Monday, March 12, 2018

Konflik Suriah dan Resolusinya

Burung camar menukik di Alsterfontane Kanal Ballindamm dari jendela restoran Atelier, ketika Ambassador Wickendick menawarkan saiya untuk berpartisipasi di desk Timur Tengah.
Siang itu restoran menghadirkan sop tomat dan roti bawang yang nikmat sekali. Rhyme dan Parsley diletakkan di saos jamur dan pelayan memberitahu jika kami boleh meminta berapa pun salmon. Ini hari salmon, ia berkata.
Sebuah gedung tua enam lantai berdiri tegak di sisi kanal dimana kami bertemu Tuan Moritz yang mengatakan bahwa sebuah usulan resolusi negara baru berbasiskan agama dan etnis disiapkan bagi Suriah dan Irak. Itu kira-kira satu tahun setelah pecah konflik di Homs dan Allepo pada Maret 2011.
Di ruangan ada empat orang lainnya selain kami berdua. Gadis pegawai magang mengatur layar dan landkarte (map). Satu ilustrasi geografi Suriah-Irak dengan bagian utara negara otonom Kurdi, di barat dan selatan Suriah bagi negara Alawite, Druze dan Ahlussunah.
Si gadis kembali menggelar map berbeda yang isinya struktur pemerintahan republik parlemen. Satu model pemerintahan bersama yang diterapkan di Lebanon (confenssionalisme) antara Sunni, Syiah, dan Kristen kini mau dicobakan pada kasus Suriah dan Irak.
Saiya sampaikan bahwa gagasan confesionalis akan menimbulkan tragedi besar. Ini karena Suriah adalah negara Kanton. Sebuah melting pot keberagaman yang bukan hanya etnis tetapi juga agama selama ribuan tahun. Suriah adalah satu-satunya negara dengan sekte agama tertua terbanyak di dunia. Berbagai macam aliran kristen dari orthodok ke Roma, dan sekte Islam tetap hidup di Suriah.
Secara historis orang Suriah bangga dengan peradabannya dan meyakinkan mereka jika pemisahan negara brrdasarka isu konflik sektarian adalah omong kosong.
Presiden Assad akan mengatasi konfliknya dengan oposisi dan pemberontak. Kemudian rekonsiliasi akan menjadi opsi terbaik. Payung negara kesatuan Suriah akan menjadi konklusi dari dialog dan ini tidak akan menerima apapun bentuk pecah belah sebagaimana skenario dalam peta.
"...ini aneh, bagaimana mungkin kita dapat memberikan resolusi dengan prekondisi- prekondisi?"
Saiya berkata dan Ambassador Wickendich menganggung setuju. Lepas diskusi tadi ia menyalami saiya dan berkata bahwa satu pertemuan konstruktif telah terjadi.
Yang dimaksud prekondisi tadi adalah pertama kita menyebut pemerintah Damaskus sebagai biang keladi. Lalu mendelegitimasi hak rakyat Suriah yang lebih berhak untuk menentukan apakah Presiden Assad turun atau lanjut. Ini adalah persoalan mengakui kedaulatan orang lain. Kemudian kita membagi wilayah berdasarkan etnis dan agama, yang ini adalah satu hal mustahil bagi Suriah.
Saiya lalu menambahkan jika Kurdi dalam konflik tadi tidak akan pernah memiliki otoritas sepenuhnya tanpa lindungan Damaskus. Ini karena hanya di Suriah orang Kurdi dianggap sama dengan warga negara Suriah lainnya. Sementara di Turki dan Irak mereka dianggap kelas dua.
Saiya lalu bertemu Abu Ammash dan Moh Taufiq di Berlin pada 2014, keduanya penghubung bagi Irak dan Otonomi Kurdi di Irak. Dari cara menjawab apa yang saiya tanyakan, sepertinya Baghdad tidak akan pernah mengakui Erbil bila referendum Kurdi Irak tetap dipaksakan. Amash dan Taufiq menjawabnya secara diplomatis, tetapi saiya katakab bahwa hanya payung nasionalisme Iraklah yang hari ini dapat meminimalisir konflik.
Kami berangkat bersama ke Hamburg, kali ini di Restoran Atelier menyediakan nasi briyani ikan Salmon. Saiya meminta sup tomat dan itu adalah yang paling nikmat.
Setelahnya saiya dua kali bertemu dengan satu dua orang dari desk Timur Tengah tadi. Si gadis pembawa peta bersama tuan Moritz membawa satu rombongan mahasiswa master ke Jordania untuk melakukan studi geografi. Mereka meneliti "imagined geography", tentang wawasan spasial kelompok yang menyebut dirinya penguasa "negara islam". Yang lalu dipresentasikan di Uni Goetingen pada 2016.
Pada 2017, Erbil mengadakan referendum pisah dari Baghdad. Tetapi ia tidak mendapatkan dukungan baik domestik maupun internasional sebagaimana kita prediksikan. Satu langkah luar biasa dari seorang Marja Syiah, Ali Sistani yang mengeluarkan fatwa persatuan Irak dan mobilisasi umum mengikat pada kepentingan sama yaitu nasionalisme Irak bersatu telah membuat upaya pecah belah sebagai musuh bersama Irak.
Presiden Assad pelan-pelan mengatasi diplomasi perang dan rekonsiliasi. Hari ini di Ghouta Timur pinggiran kota Damaskus, satu-satunya wilayah terakhir oposisi Suriah akan menghadapi operasi pamungkas tentara Arab Suriah. Jika Ghouta direbut Assad ia akan memenangkan dan mengemudikan arah diplomasi dengan pihak oposisi. Suriah akan melakukan rekonsiliasi tanpa prekondisi. Tinggal mereka menyelesaikan operasi-operasi militer di kota-kota tersisa menuntaskan urusan dengan kaum jihadis dan mersendaris bersenjata.
Sekat geografi yang dibawa si gadis novis di Hamburg tidak akan pernah terwujud dan mereka cepat memahaminya. Jerman sejak awal menjaga konsekuensi sebagai pihak yang nanti dipersalahkan.

0 comments:

Post a Comment