Friday, March 16, 2018

Di Balik Huruf dan Kata

SEORANG sufi yang sangat pandai berkata-kata baru saja selesai membacakan doa-doa dan pujian yang begitu indah di majelisnya yang besar. Doa-doanya begitu menyentuh hati, dan selalu membuat para pendengarnya menangis dan bertaubat. Ia masuk ke biliknya, berzikir dan tertidur.
Dalam mimpinya, ia didatangi oleh seorang malaikat.
"Kau bangga dengan kemampuanmu itu," kata malaikat. "Walaupun bangga diri itu tidak boleh."
Sufi itu mengangguk, dalam mimpinya. "Berilah aku obat untuk bangga diriku," lanjutnya.
"Ketahuilah," kata malaikat. "Di desa sebelah sana, ada seorang bernama Fulan. Dan ketahuilah juga," sambungnya. "Bahwa Allah lebih cinta mendengarkan doanya daripada doamu."
Sufi itu terbangun dengan terperanjat. Siapa orang itu, yang lebih Allah dengarkan kata-katanya daripada dirinya?
Esoknya, tepat menjelang matahari terbit, ia sudah bergegas membawa kantung perbekalan untuk menuju desa kecil yang dikatakan malaikat dalam mimpinya itu.
: :
Sufi itu hanya duduk di dekat sebuah rumah kecil, menghadap ke arah dinding kayunya yang begitu tua, yang lubang-lubang di sela kayu reotnya mengeluarkan bias cahaya dari sebuah lentera kecil, satu-satunya sumber cahaya dari dalam rumah itu.
Sore tadi ia telah menemukan rumah si Fulan, sebagaimana ditunjukkan orang-orang. Rumah itu begitu tua dan lapuk dindingnya, terletak agak jauh di tepi desa. Sekelilingnya gelap, agak jauh dari terpaan cahaya lampu rumah-rumah lainnya. Di sisi salah satu dindingnya itulah sang sufi diam-diam mengintai ke dalam, lewat salah satu lubang di dinding reotnya.
Si fulan adalah seorang petani miskin yang hidup sebatang kara. Namun dalam pengintaiannya, ia tidak mendengar si fulan mengucapkan doa apa-apa setelah shalat. Bahkan apa yang dilakukannya sangat janggal: ia hanya mengambil sebuah mangkuk kecil, meletakkannya di hadapannya. Setelah itu ia mengangkat kedua tangannya sebentar seperti berdoa, kemudian meraih sejumput potongan-potongan kertas kecil dari mangkuk, dan kemudian menaburkannya lagi ke depan pangkuannya.
Itu saja yang dilakukan si petani, setelah isya dan setelah tahajjud di selepas tengah malam, dalam pengamatan Sang Sufi.
: :
Sebelum subuh, ketika si petani keluar menuju sumurnya, sufi itu memberanikan diri menemuinya dan berbicara kepadanya.
Setelah sufi itu memperkenalkan dirinya, petani itu mengatakan, tentu saja ia mengenal tamunya ini, yang begitu terkenal dengan doa-doa dan ceramahnya. Ia tidak pernah mengira bahwa sufi itu akan pernah datang ke rumahnya. Untuk menghormatinya, ia mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.
Di dalam, sang sufi menceritakan tentang mimpinya, dan apa yang dikatakan malaikat kepadanya.
"Jadi," kata sang sufi, "sudilah kiranya Anda memperdengarkan pada saya, seperti apa Anda berdoa kepada Allah."
Si petani begitu terperanjat dengan kisah itu. Mata tuanya berkaca-kaca.
"Tapi tuan," kata si petani setelah ia berhasil menguasai keterharuannya. "Aku tidak pernah belajar di madrasah. Aku yatim piatu sejak kecil, dan aku seorang yang buta huruf."
"Seumur hidupku, aku hanya hafal tiga doa saja," lanjut si petani. "Al-fatihah, Alhamdulillah, dan Astaghfirullah. Aku tidak mengucapkan apapun untuk Allah selain itu."
"Tidak, pasti ada yang kau ucapkan selain itu, sehingga Allah begitu cinta dengan doa-doamu," kata Sang Sufi.
"Tidak ada, Tuan," jawab si petani. "Bahkan aku merasa, doa-doa dan pujianku sungguh tidak akan layak untuk kupanjatkan kepada-Nya. Demi kemuliaan-Nya! Justru karena itulah, dulu pernah kupaksa jemari tuaku ini untuk menuliskan beberapa huruf di sebuah kertas. Dan itu pun, aku hanya berhasil menuliskan beberapa huruf saja."
Sang sufi sedikit heran. Apa kaitan huruf-huruf itu dengan pertanyaannya?
"Lalu? Ada apa dengan huruf-huruf itu?"
"Kertas-kertas itu, tuan," jawab si petani. "Kertas-kertas kecil di sana," ia menunjuk ke sebuah mangkuk. "Masing-masing tertulis satu huruf. Setelah shalat, memohon ampun dan mengucap syukur, Aku katakan ini kepada-Nya,
'Ya Tuhanku, aku tidak mampu memuji-Mu secara layak. Namun Engkau lebih mengerti bagaimana seharusnya kata-kata yang layak bagi-Mu. Ini, sudah kutulis beberapa huruf untuk-Mu, ya Allah. Engkau susun saja sendiri kata-kata yang Kau sukai, seperti apa seharusnya aku berdoa dan memuji-Mu. Sebab kalau saja aku mampu menyusun kata-kata yang indah, pasti sudah kubuatkan yang terindah untuk-Mu.'
Hanya itu, Tuan."
Lalu, seorang sufi besar yang dijuluki Sang Perajut Kata pun menangis di hadapan seorang petani miskin buta huruf.
: :
~ HERRY MARDIAN, Maret 2018. * Kisah ini fiksi.

0 comments:

Post a Comment