Sunday, March 11, 2018

Dari Ghouta Timur ke Golan

Sebuah LSM aksi cepat memviralkan poster pengumpulan dana dan bantuan dengan hastag #SaveGhouta. Serupa dengan pemberitaan di media arus utama barat yang menayangkan jika penduduk di Ghouta menderita di bawah bombardemen pasukan arab Suriah (SAA). Sementara Dewan Keamanan yang dipimpin Kuwait telah mengadakan empat kali sidang darurat yang intinya mendesak Presiden Asssd menghentikan operasi militer di Ghouta.
Sidang yang melahirkan resolusi PBB no 2401/8 tentang gencatan senjata 30 hari, evakuasi penduduk sipil dan bantuan kemanusiaan yang sempat di veto Rusia. Tidak berhenti di sana, tekanan kepada Assad disampaikan terbuka oleh Presiden Macron dan Ketua Parlemen Inggris dengan opsi menyerang Damaskus.
Ancaman-ancaman tadi tidak terlalu digubris Suriah dan operasi Ghouta mesti dilanjutkan. Sementara Moskwa menegaskan akan membela Damaskus bila diserang NATO.
Ada beberapa poin yang kita perlu ketahui tentang East Ghouta.
1) East Ghouta adalah zona Garnisun Pertahanan Udara bagi Ibu kota Damaskus. Jatuhnya komplek arhanud AlBashura ke milisi jihadist pada 2012 melemahkan Damaskus. Beberapa kali dalam 6 tahun konflik Damaskus menerima serangan udara Israel tanpa perlawanan.
Setelah Ghouta jatuh maka dapat dipastikan Suriah akan kembali menginstalasi arhanud (artileri pertahanan udara) yang jauh lebih modern seperti S300 atau S400 dari Rusia.
Cakupan Arhanud baru dengan radius 200 km, ini cukup menunjukkan jika Suriah akan menghitung kemungkinan membuka front baru ke selatan yaitu Daraya dan Golan setelah east Ghouta dibersihkan dari ekstrimis. Payung pertahanan udara ini akan memberikan perlindungan bagi pasukan darat dari kemungkinan serangan udara. Ini tentu mengkhawatirkan Israel dan AS.
2) East Ghouta satu-satunya kota dimana masih ada kelompok oposisi radikal Suriah. Sementara selebihnya adalah milisi jihadist internasional. Jatuhnya Ghouta akan memotong kekuatan diplomasi kelompok opososi garis keras untuk tetap menghendaki Assad lengser. Kehilangan kelompok garis keras ini bukan hal menyenangkan bagi politisi Barat.
3) Ghouta adalah enklave tertutup dimana satu-satunya jalan keluar bagi kelompok milisi jihadist adalah menerima pertukaran. Mereka akan diminta bergabung di provinsi Idlib namun membebaskan sandera di wilayah dimana penduduk sipil terjebak. Hal ini akan memudahkan kampanye militer di Idlib yang sempat tertunda.
4) Kampanye Ghouta adalah satu-satunya front dimana beberapa oposisi yang dulunya anti Assad kini bergabung mengusir milisi asing. Tuntutan mereka adalah mengambil kembali teritorial Suriah di bawah nasionalisme Arab Suriah. Gengsi memenangkan Ghouta ini yang akan membuat postur tentara Suriah nantinya menjadi lebih kuat dan militan. Assad tidak akan kekurangan tentara bila perang berkepanjangan.
5) Jatuhnya Ghouta akan memudahkan Suriah mengambil kembali Daraya dan Golan di wilayah selatan yang dikuasai Israel.
Israel sudah membaca pasca jatuhnya F16 mereka oleh arhanud Suriah adalah indikasi akan sulitnya menginfiltrasi Suriah untuk memberi bantuan serangan udara bagi milisi ISIS di Golan dan Daraya.
bukan mustahil pertempuran ini akan menghadapkan langsung Rusia yang pro Damaskus dengan AS yang pro Israel.
Bila negara Barat memaksa atau memperlambat kemenangan pasukan Assad maka ke arah konflik yang terbuka antar super power tidak dapat dihindarkan.

0 comments:

Post a Comment