Sunday, March 25, 2018

Gambar Makhluk Bernyawa

Assalamualaikum wr wb
Kang Al, beberapa waktu ini, saya sedang belajar tentang diri saya sendiri. Ditulis begini juga saya tak yakin bisa mengungkapkan kegelisahan yang saya alami hari ini.
Saya sedang belajar tak mengolok-olok (atau semacamnya) atas pendapat, tafsiran, dll yang berseberangan dengan yang saya yakini. Pada tahap selanjutnya, saya sedang memeriksa diri saya sendiri. Banyak hal atau langkah atau putusan yang saya ambil, sedang saya pertanyakan sendiri. Salah satunya tentang hobi saya.
Saya punya hobi melukis. Yang bernyawa juga. Kang Al pasti tahu banyak dalil atau nash yang melarang ini, bahkan diriwayatkan sampai Bukhari dan Muslim, sebab saya menemukan dalih lain, bahwa saya melukis bukan untuk disembah, maka saya teruskan. Tak sesederhana ini, tapi kurang lebih intinya begini.
Seperti yang sering Kang Al singgung, kebanyakan, kita bisa seeenaknya bersilat lidah. Bahkan nash pun bisa diputarbalikan tafsirannya hanya karena tidak cocok dengan hidup yang kadung telah kita sukai terlebih dahulu. Nash hanya jadi pelengkap. Yang cocok dengan arah hidup dipatenkan, yang tak cocok, ditafsir ulang. Kurang lebih begitu
Saya hari ini agak menggigil. Ada gap besar antara nash dengan diri saya sendiri. Keterpisahan. Ketidaksatuan. Saya harus akui, nash saya jadikan dalil saja. Pelengkap, legitimasi.
Saya kurang bisa menjelaskan bagaimana isi kegelisahan saya lewat tulisan. Barangkali Kang Al ada perspektif. Maaf sebelumnya mengganggu waktunya. Tapi saya menulis ini dengan sebenar-benarnya. Dengan kesungguhan. Jazakumullah ahsanal jaza. Saya ingin berubah, Kang Al.
Lukisan hanya contoh saja. Banyak aspek lain dalam hidup ini juga saya perlakukan sama, kurang lebih.
Wa ‘alaikum salam wr. wb.
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Assalamu’alaikum wr wb
Terima kasih untuk kepercayaannya meminta pendapat saya, padahal saya ini siapa sih... Kita tentu tahu ihwal pelarangan penulisan hadits saat Rasulullah saw masih hidup, salah satunya adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibn Said Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda: “Jangan menulis apa pun dariku kecuali Al-Qur‘an. Siapa saja yang menulis sesuatu selain Al-Quran harus menghapusnya.” (HR Muslim dan HR Ahmad)
Itulah yang membuat penulisan hadits sempat dilarang untuk sekian lama. Namun, ihwal sejarah penulisan hadits, di zaman informasi seperti sekarang, Anda bisa mendapatinya dengan mudah, mulai dari googling hingga mencari buku-bukunya yang dijual secara online.
Di sini, saya lebih ingin mengajak kita membahas ihwal kenapa Rasulullah saw melarangnya. Dalam salah satu hadits yang saya temukan dalam kitab Ihya Ulumuddin, Rasulullah saw pernah bersabda: “Kami, para Nabi, diperintahkan menempatkan masing-masing orang pada tempatnya dan berbicara dengan mereka menurut tingkat pemikirannya.”
Lihatlah, bagaimana perintah Allah kepada para Nabi tersebut. Menempatkan setiap orang pada tempatnya, bukan ‘asal tempel’ aja, karena setiap orang Allah ciptakan dengan tujuan khusus. Bahwa Rasulullah saw itu menjadi Nabi bukan dengan cara bersaing dengan Abu Bakar, ‘Umar, Utsman dan Ali, namun, karena satu dan lain hal, maka beliau saw yang jadi pemenang persaingan tersebut sehingga terpilih jadi Nabi. Begitu pula pemimpin, bukan karena seseorang itu selebritis dan terkenal maka dia pasti bisa memimpin dan memakmurkan suatu daerah atau bahkan negara.
Tapi, di zaman ini, yang sering berlaku adalah pandangan anti-esensialisme, dalam pengertian apa pun dan siapa pun bisa menjadi apa pun, terserah, tak ada cetak biru yang harus dituju. Pandangan semacam ini adalah pandangan khas dalam filsafat Barat (post)modern, yang, entah disadari atau tidak, diamini juga oleh sebagian Muslim berpendidikan. Sehingga, salah satu dampaknya, tidak setiap Muslim akan tersentuh dan tercerahkan saat dikatakan: “Allah menciptakan kita dengan misi hidup khusus bagi setiap diri, dan tanda paling mudah terlihat secara lahiriah adalah kita dibuat mudah mengerjakan suatu hal dan tidak hal yang lain.”
