkara yang rumit.” 
Perawi berkata: “Marilah kita tanyakan kepada Hudzaifah siapakah yang dimaksud dengan pintu itu, maka kami pun bertanya kepada Masruq: ‘tanyakanlah kepadanya.’ Maka dia pun bertanya kepada Hudzaifah, lalu dia menjawab: ‘Pintu itu adalah ‘Umar.’” (HR Bukhari - Muslim)
Dan setelah ‘pintu fitnah itu didobrak’, yaitu terbunuhnya ‘Umar bin Khaththab, kita semua menyaksikan bagaimana para pendosa, penyebar fitnah beserta syaithan yang mengipas-ngipasinya seperti ‘merayakan kebebasan’ untuk membuat banyak kekacauan di tengah umat Islam saat itu hingga berujung pada terbunuhnya Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra. Bahkan ketika menjelang ajalnya, dalam pangkuan sahabat yang memegangi ‘Umar yang tengah meregang nyawa sempat berkata: “Bukankah aku adalah pintu fitnah yang Rasulullah pernah katakan?” Dan sejarah mencatat bahwa sepeninggal beliau, umat Muslim kala itu dilanda “fitnah yang datangnya bergelombang bagaikan ombak lautan.”
Hal ini dikuatkan pula dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dzar ra. Suatu hari ‘Umar bertemu dengan Abu Dzar dan dia langsung menggandeng tangan Abu Dzar dengan kuat sehingga Abu Dzar berkata setengah berteriak: “Lepaskan tanganku, wahai penghalang fitnah!”
Dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa Abu Dzar ra pernah berkata sambil menunjuk kepada ‘Umar: “Ketahuilah, fitnah tidak aman terjadi selama engkau masih hidup.”
Demikian juga Utsman bin Mazh‘un pernah berkata kepada ‘Umar: “Wahai pengunci fitnah!”
Abdullah bin Salam ra pernah berkata kepada ‘Umar: “Aku melihat dalam Taurat bahwa engkau ini adalah salah satu gerbang menuju neraka Jahanam.” Maka ‘Umar berkata: “Tafsirkanlah untukku (ungkapanmu itu).” Abdullah bin Salam berkata: “Engkau adalah pintu yang menutupinya agar orang-orang tidak dapat memasukinya, tetapi sepeninggalnya terbukalah pintu itu.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Di antara sebagian sahabat, Mughirah bin Syu'bah memiliki seorang budak yang bernama Fairuz yang dijuluki dengan sebutan Abu Lu‘lu‘ah Al-Majusi. Pada suatu hari, Abu Lu‘lu‘ah mengadu kepada ‘Umar bahwa uang yang dipatok Mughirah untuk pekerjaannya sangat besar, sedangkan ia tidak mampu membayarnya. ‘Umar bin Khaththab kemudian berkata: “Harga ini cukup, takutlah kepada Allah dan berbuat baiklah pada tuanmu.”
Abu Lu‘lu‘ah Al-Majusi kemudian pergi mengadukan ‘Umar kepada orang-orang bahwa ia telah berbuat adil kepada seluruh manusia kecuali kepada dirinya. Dia berkata: “‘Umar telah memakan hatiku!” Dari sinilah sebuah konspirasi berawal yang dipelopori oleh empat orang. Abu Lu‘lu‘ah adalah salah satu dari empat sumber konspirasi tersebut. Dua orang lainnya adalah Majusi dan Yahudi.
Pada suatu hari, tatkala Al-Faruq bersama sahabatnya, ia melihat Abu Lu‘lu‘ah. Lantas ‘Umar berkata kepadanya: “Aku telah mendengar bahwa engkau mampu membuat penggilingan yang dapat digerakkan dengan angin.” Kemudian Abu Lu‘lu‘ah memandang ‘Umar dan berkata: “Aku akan membuatkan untukmu penggilingan yang bisa berbicara dengan manusia.” Mendengar itu para sahabat merasa senang.
Umar bin Khaththab kemudian berkata kepada mereka: “Apakah kalian merasa senang?” 
Mereka menjawab: “Ya!” 
‘Umar kemudian berkata: “Sesungguhnya ia mengancam hendak membunuhku.” 
Mendengar penjelasan Umar, para sahabat lalu berkata: “Kalau begitu kita bunuh saja dia!” 
‘Umar berkata: “Apakah kita hendak membunuh seseorang dengan prasangka? Demi Allah, aku tidak akan bertemu dengan Allah sedangkan di leherku terdapat darah lantaran prasangka.” 
Mereka berkata: “Jika begitu, kita lenyapkan saja dia.” 
