Sunday, March 11, 2018

Verifikasi di Sosial Media

Yang menarik dari sosial media adalah kemampuannya memviralkan informasi secara spontan. Meskipun demikian kita harus berhati-hati dalam mengunyahnya, ini karena spontanitas kadang terlalu jujur dengan kebenarannya atau terlalu palsu dengan kebohongannya.
Bila ia terlalu jujur maka pada rambu-rambu etika dan etiket, sebuah kebenaran dapat dianggap terlalu lacur, serenjang, dan porno.
Pada kasua Seorang Ibu yang memposting video Roti Mimos*o kadarluarsa dengan belatung keluar dari fla coklatnya dianggap baperan dan punya niat busuk menjatuhkan brand roti terkenal dari Singapura-Jepang. Barangkali ia hanya mau berbagi cerita dsn oesan agar konsumen lainnya berhati-hati dengan batas kadarluarsa. Di Ibu dengan kejujurannya dianggap baperan, sok resik dan dicurigai.
Sementara Seorang mahasiswa BEM UI yang mengacungkan kartu kuning pada Jokowi dihakimi seorang Asisten Dosen. Si Asdos menulis ditwitter agar si mahasiswa -Zaadit Taqwa- jangan sok mengurusi pemerintah tapi malas membereskan tugas kuliah. Belakangan si Asdos meminta maaf pada kertas bermaterai 6000 perak. Si mahasiswa ternyata memang tidak mengontrak mata kuliah yang diasistensi si Asdos.
Sama halnya ketika informasi spontan tadi terlalu palsu dalam kebohongannya.
Pada kasus viralnya video Gubernur DKI Anies Baswedan yang dicegah pasukan pengamanan presiden ke panggung penganugrahan Piala Presiden di GBK Sabtu (17/2) lalu misalnya, sebuah akun twitter dengan nama Sonny Tulung ikut menyerang Anies. Ia menyebut dirinya faham keprotokoleran Presiden. Ini karena ia sudah jadi MC sejak zaman Majapahit.
Termasuk yang membela Anies pun melakukan serang-tangkis di sosial media dan lengkap dengan atribut kehebatannya.
Di sini yang cukup menarik adalah fenomena sosial media ternyata mengubah proses verifikasi atas sebuah info, data tentang suatu kejadian menjadi ajang kontestansi dari kekuasaan. Kekuasaan di sini bukanlah sesuatu yang solid tetapi fluid, ia merembes kemana-mana sesuai dengan kehendak aktif dari multi aktor.
Pada kejadian video Anies ditahan Paspampres misalnya kita melihat bagaimana sebuah pertandingan inti -yaitu sepakbola- tersisihkan oleh pertandingan etika, etiket, kelakuan, hukum, protokoler, pengkhianatan, sampai isu ada pembusukkan Jokowi dari dalam. Di sini verifikasi menjadi kontestansi bagaimana power (kekuasaan) dikonseptualisasi.
Ia hanya dapat difahami jika dan hanya jika proses verifikasi tadi adalah a production of effect (Destradi 2017). Yaitu proses menciptakan efek-efek tertentu yang nantinya diharapkan akan menjadi faktor determinan bagi masa depan si aktor.
Efek tadi tergantung kepada proses materialisasi dan ide-ide dasarnya. Artinya ia bisa datang dari siapa pun, kapan pun, dimana pun. Seperti halnya si pemosting video, ia mungkin awalnya tidak memiliki gagasan lain sekedar dari melaporkan via sosia media. Namun ketika ratusan, jutaan ide-ide dari multi aktor lain ikut menanggapi maka di sinilah kekuasaan kemudian berkontestansi dalam verifikasi. Yang selanjutnya menciptakan efek-efek lainnya. (Andi H)

0 comments:

Post a Comment