Biasanya perlu sekian kegagalan dan masalah berat dulu bagi sebagian muslim agar mulai menyadari dan membutuhkan makna hidup terkait berbagai pertanyaan ihwal siapa saya, untuk apa saya diciptakan lalu disimpan di muka bumi ini, dan kenapa saya dimudahkan melakukan ini dan bukan melakukan itu, dan lain sebagainya. Maulana Jalaluddin Rumi pernah mengatakan bahwa sehat dan kaya itu seringkali jadi hijab bagi manusia. Saat mereka jatuh sakit atau jatuh miskin, barulah Allah ‘terlihat’ dan ‘dibutuhkan’, lalu hidup pun mulai dipertanyakan dan direnungi.
Sedangkan terkait “berbicara dengan mereka menurut tingkat pemikirannya” kita bisa mengingat hadits dari Abu Hurairah ra: “Aku menghafal dua karung hadits dari Rasulullah saw. Yang satu karung telah kuberitakan, adapun yang satu karung lagi seandainya aku beritakan niscaya akan dipotong orang leherku ini!”
Nah, sebagai seorang Nabi, Rasulullah akan selalu berbicara sesuai tingkat pemikiran orang yang ada dihadapannya. Apalagi kita juga ingat 4 (empat) sifat Nabi, yaitu (1) Shiddiq, yaitu benar baik perkataan maupun juga perbuatannya; (2) Amanah, yaitu benar-benar bisa dipercaya jika diserahkan suatu urusan serta dilaksanakan dengan sebaik-baiknya; (3) Tabligh, yaitu menyampaikan segala firman Allah untuk manusia juga pengajaran bagi manusia sesuai amanah; (4) Fathanah, yaitu cerdas, baik dalam menyampaikan ayat-ayat Al Quran kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits sesuai tingkat pemikiran orang ataukhalayak yang ada di hadapannya.
Keempat sifat Nabi ini saja sudah menunjukkan bahwa tak mungkin beliau saw akan, misalnya, ‘memberikan pelajaran mahasiswa S3’ kepada ‘anak Taman Kanak-kanak’... Itu sudah menyalahi tugas kenabian dan tak sejalan sama sekali dengan sifat Nabi.
Karena itu, silakan buka buku-buku hadits, lalu bandingkan sendiri: seperti apa perkataan Rasululah jika sedang berkhutbah di hadapan banyak orang, atau sedang berbicara pada seorang Arab Badui, dan seperti apa perkataan Rasulullah jika sedang berbicara dengan para sahabat dekatnya; atau dalam ilmu hadits dikenal sebagai hadits ahad.
Jika ada seorang Arab Badui bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu agama (ad-din)?” maka Rasulullah menjawabnya, “Agama itu adalah tidak berbohong” atau dalam hadits lain, Rasulullah menjawabnya “Agama itu adalah tidak marah.” Tapi coba kalau yang bertanya adalah Ali bin Abi Thalib, jangan heran kalau jawabannya adalah “Awaluddina ma‘rifatullah” atau ‘awal dari agama itu adalah mengenal Allah’... Jelas berbeda, kalau yang bertanya pemahaman agamanya masih, katakanlah, setingkat ‘TK’, maka jawabannya pun harus yang bisa dimengerti oleh ‘akal setingkat TK’ tersebut. Kalau yang bertanya pemahaman agamanya, katakanlah, setingkat ‘mahasiswa S3’, maka jawabannya pun akan jauh lebih dalam.
Demikian juga jika beliau saw sedang berkhutbah, maka beliau akan menyampaikan khutbahnya dalam penuturan yang bisa dipahami oleh semua yang hadir di situ. Tidak akan beliau saw menyisakan satu orang yang tak paham ihwal apa yang disampaikan karena ketinggian.
Selain itu, silakan Anda bandingkan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Shiddiq, ‘Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan bahkan para sahabat besar lainnya. Bisakah Anda melihat kedalaman persoalannya jika dibandingkan dengan khutbah Rasulullah saw yang relatif mudah dipahami banyak orang? Kenapa begitu sedikit hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat besar tersebut, padahal mereka sudah mendampingi Rasulullah saw sejak fase Mekkah, sementara Abu Hurairah baru di fase Madinah. Tidak mungkin para sahabat besar tersebut tidak ‘menyimpan’ hadits-hadits dari Rasulullah saw.
