Saturday, March 24, 2018

Novel sebagai Referensi

Banyak hal rumit yang disederhanakan dalam penulisan-penulisan popular. Ada beberapa alasan penulis menyampaikan gagasannya melalui cabang literatur ini.
Antara lain ia ingin pembaca memahami satu topik dengan penggunaan perumpamaan.
Hampir semua pembaca pasca kolonial akan lebih mudah memahami teori ini dari pemikir-pemikir yang menulis versi novelnya. Ada Arundhati Roy yang menulis literatur Hindi English dan ideologi dalam God of Small Things. Amitav Ghosh menulis River of Smoke bisnis licik Inggris-Cina dalam penyelundupan opium untuk membiayai kolonialisme dan menyogok pejabat korup.
Dr. Imme Schole, Deputi Direktur Lembaga Penelitian Pembangunan Jerman membahas buku ini sebagai pengantar analisanya atas trend kerjasama pembangunan eropa-Cina.
Menarik juga melihat fenomena black market pasar asap ini dalam hubungan antara kekuasaan (politik) dan bisnis (ekonomi). Bukankah Singapura dulu didirikan dengan cukai rokok dari pedagang Kopi-Tembakau Oei Tiong Ham dan proyek geopolitik AS di timur Tengah - Asia Tengah dimodali perdagangan heroin Afghanistan
Begitu pula dengan politik Devide Et Ruin yang menggantikan Devide et Empera Inggris pasca nasionalisme Asia-Afrika dalam novel George Orwel dengan Burma Days. Tentu saja Pramoedya dalam novel tetralogi pulau Buru.
Bagi yang menyukai Semiotika dan diskursus kritis maka The name of the Rose dari Umberto Eco akan lebih membantu membaca buku Semiotic yang dia tulis secara serius.
Pada tahun 2000 kajian sastra filosofis menjadi lebih mudah bagi para pelajar dan mahasiswa karena Mizan menerjemahkan buku Dunia Sophie. Saiya memiliki versi Inggrisnya dari rumah pasangan gay Australi yang menjualnya sebagai Garage Sale bersama barang-barang lainnya.
Untuk mengetahui futurisme teknologi, dulu ada buku Being Digital dari Nicholas Negroponte yang saiya beli di tukang loak Cikapundung. Ini merupakan jenis opini tentang bagaimana teknologi digital mengubah interaksi, transportasi, logistik dan opini publik. Ini sangat membantu kita menelusuri masa depan. Apa yang ditulisnya beberapa telah menjadi kenyataan.
Sementara untuk mengetahui apakah Indonesia bubar pada 2030 kita tidak perlu baca buku apa-apa. Cukup planga plongo;
Andi H

0 comments:

Post a Comment