Sunday, March 25, 2018

Keberuntungan Waktu

"Setiap waktu itu ada rizki terbaiknya. Itu yang harus kita baca. Jika sampai tidak terbaca, itu karena buta hati, penglihatan dibawa oleh mata nafsu.
Setiap orang, secara jasadiyah diikat oleh takdirnya. Misalnya seorang yg harus bekerja untuk keluarganya. Tapi yang diikat kan hanya jasadnya. Imajinasi, ruhani, intelektual (aql batinniyah) tetap bisa mengembara kemanapun, untuk menemukan rizki terbaiknya pada setiap waktu.
Yang dibutuhkan bukan hanya hati yg suci, tapi juga himmah (hasrat yang besar) untuk dibimbing Allah dalam berjalan. Sebab tanpa himmah, kita akan dirampok oleh banyak hal di perjalanan: pekerjaan, harta, keluarga, harga diri, khawatir masa depan... semua hal akan merampok kita."

Gambar Makhluk Bernyawa

Assalamualaikum wr wb
Kang Al, beberapa waktu ini, saya sedang belajar tentang diri saya sendiri. Ditulis begini juga saya tak yakin bisa mengungkapkan kegelisahan yang saya alami hari ini.
Saya sedang belajar tak mengolok-olok (atau semacamnya) atas pendapat, tafsiran, dll yang berseberangan dengan yang saya yakini. Pada tahap selanjutnya, saya sedang memeriksa diri saya sendiri. Banyak hal atau langkah atau putusan yang saya ambil, sedang saya pertanyakan sendiri. Salah satunya tentang hobi saya.
Saya punya hobi melukis. Yang bernyawa juga. Kang Al pasti tahu banyak dalil atau nash yang melarang ini, bahkan diriwayatkan sampai Bukhari dan Muslim, sebab saya menemukan dalih lain, bahwa saya melukis bukan untuk disembah, maka saya teruskan. Tak sesederhana ini, tapi kurang lebih intinya begini.
Seperti yang sering Kang Al singgung, kebanyakan, kita bisa seeenaknya bersilat lidah. Bahkan nash pun bisa diputarbalikan tafsirannya hanya karena tidak cocok dengan hidup yang kadung telah kita sukai terlebih dahulu. Nash hanya jadi pelengkap. Yang cocok dengan arah hidup dipatenkan, yang tak cocok, ditafsir ulang. Kurang lebih begitu
Saya hari ini agak menggigil. Ada gap besar antara nash dengan diri saya sendiri. Keterpisahan. Ketidaksatuan. Saya harus akui, nash saya jadikan dalil saja. Pelengkap, legitimasi.
Saya kurang bisa menjelaskan bagaimana isi kegelisahan saya lewat tulisan. Barangkali Kang Al ada perspektif. Maaf sebelumnya mengganggu waktunya. Tapi saya menulis ini dengan sebenar-benarnya. Dengan kesungguhan. Jazakumullah ahsanal jaza. Saya ingin berubah, Kang Al.
Lukisan hanya contoh saja. Banyak aspek lain dalam hidup ini juga saya perlakukan sama, kurang lebih.
Wa ‘alaikum salam wr. wb.
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Assalamu’alaikum wr wb
Terima kasih untuk kepercayaannya meminta pendapat saya, padahal saya ini siapa sih... Kita tentu tahu ihwal pelarangan penulisan hadits saat Rasulullah saw masih hidup, salah satunya adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibn Said Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda: “Jangan menulis apa pun dariku kecuali Al-Qur‘an. Siapa saja yang menulis sesuatu selain Al-Quran harus menghapusnya.” (HR Muslim dan HR Ahmad)
Itulah yang membuat penulisan hadits sempat dilarang untuk sekian lama. Namun, ihwal sejarah penulisan hadits, di zaman informasi seperti sekarang, Anda bisa mendapatinya dengan mudah, mulai dari googling hingga mencari buku-bukunya yang dijual secara online.
Di sini, saya lebih ingin mengajak kita membahas ihwal kenapa Rasulullah saw melarangnya. Dalam salah satu hadits yang saya temukan dalam kitab Ihya Ulumuddin, Rasulullah saw pernah bersabda: “Kami, para Nabi, diperintahkan menempatkan masing-masing orang pada tempatnya dan berbicara dengan mereka menurut tingkat pemikirannya.”
Lihatlah, bagaimana perintah Allah kepada para Nabi tersebut. Menempatkan setiap orang pada tempatnya, bukan ‘asal tempel’ aja, karena setiap orang Allah ciptakan dengan tujuan khusus. Bahwa Rasulullah saw itu menjadi Nabi bukan dengan cara bersaing dengan Abu Bakar, ‘Umar, Utsman dan Ali, namun, karena satu dan lain hal, maka beliau saw yang jadi pemenang persaingan tersebut sehingga terpilih jadi Nabi. Begitu pula pemimpin, bukan karena seseorang itu selebritis dan terkenal maka dia pasti bisa memimpin dan memakmurkan suatu daerah atau bahkan negara.
Tapi, di zaman ini, yang sering berlaku adalah pandangan anti-esensialisme, dalam pengertian apa pun dan siapa pun bisa menjadi apa pun, terserah, tak ada cetak biru yang harus dituju. Pandangan semacam ini adalah pandangan khas dalam filsafat Barat (post)modern, yang, entah disadari atau tidak, diamini juga oleh sebagian Muslim berpendidikan. Sehingga, salah satu dampaknya, tidak setiap Muslim akan tersentuh dan tercerahkan saat dikatakan: “Allah menciptakan kita dengan misi hidup khusus bagi setiap diri, dan tanda paling mudah terlihat secara lahiriah adalah kita dibuat mudah mengerjakan suatu hal dan tidak hal yang lain.”
Biasanya perlu sekian kegagalan dan masalah berat dulu bagi sebagian muslim agar mulai menyadari dan membutuhkan makna hidup terkait berbagai pertanyaan ihwal siapa saya, untuk apa saya diciptakan lalu disimpan di muka bumi ini, dan kenapa saya dimudahkan melakukan ini dan bukan melakukan itu, dan lain sebagainya. Maulana Jalaluddin Rumi pernah mengatakan bahwa sehat dan kaya itu seringkali jadi hijab bagi manusia. Saat mereka jatuh sakit atau jatuh miskin, barulah Allah ‘terlihat’ dan ‘dibutuhkan’, lalu hidup pun mulai dipertanyakan dan direnungi.
Sedangkan terkait “berbicara dengan mereka menurut tingkat pemikirannya” kita bisa mengingat hadits dari Abu Hurairah ra: “Aku menghafal dua karung hadits dari Rasulullah saw. Yang satu karung telah kuberitakan, adapun yang satu karung lagi seandainya aku beritakan niscaya akan dipotong orang leherku ini!”
Nah, sebagai seorang Nabi, Rasulullah akan selalu berbicara sesuai tingkat pemikiran orang yang ada dihadapannya. Apalagi kita juga ingat 4 (empat) sifat Nabi, yaitu (1) Shiddiq, yaitu benar baik perkataan maupun juga perbuatannya; (2) Amanah, yaitu benar-benar bisa dipercaya jika diserahkan suatu urusan serta dilaksanakan dengan sebaik-baiknya; (3) Tabligh, yaitu menyampaikan segala firman Allah untuk manusia juga pengajaran bagi manusia sesuai amanah; (4) Fathanah, yaitu cerdas, baik dalam menyampaikan ayat-ayat Al Quran kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits sesuai tingkat pemikiran orang ataukhalayak yang ada di hadapannya.
Keempat sifat Nabi ini saja sudah menunjukkan bahwa tak mungkin beliau saw akan, misalnya, ‘memberikan pelajaran mahasiswa S3’ kepada ‘anak Taman Kanak-kanak’... Itu sudah menyalahi tugas kenabian dan tak sejalan sama sekali dengan sifat Nabi.
Karena itu, silakan buka buku-buku hadits, lalu bandingkan sendiri: seperti apa perkataan Rasululah jika sedang berkhutbah di hadapan banyak orang, atau sedang berbicara pada seorang Arab Badui, dan seperti apa perkataan Rasulullah jika sedang berbicara dengan para sahabat dekatnya; atau dalam ilmu hadits dikenal sebagai hadits ahad.
Jika ada seorang Arab Badui bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu agama (ad-din)?” maka Rasulullah menjawabnya, “Agama itu adalah tidak berbohong” atau dalam hadits lain, Rasulullah menjawabnya “Agama itu adalah tidak marah.” Tapi coba kalau yang bertanya adalah Ali bin Abi Thalib, jangan heran kalau jawabannya adalah “Awaluddina ma‘rifatullah” atau ‘awal dari agama itu adalah mengenal Allah’... Jelas berbeda, kalau yang bertanya pemahaman agamanya masih, katakanlah, setingkat ‘TK’, maka jawabannya pun harus yang bisa dimengerti oleh ‘akal setingkat TK’ tersebut. Kalau yang bertanya pemahaman agamanya, katakanlah, setingkat ‘mahasiswa S3’, maka jawabannya pun akan jauh lebih dalam.
Demikian juga jika beliau saw sedang berkhutbah, maka beliau akan menyampaikan khutbahnya dalam penuturan yang bisa dipahami oleh semua yang hadir di situ. Tidak akan beliau saw menyisakan satu orang yang tak paham ihwal apa yang disampaikan karena ketinggian.