Namun, sekali lagi, tentu yang menjadi permasalahannya adalah ‘apa yang Rasulullah sampaikan kepada mereka bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dipahami orang awam, dan bahkan bisa menyebabkan munculnya fitnah.’ Dan secara ilmiah, dalam ilmu hadits, kebanyakan hadits dari para sahabat besar tersebut tergolong hadits ahad yang sulit dikonfirmasi dengan yang lain ihwal kesahihannya. “Tidak mutawatir” kalau tidak salah istilahnya.
Dalam buku The Tao of Islam, Sachiko Murata menulis sebagai berikut: “...Nabi diriwayatkan sebagai berkata kepada sahabatnya, Mu‘adz, ‘Barangsiapa yang menemui Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya akan masuk surga.’ Mu‘adz berkata ‘Haruskah aku mengabarkan berita gembira ini pada orang banyak?’ Nabi menjawab ‘Jangan. Aku khawatir mereka hanya bersandar kepadanya saja.’ Sebuah hadits serupa menuturkan bahwa ‘Umar—yang oleh hadits ini digambarkan sebagai menitiskan kualitas-kualitas keras dalam Syari‘ah—mengemukakan keberatan kepada Nabi lantaran mengucapkan hal serupa. ‘Jangan lakukan itu,’ kata Umar, ‘sebab aku khawatir orang-orang akan bersandar kepadanya. Biarkan mereka terus melakukan amal-amal kebaikan.’ Nabi pun menjawab, ‘Ya biarkan mereka.’” (Sachiko Murata, The Tao of Islam: Kitab Rujukan tentang Relasi Gender dalam Kosmologi dan Teologi Islam, Bandung: Mizan, 1996, hlm. 116-117.)
Ini menunjukkan bahwa tidak setiap pengajaran Rasulullah saw kepada para sahabat besar adalah sesuatu yang bisa dengan bebas disampaikan begitu saja kepada masyarakat luas. Adalah kezaliman ‘melempar’ mutiara hikmah kepada yang belum berhak menerimanya, dan itu juga menyalahi tugas kenabian seperti ditegaskan dalam hadits di atas. Namun, adalah kezaliman juga ‘menahannya’ dari yang sudah berhak...
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Kembali kepada masalah menggambar makhluk hidup, beberapa hadits yang sering dipakai adalah:
“Sesungguhnya orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian buat!’” (HR Bukhari).
“Siapa yang membuat satu gambar di dunia, dia dibebani (disuruh) untuk meniupkan ruh pada gambar itu dan ia bukan peniupnya (tidak akan mampu meniup ruh untuk menghidupkan gambar tsb, red).” (Muttafaqun ‘alaihi).
“Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh malaikat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
“Malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan patung (gambar).” (HR Muslim).
Nah, dalam beberapa diskusi dengan Mursyid saya, beliau menjelaskan bahwa baik Al-Quran mau pun hadits sama-sama memiliki makna lahir dan makna batin. Makna lahiriah Al-Quran itu akan tetap langgeng selamanya, sementara makna lahiriah hadits bisa gugur akan tetapi makna batinnya tidak. Untuk bisa menyentuh makna batin Al-Quran dan hadits, kita harus suci juga, karena tak bisa menyentuh yang suci selain yang suci juga. Hal itu diungkapkan langsung dalam QS Al-Wâqi‘ah [56]: 77-79, sebagai berikut: “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali al-muthahharun.”
Nah permasalahannya, dengan imajinasi, nalar, prasangka dan berbagai konstruksi yang sudah banyak dibahas dalam hermenutika, pikiran manusia bisa saja membuat-buat atau mereka-reka tafsir atas Al-Quran dan hadits walau terkesan logis bin masuk akal juga. Dan kalau dikatakan bahwa maksud yang disucikan dalam ayat itu adalah berwudhu, lantas bagaimana dengan kreativitas pikiran manusia yang tetap bisa menafsir-nafsir juga; sekali pun dikatakan bahwasanya diperlukan tiga puluh ilmu alat untuk menafsir, tapi bukankah itu pun bukan kesucian juga? Itu hanyalah membaca dan menafsir dengan berbagai tools produk kecendekiaan umat Islam, produk tradisi ilmiah di kalangan umat Islam? Lagi pula, selain bersuci secara lahiriah, kita pun harus bersuci secara batiniah, sebagaimana syariat pun ada yang lahiriah, yaitu fiqih, dan yang batiniah, yaitu tashawwuf.