‘Umar berkata lagi: “Apakah aku akan berbuat zalim terhadap seseorang dan mengeluarkannya dari dunia lantaran prasangkaku bahwa dirinya akan membunuhku? Sekiranya Allah hendak mencabut nyawaku melalui kedua belah tangannya, niscaya urusan Allah itu merupakan takdir yang telah digariskan.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Suatu hari saat menjelang subuh, ‘Umar bin Khaththab pun berkeliling kota guna membangunkan umat muslim untuk shalat subuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur shaf (barisan) dan mengimami para jamaah. 
Akan tetapi, di antara kegelapan subuh tersebut, bersembunyi Abu Lu‘lu‘ah Al-Majusi di dekat masjid, menunggu kedatangan ‘Umar, dan ia tetap berada di tempat itu sampai akhirnya ‘Umar masuk masjid. 
Dan, saat ‘Umar mengucapkan takbiratul ihram, Abu Lu‘lu‘ah keluar dari persembunyiannya lalu menikamkan sebilah pisau ke ‘Umar. Tusukan pertama mengenai dada, kedua mengenai perut dan terakhir mengenai bagian bawah pusar. Darah pun menyembur.
Namun, Khalifah yang juga diberi julukan “Singa Padang Pasir” ini tak bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Namun, sekuat apa pun ‘Umar bertahan, toh akhirnya tubuh beliau roboh juga di samping mihrab. Meski demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin ‘Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.
Saat itu, beliau sendiri mengulang-ulang Firman Allah: “Dan ketentuan Allah adalah takdir yang pasti terjadi.” (QS Al-Ahzab [33]: 38)
Lalu Abdurrahman bin Auf pun maju menggantikan ‘Umar untuk menyelesaikan shalat Jamaah tersebut. Adapun setelah menusuk ‘Umar, Abu Lu‘lu‘ah menerobos ke shaf shalat umat muslim dengan pisaunya yang diayun-ayunkan ke kiri dan kanan. Ada 13 orang yang terkena pisau itu, tujuh di antaranya meninggal dunia. Lalu ia berhenti mengayunkan pisaunya lalu menghunuskannya. Setiap orang yang mendekati, pasti diserangnya, hingga ada seseorang yang melempar sebuah kain selendang tebal ke arahnya. Abu Lu‘lu‘ah pun terhuyung-huyung. Karena merasa umat muslim akan segera meringkusnya, maka seketika itu juga ia tikamkan pisau itu ke tubuhnya sendiri. Abu Lu‘lu‘ah membunuh dirinya sendiri.
Sementara ‘Umar, beberapa saat setelah ditikam, kesadarannya datang dan hilang silih berganti. Para sahabat yang mengelilinginya sedemikian cemas akan keselamatan ‘Umar Al-Faruq. Lalu salah seorang di antara para sahabat berkata, “Jika beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!”
Maka, para sahabat yang hadir pun serentak berkata: “Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan.”
Beliau langsung tersadar, “Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat.” Lalu, beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Namun, tak lama kemudian, sahabat dan mertua Rasulullah saw ini pun ambruk kembali.
Ketika Umar bin Khaththab siuman, Ibnu Abbas berkata, “Shalatlah, wahai Amirul Mukminin.” Al-Faruq menoleh ke arahnya seraya berkata: “Aku hendak berwudhu untuk mengerjakan shalat.” Mereka kemudian membangunkan Umar untuk wudhu, sedangkan lukanya terus mengeluarkan darah. Dengan keadaan begitulah ‘Umar menuntaskan shalat subuhnya,
: : : : : : : : : : : : : : : : :
‘Umar pun dibopong ke rumahnya. Orang-orang yang menunggui di sekitarnya pun menangis. ‘Umar pingsan hingga menjelang matahari terbit. Ketika sadar, dipandanginya wajah orang-orang di sekelilingnya. Pertanyaan yang pertama kali ia ucapkan adalah: “Apakah manusia sudah shalat?”
“Sudah,” jawab mereka semua.
“Segala puji bagi Allah. Sesungguhnya tak dianggap Islam orang yang meninggalkan shalat,” seru ‘Umar.
Saat itu darah terus mengalir dari lukanya, sehingga para sahabat pun menutupinya dengan kain sorban. Lalu ‘Umar pun bertanya kepada Ibnu Abbas: “Lihatlah siapa yang telah membunuhku?”
“Seorang budak majusi. Beberapa orang juga telah diserangnya, lalu dia bunuh diri,” jawab sahabat lainnya.
“Segala Puji Bagi Allah yang menjadikan pembunuhku tidak dapat memusuhiku di hadapan Allah dengan satu sujud pun,” tutur beliau. “Apakah ia telah bersepakat dengan salah seorang dari kaum muslimin?” tanya ‘Umar. 
Ibnu Abbas lantas keluar seraya bertanya kepada kaum muslimin, “Wahai kaum muslimin sekalian! Apakah ada seorang di antara kalian yang bersekongkol dengan Abu Lu‘lu‘ah?”
