Sunday, March 11, 2018

Proyek Infrastruktur

Saiya bertanya pada seseorang di proyek double-double track Manggarai-Djatinegara. Jauh sebelum terjadi kecelakaan kerja robohnya penyangga glider-crane yang menewaskan setidaknya 4 orang pekerja.
Ketika proyek ini baru dimulai saiya mendatang pria yang disebut mandor dan bertanya mengapa alat angkut berat keluar masuk tanpa pengamanan cukup.
Proyek tadi ada di jalan utama Bukitduri-Manggarai, Manggarai Matraman. Jalan vital bagi masyarakat dan karenanya proyek tadi bersinggungan langsung dengan aktivitas warga.
Seorang insinyur Cina mendekati dan berkata dalam bahasa Inggris buruk bahwa saiya memasuki area kerja. Saiya katakan dimana site manajer, plang proyek, dinding pembatas dan petugas keamanan di proyek itu. Saiya bertanya apakah dia petugas keamanan. Ia menggeleng dan berkata bahwa ia supervisor instalasi glider crane.
Ada dua kejadian di proyek dekat stasiun Manggarai itu.
Pertama dinding tembok pembatas kereta. Yang roboh tiba-tiba dan menimpa beberapa pelajar. Timbunan brangkal dan besi-besi menekan dinding dan ia ambruk di siang bolong.
Kedua, seorang pemulung yang tinggal di dekat jembatan tua Ciliwung melaporkan bahwa ada kecelakaan karena stagger yang dipasang untuk membuat tiang roboh dan memakan korban 6 orang pekerja. Kejadiannya pagi dini hari dan ia berkata jika peristiwa tadi tidak masuk berita karena pihak proyek cepat sekali membawa pergi para korban.
Lalu terakhir saiya protes pada tiang rel yang memakan jalan dan mengganggu pedestrian. Dalam hati kok bisa ada proyek dibuat semau mau. Tanpa pengaman jalan dan jalur lewat pejalan kaki, truk yang merusak jalan, tiang yang diganjal kayu, dan coran semen yang ada di dalamnya sampah plastik dan rokok.
Tidak heran jika belakangan ada banyak kecelakaan di proyek infrastruktur kita. Korban-korban ini tentu harus dihindari dan jangan sampai mereka dianggap tumbal. Sebagaimana dulu kita menggampangkan mereka yang tewas sebagai syarat kramat bagi suksesnya proyek. (Andi Hakim)

0 comments:

Post a Comment