Lalu, coba kita lihat QS An-Najm [53]: 2-4, yang menegaskan: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
Lihatlah, betapa luar biasanya Rasulullah Muhammad saw. Bahwasanya wahyu itu bertingkat-tingkat. Wahyu tertinggi adalah Al-Quran. Sekarang bayangkan bahwa pesan berupa suara dari orang yang berbicara kepada Anda masih bisa dimediasi oleh udara untuk sampai ke telinga Anda, atau pesan ke hape Anda masih bisa dimediasi oleh gelombang elektromagnetik yang merambat di udara. Nah, Al-Quran, adalah pesan dari Allah Ta'ala yang apabila disampaikan kepada qalb Muhammad dengan perantaraan alam semesta ini, maka tiada yang sanggup. Maka dibawalah pesan itu oleh yang kuat, yaitu Jibril as ke dalam qalb Muhammad.
Namun, ada wahyu-wahyu lain yang tingkatannya di bawah Al-Quran (bahkan Al-Quran pun menyatakan bahwasanya lebah, bumi dan ibunya nabi Musa pun mendapatkan wahyu). Nah, dari lisan Rasulullah saw kita mengenal hadist qudsi (istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh Ibn 'Arabi), yaitu firman Allah yang tidak masuk dalam Al-Quran, dan kemudian hadits-hadits Rasulullah yang sebenarnya—merujuk pada ayat di atas—adalah wahyu juga namun dalam peringkat yang lebih rendah daripada Al-Quran. Jadi, bisakah Anda bayangkan keagungan Rasulullah Muhammad saw? Bahwa semua yang keluar dari lisannya adalah wahyu, dari mulai Al-Quran, hadits qudsi dan hadits-hadits? (Allahumma shali ala Muhammad...)
Menurut beberapa ulama (yaitu mereka yang khasya kepada Allah), al-muthaharun itu secara mudahnya adalah suci sesuci bayi. Saat manusia lahir, semuanya terlahir suci tanpa dosa. Saat bayi, indera manusia masih belum mampu bekerja secara maksimal, bahkan matanya pun perlu waktu sekian bulan untuk mulai menangkap suatu objek secara baik. Dalam kondisi seperti itu, bayi masih menggunakan indera jiwa. Karena itu, sering terlihat bayi tertawa-tawa melihat sesuatu, padahal kalau kita coba gerakkan tangan kita secara cepat ke depan matanya, mata bayi itu tidak berkedip karena mata lahiriahnya belum bekerja secara baik untuk menangkap objek-objek lahiriah. Namun, semakin dewasa, manusia semakin sering membuat dosa, dan mata jiwa (yang sering disebut juga sebagai mata hati) itu perlahan-lahan mulai tertutup. Maka Al-Quran mengatakan bahwa yang buta bukanlah mata yang itu, tapi hati di dalam dada.
Setelah dewasa, karena yang kita percaya hanyalah indera lahiriah kita, maka kita pun berdalih ini itu hanya untuk membela kebutaan mata hati kita. Dalam salah satu hadis dinyatakan: "Jikalau tidaklah setan-setan itu mengelilingi qalb anak Adam, nicaya mereka dapat memandang ke alam malakut langit." Saat ini, kita yang sudah dewasa telah lupa bagaimana rasanya memiliki mata hati. Terakhir kali kita memilikinya adalah saat masih balita, namun lama kelamaan yang kita anggap nyata hanyalah indera lahiriah kita ini. Bahkan dengan dalil-dalil agama kita bisa membantah adanya indera semacam itu, menyebut bidah mereka yang sudah dewasa namun mampu melihat ke alam malakut, mungkin untuk memberi kenyamanan juga pada diri kita sendiri atas butanya mata hati kita oleh tumpukan dosa dan dosa.
Kalau kita mau melihat sejenak, betapa anak kecil itu begitu murni dan seringkali tidak pendendam. Mereka akan bertengkar dengan teman sebayanya, entah berebut mainan atau memaksakan kehendaknya. Namun setelah mereka bertengkar dan menangis, toh 15 menit kemudian mereka sudah bermain bersama lagi. Seperti tak ada dendam. Namun, semakin mereka dewasa, mereka semakin meniru kita, orang-orang dewasa, yang egois dan pendendam. Prototipe manusia yang suci itu pun perlahan-lahan hilang, dan indera jiwanya lambat laun mulai tak berfungsi lagi seiring dengan semakin menguatnya tabiat buruk bentukan lingkungannya dan akhirnya hingga dia mulai menanggung dosanya sendiri. dan jadilah anak kecil yang suci itu menjadi manusia dewasa yang buta dan lumpuh semua indera jiwanya, menjadi seperti kita yang dewasa ini. Kita menjadi manusia yang keras hati, bahkan dalam beragama pun kita menyukai kekerasan serta menuding-nuding orang lain sebagai salah jalan atau sesat, dan juga ingin benar sendiri.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Nah, itu semua adalah pengantar untuk pembahasan kita berikutnya tentang hadits. Berikut adalah studi kasus, sebelum kita mencoba membaca hadits tentang menggambar makhluk hidup dan patung.
Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw dan juga Umar bin Khaththab pernah menganjurkan agar kita mengajarkan 3 hal kepada anak kita, yaitu: Berenang, Berkuda dan Memanah. Makna hadits itu secara lahiriah memang sesuai dengan konteks zaman itu, namun untuk zaman ini, bisa jadi secara lahiriah makna hadits tersebut sudah gugur (terutama berkuda dan memanah), namun makna batinnya tidak.
Hikmah BERENANG adalah serupa dengan yang pernah saya tuliskan dalam sebuah status: “Dalam Al-Quran, laut itu melambangkan kehidupan dunia. Untuk melewatinya manusia harus membelah laut seperti Musa agar tak terbasahi, atau berjalan di atas laut seperti Isa, atau mengarunginya dengan bahtera. Hanya ikan mati yang akan menjadi seasin air laut. Jadilah seperti ikan hidup, yang merenangi lautan tanpa menjadi asin.” Nah, hikmah dari berenang itu adalah mendidik anak untuk dapat mengarungi kehidupan ini dengan selamat dan bukannya tenggelam.
Hikmah BERKUDA adalah seperti simbol kuda yang tertuang dalam QS Al-Âdiyât. Imam Al-Ghazali, misalnya, menceritakan bahwa kuda dan penunggang kuda beserta anjing pemburunya melambangkan jiwa sebagai penunggang, dan jasad sebagai kuda, dan anjing sebagai hawa nafsu. Tentu saja, anjing pemburu di situ adalah anjing yang sudah terlatih, jinak dan bisa dipakai untuk menangkap hasil buruan yang sudah dipanah, bukan anjing liar hawa nafsu milik kebanyakan dari kita, yang menggonggongi siapa pun dan menyerang siapa pun yang dianggap mengusiknya. Hikmah berkuda dalam hadits itu adalah mengajari anak disiplin untuk mengendalikan jasad beserta syahwat dan hawa nafsunya.
Hikmah MEMANAH adalah mendidik anak untuk fokus terutama pada energi minimalnya yang bisa menjadi pembuka langkah awal menuju dharma atau misi hidupnya yang sebenarnya, misi hidup yang menjadi amanah setiap individu saat “diutus” ke dunia ini. Pandangan ihwal manusia tanpa cetak biru ini tumbuh subur dalam pemikiran Barat berbarengan dengan runtuhnya pandangan tentang hierarki realitas. Alam tidak lagi dipandang bertingkat-tingkat. Realitas sejati hanyalah manifestasi fisik ini yang menjadi landasan penilaian untuk segala hal. Terlebih lagi, posisi Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu telah dicoret dari pembicaraan filosofis; tabu untuk dibicarakan, seakan “pornografi” dalam filsafat.
Akan tetapi, pandangan tentang manusia tanpa cetak biru ini pun merembes ke dalam wilayah agama. Meski sampai saat ini agama masih mengakui adanya hierarki realitas, namun bagi kebanyakan pemeluknya, itu hanyalah sebuah konsep yang diyakini tapi tidak pernah dialami. Dalam Islam, misalnya, diyakini bahwa manusia itu diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Akan tetapi, konsepsi khalifah itu tidak menyentuh tataran bahwa manusia itu punya misi hidup khusus dan keahlian tertentu. Sepertinya bunyi keyakinan tersebut menjadi: “manusia adalah khalifah di muka bumi yang tidak ditentukan apa misi hidupnya dan harus menjadi siapa?”
Apabila kita melihat pohon mangga, pastilah kita yakin bahwa yang dulu ditanam di tanah tersebut adalah benih mangga. Namun, apabila ada manusia yang menjadi nabi, itu bukanlah karena misi kenabian tersebut telah ditentukan sejak awal penciptaannya. Itu hanya sebuah kebetulan saja. Pandangan aneh seperti ini—yang tanpa sadar banyak dianut orang—lebih menyerupai campuran “skizofrenik” antara pandangan hierarki realitas ala agama dengan keyakinan manusia tanpa cetak biru ala filsafat Barat yang tidak mempercayai hierarki realitas.
