Tuesday, April 3, 2018

Paslon Capres 2019

Saiya mendengar banyak pembicaraan tentang capres 2019. Yang kalau dibuat gotak gatuknya mungkin begini;
0'1
Ada tiga atau empat King Maker dalam pilpres 2019, mereka adalah: Megawati, Luhut, Jusuf Kalla dan Prabowo. SBY? SBY tidak terlalu penting, kecuali ada hal lain di luar kendali.
Dari keempatnya Jusuf Kalla dan Prabowo adalah yang terkuat hari ini. Apa yang akan mereka lakukan -seperti pada kasus pilkada Jakarta- akan mempengaruhi reaksi dari lawan tanding. Kemenangan Anies-Sandi di Jakarta sebenarnya miniatur dari garis politik aliran yang akan dimainkan pada pilpres 2019.
Bila pada pilkada, terbukti arus politik islam sukses menyalip dengan isu besar dam menjungkalkan popularitas Ahok dan juga Jokowi yang mendukungnya maka sekali lagi arus politik Islam akan menjadi poros tengah yang menentukan.
0'2
Bila berkata pada pilkada Jakarta, kebanyakan orang mulai menimbang kembali kehebatan "pamor" Jokowi. Kalah telaknya Ahok mulai membuka peluang jika ia (Jokow) bukan tidak terkalahkan.
Sebagian menilai jika PDIP tidak terlalu bahagia dengan Jokowi sekarang. Kebahagian tadi diukur dari jumlah akumulasi kapital yang diperoleh selama Jokowi selaku petugas partai. Luhut dianggap terlalu menguasai istana sentris, dimana orang-orang PDIP tidak terlalu mendapatkan banyak peluang.
Luhut juga yang mesti dituding sebagai dia yang memisahkan Jokowi dengan kelompok Islam. Pada aksi-aksi besar umat Islam yang terbukti menjungkalkan Ahok, Jokowi ditutup kesempatannya untuk membuka pintu dialog. Yang lalu memunculkan opini umum jika Jokowi adalah back-up Ahok, dan dengan sendirinya ia diasumsikan "musuh" umat Islam.
0'3
Jokowi sendiri akan mendekatkan dirinya kembali kepada PDIP pasca kekalahan Ahok. Ia melihat jika mesin PDIP pada pilkada kemarin benar-benar tidak bekerja sesuai standar. Djarot hanya dihitung sebagai kartu kosong yang bila Ahok menang ia mungkin akan naik menggantikannya karena perkara penistaan agama akan terus dilanjutkan.
Hanya saja ia tentu juga ingin menjadi diri sendiri dengan melepas baju "petugas partai.
Munculnya nama Puan sebagai cawapres Jokowi 2019 adalah satu dari beberapa hal untuk memancing hubungan baik ini.
0'4
Setya Novanto, mengungap nama-nama penerima manfaat (beneficaries) dari mega korupsi e-KTP.
Beberapa nama adalah orang penting di PDIP, Golkar, dan PKS.
Puan dan Pramono Anung adalah beberapa nama yang diungkapkan.
Dalam ilmu politik, nama-nama ini mesti dihubungkan dengan komunikasi antar elit. Sama sekali tidak ada yang diuntungkan bagi SN (inisial Setya) dengan menyebut nama-nama tadi. Namun memustahilkan tidak ada pihak yang mendulang keuntungan dari munculnya nama ini juga tidak mungkin.
SN mesti sudah mempertimbangkan jika ia menyebut nama tadi ia akan memperoleh keuntungan. Bisa saja itu pengurangan hukuman atau penjaminan dari pihak-pihak lain.
Nama-nama tadi juga bukan tidak mungkin akan diungkap lebih luas sesuai waktu dan kepentingan. Sehingga di sini, SN seperti seolah-olah sedang menjadikan dirinya alat tembak.
0'5
Munculnya nama Puan dalam laporan penerima e-KTP tentu akan menimbulkan kegusaran di lingkungan PDIP. Ia yang tengah digadang maju sebagai Cawapres bagi Jokowi akan membuat hubungan PDIP dengan istana akan sedikit mengeras.
PDIP sampai hari ini belum mengeluarkan pernyataan tertulis mendukung Jokowi sebagai capres 2019. Megawati tentu perlu mengukur sejauh mana faedah dapat diperolehnya jika ia mendukung kembali Jokowi. Selama ini, PDIP tidak terlalu banyak memperoleh faedah.
Sekali lagi posisi Luhut yang berperan besar menjadi pembatas. Sejauh ini Luhut sukses mengisolir Jokowi dalam radar pengamatannya.
Bukan mustahil, PDIP menarik dukungannya dari Jokowi, jika ia tidak memperoleh tawaran yang lebih baik.
0'6
Hal ini tidak mudah tetapi bukan tidak mungkin bagi PDIP.
Jika PDIP kita asumsikan menarik dukungan dari Jokowi, maka dipastikan Susilo Bambang akan membawa gerbong Demokrat kepada Jokowi.
Saiya iseng saja memikirkan jika Puan gagal dimajukan sebagai cawapres Jokowi, maka mengajukan nama Pramono Anung jauh lebih masuk akal. Ini lebih baik bagi Megawati daripada SBY kembali memanfaatkan peluang.
0'7
Jika Prabowo mengalah dan setuju Jusuf Kalla memajukan Anies Baswedan maka pasangan yang paling menarik adalah Gatot Nurmantyo.
Aneis masih terkendala dengan etika profesi sebagai Gubernur di DKI, ia masih punya 3 tahun lagi untuk memimpin Ibukota. Melompat sebagai capres atau cawapres akan membuat moral hazard , tetapi dalam kasus Jokowi melompat menjadi presiden hal itu tidak terlalu penting bagi publik. Tokh publik juga sudah biasa dikadalin dan menerimanya dengan suka hati.
0'8
Jika Anies dimajukan, maka Jokowi mesti menarik dari kelompok Islam calon lainnya. yaitu Tuan Guru Bajang.
Hanya tidak akan mudah bagi TGB perihal pencalonnya ini. ia adalah satu dari beberapa motor aksi umat Islam, meski relatif lebih terbuka dalam politik. Ia tentu memahami jika dirinya ditarik sebagai bagian dari memecah kekuatan politik islam.
0'9
Hanya saja, yang dibutuhkan dalam pilpres sebenarnya cuma dua saja: kekuatan massa dan kekuatan uang.
Sebagai petahana Jokowi dapat mengakumulasi kapital lebih besar daripada Jokowi. Ini artinya ia dapat saja memilih cawapres yang bukan dari arus besar tetapi berpotensi menghadirkan anggaran bagi keperluan kampanye.
Sosok Pramono Anung, Menteri Keuangan (agak mustahil sih), Gubernur BI (mirip SBY dulu bawa Boediono), dst akan terbuka.
10
Kira-kira begitu

0 comments:

Post a Comment