Friday, March 16, 2018

Goutha Timur dan Konflik Besar

1.0
Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Inggris menuduh Rusia bertanggungjawab atas serangan Salisbury. Satu serangan yang diduga melibatkan material kimia pada bekas agen KGB Sergei Skipal dan putrinya.
Rusia menolak dan mengancam mengusir diplomat Inggris serta membatasi liputan piala dunia 2018 bagi media Inggris.
Eskalasi "bahaya rusia/Russpobie" ini tidak dapat kita lepaskan dari kejadian-kejadian sebelumnya. Inggris adalah negara yang paling bertanggungjawab dalam perang media di teater Suriah. Bukan hanya membentuk konsil kemanusiaan yang berlaku seolah-olah sumber terpercaya perang Suriah namun mereka juga mendirikan sayap milisi penyelamatan: The white helmets.
White helmet inilah yang memproduksi film-film propaganda korban senjata kimia, yang menjadi dalih (pretext) bagi aliansi NATO beberapa kali menyerang tentara Suriah.
2.0
Media ini juga yang kembali sibuk memproduksi propaganda kemanusiaan pada saat militer Suriah memutuskan membebaskan Goutha Timur -sub distrik Damaskus dari kelompok oposisi bersenjata, jihadis dan Al Qaeda.
Termasuk ancaman AS, Prancis, dan Inggris untuk menyerang Damaskus dengan dalih senjata kimia.
Jatuhnya kekuatan oposisi dan milisi jihadis di Ghouta akan memberikan dua dampak besar pada perang tujuh tahun Suriah:
Pertama hilangnya klaim Barat atas kelompok yang disebut, Oposisi atau Moderat anti Assad. Ini artinya proyek Arab Spring yang membawa demokratisasi dan pergantian Rejim gagal diterapkan di Suriah.
Kedua: jatuhnya Ghouta Timur akan mengembalikan kemampuan Garnisun Udara (Arhanud) Suriah. Di Albark Suriah akan menempatkan arhanud modern sekelas Tor 1/2M dan S300/400 anti pesawat-rudal buatan Rusia.
Jika re-instalasi arhanud ini selesai dengan jatuhnya Ghouta, maka Tentara Suriah memiliki payung perlindungan untuk melakukan serangan cepat di kota-kota selatan. Daraya, dan Dataran Tinggi Golan yang dikuasai milisi jihadis yang didukung Israel.
3.0
Artinya, aliansi Barat (AS, UK, Prancis) dan mitra Timur Tengahnya (Saudi, Qatar, Turki, Jordan, Emirat) akan benar-benar menerima kenyataan yang tidak diingingkan: kehadiran Rusia-Iran-Cina sebagai superpower baru di kawasan Timur Tengah.
Bagi Israel jatuhnya Daraya (Daraa) akan membuka jalan bagi Hezbollah menempatkan lebih banyak rudal bagi perang yang akan datang. Sementara pada saat yang sama Israel akan berhadapan dengan generasi baru tentara Suriah, yaitu kelompok milisi nasionalis Suriah.
4.0
Apabila kita perhatikan serangan-serangan media Eropa kepada Rusia dan upaya AS menjegal kesepakatan nuklir Iran, maka arahnya sudah jelas. Rusia, Iran dan Cina tidak akan mundur dalam negoisasi perang ini. Rusia akan melanjutkan teaternya di Suriah dengan tingkatan yang lebih keras.
Bukan mustahil perang Suriah bisa mengubah perang Proxi menjadi perang aksis/poros. Mungkin kita akan menyaksikan perang besar.

0 comments:

Post a Comment