Selain itu, silakan Anda bandingkan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Shiddiq, ‘Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan bahkan para sahabat besar lainnya. Bisakah Anda melihat kedalaman persoalannya jika dibandingkan dengan khutbah Rasulullah saw yang relatif mudah dipahami banyak orang? Kenapa begitu sedikit hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat besar tersebut, padahal mereka sudah mendampingi Rasulullah saw sejak fase Mekkah, sementara Abu Hurairah baru di fase Madinah. Tidak mungkin para sahabat besar tersebut tidak ‘menyimpan’ hadits-hadits dari Rasulullah saw.
Namun, sekali lagi, tentu yang menjadi permasalahannya adalah ‘apa yang Rasulullah sampaikan kepada mereka bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dipahami orang awam, dan bahkan bisa menyebabkan munculnya fitnah.’ Dan secara ilmiah, dalam ilmu hadits, kebanyakan hadits dari para sahabat besar tersebut tergolong hadits ahad yang sulit dikonfirmasi dengan yang lain ihwal kesahihannya. “Tidak mutawatir” kalau tidak salah istilahnya.
Dalam buku The Tao of Islam, Sachiko Murata menulis sebagai berikut: “...Nabi diriwayatkan sebagai berkata kepada sahabatnya, Mu‘adz, ‘Barangsiapa yang menemui Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya akan masuk surga.’ Mu‘adz berkata ‘Haruskah aku mengabarkan berita gembira ini pada orang banyak?’ Nabi menjawab ‘Jangan. Aku khawatir mereka hanya bersandar kepadanya saja.’ Sebuah hadits serupa menuturkan bahwa ‘Umar—yang oleh hadits ini digambarkan sebagai menitiskan kualitas-kualitas keras dalam Syari‘ah—mengemukakan keberatan kepada Nabi lantaran mengucapkan hal serupa. ‘Jangan lakukan itu,’ kata Umar, ‘sebab aku khawatir orang-orang akan bersandar kepadanya. Biarkan mereka terus melakukan amal-amal kebaikan.’ Nabi pun menjawab, ‘Ya biarkan mereka.’” (Sachiko Murata, The Tao of Islam: Kitab Rujukan tentang Relasi Gender dalam Kosmologi dan Teologi Islam, Bandung: Mizan, 1996, hlm. 116-117.)
Ini menunjukkan bahwa tidak setiap pengajaran Rasulullah saw kepada para sahabat besar adalah sesuatu yang bisa dengan bebas disampaikan begitu saja kepada masyarakat luas. Adalah kezaliman ‘melempar’ mutiara hikmah kepada yang belum berhak menerimanya, dan itu juga menyalahi tugas kenabian seperti ditegaskan dalam hadits di atas. Namun, adalah kezaliman juga ‘menahannya’ dari yang sudah berhak...
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Kembali kepada masalah menggambar makhluk hidup, beberapa hadits yang sering dipakai adalah:
“Sesungguhnya orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian buat!’” (HR Bukhari).
“Siapa yang membuat satu gambar di dunia, dia dibebani (disuruh) untuk meniupkan ruh pada gambar itu dan ia bukan peniupnya (tidak akan mampu meniup ruh untuk menghidupkan gambar tsb, red).” (Muttafaqun ‘alaihi).
“Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh malaikat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
“Malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan patung (gambar).” (HR Muslim).
Nah, dalam beberapa diskusi dengan Mursyid saya, beliau menjelaskan bahwa baik Al-Quran mau pun hadits sama-sama memiliki makna lahir dan makna batin. Makna lahiriah Al-Quran itu akan tetap langgeng selamanya, sementara makna lahiriah hadits bisa gugur akan tetapi makna batinnya tidak. Untuk bisa menyentuh makna batin Al-Quran dan hadits, kita harus suci juga, karena tak bisa menyentuh yang suci selain yang suci juga. Hal itu diungkapkan langsung dalam QS Al-Wâqi‘ah [56]: 77-79, sebagai berikut: “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali al-muthahharun.”
Nah permasalahannya, dengan imajinasi, nalar, prasangka dan berbagai konstruksi yang sudah banyak dibahas dalam hermenutika, pikiran manusia bisa saja membuat-buat atau mereka-reka tafsir atas Al-Quran dan hadits walau terkesan logis bin masuk akal juga. Dan kalau dikatakan bahwa maksud yang disucikan dalam ayat itu adalah berwudhu, lantas bagaimana dengan kreativitas pikiran manusia yang tetap bisa menafsir-nafsir juga; sekali pun dikatakan bahwasanya diperlukan tiga puluh ilmu alat untuk menafsir, tapi bukankah itu pun bukan kesucian juga? Itu hanyalah membaca dan menafsir dengan berbagai tools produk kecendekiaan umat Islam, produk tradisi ilmiah di kalangan umat Islam? Lagi pula, selain bersuci secara lahiriah, kita pun harus bersuci secara batiniah, sebagaimana syariat pun ada yang lahiriah, yaitu fiqih, dan yang batiniah, yaitu tashawwuf.
Lalu, coba kita lihat QS An-Najm [53]: 2-4, yang menegaskan: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
Lihatlah, betapa luar biasanya Rasulullah Muhammad saw. Bahwasanya wahyu itu bertingkat-tingkat. Wahyu tertinggi adalah Al-Quran. Sekarang bayangkan bahwa pesan berupa suara dari orang yang berbicara kepada Anda masih bisa dimediasi oleh udara untuk sampai ke telinga Anda, atau pesan ke hape Anda masih bisa dimediasi oleh gelombang elektromagnetik yang merambat di udara. Nah, Al-Quran, adalah pesan dari Allah Ta'ala yang apabila disampaikan kepada qalb Muhammad dengan perantaraan alam semesta ini, maka tiada yang sanggup. Maka dibawalah pesan itu oleh yang kuat, yaitu Jibril as ke dalam qalb Muhammad.
Namun, ada wahyu-wahyu lain yang tingkatannya di bawah Al-Quran (bahkan Al-Quran pun menyatakan bahwasanya lebah, bumi dan ibunya nabi Musa pun mendapatkan wahyu). Nah, dari lisan Rasulullah saw kita mengenal hadist qudsi (istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh Ibn 'Arabi), yaitu firman Allah yang tidak masuk dalam Al-Quran, dan kemudian hadits-hadits Rasulullah yang sebenarnya—merujuk pada ayat di atas—adalah wahyu juga namun dalam peringkat yang lebih rendah daripada Al-Quran. Jadi, bisakah Anda bayangkan keagungan Rasulullah Muhammad saw? Bahwa semua yang keluar dari lisannya adalah wahyu, dari mulai Al-Quran, hadits qudsi dan hadits-hadits? (Allahumma shali ala Muhammad...)
Menurut beberapa ulama (yaitu mereka yang khasya kepada Allah), al-muthaharun itu secara mudahnya adalah suci sesuci bayi. Saat manusia lahir, semuanya terlahir suci tanpa dosa. Saat bayi, indera manusia masih belum mampu bekerja secara maksimal, bahkan matanya pun perlu waktu sekian bulan untuk mulai menangkap suatu objek secara baik. Dalam kondisi seperti itu, bayi masih menggunakan indera jiwa. Karena itu, sering terlihat bayi tertawa-tawa melihat sesuatu, padahal kalau kita coba gerakkan tangan kita secara cepat ke depan matanya, mata bayi itu tidak berkedip karena mata lahiriahnya belum bekerja secara baik untuk menangkap objek-objek lahiriah. Namun, semakin dewasa, manusia semakin sering membuat dosa, dan mata jiwa (yang sering disebut juga sebagai mata hati) itu perlahan-lahan mulai tertutup. Maka Al-Quran mengatakan bahwa yang buta bukanlah mata yang itu, tapi hati di dalam dada.
Setelah dewasa, karena yang kita percaya hanyalah indera lahiriah kita, maka kita pun berdalih ini itu hanya untuk membela kebutaan mata hati kita. Dalam salah satu hadis dinyatakan: "Jikalau tidaklah setan-setan itu mengelilingi qalb anak Adam, nicaya mereka dapat memandang ke alam malakut langit." Saat ini, kita yang sudah dewasa telah lupa bagaimana rasanya memiliki mata hati. Terakhir kali kita memilikinya adalah saat masih balita, namun lama kelamaan yang kita anggap nyata hanyalah indera lahiriah kita ini. Bahkan dengan dalil-dalil agama kita bisa membantah adanya indera semacam itu, menyebut bidah mereka yang sudah dewasa namun mampu melihat ke alam malakut, mungkin untuk memberi kenyamanan juga pada diri kita sendiri atas butanya mata hati kita oleh tumpukan dosa dan dosa.
