Sunday, March 11, 2018

Paspampres Tahan Anies?

Sepertinya dari video, obrolan WA grup, Gubernur Anies memang diminta seseorang berbaju safari hitam-hitam untuk tidak mengikuti rombongan podium utama (glass block) turun memberikan piala di final sepakbola piala presiden.
Secara kebiasaan Gubernur, yang adalah pembina klub, pembina Jakmania dan otoritas di provinsi DKI Jakarta mestilah diundang ke dekat panggung penganugrahan. Ini adalah kebiasaan yang diterima sebagai adat dalam acara olahraga di seluruh dunia.
Menahan Anies tetap di podium mestilah berdasarkan instruksi. Si pria bersafari bila ia anggota Paspampres dia mesti tahu dan mengenali VVIP yang sepatutnya memang ada di rombongan podium utama. Lagi pula siapa yang tidak mengenali wajah Anies dan jabatannya selaku gubernur.
Jika ia, dan seandainya ia memang salah satu anggota Paspampres maka tindakannya menghentikan dan menahan Anies bergabung dengan rombongan tadi tentu berdasarkan instruksi. Bisa dari Dan Tim atau siapa saja yang memang memerintahkan dia. Skandal ini mesti dengan sengaja dirancang atau istilahnya by design. Sebagaimana kita dengar dari rekaman, tidak ada panggilan dari Mc protokol yang menyebut Gubernur DKI ikut mendampingi penyerahan.
Hal-hal ini mudah sekali membelah perhatian publik dari berita utamanya sendiri, yaitu pertandingan sepakbola menjadi isu playing victim. Anies sengaja didzalimi, dikorbankan, dan dipermalukan karena Jokowi takut popularitas dan elektabilitasnya terus menurun.
Isu-isu seperti tadi akan mudah diledakkan dan berkembang sebagai asumsi asumsi liar yang lagi-lagi akan dikaitkan dengan politik. Apalagi ini bukan pertama kali Anies sebagai Gubernur DKI tidak diikutsertakan dalam acara resmi seremonial. Tempo hari dalam acara peresmian Kereta Bandara dan Peresmian tampilan baru Gelora Bung Karno yang dilanjut menonton PSSI vs Islandia juga ia tidak diundang.
Maka klop saja asumsi umum di kalangan masyarakat menjadi terarah ke sana. Jokowi takut popularitasnya kalah dengan Anies dan bukan mustahil Jokowi's pamor redup seperti Ahok yang hilang di pilkada DKI. Seandainya memang demikian maka ini tentu saja blunder besar.
Jangan pernah main-main dengan penonton sepakbola, mereka yang menggaji kita. Ini nasihat Sir Ferguson.

0 comments:

Post a Comment