Saturday, March 24, 2018

Konsepsi Geografis Negara Bubar

Kajian Geografi semenjak PD1 selesai berobah dari ilmu urus tanah kepada pemetaan kekuasaan dalam ruang yang lebih fkeksibel. Jika pada masa lalu geografi adalah konsep coorporeal/kasat dari dimensi tiga (3D) maka hari ini geografi adalah apa saja yang bisa di konsepsikan, di persepsikan, dan diimajinasikan sebagai ruang.
Perobahan ini tidak begitu saja terjadi melainkan melalui pandangan kritis dalam kajian spasial.
Bila kita membaca Marxist maka akan diperoleh historiografi yang menunjukkan perobahan ini. Misal pada awal-awal kajian ini bersifat ekonomi politik yang menekankan pada sumber-sumber produksi sebagai subjek mayor. Sejalan waktu ia pun menuju arah kontrol atas kekuasaan pada alat-alat produksi. Pembahasan seputar ruang impreali dan ruang kolonial, rempah-rempah, emas dan tembaga bergerak menuju hak-hak buruh, upah dan jam kerja.
Dua yang pertama masih melihat persoalan ekonomi-politik sebagai faktor penggerak utama saling terkait. Kebijakan (policy) sebagai driver ekonomi dan sebaliknya. Pokok Ini yang ditekankan Marxist pada hubungan dialektika sejarah material. Nyata bagi kajian ini jika Sejarah manusia, komunitas dan negara terbentuk karena persoalan coorporeal politik dan ekonomi.
Sehingga dapat difahami mengapa kajian-kajian geografi yang pada masa lalu bersifat material, konkrit, map-able, dan empiris. Hanya seputar sumber daya alam, perkebunan industri, pabrik dan pasar. Demikian juga di bidang sastra marxist dan post kolonial juga banyak mengambil setting ini.
Baru akhir 60's-70's kritik atas kajian geografi ini menguat di eropa. Ia dianggap tidak lagi dapat menjawab kompleksitas dunia moden.
Munculnya Pakta Warsawa, NATO, sebagai persekutuan geografis dari geo security. WTO, MEE sebagai pakta geo ekonomi, OKI (Organization of Islamic Confereence) sebagai pakta berbasis agama dan aneka Zona strategis lainnya menunjukkan jika definisi kasat dari geografi tidak lagi memadai.
Dari sini kemudian muncul kritik pada kajian geografi seperti dilakukan Edward W Said (Orientalism), Henry Levebre, Michael Foucault, F.Jameson sampai ke modern geografer seperti Edward Soja, David Harvey, B.David dll..
Said misalnya melihat terminologi "the oriental" bukan hanya pelecehan dunia Barat untuk menyebut bangsa terjajah sebagai bangsa orient (Timur), tetapi oriental berarti to be oriented. Bangsa yang harus diorientasikan.
Sementara Harvey melihat terminologi urban, sub urban, con suburbant, sentral marginal hanyalah sub-sub dari kolonialisme ruang dalam ukuran miniatur. Istilah poor area, gheto area, slum distric, adalah teknik lain memasukkan agenda-agenda. Maka hari ini kita mengenal definisi geografi berbasis kemiskinan, kesejahteraan, keamanan, dst.
bersambung...nyuci dulu (Andi H)

0 comments:

Post a Comment