Kalau kita mau melihat sejenak, betapa anak kecil itu begitu murni dan seringkali tidak pendendam. Mereka akan bertengkar dengan teman sebayanya, entah berebut mainan atau memaksakan kehendaknya. Namun setelah mereka bertengkar dan menangis, toh 15 menit kemudian mereka sudah bermain bersama lagi. Seperti tak ada dendam. Namun, semakin mereka dewasa, mereka semakin meniru kita, orang-orang dewasa, yang egois dan pendendam. Prototipe manusia yang suci itu pun perlahan-lahan hilang, dan indera jiwanya lambat laun mulai tak berfungsi lagi seiring dengan semakin menguatnya tabiat buruk bentukan lingkungannya dan akhirnya hingga dia mulai menanggung dosanya sendiri. dan jadilah anak kecil yang suci itu menjadi manusia dewasa yang buta dan lumpuh semua indera jiwanya, menjadi seperti kita yang dewasa ini. Kita menjadi manusia yang keras hati, bahkan dalam beragama pun kita menyukai kekerasan serta menuding-nuding orang lain sebagai salah jalan atau sesat, dan juga ingin benar sendiri.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Nah, itu semua adalah pengantar untuk pembahasan kita berikutnya tentang hadits. Berikut adalah studi kasus, sebelum kita mencoba membaca hadits tentang menggambar makhluk hidup dan patung.
Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw dan juga Umar bin Khaththab pernah menganjurkan agar kita mengajarkan 3 hal kepada anak kita, yaitu: Berenang, Berkuda dan Memanah. Makna hadits itu secara lahiriah memang sesuai dengan konteks zaman itu, namun untuk zaman ini, bisa jadi secara lahiriah makna hadits tersebut sudah gugur (terutama berkuda dan memanah), namun makna batinnya tidak.
Hikmah BERENANG adalah serupa dengan yang pernah saya tuliskan dalam sebuah status: “Dalam Al-Quran, laut itu melambangkan kehidupan dunia. Untuk melewatinya manusia harus membelah laut seperti Musa agar tak terbasahi, atau berjalan di atas laut seperti Isa, atau mengarunginya dengan bahtera. Hanya ikan mati yang akan menjadi seasin air laut. Jadilah seperti ikan hidup, yang merenangi lautan tanpa menjadi asin.” Nah, hikmah dari berenang itu adalah mendidik anak untuk dapat mengarungi kehidupan ini dengan selamat dan bukannya tenggelam.
Hikmah BERKUDA adalah seperti simbol kuda yang tertuang dalam QS Al-Âdiyât. Imam Al-Ghazali, misalnya, menceritakan bahwa kuda dan penunggang kuda beserta anjing pemburunya melambangkan jiwa sebagai penunggang, dan jasad sebagai kuda, dan anjing sebagai hawa nafsu. Tentu saja, anjing pemburu di situ adalah anjing yang sudah terlatih, jinak dan bisa dipakai untuk menangkap hasil buruan yang sudah dipanah, bukan anjing liar hawa nafsu milik kebanyakan dari kita, yang menggonggongi siapa pun dan menyerang siapa pun yang dianggap mengusiknya. Hikmah berkuda dalam hadits itu adalah mengajari anak disiplin untuk mengendalikan jasad beserta syahwat dan hawa nafsunya.
Hikmah MEMANAH adalah mendidik anak untuk fokus terutama pada energi minimalnya yang bisa menjadi pembuka langkah awal menuju dharma atau misi hidupnya yang sebenarnya, misi hidup yang menjadi amanah setiap individu saat “diutus” ke dunia ini. Pandangan ihwal manusia tanpa cetak biru ini tumbuh subur dalam pemikiran Barat berbarengan dengan runtuhnya pandangan tentang hierarki realitas. Alam tidak lagi dipandang bertingkat-tingkat. Realitas sejati hanyalah manifestasi fisik ini yang menjadi landasan penilaian untuk segala hal. Terlebih lagi, posisi Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu telah dicoret dari pembicaraan filosofis; tabu untuk dibicarakan, seakan “pornografi” dalam filsafat.
Akan tetapi, pandangan tentang manusia tanpa cetak biru ini pun merembes ke dalam wilayah agama. Meski sampai saat ini agama masih mengakui adanya hierarki realitas, namun bagi kebanyakan pemeluknya, itu hanyalah sebuah konsep yang diyakini tapi tidak pernah dialami. Dalam Islam, misalnya, diyakini bahwa manusia itu diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Akan tetapi, konsepsi khalifah itu tidak menyentuh tataran bahwa manusia itu punya misi hidup khusus dan keahlian tertentu. Sepertinya bunyi keyakinan tersebut menjadi: “manusia adalah khalifah di muka bumi yang tidak ditentukan apa misi hidupnya dan harus menjadi siapa?”
Apabila kita melihat pohon mangga, pastilah kita yakin bahwa yang dulu ditanam di tanah tersebut adalah benih mangga. Namun, apabila ada manusia yang menjadi nabi, itu bukanlah karena misi kenabian tersebut telah ditentukan sejak awal penciptaannya. Itu hanya sebuah kebetulan saja. Pandangan aneh seperti ini—yang tanpa sadar banyak dianut orang—lebih menyerupai campuran “skizofrenik” antara pandangan hierarki realitas ala agama dengan keyakinan manusia tanpa cetak biru ala filsafat Barat yang tidak mempercayai hierarki realitas.
Coba amati kisah hidup Einstein. Waktu kecil dia benar-benar anak yang payah. Dipandang bodoh dalam semua mata pelajaran, kecuali matematika. Bahkan gurunya menyatakan kelak bila Einstein besar, dia takkan menjadi apa-apa. Ternyata Einstein jadi fisikawan terbesar di abad dua puluh. Amati juga kisah hidup Thomas Alva Edison yang akhirnya dididik sendiri oleh ibunya setelah guru sekolahnya menolak mendidiknya. Setelah dewasa dia malah jadi seorang penemu. Dia bahkan betah melakukan eksperimen 1000 kali untuk menemukan lampu.
Apa yang paling mencolok dari kisah kedua tokoh itu? Energi minimal. Energi minimal itu semacam bayangan jati diri individu. Suatu kemampuan utama yang dimiliki seseorang yang mengalir mudah ketika mengerjakan sesuatu. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang-malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, bukan dengan energi minimalnya, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal. Guru yang baik mengajari, sementara guru sejati memberi inspirasi. Inspirasi akan membuat si anak didik mencari dan belajar dengan sendirinya. Inspirasi bisa memancing energi minimal keluar.
Coba lihat cahaya dari lampu pijar sepuluh watt. Betapa redupnya, untuk dipakai membaca pun hanya akan membuat mata kita rusak. Namun saat cahaya 10 watt itu difokuskan menjadi sinar laser, maka besi pun bisa ditembusnya. Lihatlah minyak yang tumpah di lautan, menyebar ke mana-mana namun saat kita celupkan tangan kita,, ternyata tumpaha minyak itu dangkal saja. Nah, mengajari anak memanah adalah agar dia fokus pada energi minimalnya, dan perhatiannya tidak menyebar dan terpecah ke mana-mana, agar lahir ketajaman dan ketepatan sasaran dalam masa pembelajarannya.
Begitulah hikmah hadits tersebut yang pernah saya diskusikan dengan Mursyid Penerus.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Nah, kini kita membahas larangan menggambar makhluk hidup dan juga patung serta kaitannya dengan malaikat yang tidak akan masuk ke rumah yang ada itu semua.
Sebagaimana sudah kita lihat di atas, hadits itu terikat dengan kepada siapa itu diucapkan dan kapan serta dalam konteks apa. Itulah kenapa Rasulullah melarang hadits dicatat, yang menurut pemahaman hasil belajar saya, sebab tak bisa diberlakukan absolut pada semua orang dan di semua kondisi dan dalam konteks yang berbeda.
Misalnya soal gambar. Dalam tulisan berjudul “Menyoal Lukisan Maria dan Bayi Yesus di Dinding Ka’bah”, Karen Armstrong menulis sebagai berikut:
“Pada 632 M, setelah lima tahun peperangan yang hebat, Kota Mekkah di Hijaz, Semenanjung Arabia, secara sukarela membuka gerbang untuk pasukan Muslim. Tidak ada darah ditumpahkan dan tidak ada orang yang dipaksa untuk menjadi Muslim, tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan penghancuran seluruh berhala dan patung Ketuhanan. Terdapat sejumlah lukisan dinding pada dinding-dinding bagian dalam Ka’bah, tempat suci kuno di tengah Mekkah, dan salah satunya, konon diriwayatkan, menggambarkan Maria dan bayi Yesus. Segera, Muhammad saw menutupinya dengan jubahnya dengan penuh hormat, memerintahkan agar semua lukisan yang lain dihilangkan kecuali yang satu itu.”
Silakan baca artikel lengkapnya dalam link berikut ini:
Lalu soal patung. Sebagai umat Muslim, kita tentu tahu ayat berikut ini:
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula), dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan sesiapa dari jin itu yang menyeleweng dari perintah Kami, maka Kami akan merasakannya (pukulan) dari azab api neraka. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (QS Saba’ [34]: 12-13)
