Sunday, March 11, 2018

Vivat Academia

Hampir semua penggiat forum diskusi kampus sepakat jika posisi Ketua Himpunan, Badan Eksekutif dan pengurusnya mestilah mereka yang punya kelebihan. Sebagai organisasi resmi inter kampus, Hima,BEM,Senat dll..adalah perwakilan sikap mahasiswa.
Zaadit Taqwa -si Mahasiswa peniup pluit dan kartu kuning ke Jokowi- tentu memiliki salah satu kelebihan tadi. Ia pastinya pandai berorganisasi, mudah bergaul serta pandai dalam urusan mengurus pertemanan.
Tindakannya di acara Dies Natalis 68 UI mesti dia sadari akan berkonsekuensi positif juga negatif. Ia dipuji karena 'kartu kuningnya' mengena sebagai sebuah kode politik. Tetapi bagi pihak yang entah kenapa ikut tersinggung, ia dibully habis.
Seorang asisten dosen bernama Angga Dito membullynya sebagai mahasiswa malas. Menurut twitternya Zaadit tidak mengumpulkan tugas mata kuliah fisika dan sok mengurus pekerjaan pemerintah. Belakang si asdos sendiri meminta maaf lewat surat bermaterai dan menghilang dari jagat twitter. Zaadit rupanya tidak pernah mengontrak mata kuliah dimaksud.
Kita menyayangkan cuitan asdos tadi. Ia bukan hanya membunuh vivat academia karena membeberkan capaian murid bimbing yang seharusnya ia lindungi privasinya, namun si asdos membunuh elan intelektualnya dengan memfitnah si murid bukan di mimbar akademik tetapi di meja publik.
Parahnya lagi ia pun gagal mengenali wilayah per asistenan yang seharusnya ia tahu siapa saja yang mengambil mata kuliah yang dia diberitanggungjawabnya.
Saiya belum mendengar apakah Zaadit melayangkan laporan tindakan tidak menyenangkan dari si Asdos? Misalnya memperkarakannya sebagai fitnah dan merugikan baik mental spiritual. Jika ya, maka si asdos benar-benar kehilangan masa depannya. Ia bisa dikartu merahkan.
Mudah sekali orang digelincirkan oleh kesombongan. (Andi H)

0 comments:

Post a Comment