Coba amati kisah hidup Einstein. Waktu kecil dia benar-benar anak yang payah. Dipandang bodoh dalam semua mata pelajaran, kecuali matematika. Bahkan gurunya menyatakan kelak bila Einstein besar, dia takkan menjadi apa-apa. Ternyata Einstein jadi fisikawan terbesar di abad dua puluh. Amati juga kisah hidup Thomas Alva Edison yang akhirnya dididik sendiri oleh ibunya setelah guru sekolahnya menolak mendidiknya. Setelah dewasa dia malah jadi seorang penemu. Dia bahkan betah melakukan eksperimen 1000 kali untuk menemukan lampu.
Apa yang paling mencolok dari kisah kedua tokoh itu? Energi minimal. Energi minimal itu semacam bayangan jati diri individu. Suatu kemampuan utama yang dimiliki seseorang yang mengalir mudah ketika mengerjakan sesuatu. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang-malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, bukan dengan energi minimalnya, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal. Guru yang baik mengajari, sementara guru sejati memberi inspirasi. Inspirasi akan membuat si anak didik mencari dan belajar dengan sendirinya. Inspirasi bisa memancing energi minimal keluar.
Coba lihat cahaya dari lampu pijar sepuluh watt. Betapa redupnya, untuk dipakai membaca pun hanya akan membuat mata kita rusak. Namun saat cahaya 10 watt itu difokuskan menjadi sinar laser, maka besi pun bisa ditembusnya. Lihatlah minyak yang tumpah di lautan, menyebar ke mana-mana namun saat kita celupkan tangan kita,, ternyata tumpaha minyak itu dangkal saja. Nah, mengajari anak memanah adalah agar dia fokus pada energi minimalnya, dan perhatiannya tidak menyebar dan terpecah ke mana-mana, agar lahir ketajaman dan ketepatan sasaran dalam masa pembelajarannya.
Begitulah hikmah hadits tersebut yang pernah saya diskusikan dengan Mursyid Penerus.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Nah, kini kita membahas larangan menggambar makhluk hidup dan juga patung serta kaitannya dengan malaikat yang tidak akan masuk ke rumah yang ada itu semua.
Sebagaimana sudah kita lihat di atas, hadits itu terikat dengan kepada siapa itu diucapkan dan kapan serta dalam konteks apa. Itulah kenapa Rasulullah melarang hadits dicatat, yang menurut pemahaman hasil belajar saya, sebab tak bisa diberlakukan absolut pada semua orang dan di semua kondisi dan dalam konteks yang berbeda.
Misalnya soal gambar. Dalam tulisan berjudul “Menyoal Lukisan Maria dan Bayi Yesus di Dinding Ka’bah”, Karen Armstrong menulis sebagai berikut:
“Pada 632 M, setelah lima tahun peperangan yang hebat, Kota Mekkah di Hijaz, Semenanjung Arabia, secara sukarela membuka gerbang untuk pasukan Muslim. Tidak ada darah ditumpahkan dan tidak ada orang yang dipaksa untuk menjadi Muslim, tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan penghancuran seluruh berhala dan patung Ketuhanan. Terdapat sejumlah lukisan dinding pada dinding-dinding bagian dalam Ka’bah, tempat suci kuno di tengah Mekkah, dan salah satunya, konon diriwayatkan, menggambarkan Maria dan bayi Yesus. Segera, Muhammad saw menutupinya dengan jubahnya dengan penuh hormat, memerintahkan agar semua lukisan yang lain dihilangkan kecuali yang satu itu.”
Silakan baca artikel lengkapnya dalam link berikut ini:
Lalu soal patung. Sebagai umat Muslim, kita tentu tahu ayat berikut ini:
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula), dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan sesiapa dari jin itu yang menyeleweng dari perintah Kami, maka Kami akan merasakannya (pukulan) dari azab api neraka. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (QS Saba’ [34]: 12-13)
Jika gambar makhluk hidup diharamkan, lalu kenapa Rasulullah saw menyelamatkan gambar Maryam dan bayi Isa? Jika patung diharamkan, lalu kenapa Al-Quran malah mencantumkan ayat tentang bagaimana istana Nabi Sulaiman juga berisi patung-patung? Apakah Al-Quran hanya sedang menceritakan secuplik sejarah saja? Kalau ada yang berpandangan seperti itu, berarti mereka sama dengan orang-orang kafir dalam QS Al-An‘âm [6]: 26 yang menyatakan bahwa “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” Lagian, kalau itu hanya sekadar sejarah, untuk apa juga Allah sampai mengutus Jibril untuk membawa wahyu tersebut ke qalb Rasulullah saw? Hadits qudsi saja tidak disampaikan dengan perantaraan Jibril as.