Jika gambar makhluk hidup diharamkan, lalu kenapa Rasulullah saw menyelamatkan gambar Maryam dan bayi Isa? Jika patung diharamkan, lalu kenapa Al-Quran malah mencantumkan ayat tentang bagaimana istana Nabi Sulaiman juga berisi patung-patung? Apakah Al-Quran hanya sedang menceritakan secuplik sejarah saja? Kalau ada yang berpandangan seperti itu, berarti mereka sama dengan orang-orang kafir dalam QS Al-An‘âm [6]: 26 yang menyatakan bahwa “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” Lagian, kalau itu hanya sekadar sejarah, untuk apa juga Allah sampai mengutus Jibril untuk membawa wahyu tersebut ke qalb Rasulullah saw? Hadits qudsi saja tidak disampaikan dengan perantaraan Jibril as.
Nah, Mursyid saya pernah menjelaskan bahwa larangan Rasulullah saw terhadap gambar dan patung itu karena terkait tabiat orang-orang kafir Quraisy yang menempelkan banyak gambar dan juga patung berhala di Ka‘bah. Untuk masyarakat yang baru diperkenalkan kepada agama terakhir dan penyempurna—serta kelak menjadi khairun ummat—maka berbagai hal yang terlalu riskan akan mencemari keimanan mereka harus dihilangkan. Salah satunya adalah gambar dan patung.
Terlebih mereka adalah masyarakat yang hidup di tengah gurun. Ada kondisi alam yang berbeda antara tempat dan kondisi alam serta budaya di mana agama Timur—di antaranya Hindu dan Buddha—lahir dan menyebar, dengan tempat dan kondisi alam serta budaya di mana agama Barat—di antaranya Yudaisme, Nasrani dan Islam—lahir dan menyebar.
Pembagian Timur dan Barat ini hanya untuk mempermudah pembagian saja. Kalau mau dikritisi, mendingan bikin tesis atau disertasi aja, daripada nyinyir di obrolan ringan kita ini he he he he...
Agama Timur memang terkesan lebih feminin dan kaya dengan aspek visual, karena kondisi alamnya yang hijau dan pemandangan yang memanjakan mata. Sementara agama Barat memang terkesan lebih maskulin, terlebih dengan kondisi alam gurunnya yang panas, gersang dan tak hijau seperti di Timur. Kita yang hidup di Timur tentu tak akan asing dengan kekayaan artefak visual dari Hindu dan Buddha, misalnya. Bahkan, dalam salah satu kuliah—saat jadi dosen—saya bertanya kepada para mahasiswa saya, yaitu mahasiswa DKV, bahwa dalam parisiwisata dan suvenir khas Indonesia, adakah yang bukan merupakan warisan Hidnu atau Buddha? Apakah jilbab, ciput, niqab, baju koko, tasbih dan lain-lain itu laku untuk jadi trade mark pariwisata dan suvenir khas Indonesia? Semuanya masih yang bernuansa Hindu dan Buddha kan?
Setidaknya ini bisa menjadi suatu gambaran bagi kita, bahwa bagi masyarakat yang tinggal di gurun tandus, yang kekayaan visualnya tak sekaya di wilayah yang penuh hutan dan sungai, maka suatu gambar yang indah dan patung yang memukau juga bisa mudah membuat mereka takjub, lalu dalam perjalanan waktu akhirnya malah menjadi berhala.
Dalam perjalanan sejarah, kita pun melihat bagaimana setelah Islam ke luar dari Mekkah dan Madinah lalu menyebar ke berbagai negara, maka kita pun mulai mengenal sosok seni Islam yang merupakan hasil akulturasi antara budaya Arab-Islam dengan budaya negara baru yang menerima Islam sebagai agama barunya. Terlebih di Nusantara, kita melihat bagaimana wujud visual seni Islam dengan seni Hindu dan Buddha nyaris tak terbedakan lagi.
Maka, menurut saya, secara lahiriah, larangan ihwal membuat gambar makhluk hidup dan patung itu sudah gugur, terlebih di zaman di mana unsur visual yang gemerlap dan memukau mudah dilihat di mana pun, entah melalui televisi, foto, internet dan berbagai media visual lainnya. Bahkan, Bang Imad (Muhammad Imaduddin Abdulrahim) pernah bicara dari atas mimbar khatib di Masjid Salman ITB, saat saya masih SMA, bahwa “Orang Barat sudah sampai teknologi foto satelit, kita masih saja ribut soal larangan gambar makhluk hidup.”
Namun, secara batiniah, hadits itu tetap berlaku hingga akhir zaman.
Dalam salah satu hadits qudsi Allah berfirman: “Bumi dan petala langit-Ku tak sanggup memuat-Ku, tetapi qalb (hati) seorang hamba mukmin yang shalih sanggup memuat-Ku.” (HR Imam Ahmad)
Para sufi menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan ihwal qalb manusia sebagai baitullah atau ‘rumah Allah’. Dan jika di dalam ‘rumah’ tersebut ada gambar makhluk hidup, yang merupakan tanda bahwa yang memiliki qalb itu adalah ‘seorang tukang selingkuh’, bahwa dia membagi cintanya untuk Allah dan makhluk hidup lainnya, maka malaikat tak akan masuk ke ‘rumah’ tersebut. Kita tentu tahu hadits berikut ini:
Dari Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Inilah ‘tukang selingkuh’, niatnya mendua, dan Allah tak akan menerima niat yang mendua seperti itu, dan malaikat pun tak akan masuk ke ‘rumah’ atau qalb tukang selingkuh tersebut.
Lalu patung, sebagai lambang dari syahwat atau hasrat material terhadap harta kekayaan dan juga ilah (yang jadi berhala) selain Allah, yaitu hawa nafsunya sendiri.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Terakhir, terkait dengan pemaparan saya ihwal energi minimal di atas, dan digabungkan dengan pembacaan saya—dari belajar kepada Mursyid Penerus dan juga pembelajaran pribadi untuk memperdalamnya—atas larangan menggambar makhluk hidup, tidakkah Anda merasakan suatu paradoks jika larangan tersebut memang seharfiah itu?
Kita tampaknya sama-sama orang yang diberi kemampuan menggambar. Toh saya pun sejak SD suka ikut lomba menggambar, selalu mendapat nilai 10 dalam pelajaran menggambar, saat SMA jadi pentolan hobi grup Cakrawala yang fokusnya khusus di seni rupa, dan akhirnya kuliah di FSRD ITB. Namun, berbeda dengan teman-teman saya di kampus yang memang luar biasa kelihaian tangannya, saya ternyata punya batas dalam hal seni rupa. Juga mungkin tidak seperti Anda yang hobinya melukis. Walaupun passion dan kemampuan saya tak sedahsyat teman-teman saya di FSRD, namun toh kemampuan visual saya masih hidup sampai sekarang. Bahkan beberapa kali saya membuat makalah filsafat untuk tugas di kampus dengan menggunakan gambar, bukan hanya kata-kata dari awal dampai akhir. Bahkan dalam draft tesis pun demikian.
Betapa malangnya kita berdua, yang tangannya Allah beri kemampuan menggambar, namun kok menggambar makhluk hidup malah diharamkan? Lalu kenapa Allah beri kelebihan di tangan kita untuk menggambar?
Begitu juga antusiasme dan kemudahan saya dalam membaca buku-buku filsafat dan cultural studies serta mempelajarinya. Saya bisa membacanya sambil naik kereta api atau travel. Lalu, kalau ternyata filsafat itu haram dan menyesatkan, kenapa Allah tak memberi saya otak sains atau matematika saja? Saya sangat payah dalam berhitung. Dan kalau pun saat SMA saya belajar fisika dan masuk A1 (Fisika), Insya Allah bisa paham, namun tak punya gairah sama sekali untuk mengerjakan soal-soalnya, apalagi mendalaminya.
Bayangkan betapa mubazirnya kemampuan yang saya punya... Bisa menggambar namun menggambar itu haram, terlebih makhluk hidup. Lalu berfilsafat pun haram. Lalu saya harus jadi apa? Kenapa juga saya diciptakan dengan dua kemampuan yang malah diharamkan?
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Demikian yang saya pahami ihwal hadits dan larangan tersebut. Setelah Anda membaca pandangan saya ini, berdoalah kepada Allah, bahkan kalau bisa saat sedang sujud akhir dalam shalat, bahwa jika pandangan saya ini sesat dan akan menyesatkan Anda, maka mohon kepada Allah agar menyelamatkan Anda dan menunjukkan kesesatan saya. Libatkan Allah selalu dan mintalah perlindungan-Nya, jika pandangan saya ini akan menyesatkan Anda, dan mohon agar dijauhkan dari pandangan seperti ini. Kenapa juga harus menganut Mazhab Katanya, apalagi sampai doyan mengolok-olok pandangan yang berbeda.
Saya juga sering heran sama orang yang suka komentar di wall orang lain dengan ngerasa paling bener dan paling tahu agama, lalu nyalah-nyalahin orang lain. Belajar agama kok produknya malah jadi tukang nyampah di wall orang lain dengan cara menyebalkan.
Demikian. Semoga ada gunanya. Mohon maaf kalau ada salah kata. Kebenaran hanya dari Allah Ta’ala sementara kesalahan dari diri saya pribadi. Wallahu ‘alam bishawwab.