Mendengar hal itu, tangis umat Muslim semakin keras. Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh kami ingin menambahkan umur kami kepada ‘Umar bin Khaththab.” Kaum muslimah pun berkata: “Demi Allah, kematian anak-anak kami lebih kami sukai daripada matinya ‘Umar bin Khaththab.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Setelah itu, tabib datang mengobati luka beliau. Kemudian tabib itu berkata kepada ‘Umar, “Wahai Amirul Mukminin berwasiatlah. Aku yakin kalau tidak hari ini, pasti besok engkau akan meninggal.”
‘Umar menjawab, “Engkau benar. Andai saja engkau tidak mengucapkan yang seperti tadi, pasti kau telah berbohong. Demi Allah, seandainya aku miliki semua isi dunia, akan aku gadaikan demi menghadapi dahsyatnya suatu hari saat menghadap Allah,” lanjutnya.
Luka tusuk pada ‘Umar sangatlah parah. Bahkan ketika dia diberi minum air kurma dan diminumnya, air itu keluar dari tenggorokannya. Begitu juga saat diberi air susu, dan beliau meminumnya, maka air susu itu keluar dari lukanya.
Para sahabat mengetahui bahwa beliau akan meninggal. Kemudian datanglah manusia dan memujinya, Tiba-tiba datanglah seorang pemuda dan berkata kepadanya, “Berbahagialah engkau wahai Amirul Mukminin, Kau menjadi sahabat Rasulullah, kemudian menjadi khalifah yang adil, lalu mati syahid.”
Kemudian ‘Umar berkata, “Aku cukup senang ketika keluar dari dunia dalam keadaan telah melaksanakan semua tugas. Tak perlu tambahan pujian bagiku.”
Rasa sakit yang dialami ‘Umar bertambah parah. Abdullah bin ‘Umar, putranya berkata: “Ayahku pingsan, lalu kuletakkan kepalanya di atas tanganku, ketika dia sadar.
Namun rasa sakit yang dialami ‘Umar bertambah parah, dan Abdullah bin ‘Umar pun berkata: “Ayahku pingsan lagi, lalu kuletakan kepalanya di atas tanganku, ketika dia sadar. Lalu ‘Umar berkata: ‘Letakkan kepalaku di atas tanah.’ Lalu dia pingsan kembali. Kupegangi kepalanya dengan tanganku. Ketika dia sadar kembali, ia mengulangi pintanya: ‘Letakkan kepalaku di atas tanah.’ Aku berkata: ‘Wahai Ayah, apakah tidak sama saja antara tanganku dan tanah?’ ‘Umar menjawab: ‘Temukan wajahku dengan tanah. Semoga Allah mengasihaniku. Kalau aku sudah mati, segeralah kubur aku. Yang demikian adalah kebaikan yang kau segerakan bagiku, atau sebuah kejelekan yang kau lepaskan dari pundak kalian.’ ‘Umar berkata: ‘Celakalah ‘Umar, celakalah Ibunya, jika Allah tidak mengampuninya.’” 
Lalu tubuhnya pun melemah. 
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Beberapa hari sebelum kematiannya, ‘Umar bin Khaththab bertanya kembali kepada Hudzaifah bin Yaman tentang orang yang disebut Rasulullah saw termasuk dalam golongan orang-orang munafik. ‘Umar berkata: “Aku bersumpah kepadamu, apakah Rasulullah saw memasukkan aku dalam nama-nama orang munafik?” 
Hudzaifah lalu menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, sudah aku katakan kepadamu bahwa Rasulullah saw tidak memasukkanmu ke dalam golongan orang-orang munafik.” 
‘Umar kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah.”
Kemudian ia menatap Hudzaifah: “Beritahukan kepadaku tentang fitnah yang akan menenggelamkan umat!” 
Hudzaifah kemudian berujar: “Sesungguhnya antara dirimu dan fitnah tersebut terdapat pintu yang menutup selama engkau hidup.” 
‘Umar lantas berkata: “Wahai Hudzaifah, apakah pintu itu akan dibuka ataukah didobrak?” 
Hudzaifah menjawab: “Pintu itu akan didobrak!” 
‘Umar bin Khaththab kemudian berkata lagi: “Jikalau begitu, ia tidak akan kembali ke tempatnya.” 
Hudzaifah menimpali: “Benar, wahai Amirul Mukminin.” 
Setelah itu Umar berdiri dan menangis. Lalu orang-orang bertanya kepada Hudzaifah tentang fitnah dan pintu itu. Hudzaifah menjawab: “Pintu itu adalah Umar. Jika ‘Umar bin Khaththab meninggal, maka pintu fitnah itu akan dibuka.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Abdullah bin Abbas kemudian masuk menemui ‘Umar bin Khaththab lalu mengusap dada Al-Faruq seraya berkata, “Wahai Amirul Mu‘minin, tenanglah. Engkau telah berhukum dengan kitab Allah dan engkau telah berlaku adil kepada sesama.” 