Nah, Mursyid saya pernah menjelaskan bahwa larangan Rasulullah saw terhadap gambar dan patung itu karena terkait tabiat orang-orang kafir Quraisy yang menempelkan banyak gambar dan juga patung berhala di Ka‘bah. Untuk masyarakat yang baru diperkenalkan kepada agama terakhir dan penyempurna—serta kelak menjadi khairun ummat—maka berbagai hal yang terlalu riskan akan mencemari keimanan mereka harus dihilangkan. Salah satunya adalah gambar dan patung.
Terlebih mereka adalah masyarakat yang hidup di tengah gurun. Ada kondisi alam yang berbeda antara tempat dan kondisi alam serta budaya di mana agama Timur—di antaranya Hindu dan Buddha—lahir dan menyebar, dengan tempat dan kondisi alam serta budaya di mana agama Barat—di antaranya Yudaisme, Nasrani dan Islam—lahir dan menyebar.
Pembagian Timur dan Barat ini hanya untuk mempermudah pembagian saja. Kalau mau dikritisi, mendingan bikin tesis atau disertasi aja, daripada nyinyir di obrolan ringan kita ini he he he he...
Agama Timur memang terkesan lebih feminin dan kaya dengan aspek visual, karena kondisi alamnya yang hijau dan pemandangan yang memanjakan mata. Sementara agama Barat memang terkesan lebih maskulin, terlebih dengan kondisi alam gurunnya yang panas, gersang dan tak hijau seperti di Timur. Kita yang hidup di Timur tentu tak akan asing dengan kekayaan artefak visual dari Hindu dan Buddha, misalnya. Bahkan, dalam salah satu kuliah—saat jadi dosen—saya bertanya kepada para mahasiswa saya, yaitu mahasiswa DKV, bahwa dalam parisiwisata dan suvenir khas Indonesia, adakah yang bukan merupakan warisan Hidnu atau Buddha? Apakah jilbab, ciput, niqab, baju koko, tasbih dan lain-lain itu laku untuk jadi trade mark pariwisata dan suvenir khas Indonesia? Semuanya masih yang bernuansa Hindu dan Buddha kan?
Setidaknya ini bisa menjadi suatu gambaran bagi kita, bahwa bagi masyarakat yang tinggal di gurun tandus, yang kekayaan visualnya tak sekaya di wilayah yang penuh hutan dan sungai, maka suatu gambar yang indah dan patung yang memukau juga bisa mudah membuat mereka takjub, lalu dalam perjalanan waktu akhirnya malah menjadi berhala.
Dalam perjalanan sejarah, kita pun melihat bagaimana setelah Islam ke luar dari Mekkah dan Madinah lalu menyebar ke berbagai negara, maka kita pun mulai mengenal sosok seni Islam yang merupakan hasil akulturasi antara budaya Arab-Islam dengan budaya negara baru yang menerima Islam sebagai agama barunya. Terlebih di Nusantara, kita melihat bagaimana wujud visual seni Islam dengan seni Hindu dan Buddha nyaris tak terbedakan lagi.
Maka, menurut saya, secara lahiriah, larangan ihwal membuat gambar makhluk hidup dan patung itu sudah gugur, terlebih di zaman di mana unsur visual yang gemerlap dan memukau mudah dilihat di mana pun, entah melalui televisi, foto, internet dan berbagai media visual lainnya. Bahkan, Bang Imad (Muhammad Imaduddin Abdulrahim) pernah bicara dari atas mimbar khatib di Masjid Salman ITB, saat saya masih SMA, bahwa “Orang Barat sudah sampai teknologi foto satelit, kita masih saja ribut soal larangan gambar makhluk hidup.”
Namun, secara batiniah, hadits itu tetap berlaku hingga akhir zaman.