UU Keinsinyuran : UU No 11/2014

Suka atau tidak suka, undang-undang keinsinyuran No 11 tahun 2014 telah diundangkan. Menurut undang-undang ini, yang didefinisikan keinsinyuran adalah:
“keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan peradaban dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 “
Jadi definisi keinsinyuran tuh sangat luas. Cakupan keinsinyuran juga sangat luas, tidak hanya mencakup kerja konsultan dan kontraktor tetapi juga penelitian dan pengajaran. Jadi peneliti dan pengajar teknik juga harus insinyur profesional (sertifikat dosen doang ga cukup). Undang-undang itu juga dengan jelas mengatur besarnya pidana jika melanggar.
Mungkin banyak rakyat tidak mempedulikan keberadaan undang-undang ini karena belum ada yang dipidana karena melanggar undang-undang ini. Tetapi seperti undang-undang ITE, orang baru melek setelah ada yang dipidana.
Kabar baik buat yang merasa insinyur elektro dan mesin, dua disiplin ilmu ini ternyata bukan merupakan bidang keinsinyuran kalau menurut undang-undang no 11/2014. Jadi masih bisa aman bernafas.

Saturday, March 24, 2018

Konsepsi Geografis Negara Bubar

Kajian Geografi semenjak PD1 selesai berobah dari ilmu urus tanah kepada pemetaan kekuasaan dalam ruang yang lebih fkeksibel. Jika pada masa lalu geografi adalah konsep coorporeal/kasat dari dimensi tiga (3D) maka hari ini geografi adalah apa saja yang bisa di konsepsikan, di persepsikan, dan diimajinasikan sebagai ruang.
Perobahan ini tidak begitu saja terjadi melainkan melalui pandangan kritis dalam kajian spasial.
Bila kita membaca Marxist maka akan diperoleh historiografi yang menunjukkan perobahan ini. Misal pada awal-awal kajian ini bersifat ekonomi politik yang menekankan pada sumber-sumber produksi sebagai subjek mayor. Sejalan waktu ia pun menuju arah kontrol atas kekuasaan pada alat-alat produksi. Pembahasan seputar ruang impreali dan ruang kolonial, rempah-rempah, emas dan tembaga bergerak menuju hak-hak buruh, upah dan jam kerja.
Dua yang pertama masih melihat persoalan ekonomi-politik sebagai faktor penggerak utama saling terkait. Kebijakan (policy) sebagai driver ekonomi dan sebaliknya. Pokok Ini yang ditekankan Marxist pada hubungan dialektika sejarah material. Nyata bagi kajian ini jika Sejarah manusia, komunitas dan negara terbentuk karena persoalan coorporeal politik dan ekonomi.
Sehingga dapat difahami mengapa kajian-kajian geografi yang pada masa lalu bersifat material, konkrit, map-able, dan empiris. Hanya seputar sumber daya alam, perkebunan industri, pabrik dan pasar. Demikian juga di bidang sastra marxist dan post kolonial juga banyak mengambil setting ini.
Baru akhir 60's-70's kritik atas kajian geografi ini menguat di eropa. Ia dianggap tidak lagi dapat menjawab kompleksitas dunia moden.
Munculnya Pakta Warsawa, NATO, sebagai persekutuan geografis dari geo security. WTO, MEE sebagai pakta geo ekonomi, OKI (Organization of Islamic Confereence) sebagai pakta berbasis agama dan aneka Zona strategis lainnya menunjukkan jika definisi kasat dari geografi tidak lagi memadai.
Dari sini kemudian muncul kritik pada kajian geografi seperti dilakukan Edward W Said (Orientalism), Henry Levebre, Michael Foucault, F.Jameson sampai ke modern geografer seperti Edward Soja, David Harvey, B.David dll..
Said misalnya melihat terminologi "the oriental" bukan hanya pelecehan dunia Barat untuk menyebut bangsa terjajah sebagai bangsa orient (Timur), tetapi oriental berarti to be oriented. Bangsa yang harus diorientasikan.
Sementara Harvey melihat terminologi urban, sub urban, con suburbant, sentral marginal hanyalah sub-sub dari kolonialisme ruang dalam ukuran miniatur. Istilah poor area, gheto area, slum distric, adalah teknik lain memasukkan agenda-agenda. Maka hari ini kita mengenal definisi geografi berbasis kemiskinan, kesejahteraan, keamanan, dst.
bersambung...nyuci dulu (Andi H)

Novel sebagai Referensi

Banyak hal rumit yang disederhanakan dalam penulisan-penulisan popular. Ada beberapa alasan penulis menyampaikan gagasannya melalui cabang literatur ini.
Antara lain ia ingin pembaca memahami satu topik dengan penggunaan perumpamaan.
Hampir semua pembaca pasca kolonial akan lebih mudah memahami teori ini dari pemikir-pemikir yang menulis versi novelnya. Ada Arundhati Roy yang menulis literatur Hindi English dan ideologi dalam God of Small Things. Amitav Ghosh menulis River of Smoke bisnis licik Inggris-Cina dalam penyelundupan opium untuk membiayai kolonialisme dan menyogok pejabat korup.
Dr. Imme Schole, Deputi Direktur Lembaga Penelitian Pembangunan Jerman membahas buku ini sebagai pengantar analisanya atas trend kerjasama pembangunan eropa-Cina.
Menarik juga melihat fenomena black market pasar asap ini dalam hubungan antara kekuasaan (politik) dan bisnis (ekonomi). Bukankah Singapura dulu didirikan dengan cukai rokok dari pedagang Kopi-Tembakau Oei Tiong Ham dan proyek geopolitik AS di timur Tengah - Asia Tengah dimodali perdagangan heroin Afghanistan
Begitu pula dengan politik Devide Et Ruin yang menggantikan Devide et Empera Inggris pasca nasionalisme Asia-Afrika dalam novel George Orwel dengan Burma Days. Tentu saja Pramoedya dalam novel tetralogi pulau Buru.
Bagi yang menyukai Semiotika dan diskursus kritis maka The name of the Rose dari Umberto Eco akan lebih membantu membaca buku Semiotic yang dia tulis secara serius.
Pada tahun 2000 kajian sastra filosofis menjadi lebih mudah bagi para pelajar dan mahasiswa karena Mizan menerjemahkan buku Dunia Sophie. Saiya memiliki versi Inggrisnya dari rumah pasangan gay Australi yang menjualnya sebagai Garage Sale bersama barang-barang lainnya.
Untuk mengetahui futurisme teknologi, dulu ada buku Being Digital dari Nicholas Negroponte yang saiya beli di tukang loak Cikapundung. Ini merupakan jenis opini tentang bagaimana teknologi digital mengubah interaksi, transportasi, logistik dan opini publik. Ini sangat membantu kita menelusuri masa depan. Apa yang ditulisnya beberapa telah menjadi kenyataan.
Sementara untuk mengetahui apakah Indonesia bubar pada 2030 kita tidak perlu baca buku apa-apa. Cukup planga plongo;
Andi H

