Sunday, March 11, 2018

Prinsip Hidup Resiko Hidup

Ada banyak kutipan yang kita baca dan dengar. Yang datang menghentak atau sudah menyebar berulang-ulang.
Orang butuh kutipan untuk pelbagai macam keperluan. Gadis manis dengan program Multi Level Marketing yang meng-host kami di sebuah warung nasi yang bangkrut berkata, bahwa jika kita belum kaya maka dimulailah dengan mimpi menjadi kaya.
Sementara aktivis mahasiswa yang mengundang diskusi relasi aktor dalam jejaring berkata bahwa fave telah merevolusi pengertian kita tentang merokok. Ia berkata sambil menyetel semacam baut kecil di rokok elektrik yang menurutnya menentukan kadar bau asap.
Jadi kira-kira produk pemikiran revolusioner apa yang dapat didorong oleh fave. Ia lebih banyak memproduksi asap daripada kretek. Apa yang membuat foto Agus Salim, Chairil Anwar atau Castro terlihat hebat, dramatik itu bukan karena kepulan asap rokok yang banyak. Tetapi asap kecil sisa yang muncul seperti jejak peluru lepas dari ujung laras. Dengan fave, efek dramatik ini tidak muncul. Entah bila nanti dibuat orang fave yang mirip kretek.
Di berita daring ada kabar Indonesia sudah jadi tujuan ekspor 250 Ton Narkotika Cina. Nilainya lebih dari 300 Trilyun per tahun dengan tingkat konsumsi 6 Ton per minggu. Kepala BNN Budi Waseso kemudian diganti. Apakah ada hubungannya atau memang sudah waktunya ia pensiun, kita belum tahu.
Dulu saya tercenung menonton satu usaha penggrebekan bandar narkoba. Sepasang suami istri tionghoa berusaha kabur. Si suami ditembak mati ketika berusaha keluar lewat jendela kamar mandi. Gadis presenter yang sepertinya masih pegawai kontrak bertanya pada si istri.
"Ibu, suami ibu tewas. Bagaimana perasaan ibu ?"
"Ya ini bisnis gede, resikonya gede."
Si istri menjawab datar seakan-akan itu adalah jawaban prinsipil yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi resikonya.
Sementara dua pria dari kepolisian menjajarkan tampak punggung orang-orang dengan pakaian oranye. Mereka katanya satu jaringan tentara cyber islamist yang siap memporak-porandakan Indonesia. Lewat berita hoax, fitnah dan palsu si jaringan tadi dikait-kaitkan secara dramatik kepada satu jaringan intelektual. Sebagai bukti keintelektualan dari jaringan itu adalah seorang tersangka berprofesi "dosen".
Saiya skip saja propaganda murahan tadi. Itu hanya mengingatkan kita pada video-video ISIS yang menjajarkan warga sipil Suriah atau Irak. Lalu menembak atau memenggalnya satu per satu dengan tuduhan-tuduhan untuk mempertontonkan ketakutan. Politik kill the chicken to scare monkeys ini adalah politik propaganda klasik.
Tetapi Propaganda adalah propaganda, masing-masing pihak baik yang menyerang maupun bertahan harus pintar-pintarlah menyusun siasat menggiring opini publik. Tokh orang tidak perlu dihoax-hoax bahwa proyek kejar tayang infrastruktur telah berkali-kali menelan korban jiwa.
Jika sudah begitu saiya hargai saja prinsip masing-masing orang. Seperti Jonru yang senyum-senyum saja divonis 1,5 tahun penjara dan denda 50 juta. Ia membayar apa yang harus diambilnya sebagai resiko. Tidak banyak orang yang berprinsip seperti ini yang suka mengalihkan persoalan dasar kepada masalah toleran. Atau mereka yang setelah salah tuding seperti asisten dosen, dosen komunikasi, serta pianis cepat-cepat menghapus postingannya, ketakutan dilaporkan.
Pada sikap-sikap seperti ini kita harus ingat pesan Dr. Mohammad Hatta ketika menulis catatan tentang polemiknya dengan Nyonya Vogel Sumarmah:
"Ini yang harus kita salute pada orang Tionghoa. Jika menjadi muslim, muslim sekali dia. Jika menjadi komunis, komunis sekali dia."
Ya, dunia tidak pernah mencatat orang yang setengah hati mengambil resiko hidup.

0 comments:

Post a Comment