Dalam salah satu hadits qudsi Allah berfirman: “Bumi dan petala langit-Ku tak sanggup memuat-Ku, tetapi qalb (hati) seorang hamba mukmin yang shalih sanggup memuat-Ku.” (HR Imam Ahmad)
Para sufi menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan ihwal qalb manusia sebagai baitullah atau ‘rumah Allah’. Dan jika di dalam ‘rumah’ tersebut ada gambar makhluk hidup, yang merupakan tanda bahwa yang memiliki qalb itu adalah ‘seorang tukang selingkuh’, bahwa dia membagi cintanya untuk Allah dan makhluk hidup lainnya, maka malaikat tak akan masuk ke ‘rumah’ tersebut. Kita tentu tahu hadits berikut ini:
Dari Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Inilah ‘tukang selingkuh’, niatnya mendua, dan Allah tak akan menerima niat yang mendua seperti itu, dan malaikat pun tak akan masuk ke ‘rumah’ atau qalb tukang selingkuh tersebut.
Lalu patung, sebagai lambang dari syahwat atau hasrat material terhadap harta kekayaan dan juga ilah (yang jadi berhala) selain Allah, yaitu hawa nafsunya sendiri.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Terakhir, terkait dengan pemaparan saya ihwal energi minimal di atas, dan digabungkan dengan pembacaan saya—dari belajar kepada Mursyid Penerus dan juga pembelajaran pribadi untuk memperdalamnya—atas larangan menggambar makhluk hidup, tidakkah Anda merasakan suatu paradoks jika larangan tersebut memang seharfiah itu?
Kita tampaknya sama-sama orang yang diberi kemampuan menggambar. Toh saya pun sejak SD suka ikut lomba menggambar, selalu mendapat nilai 10 dalam pelajaran menggambar, saat SMA jadi pentolan hobi grup Cakrawala yang fokusnya khusus di seni rupa, dan akhirnya kuliah di FSRD ITB. Namun, berbeda dengan teman-teman saya di kampus yang memang luar biasa kelihaian tangannya, saya ternyata punya batas dalam hal seni rupa. Juga mungkin tidak seperti Anda yang hobinya melukis. Walaupun passion dan kemampuan saya tak sedahsyat teman-teman saya di FSRD, namun toh kemampuan visual saya masih hidup sampai sekarang. Bahkan beberapa kali saya membuat makalah filsafat untuk tugas di kampus dengan menggunakan gambar, bukan hanya kata-kata dari awal dampai akhir. Bahkan dalam draft tesis pun demikian.
Betapa malangnya kita berdua, yang tangannya Allah beri kemampuan menggambar, namun kok menggambar makhluk hidup malah diharamkan? Lalu kenapa Allah beri kelebihan di tangan kita untuk menggambar?
Begitu juga antusiasme dan kemudahan saya dalam membaca buku-buku filsafat dan cultural studies serta mempelajarinya. Saya bisa membacanya sambil naik kereta api atau travel. Lalu, kalau ternyata filsafat itu haram dan menyesatkan, kenapa Allah tak memberi saya otak sains atau matematika saja? Saya sangat payah dalam berhitung. Dan kalau pun saat SMA saya belajar fisika dan masuk A1 (Fisika), Insya Allah bisa paham, namun tak punya gairah sama sekali untuk mengerjakan soal-soalnya, apalagi mendalaminya.
Bayangkan betapa mubazirnya kemampuan yang saya punya... Bisa menggambar namun menggambar itu haram, terlebih makhluk hidup. Lalu berfilsafat pun haram. Lalu saya harus jadi apa? Kenapa juga saya diciptakan dengan dua kemampuan yang malah diharamkan?
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Demikian yang saya pahami ihwal hadits dan larangan tersebut. Setelah Anda membaca pandangan saya ini, berdoalah kepada Allah, bahkan kalau bisa saat sedang sujud akhir dalam shalat, bahwa jika pandangan saya ini sesat dan akan menyesatkan Anda, maka mohon kepada Allah agar menyelamatkan Anda dan menunjukkan kesesatan saya. Libatkan Allah selalu dan mintalah perlindungan-Nya, jika pandangan saya ini akan menyesatkan Anda, dan mohon agar dijauhkan dari pandangan seperti ini. Kenapa juga harus menganut Mazhab Katanya, apalagi sampai doyan mengolok-olok pandangan yang berbeda.
Saya juga sering heran sama orang yang suka komentar di wall orang lain dengan ngerasa paling bener dan paling tahu agama, lalu nyalah-nyalahin orang lain. Belajar agama kok produknya malah jadi tukang nyampah di wall orang lain dengan cara menyebalkan.
Demikian. Semoga ada gunanya. Mohon maaf kalau ada salah kata. Kebenaran hanya dari Allah Ta’ala sementara kesalahan dari diri saya pribadi. Wallahu ‘alam bishawwab.

0 comments:

Post a Comment