Friday, March 16, 2018

Adab Pertemanan


الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (Hadist Muslim)
Al-Imam An-Nawawi mensyarah hadist ini dalam Syarah Muslim (16/pada hadits no. 2638) dan menyampaikan bahwa ia bermakna ruh-ruh itu saling mengenal karena suatu perkara yang Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menciptakan ruh-ruh itu di atasnya.
Hadist ini saya pegang betul dan membuat saya selalu 'curiga' terhadap teman-teman yang Allah swt dekatkan, satukan, baik secara fisik dan hati, ke dalam ruang dan waktu kehidupan saya. Karena demikianlah janji-Nya. Tidaklah Dia himpunkan kecuali ada urusan yang Dia tetapkan atas kita. Urusan-urusan yang harus kita kerjakan bersama, hingga terpenuhi kadar-kadar yang Dia kehendaki. Hingga persahabatan kita mencapai fungsi tertingginya.
Hadist ini membuat saya tidak pernah pilih-pilih sahabat kecuali merespon dengan serius terhadap siapa saja yang Dia dekatkan, hadirkan atau jauhkan. Bahagia sekali pegang hadist ini karena dunia pertemanan menjadi sederhana dan tidak rumit. Ada yang mengatur dan menata. Tinggal do'a dan iqra' ya Milea, iqra' ....
Sentari T

Goutha Timur dan Konflik Besar

1.0
Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Inggris menuduh Rusia bertanggungjawab atas serangan Salisbury. Satu serangan yang diduga melibatkan material kimia pada bekas agen KGB Sergei Skipal dan putrinya.
Rusia menolak dan mengancam mengusir diplomat Inggris serta membatasi liputan piala dunia 2018 bagi media Inggris.
Eskalasi "bahaya rusia/Russpobie" ini tidak dapat kita lepaskan dari kejadian-kejadian sebelumnya. Inggris adalah negara yang paling bertanggungjawab dalam perang media di teater Suriah. Bukan hanya membentuk konsil kemanusiaan yang berlaku seolah-olah sumber terpercaya perang Suriah namun mereka juga mendirikan sayap milisi penyelamatan: The white helmets.
White helmet inilah yang memproduksi film-film propaganda korban senjata kimia, yang menjadi dalih (pretext) bagi aliansi NATO beberapa kali menyerang tentara Suriah.
2.0
Media ini juga yang kembali sibuk memproduksi propaganda kemanusiaan pada saat militer Suriah memutuskan membebaskan Goutha Timur -sub distrik Damaskus dari kelompok oposisi bersenjata, jihadis dan Al Qaeda.
Termasuk ancaman AS, Prancis, dan Inggris untuk menyerang Damaskus dengan dalih senjata kimia.
Jatuhnya kekuatan oposisi dan milisi jihadis di Ghouta akan memberikan dua dampak besar pada perang tujuh tahun Suriah:
Pertama hilangnya klaim Barat atas kelompok yang disebut, Oposisi atau Moderat anti Assad. Ini artinya proyek Arab Spring yang membawa demokratisasi dan pergantian Rejim gagal diterapkan di Suriah.
Kedua: jatuhnya Ghouta Timur akan mengembalikan kemampuan Garnisun Udara (Arhanud) Suriah. Di Albark Suriah akan menempatkan arhanud modern sekelas Tor 1/2M dan S300/400 anti pesawat-rudal buatan Rusia.
Jika re-instalasi arhanud ini selesai dengan jatuhnya Ghouta, maka Tentara Suriah memiliki payung perlindungan untuk melakukan serangan cepat di kota-kota selatan. Daraya, dan Dataran Tinggi Golan yang dikuasai milisi jihadis yang didukung Israel.
3.0
Artinya, aliansi Barat (AS, UK, Prancis) dan mitra Timur Tengahnya (Saudi, Qatar, Turki, Jordan, Emirat) akan benar-benar menerima kenyataan yang tidak diingingkan: kehadiran Rusia-Iran-Cina sebagai superpower baru di kawasan Timur Tengah.
Bagi Israel jatuhnya Daraya (Daraa) akan membuka jalan bagi Hezbollah menempatkan lebih banyak rudal bagi perang yang akan datang. Sementara pada saat yang sama Israel akan berhadapan dengan generasi baru tentara Suriah, yaitu kelompok milisi nasionalis Suriah.
4.0
Apabila kita perhatikan serangan-serangan media Eropa kepada Rusia dan upaya AS menjegal kesepakatan nuklir Iran, maka arahnya sudah jelas. Rusia, Iran dan Cina tidak akan mundur dalam negoisasi perang ini. Rusia akan melanjutkan teaternya di Suriah dengan tingkatan yang lebih keras.
Bukan mustahil perang Suriah bisa mengubah perang Proxi menjadi perang aksis/poros. Mungkin kita akan menyaksikan perang besar.

APA YANG TERTULIS DI DALAM ALWAAH NABI MUSA as ...