Mendengar hal itu, ‘Umar tersenyum lalu berkata, “Apakah engkau bersaksi untukku dengan hal ini pada hari kiamat kelak?” 
Ibnu Abbas kemudian menangis. Umar lalu menepuk bahunya seraya berkata lagi, “Apakah engkau akan bersumpah untukku pada hari kiamat kelak bahwa aku telah berhukum dengan kitab Allah dan berlaku adil?” 
Ibnu Abbas lalu menjawab, “Aku akan bersaksi untukmu, wahai Amirul Mu‘minin.” 
Ketika itu Ali bin Abi Thalib menimpali: “Dan aku akan bersaksi pula untukmu, wahai Amirul Mu‘minin.”
‘Umar bin Khaththab kemudian berkata: “Lalu bagaimana dengan hutang-hutangku? Aku takut bila menghadap Allah, sedangkan aku masih memiliki hutang.” 
Kemudian para sahabat menghitung semua hutang-hutangnya. Setelah usai menghitung, terbilanglah bahwa hutangnya sebanyak delapan puluh enam ribu dirham.
Setelah itu, para sahabat mengumpulkan harta mereka untuk melunasi hutang-hutang ‘Umar bin Khaththab hingga ketika ia bertemu dengan Allah, ia tidak memiliki hutang. Sepekan setelah kematian ‘Umar, terkumpullah harta tersebut lalu dibayarkan kepada Khalifah Utsman bin Affan, sehingga, setelah itu, ‘Umar bin Khaththab telah terbebas dari tanggungan hutang mana pun.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Pada detik-detik terakhir menjelang kematiannya, ‘Umar meminta puteranya menghadap Ummul Mu‘minin Aisyah ra untuk meminta izin agar setelah kematiannya nanti ia dikuburkan di dekat makam Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia berkata kepada puteranya: “Katakanlah kepada Aisyah ra, ‘Umar meminta izin dan jangan engkau katakan Amirul Mukminin meminta izin, sebab aku tidak patut sebagai pemimpin bagi kaum muslimin. Dan katakan kepadanya bahwa ‘Umar tidak akan merasa tenang sehingga ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya, dan ia meminta izin kepadamu. Jika ia mengizinkanku, maka segeralah datang kemari menemuiku!”
Ketika Abdullah bin ‘Umar tiba di tempat Ummul Mukminin, ia mendapatinya tengah menangis. Aisyah sadar, kematian ‘Umar itu sama halnya dengan terbukanya pintu-pintu fitnah. Ibnu ‘Umar kemudian berkata kepadanya: “Dia meminta kepadamu agar ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya.” 
Mendengar hal itu, Aisyah menjawab: “Sebenarnya aku ingin agar tempat itu untukku. Jika ‘Umar menginginkannya, maka aku mengutamakan dirinya daripada diriku.”
Setelah itu, Abdullah bin ‘Umar kembali menemui bapaknya untuk memberi kabar gembira tersebut. ‘Umar bertanya kepadanya: “Apa yang ia katakan padamu, wahai Ibnu ‘Umar?”
Abdullah menjawab: “Wahai Amirul Mu‘minin, aku beritahukan kabar gembira untukmu bahwa ia telah mengizinkanmu.” 
Mendengar hal itu, ‘Umar berkata: “Alhamdulillah.” Lalu ia kembali berkata: “Wahai Ibnu ‘Umar, jika aku telah mati, bawalah aku dan baringkanlah aku di depan pintu Aisyah, lalu katakanlah bahwa ‘Umar meminta izin. Boleh jadi ia mengizinkanku ketika aku masih hidup karena merasa malu kepadaku.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Sebelum ‘Umar bin Khaththab meninggal, ia telah memilih enam orang di antara para sahabat yang akan menggantikannya menjadi khalifah. Mereka adalah, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa‘ad bin Abu Waqqash dan Abdurrahman bin Auf. Ketika puteranya diusulkan menjadi salah satu dari Dewan Syura, ia berkata: “Cukuplah satu saja keluarga ‘Umar bin Khaththab yang akan ditanya tentang urusan manusia pada hari kiamat kelak.”
Umar bin Khattab meninggal pada hari Rabu, tanggal 23 Dzulhijjah. Tepatnya, pada tahun 23 Hijriyah. Seluruh penduduk Madinah menangisi kepergiannya, dan ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya. Dengan kematiannya ini, maka terdobraklah pintu fitnah yang datang seperti ombak di samudera yang tetap ada di tengah umat Muslim hingga hari ini.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Rabbanâ lâ taj‘alnâ fitnatan lilladzîna kafarû waighfir lanâ rabbanâ innaka anta al‘azîzu alhakîmu.
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Mumtahanah [60]: 5)

0 comments:

Post a Comment