Dalam bahasa Al-Qur’an, alwaah adalah kata benda jamak dari lauh-lauh (loh-loh), yang dalam peristiwa Nabi Musa –alaihis-salaam- wujudnya berupa dua bilah papan batu, dimana pada keempat muka dari lauh tersebut terpahat serangkaian Firman-Nya. Al-alwaah tersebut kemudian Allah berikan kepada Nabi Musa as., setelah ia bermunajat di atas Bukit Sinai (thuursina) selama 40 malam.
Allah pun memerintahkan Musa as. untuk membuat Taabut, yaitu semacam wadah bagi lauh-lauh Allah tersebut. Dimana bahan, ukuran, maupun bentuk dari Taabut tersebut secara terperinci telah Allah firmankan kepada Nabi Musa as., sebagaimana Allah telah merinci kepada Nabi Nuh as. ihwal wujud dari bahtera yang harus dibuat.
Kita mengenal apa yang Allah “tuliskan” pada lauh-lauh Musa as. tersebut sebagai “Sepuluh Perintah Tuhan” (The Ten Commandement) bagi kaum Bani Israil, yang mana uraian dari 10 Firman Hukum tersebut secara terperinci dapat kita baca dalam Kitab Perjanjian Lama.
Namun, jika kita membaca Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-A’raaf [7] ayat 145, apa yang tertulis didalam lauh-lauh Musa as. tersebut tampaknya bukan sekedar uraian tentang kesepuluh Firman Allah, lebih dari itu! Mengandung hakikat dan rahasia hukum dari segala sesuatu, dimana kalimat “segala sesuatu” pada ayat ini telah Allah tegaskan dalam dua kali ucapan:
“Wa katabnaa lahuu fil-alwaahi min kulli syai’in, mau’idhatan wa tafshiilan likulli syai’in” (Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada al-alwaah/lauh-lauh, tentang segala sesuatu, sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu)
Kata alwaah (lauh-lauh) didalam Al-Qur’an telah Allah firmankan sebanyak empat kali. Tiga kata tertulis dalam bentuk ma’rifah, yakni al-alwaah, yang nisbatnya kepada lauh-lauh Nabi Musa as. (QS.Al-A’raaf [7]:145, 150, 154). Dan satu kata berbentuk nakirah, yakni alwaah (papan-papan bahtera), yang nisbat dari ayat ini tertuju ke Nabi Nuh as. (QS.Al-Qamar [54]:13).
Adapun kata lauh (bentuk tunggal dari alwaah) dalam Al-Qur’an hanya ada satu, yaitu yang terangkai dalam kalimah Lauh Mahfudh (QS. Al-Buruuj [85]: 22), dan ini adalah “Kitab Segala Sesuatu”, kitab induk dari segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu diberi perwujudan dengan perantaraan “Kun!”
Dalam Kitab “Thaharatul-Qulub”, karya Syaikh al-Arif-billah Abdul Aziz ad-Dairini –rahimahullah-, tertulis suatu uraian tentang apa yang Nabi Musa as. temukan didalam lauh-lauh:
Ketika Musa as. membaca lauh-lauh tersebut, ia mendapati suatu berita tentang sifat-sifat suatu umat yang Allah rahmati, mereka adalah umat yang akan muncul di masa depan, jauh setelah jamannya Musa as.
Berkatalah Musa as., “Ya Allah! Siapakah gerangan umat yang dirahmati seperti yang aku dapati dalam lauh-lauh ini?”
Maka berfirmanlah Allah: “Itu adalah umat Muhammad! Mereka rela dengan rezeki yang sedikit yang Aku berikan kepada mereka, maka Aku pun rela dengan amalan yang sedikit dari mereka! Akan Aku masukkan mereka ke dalam surga dengan kesaksian laa ilaaha ilallah!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang akan dibangkitkan pada Hari Qiyamah dengan wajah-wajah yang bercahaya seperti bulan purnama, jadikanlah mereka itu umatku!”
Berkatalah Allah: “Mereka itu umat Muhammad! Aku bangkitkan mereka pada Hari Qiyamah dengan wajah-wajah yang bersinar dan bercahaya disebabkan oleh bekas-bekas wudhu dan sujud mereka”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berkain selendang di pundak dan bersenjata pedang di bahu masing-masing, mereka itu orang-orang yang senantiasa bertawakal dan dadanya penuh dengan keyakinan, mereka menyerukan nama Allah di hadapan tiap-tiap rumah Allah untuk berjihad di atas kebenaran, sehingga akhirnya mereka pun membunuh Dajjal, jadikanlah mereka itu umatku!”
Berfirman Allah: “Tidak, mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang bershalat lima kali dalam sehari semalam, sehingga terbukalah pintu-pintu Langit dan turunlah rahmat atas mereka, jadikanlah mereka itu umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berpuasa dalam sebulan (Ramadhan) untuk-Mu, lalu Engkau mengampuni kesalahan-kesalahan mereka sebelum itu, jadikanlah mereka umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang mengunjungi Baitul Haram karena-Mu, tiada keperluan lain kecuali itu, mereka hanya meratap dan menangisi diri sendiri serta mengkumandangkan gema Takbir untuk membesarkan nama-Mu, jadikanlah mereka itu umatku!”
Berfirmanlah Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Musa as. berkata lagi, “Apakah ganjaran bagi mereka atas perbuatan-perbuatannya itu?”
Berfirman Allah: “Aku akan menambahkan bagi mereka maghfirah (ampunan) dan akan Aku izinkan mereka memberi sya’faat kepada siapa saja yang datang sesudah mereka”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang memohon ampun atas dosa-dosanya, mereka menyuapkan suatu makanan ke dalam mulutnya, belum sampai makanan itu ke dalam perutnya, dosa-dosanya itu telah diampunkan oleh Allah. Mereka mulai menyuapkan makanan itu dengan menyebut nama-Mu dan mengakhirinya dengan mengucapkan syukur dan memuji-Mu, jadikanlah mereka umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang lebih dahulu dibangkitkan pada Hari Qiyamah, dan mereka pulalah orang yang dicipta terakhir dari makhluk-makhluk yang lain, ya Allah jadikanlah mereka itu umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang menyimpan Kitab Sucinya di dalam dada untuk mereka baca kapan dan di mana saja mereka inginkan, jadikanlah mereka umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang apabila mereka bercita-cita untuk melaksanakan suatu kebaikan, kemudian tidak dilaksanakannya, tetap akan dicatatkan bagi mereka satu kebaikan, dan apabila mereka mengerjakan kebaikan tersebut maka akan dicatatkan bagi mereka sepuluh kali lipat dari kebaikan itu hingga 700 kali lipat pahalanya, jadikanlah mereka umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang apabila mereka bercita-cita untuk mengerjakan suatu kejahatan, kemudian tidak dilakukannya, tidaklah dicatatkan baginya suatu dosa, dan apabila dikerjakan cita-citanya itu dengan mengerjakan satu kejahatan, barulah dicatatkan baginya satu dosa! Jadikanlah mereka umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat, mereka adalah sebaik-baik manusia, mereka menyeru untuk berbuat yang ma’ruf dan melarang perbuatan munkar, jadikanlah mereka umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang dibangkitkan pada Hari Qiyamah dalam tiga golongan. Satu golongan akan masuk surga tanpa hisab, satu golongan lagi akan dihisab dengan hisab yang ringan saja, dan golongan terakhir disucikan dari segala dosanya, lalu merekapun menyusul masuk ke dalam surga, jadikanlah mereka umatku!”
Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”
Berkata Musa as., “Ya Allah, Engkau telah menganugerahkan segala kebaikan kepada Ahmad beserta umatnya, maka jadikanlah aku sebagai umatnya!”
Berfirmanlah Allah, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an, surah Al-A’raaf [7] ayat 144:
“Yaa Musa! Innish-thafaituka ‘alan-naasi bi risaalaatiy wa bi kalaamiy fa khudz maa aataituka wa kun minasy-syaakiriin!” (Wahai Musa! Sesungguhnya Aku telah memilihmu diantara manusia untuk menyampaikan risalah-Ku dan kalam-Ku, maka terimalah apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau menjadi orang-orang yang bersyukur)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. pada suatu hari pernah bertanya kepada para sahabatnya tentang firman Allah dalam Al-Qur’an, surah Al-Qashshash [28] ayat 46: “Apa yang kalian katakan tentang firman Allah ‘Wa maa kunta bi jaanibith-thuuri idz naadainaa’ (Dan tidakkah engkau berada di sebelah bukit thursina ketika Kami menyeru)?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya sajalah yang lebih mengetahui”
Maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Ketika Allah Ta’ala berbicara dengan Musa, maka Musa berkata, ‘Ya Allah adakah Engkau telah menciptakan seorang makhluk yang lebih mulia di sisi-Mu daripada aku? Engkau telah memilihku diantara banyak manusia, dan Engkau berkata-kata kepadaku di bukit Thursina!’.
Allah berfirman, ‘Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui bahwasanya Muhammad itu lebih mulia di sisi-Ku daripada semua makhluk-Ku? Sudah Aku teliti semua kalbu hamba-Ku, maka tidak Aku dapati satu kalbu pun yang lebih merendah daripada kalbumu! Oleh karena itu Aku memilihmu diantara sekalian manusia untuk menyampaikan risalah dan kalam-Ku, maka hendaklah engkau mati dalam keadaan meng-Esa-kan Aku dan juga dalam keadaan mencintai Muhammad!’
Berkata Musa, ‘Ya Allah! Adakah di muka bumi ini suatu kaum yang lebih mulia di sisi-Mu selain daripada kaumku? Engkau telah melindungi mereka dengan tiang awan, Engkau turunkan manna dan salwa dari langit untuk makanan mereka!’
Allah berfirman, ‘Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui bahwasanya kelebihan umat Muhammad atas semua umat yang lain laksana kelebihan-Ku atas sekalian makhluk-Ku?’
Berkata Musa, ‘Ya Allah, izinkanlah aku untuk melihat mereka!’
Allah berfirman: ‘Engkau tidak akan dapat melihat mereka, tetapi jika engkau ingin mendengar suara mereka dapatlah Aku memperdengarkannya kepadamu”
Berkata Musa, ‘Baiklah ya Allah aku mau walau hanya mendengar suaranya!’
Berfirmanlah Allah, ‘Wahai umat Muhammad!’, maka sekalian umat Muhammad menyahut seruan ini bersama-sama dengan suara yang lantang, ‘Labbaik allaahumma labbaik!’ (Kami datang ya Allah kami datang!), sedangkan ketika itu mereka semua masih berada dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka!
Maka berfirman Allah: ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku, dan ampunan-Ku mendahului siksaan-Ku. Ketahuilah sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu sekalian sebelum kalian memohon ampun kepada-Ku! Aku telah mengabulkan permintaan kamu sekalian sebelum kalian kalian memohon kepada-Ku! Aku telah memberi kalian sebelum kalian meminta kepada-Ku! Oleh karena itu, barangsiapa diantara kalian datang menemui-Ku dengan membawa kesaksian Laa ilaaha illallah Muhammadar rasulullah (Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah), niscaya Aku mengampuni segala dosanya!’.” 

Zamzam T

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga...

Salah satu penggalan ayat yang paling aneh dan janggal buat saya, adalah Qur'an Ar-Ra'd : 11, yang kerap diterjemahkan,
//"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." Q. S. [13] : 11.//
Di ayat itu sangat janggal: usaha sendiri lebih dominan daripada kehendak Dia yang Mahakuasa. Di mana peran Allahnya, kalau begitu? Kita hanya mengubah diri sendiri saja, cukup. Pasti berhasil. Allah sih ngikutin aja.
Di sisi lain, ada hadits riwayat muslim,
"Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorang pun yang sanggup menolaknya”. (H. R. Muslim).
Di hadits ini, jelas 'dominasi' Dia. Keperkasaan Dia, Dia yang tak bisa diganggu gugat. Kok, nggak klop?
Sampai suatu hari, saya dan teman-teman diajari membongkar ayat tersebut oleh guru saya. Ayat aslinya adalah,
//"Innallaha la yughayyiru ma bi qoumin, hatta yughayyiru ma bi anfusihim."//
Terjemahan real-nya, bukan interpretatif, adalah:
"Sesungguhnya Allah tidak merubah 'apa-apa/keadaan yang ada pada suatu kaum' (ma bi qoumin), hingga mereka mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka (ma bi anfusihim).'
Itulah masalahnya. Terjemahannya. 'Apa-apa yang ada/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka', diterjemahkan jadi 'keadaan diri mereka sendiri'.
Itulah sebabnya, pemahamannya jadi, 'kalau saya mengubah diri, maka saya bisa!'. Padahal artinya adalah, 'Kalau saya mengubah jiwa saya, maka Allah pun akan memperbaiki keadaan/kondisi saya'.
Nafs, adalah 'jiwa'. Jamaknya, anfus. Jiwa-jiwa.
Apa itu 'apa-apa yang ada pada jiwa', atau 'keadaan jiwa' yang harus diubah, sehingga Allah berkenan mengangkat kita?
Apa-apa yang ada pada/bersama jiwa (bi anfus), adalah hawa nafsu.
Keadaan jiwa, adalah jiwa yang masih dalam tingkat keadaan 'jiwa yang mengajak pada keburukan' (nafs ammarah bis su') atau 'jiwa yang terombang ambing antara perbuatan dan penyesalan' (nafs lawwamah), diangkat naik menjadi jiwa yang tinggi, jiwa yang tenang (nafs mutma'innah).
Nah. Sejak itu, ayat itu jadi makes sense. Klop. Kalau kita memperbaiki kondisi jiwa kita dan hawa nafsu kita, tentu saja Allah akan memperbaiki kita sebagai insan. Pendeknya, kalau kita mau berubah, kita cukup berurusan dengan hawa nafsu kita, dan Allah akan memperbaiki seluruh semesta insan kita yang lainnya. Lahir dan batin. Just change your hawwa-nafs, and He would take care of all others.
Eureka, deh. Malah semakin terlihat betapa Maha Pemurahnya Allah pada hamba-hamba yang bertaubat, kan?
Terjemahan bahasa Inggris malah agak lebih pas: //"Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves."//
Nah. Change 'what is in themselves'.
Jadi, sekali lagi, arti ayat itu bukan, 'kita usaha, maka kita pasti sukses'. Makna yang 'meleset' ini biasanya cenderung dieksploitasi secara tidak pada tempatnya, seperti untuk keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tapi, maksud ayat itu adalah 'ubahlah kondisi jiwa kita (agar tidak lagi terbelenggu hawa nafsu), maka Allah akan mengubah keadaan kita'.
Selamat hari Jumat. Herry M

Di Balik Huruf dan Kata

SEORANG sufi yang sangat pandai berkata-kata baru saja selesai membacakan doa-doa dan pujian yang begitu indah di majelisnya yang besar. Doa-doanya begitu menyentuh hati, dan selalu membuat para pendengarnya menangis dan bertaubat. Ia masuk ke biliknya, berzikir dan tertidur.
Dalam mimpinya, ia didatangi oleh seorang malaikat.
"Kau bangga dengan kemampuanmu itu," kata malaikat. "Walaupun bangga diri itu tidak boleh."
Sufi itu mengangguk, dalam mimpinya. "Berilah aku obat untuk bangga diriku," lanjutnya.
"Ketahuilah," kata malaikat. "Di desa sebelah sana, ada seorang bernama Fulan. Dan ketahuilah juga," sambungnya. "Bahwa Allah lebih cinta mendengarkan doanya daripada doamu."
Sufi itu terbangun dengan terperanjat. Siapa orang itu, yang lebih Allah dengarkan kata-katanya daripada dirinya?
Esoknya, tepat menjelang matahari terbit, ia sudah bergegas membawa kantung perbekalan untuk menuju desa kecil yang dikatakan malaikat dalam mimpinya itu.
: :
Sufi itu hanya duduk di dekat sebuah rumah kecil, menghadap ke arah dinding kayunya yang begitu tua, yang lubang-lubang di sela kayu reotnya mengeluarkan bias cahaya dari sebuah lentera kecil, satu-satunya sumber cahaya dari dalam rumah itu.
Sore tadi ia telah menemukan rumah si Fulan, sebagaimana ditunjukkan orang-orang. Rumah itu begitu tua dan lapuk dindingnya, terletak agak jauh di tepi desa. Sekelilingnya gelap, agak jauh dari terpaan cahaya lampu rumah-rumah lainnya. Di sisi salah satu dindingnya itulah sang sufi diam-diam mengintai ke dalam, lewat salah satu lubang di dinding reotnya.
Si fulan adalah seorang petani miskin yang hidup sebatang kara. Namun dalam pengintaiannya, ia tidak mendengar si fulan mengucapkan doa apa-apa setelah shalat. Bahkan apa yang dilakukannya sangat janggal: ia hanya mengambil sebuah mangkuk kecil, meletakkannya di hadapannya. Setelah itu ia mengangkat kedua tangannya sebentar seperti berdoa, kemudian meraih sejumput potongan-potongan kertas kecil dari mangkuk, dan kemudian menaburkannya lagi ke depan pangkuannya.
Itu saja yang dilakukan si petani, setelah isya dan setelah tahajjud di selepas tengah malam, dalam pengamatan Sang Sufi.
: :
Sebelum subuh, ketika si petani keluar menuju sumurnya, sufi itu memberanikan diri menemuinya dan berbicara kepadanya.
Setelah sufi itu memperkenalkan dirinya, petani itu mengatakan, tentu saja ia mengenal tamunya ini, yang begitu terkenal dengan doa-doa dan ceramahnya. Ia tidak pernah mengira bahwa sufi itu akan pernah datang ke rumahnya. Untuk menghormatinya, ia mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.
Di dalam, sang sufi menceritakan tentang mimpinya, dan apa yang dikatakan malaikat kepadanya.
"Jadi," kata sang sufi, "sudilah kiranya Anda memperdengarkan pada saya, seperti apa Anda berdoa kepada Allah."
Si petani begitu terperanjat dengan kisah itu. Mata tuanya berkaca-kaca.
"Tapi tuan," kata si petani setelah ia berhasil menguasai keterharuannya. "Aku tidak pernah belajar di madrasah. Aku yatim piatu sejak kecil, dan aku seorang yang buta huruf."
"Seumur hidupku, aku hanya hafal tiga doa saja," lanjut si petani. "Al-fatihah, Alhamdulillah, dan Astaghfirullah. Aku tidak mengucapkan apapun untuk Allah selain itu."
"Tidak, pasti ada yang kau ucapkan selain itu, sehingga Allah begitu cinta dengan doa-doamu," kata Sang Sufi.
"Tidak ada, Tuan," jawab si petani. "Bahkan aku merasa, doa-doa dan pujianku sungguh tidak akan layak untuk kupanjatkan kepada-Nya. Demi kemuliaan-Nya! Justru karena itulah, dulu pernah kupaksa jemari tuaku ini untuk menuliskan beberapa huruf di sebuah kertas. Dan itu pun, aku hanya berhasil menuliskan beberapa huruf saja."
Sang sufi sedikit heran. Apa kaitan huruf-huruf itu dengan pertanyaannya?
"Lalu? Ada apa dengan huruf-huruf itu?"
"Kertas-kertas itu, tuan," jawab si petani. "Kertas-kertas kecil di sana," ia menunjuk ke sebuah mangkuk. "Masing-masing tertulis satu huruf. Setelah shalat, memohon ampun dan mengucap syukur, Aku katakan ini kepada-Nya,
'Ya Tuhanku, aku tidak mampu memuji-Mu secara layak. Namun Engkau lebih mengerti bagaimana seharusnya kata-kata yang layak bagi-Mu. Ini, sudah kutulis beberapa huruf untuk-Mu, ya Allah. Engkau susun saja sendiri kata-kata yang Kau sukai, seperti apa seharusnya aku berdoa dan memuji-Mu. Sebab kalau saja aku mampu menyusun kata-kata yang indah, pasti sudah kubuatkan yang terindah untuk-Mu.'
Hanya itu, Tuan."
Lalu, seorang sufi besar yang dijuluki Sang Perajut Kata pun menangis di hadapan seorang petani miskin buta huruf.
: :
~ HERRY MARDIAN, Maret 2018. * Kisah ini fiksi.

Monday, March 12, 2018

Suluk Si Wujil Pesan Kanjeng Sunan Bonang

1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Sampai rahsia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasih sayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”…
11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”
12
Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia
13
Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini: Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
14
Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat
15
Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
16
Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?
Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini
17
Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?
Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan
18
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia
19
Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
Sia-sia semata
Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggalah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
20
Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpukan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
21
Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini
22
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
23
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar
24
Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan
35
Diam dalam tafakur, Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat
36
Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata
38
Renungi pula, Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham
39
Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni
40
Kemauan itu, Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan